
Kayra dan Davin masih berpelukan dan Davin melepas pelukan itu. Ada air mata yang jatuh di pipi Kayra membuat Davin langsung menghapus lembut.
" Kau tau Kayra apa yang berubah darimu. Saat pertama kali kita menikah dan sampai detik ini?" tanya Davin.
" Apa yang berubah?" tanya Kayra.
" Kau bertambah cengeng. Saat aku pertama kali menemui. Aku pikir kau wanita yang tidak mudah menangis. Dari cara bicara mu. Kau terlihat angkuh dan sangat suka marah-marah. Aku hanya melihat wajahmu sendu. Ketika kau bertemu papa. Hanya di situ aku melihat bagaimana kau yang begitu kuat sama sekali. Namun lama-kelamaan kau terlihat begitu lemah. Bahkan rasa percaya dirimu berkurang. Kau itu sangat mudah menangis Kayra," jelas Davin dengan panjang lebar.
" Air matamu ini sangat mudah keluar," lanjut Davin yang kembali mengusap air mata itu dengan matanya yang tidak lepas menatap mata Kayra.
" Bagaimana semuanya tidak berubah. Dulu aku tidak punya perasaan apa-apa kepadamu. Dulu aku hanya ingin menyelesaikan semuanya dengan cepat. Lalu setelah itu pergi. Namun siapa sangka aku bermain perasaan. Banyak yang aku alami, takut, tidak bisa ini itu. Perasaan ku setiap hari berbeda-beda dan itu membuatku lelah dan seseorang yang lelah. Hanya akan mengeluarkan air mata yang membuatnya sedikit tenang," ucap Kayra
" Lalu apakah semua itu karena aku. Karena aku menjadi lemah?" tanya Davin.
" Tidak Davin bukan karena itu. Aku hanya belum bisa menyesuaikan semuanya. Aku tidak bisa mengendalikan emosi dan perasaan ku kepadamu," ucap Kayra.
" Lalu apa kamu takut?" tanya Davin.
Kayra diam. Dari diamnya dia memang sudah menjelaskan bahwa dia takut.
" Kayra apa yang kamu takutkan. Kehilanganku, meninggalkanmu?" tebak Davin. Kayra diam yang tidak menjawab.
Davin mencium lembut kening Kayra. Lalu menempelkan dahinya di kening Kayra dengan menatap dalam-dalam Kayra, " aku tidak akan meninggalkanmu. Itu sudah berkali-kali aku katakan," ucap Davin menyakinkan Kayra.
Kayra tersenyum tipis, " aku tidak menakutkan hal itu. Dan aku percaya dengan kata-kata mu," ucap Kayra.
" Jangan memikirkan hal yang tidak perlu kamu pikirkan. Ingat kita harus sama-sama berjuang untuk bayi kita," ucap Davin. Kayra mengangguk-anggukan kepalanya dan Davin mencium lembut kembali kening Kayra.
" Kita masuk?" tanya Davin melihat semakin dingin. Karena sudah jauh malam. Kayra menganggukan kepalanya.
Davin tersenyum dan kembali menggendong istri cantiknya itu yang sekarang bawannya mewek terus. Kayra tersenyum dengan mengalungkan tangannya di leher suaminya.
" Aku ingin bertanya sesuatu padamu," ucap Kayra yang berada di gendongan suaminya yang Davin melangkah membawanya pergi.
__ADS_1
" Katakan ada apa?" tanya Davin.
" Bukannya seharusnya kamu belum pulang. Lalu kenapa tiba-tiba pulang?" tanya Kayra.
" Pertanyaan tidak masuk akal. Karena jawabannya hanya satu. Karena kamu, makanya aku pulang. Aku terkejut saat Reyhan mengatakan jika kamu masuk rumah sakit. Makanya aku pulang," jawab Davin.
" Lalu pekerjaan kamu bagaimana. Bukannya itu sangat penting?" tanya Kayra.
" Bagiku kamu yang lebih penting," jawab Davin membuat Kayra tersenyum dan langsung mencium pipi Davin. Davin menyunggingkan senyumnya dengan menatap Kayra dengan menyipitkan matanya. Lalu memberikan 1 pipinya lagi untuk di cium.
Cup.
Kayra mencium lagi membuat Davin tersenyum lebar. Sampai akhirnya mereka kembali keruang perawatan dan Davin merebahkan istrinya dengan perlahan dengan sedikit membungkuk dan membuat Kayra menatap Davin dengan dalam-dalam saat Pria itu masih ada di dekatnya.
" Jangan menatapku seperti itu. Aku itu sangat merindukanmu. Jadi aku takut tidak bisa mengendalikan diriku," ucap Davin membuat Kayra tertawa kecil dan masih saja melihat Davin.
Bahkan saat Davin ingin berdiri Kayra menahannya dengan mengalungkan tangannya ke leher Davin membuat Davin melihat Kayra dengan menaikkan 1 alisnya dan langsung mengecup bibir Kayra membuat Kayra kaget bahkan refleks memundurkan wajahnya.
" Davin apa yang kau lakukan, ini rumah sakit?" tanya Kayra dengan panik.
" Aku tadi sudah mengatakan kepadamu. Jangan memancingku. Jadi jangan salahkan aku," sahut Davin dengan santainya.
" Tidak bisa Davin kau tidak bisa melakukan ini. Bagaimana jika ada yang masuk," Kayra benar-benar panik dengan Davin yang berbuat gila yang ingin menyentuhnya.
Davin mengangkat kepalanya dan melihat wajah panik Kayra.
" Ini rumah sakit jangan seperti itu," ucap Kayra dengan wajah senduh nya.
Davin menghela napasnya dengan kasar yang begitu tidak peduli dan langsung mencium kening Kayra dan merebahkan dirinya di samping Kayra, membawa Kayra untuk berada di dada bidangnya yang 2 bagian kancing atasnya sudah terbuka.
" Makanya jangan memancingku Kayra," ucap Davin.
" Siapa yang memancingmu. Apa salah jika aku hanya menatapmu," sahut Kayra dengan memeluk Davin erat.
__ADS_1
" Tatapan mu itu seolah mengajakku melakukan sesuatu," ucap Davin mengelus-elus rambut Kayra.
Kayra mengangkat kepalanya melihat ke arah Davin, " dasar mesum. Masa iya hanya melihat saja berpikiran seperti itu," ucap Kayra kesal.
" Tetapi memang kau ada berniat kan?" tanya Davin. Kayra menggelengkan kepalanya.
" Jangan bohong aku tau bagaimana pikiranmu. Sudah tau kau itu kelemahan ku malah memancing ku," ucap Davin.
" Issss siapa yang bohong," sahut Kayra yang kembali memeluk erat suaminya.
" Terserah! tetapi setelah pulang dari rumah sakit. Kau akan berakhir di tanganku," ucap Davin.
" Siapa takut," jawab Kayra dengan menantang Davin.
" Kita lihat saja nanti," sahut Davin mencium pucuk kepala Kayra dan Kayra hanya tersenyum yang tidak menanggapi apa-apa lagi.
*********
" Jadi Davin mengatakan itu kepada kamu?" tanya Mesya terkejut setelah mendengar pernyataan dari Giselle yang menceritakan apa yang telah di alaminya.
" Benar mah. Aku rasa kak Davin pasti tau apa yang kita lakukan. Makanya dia sampai mengatakan seperti itu dan bahkan menceramahi Giselle. Giselle jadi takut mah," ucap Giselle yang merasa negeri.
" Apa yang kamu takutkan. Kamu itu tidak perlu takut," sahut Mesya.
" Mah, kak Davin itu bukan orang bodoh. Giselle yakin dia itu tau sesuatu. Hanya saja masih berpura-pura tidak tau," ucap Giselle.
" Argggghhh sudahlah Giselle itu hanya perasaan kamu saja. Jadi nggak usah berpikiran seperti itu," sahut Mesya.
" Lalu sekarang bagaimana. Makanan yang mama suruh di berikan pada Kayra tidak jadi di makan dan setelah ini kalau kita memberi makanan lagi pada Kayra. Pasti kak Davin juga mencegahnya," ucap Giselle.
" Argh, kenapa susah sekali membuat wanita itu kehilangan anaknya," umpat Mesya dengan penuh kemarahannya yang semakin bertambah stress dengan masalah yang semakin banyak.
Bersambung
__ADS_1