
"Memang benar-benar ya Pricilla nggak ada kapok-kapoknya," ucap Silvia dengan kesal.
"Sudahlah yang penting sekarang kejadian ini sudah terjawab. Jika Pricilla selama ini hanya menuduh Davin dan Davin yang benar. Jika anak itu bukan anak Davin," sahut Aris yang merasa sangat lega.
"Lalu itu anak siapa?" tanya Zoy.
"Itu bukan urusan kita. Yang penting kebenarannya sudah terungkap dan saya sangat lega dengan semua ini," ucap Aris benar-benar sangat bersyukur.
Namun mata Davin sejak tadi hanya melihat Kayra. Sampai Kayra menyadarinya dan salah tingkah di tatap seperti itu.
"Hmmm, aku harus kembali bekerja," sahut Kayra yang tiba-tiba menjadi gugup, "aku duluan," sahut Kayra yang langsung pergi begitu saja yang sepertinya menghindari Davin yang sejak tadi menatapnyanya. Davin menyunggingkan senyumnya yang tiba-tiba games dengan Kayra.
"Kenapa Kayra buru-buru sekali?" tanya Silvia heran.
"Ya mungkin ada pasien," sahut Haykal.
"Davin makasih ya kamu sudah membuktikan semua ini," ucap Aris.
"Aku yang berterima kasih pah. Karena papa memberiku kesempatan yang banyak," jawab Davin dengan tersenyum.
"Baiklah Davin sisanya papa serahkan pada kamu dan jika berusaha sedikit lagi. Papa yakin Kayra akan luluh dan semua ini demi anak kalian," ucap Aris yang sekarang berharap pada Davin.
Itu artinya dia memberikan peluang untuk Davin untuk kembali bersama Kayra.
"Baiklah pah kalau begitu, papa jangan khawatir masalah ini saya yang akan mengurusnya," sahut Davin dengan tersenyum mengangguk. Aris menepuk bahu Davin untuk memberikan Davin semangat yang besar dalam mengatasi masalah yang ada.
**********
Malam hari Kayra sudah selesai menyelesaikan pekerjaannya dan pasien sudah tidak ada lagi yang harus di tanganinya dan Kayra langsung pulang ke apartemennya.
Pintu di buka silahkan masuk.
Kayra menghela napasnya dan melangkah masuk.
"Mama!" tiba-tiba suara teriakan itu terdengar yang sudah beberapa hari ini tidak di dengarnya dan siapa lagi jika bukan Brian yang mengejutkan Kayra, Brian berlari dengan memeluk mamanya yang membuat Kayra langsung berlutut untuk memeluk putra yang di rindukannya itu.
"Mama Brian bisa tidak bernapas. Mama terlalu kuat memeluk Brian," keluh Brian di dalam pelukan sang mama yang sangat merindukannya.
"Sebentar sayang mama sangat merindukan Brian. Brian sudah lama tidak memeluk mama dan bicara pada mama," ucap Kayra yang sangat merindukan anaknya itu.
__ADS_1
"Iya mama tapi Brian tidak bisa bernapas," sahut Brian dan Kayra pun dengan terpaksa melepas pelukan itu.
"Maaf sayang," ucap Kayra memegang pipi Brian dan mengusap-usap kepala Brian dengan Kayra yang mewek dengan putranya yang kembali memeluknya dan memanggil namanya.
"Kenapa Brian ada di sini?" tanya Kayra.
"Tuh sama papa," jawab Brian menunjuk Davin yang ada di dapur. Saking merindukan Brian, Kayra Tidka menyadari ada Davin di ruangan itu membuat Kayra tidak tau harus apa.
"Kamu sudah tidak marah lagi?" tanya Kayra Brian menggelangkan kepalanya.
"Bagaimana Brian mau marah. Karena papa bilang kita akan tinggal bersama," jawab Brian yang mengejutkan Kayra dan langsung melihat ke arah Davin.
Dengan santainya Davin mengangkat ke-2 bahunya yang tidak tau apa lagi yang di janjikan Davin pada Brian.
Ada berontak dan protes di dalam diri Kayra yang ingin mengamuk. Namun ada Brian dan Kayra tidak mungkin melakukan hal itu sama saja Brian nanti akan marah lagi.
"Iya kan mah kita tinggal bersama kan?" tanya Brian yang ingin kepastian dari sang mama.
"Brian, Hmmmm," Kayra pasti sangat sulit untuk menjawab. Namun Kayra harus mengingat persyaratan Davin sebelumnya dan Cika terbukti bukan anak Davin dan itu artinya Kayra harus setuju.
"Brian ajak mama makan malam. Papa sudah selesai menyuapkannya," sahut Davin.
"Baik papa, mama ayo kita makan malam," sahut Brian yang memegang tangan Kayra dan mengajaknya untuk kemeja makan.
"Dan papa duduk di sini," sahut Brian menarik kursi untuk duduk di samping Kayra.
"Makasih Brian," ucap Davin dengan tersenyum.
"Sama-sama papa," sahut Brian yang mengambil tempat duduk di depan ke-2 orang tuanya.
"Ayo mama kita makan. Tadi Brian dan papa yang menyiapkan makan malam ini," ucap Brian begitu semangat.
"Iya Brian," sahut Kayra dengan mengangguk tersenyum.
"Makan yang banyak," ucap Davin yang tiba-tiba mengambilkan nasi kepiring Kayra. Kayra diam saja dan seolah menurut saja yang tidak berani protes.
"Ayo Brian juga makan yang banyak. Supaya makin tinggi," ucap Davin.
"Iya papa," sahut Brian yang dengan lahap makan di depan ke-2 orang tuanya itu.
__ADS_1
Kayra malah canggung dan lebih banyak diamnya saat mulutnya mengunyah makanan itu.
"Mama bagaimana apa enak masakan papa," tanya Brian.
Kayra diam yang tidak langsung menjawab yang melihat sebentar ke arah Davin yang mana Davin memberikan senyumannya untuk Kayra.
"Mama!" tegur Brian.
"Iya enak," jawab Kayra. Tidak tau terpaksa atau tidak yang pada intinya seperti memang enak.
"Horeeee papa berhasil buat mama bilang enak dalam masakan papa. Itu artinya Brian menang," sahut Briana dengan semangatnya yang mengangkat ke-2 tangannya.
"Menang!" maksudnya apa?" tanya Kayra dengan mengkerutkan dahinya.
"Tadi Brian dan papa taruhan mama. Papa tidak percaya kalau mama akan mengakui masakan papa enak atau tidak. Karena papa bilang mama itu orangnya gengsian. Tetapi Brian meyakinkannya dan memang sangat enak dan itu artinya Brian menang dari papa dan papa harus memberikan Brian hadiah," sahut Brian dengan polosnya menceritakan semuanya.
Kayra menoleh kearah Davin dan Davin hanya makan dengan santai. Wajah Kayra sih pasti kesal di jadikan taruhan dan apalagi Davin seenaknya mengatainya di depan anaknya.
"Baiklah Brian. Mau hadiah apa dari papa?" tanya Davin.
"Brian boleh minta dua hadiah tidak?" tanya Brian.
"Jangan kan dua, mau seribupun papa akan kasih," jawab Davin.
"Hanya dua saja papa satu dari mama dan satu dari papa," ucap Brian.
"Kenapa mama ikut-ikutan, kan ini masalah Brian dan papa. Jadi papa yang harus memberikan hadiahnya," sahut Kayra.
"Mama tidak apa-apa. Hanya 1 aja," sahut Brian.
"Baiklah kalau begitu," sahut Kayra yang harus mengalah demi sang anak.
"Kalau begitu katakan. Brian mau hadiah apa?" tanya Davin.
"Brian ingin melihat papa menyuapi mama," ucap Brian yang membuat Davin tersenyum dan untuk Kayra pasti kesal.
"Brian!" tegur Kayra.
"Ayo papa suapi mama," sahut Brian. Davin tidak masalah dan menyendokkan nasi yang menyodorkan pada mulut Kayra.
__ADS_1
"Mama buka mulutnya. Terima suapan papa, cepat," ucap dengan paksaan dan Kayra mau tidak mau harus membuka mulutnya dan Brian sangat senang dengan hal itu yang papanya menyuapi mamanya dan Brian begitu bahagia dengan papanya menyuapi dengan romantis sang mama. Walau Kayra terlihat gugup dan bahkan salah tingkah.
Bersambung