
Davin sekarang berhadapan dengan Kayra yang memasangkan dasi pada leher suaminya. Davin tersenyum dan menatap Kayra dalam-dalam membuat Kayra jadi grogi saja dan tidak berani melihat Davin.
" Jangan menatapku seperti itu. Nanti lehermu bisa tercekik. Karena aku tidak fokus," ucap Kayra.
" Suatu kehormatan bisa mati di tangan wanita cantik seperti ini," ucap Davin yang mulai mengeluarkan jurus rayuan manisnya.
" Issss gombal," sahut Kayra.
" Siapa yang gombal. Coba lihat di cermin. Bahwa wanita di depanku ini sangat cantik," ucap Davin.
" Iya-iya terserah. Sudah selesai. Ayo kita sarapan," sahut Kayra yang ingin beralih. Namun Davin menarik pinggang Kayra sampai Kayra menabrak dada bidang Davin dan mereka semakin dekat dengan wajah Davin maju dan wajah Kayra refleks mundur kebelakang.
" Bagaimana jika sarapannya pagi ini adalah kamu," ucap Davin dengan tatapannya yang begitu dalam yang membuat Kayra mendengus tersenyum dan langsung mengecup bibir Davin.
Cup.
" Sarapan pembukaan," ucap Kayra. Davin mendengus tersenyum dan ingin membalas kecupan itu dengan ciuman panas. Namun Kayra menahan bibir Davin dengan 2 jarinya membuat Davin menaikkan 1 alisnya.
" Tuan Davin. Anda hari ini ada meeting. Jadi jangan membuat klien Anda menunggu," ucap Kayra mengingatkan jadwal meeting penting Davin.
Hufffff.
Davin menghela napas dengan kecewa.
" Kenapa juga harus hari ini," ucap Davin kesal.
" Kamu itu harus kerja keras dan tidak boleh malas-malasan. Ingat sebentar lagi bakalan punya anak dan biayanya akan semakin mahal," ucap Kayra mengingatkan Davin.
" Iya nyonya besar," sahut Davin. Kayra hanya tersenyum dengan geleng-geleng kepala.
" Ya sudah sekarang sebaiknya kita turun dan sarapan dan iya nanti jangan lupa temani aku cek kandungan. Aku akan menemuimu di ruanganmu," ucap Kayra.
" Jika kamu sudah di ruanganku jangan salahkan aku. Kalau kamu tidak akan pernah keluar," ucap Davin.
" Terserah," ucap Kayra geleng-geleng.
***********
Kayra menyelesaikan pekerjaannya di kantor. Dia memang bekerja hanya santai-santai saja. Sebenarnya bisa saja tidak bekerja. Atau berhenti. Karena Perusahaan itu milik suaminya.
Ini bukan permasalahan Kayra mau berhenti atau tidak. Tetapi Davin yang tidak ingin Kayra berhenti. Karena Davin ingin Kayra berada di terus di dekatnya. Jadi walau menjadi istri Bos kayra tetap harus bekerja karena suaminya yang ingin terus menempel dengannya.
" Akhirnya selesai. Sekarang aku keruangan Davin dan sudah sore hari. Nanti Dokter kandungannya pulang lagi," ucap Kayra yang berdiri mengambil handphone dan juga tasnya lalu langsung pergi menuju ruangan suaminya.
__ADS_1
" Nona Kayra!" panggil Reyhan ketika Kayra ingin memasuki ruangan Davin.
" Reyhan ada apa?" tanya Kayra yang berhadapan dengan Reyhan.
" Nona mau mencari bos Davin?" tanya Reyhan.
" Iya kamu benar. Aku mau mencari Davin," jawab Kayra.
" Tetapi bos Davin tidak ada di dalam," ucap Reyhan membuat Kayra menautkan ke-2 alisnya.
" Lalu kemana? apa meetingnya belum selesai?" tanya Kayra sembari melihat arloji di tangannya.
" Bos Davin kerumah sakit menemui Nona Pricilla. Tadi tadi pihak rumah sakit menelpon dan mengatakan Nona Pricilla kembali teriak-teriak. Dan bos Davin langsung buru-buru untuk pergi kesana," jawab Reyhan.
Mendengar nama Pricilla membuat eksperesi bahagia Kayra langsung redup berganti dengan ekspresi sedih.
" Oh begitu," ucap Kayra datar.
" Nona butuh sesuatu?" tanya Reyhan.
" Hmmm, kamu antarkan saja saya ke rumah sakit untuk memeriksa kandungan saya," jawab Kayra.
" Apa saya harus menelpon Bos Davin!" tanya Reyhan.
" Tidak perlu sepertinya dia sibuk," ucap Kayra yang langsung pergi dari hadapan Reyhan dan Reyhan jadi bingung sendiri.
**********
Karena Davin yang menemui Pricilla dan tidak mengatakan apa-apa padanya. Kayra harus mengecek kandungan sendiri tanpa Davin. Sedih pasti dan mau bagaimana lagi.
Kayra bahkan tidak bersemangat dan apa yang di katakan Dokter bahkan tidak tau terdengar atau tidak di telinganya. Kayra hanya diam dan pergi begitu saja. Rumah sakit Pricilla dengan rumah sakit dia cek USG sama.
Kayra yang berjalan dengan langkah yang pelan yang pelan melewati koridor-koridor rumah sakit. Di mana langkahnya berhenti di depan salah satu kamar yang ternyata adalah kamar Pricilla.
Reyhan mengatakan Davin tadi menemui Pricilla dan sampai detik ini Davin tidak mengabarinya sama sekali. Tidak tau kenapa Kayra memegang kenopi pintu dan membuka perlahan dan benar suaminya ada di sana.
Davin duduk di samping Pricilla dan menyuapi Pricilla makan.
" Pantes tidak mengabariku dan bahkan tidak bertanya apa aku jadi cek kandungan atau tidak. Ternyata kamu harus memberinya makan," batin Kayra yang merasa sesak dan langsung menutup kembali pintu tersebut.
Yang ada dadanya akan semakin sakit kalau berada di sana. Jadi alangkah baiknya dia pergi.
**********
__ADS_1
Kayra keluar dari kamar mandi yang setelah selesai membersihkan dirinya.
Ceklek. Davin membuka pintu kamar dan saling melihat dengan Kayra. Namun Kayra langsung beralih ke meja rias.
" Kamu sudah pulang?" tanya Kayra dengan datar.
" Kayra Reyhan bilang kamu jadi cek USG hari ini?" tanya Davin mendekati Kayra. Di mana Kayra menyisir rambutnya.
" Hmmm," Kayra hanya menjawab dengan deheman.
" Maafkan aku Kayra. Aku benar-benar lupa dan kamu juga tidak mengingatkanku," ucap Davin.
" Nggak apa-apa. Tidak di temani. USGnya lancar kok," ucap Kayra dengan dinginnya bicara.
" Kayra sekali lagi benar-benar minta maaf. Tadi pihak rumah sakit menelpon dan mengabari kondisi Pricilla. Aldo tidak ada di sana dan mau tidak mau aku harus melihatnya sebentar. Aku benar-benar minta maaf Kayra. Aku membiarkanmu USG sendirian," ucap Davin.
" Sudahlah lupakan. Nanti juga aku akan terbiasa USG sendirian," ucap Kayra yang bicara langsung to the point.
" Apa maksud kamu?" tanya Davin. Dia pasti sudah merasa ada yang tidak beres dari cara Kayra yang berbicara.
Kayra menghela napasnya dengan panjang dan menghadap Davin dengan tersenyum.
" Kamu itu pimpinan Perusahaan pekerjaan mu sangat banyak. Kamu sangat sibuk dan apalagi sekarang pekerjaan kamu bertambah, bekerja di rumah sakit. Jadi aku harus membiasakan diri untuk apa-apa sendiri," ucap Kayra tersenyum dengan sindiran dan langsung berlalu dari hadapan Davin. Namun Davin menahan tangannya.
" Apa maksud kamu Kayra. Apa kamu berpikiran jika aku dan...."
" Sudahlah Davin. Aku itu capek banget hari ini. Aku mau makan dulu ke bawah. Banyak yang di sarankan Dokter tadi padaku. Jadi aku harus mengingatnya. Aku tidak mau berdebat denganmu dan mempermasalahkan masalah yang terjadi," ucap Kayra melepas tangan Davin dai tangannya.
" Tapi dari cara kamu bicara. Kamu sudah menjelaskan jika kamu ada sesuatu dan semua ini pasti hanya karena..."
" Davin kamu mengerti tidak apa yang aku katakan. Bisa tidak kamu jangan berusaha untuk mengaitkan sedikit-sedikit masalah kita dengannya," sahut Kayra mengeraskan volume suaranya.
" Apa maksud kamu siapa yang mengaitkannya?" tanya Davin.
" Sejak tadi kamu selalu ingin menyebut nama Pricilla," tegas Kayra mulai marah. Davin terdiam dan Kayra berusaha menenangkan dirinya.
" Kayra!"
" Aku tidak mempermasalahkan hal ini Davin. Aku tidak akan meributkan masalah ini. Jika kamu di tuntut harus bertanggung jawab padanya. Baiklah silahkan. Aku tidak akan sebentar-sebentar ribut. Aku juga capek ribut hanya membahas 1 nama itu. Tapi aku mohon padamu. Jika kita sedang berselisih paham. Jangan menyebut namanya. Aku tidak ingin dia selalu ada dalam pertengkaran kita," tegas Kayra yang langsung pergi dari hadapan Davin.
Sudah ketebak masalahnya ada pada Pricilla yang membuat Kayra marah. Mungkin Davin melupakan hal yang besar demi Pricilla. Namun Kayra akan berusaha tidak terpancing. Namun kekesalannya bertambah saat Davin berusaha ingin menyebut nama Pricilla yang membuat dirinya menaikkan volume suara.
Davin menarik napasnya dalam-dalam dan membuangnya dengan perlahan kedepan.
__ADS_1
" Maafkan aku Kayra," batin Davin.
Bersambung