Pernikahan Dalam Ikatan Surat Kontrak.

Pernikahan Dalam Ikatan Surat Kontrak.
Bab 142 Marahnya Oma.


__ADS_3

" Ini bohong mah. Ini tidak benar. Ini hanya rekayasa," sahut Mesya membantah kenyataan yang di tunjukkan Davin.


Davin mendengus kasar, " bagaimana mungkin mama mengatakan ini Rekaya. Sudah terlihat buktinya dan masih ingin mengelak," sahut Davin dengan santai.


" Mesya kamu itu keterlaluan. Bisa-bisanya kamu melakukan hal ini. Kamu itu benar-benar ya," ucap Altarik yang tidak percaya dengan perbuatan istrinya.


" Mas kamu jangan percaya begitu saja dengan semua ini. Untuk apa aku melakukan hal itu," ucap Mesya yang masih membantah.


" Agar lepas tanggung jawab dari perbuatan Lian dengan melenyapkan anak yang di dalam kandungan Silvia. Iya kan Lian," ucap Davin melihat ke arah Lian dan Lian diam dan tidak berkutik sama sekali.


" Dan kalian melakukan hal yang sama pada istriku. Kalian tidak ingin Kayra mengandung keturunanku. Apa semua hanya karena Pemindahan alih perusahaan," lanjut Davin yang membaca semua rencana busuk ibu tirinya.


" Keterlaluan!" sahut Oma menekan suaranya yang melihat Lian dan Mesya secara bergantian.


" Ibu dan anak melakukan tindakan kriminal yang membahayakan nyawa orang lain dan merencanakan dengan mulus hanya demi kepentingan kalian. Di mana otak kalian!" teriak Oma dengan suara yang volumenya naik bertingkat-tingkat.


" Mah...."


" Diam!!!!" bentak Oma membuat Mesya tersentak kaget.


" Sungguh tidak kuduga kalian ber-2 bisa melakukan hal ini. Aku benar-benar terkejut Mesya dengan perlakuanmu. Dari apa yang kau lakukan ini. Aku sungguh meragukan mu menjadi seorang menantu di rumah ini. Kau benar-benar...." teriak Oma. Namun kalimatnya tidak jadi di lanjutkannya ketika tangannya memegang dadanya.


" Mah!"


" Oma!"


" Oma!"


Orang-orang panik dan langsung menghampiri Oma Elishabet yang terlihat sesak napas.


" Mama tidak apa-apa. Mama tenang dulu!" ucap Altarik yang sudah duduk di samping mamanya memegang mamanya yang merasa sesak didadanya.


" Oma sebaiknya istirahat," ucap Davin panik melihat kondisi Omanya. Sementara Mesya tidak berani mendekati Omanya.


" Biar Zoy yang bawa ke atas," sahut Zoy.


" Giselle bantu," sahut Giselle yang mana mereka berdua membantu Oma untuk berdiri.


" Davin!" ucap Oma dengan suara pelan ketika berdiri di depan Davin.


" Iya Oma ada apa?" tanya Davin dengan wajahnya yang cemas.


" Kamu beri mereka sangsi yang tegas atas tindakan mereka. Oma ingin istirahat," ucap Oma dengan sulitnya bicara yang sudah tidak sanggup mau seperti apa.

__ADS_1


" Baik Oma," sahut Davin.


Lian dan Mesya saling melihat yang sama-sama ketakutan dengan tindakan Davin setelah ini.


" Zoy, Giselle cepat bawa Oma kekamar!" titah Altarik.


" Iya pah," sahut Zoy dan Giselle yang langsung pergi menuntun Omanya untuk beristirahat.


Dan tinggallah, Mesya, Lian, Davin, Altarik, Dion dan Reyhan.


" Aku tidak percaya Mesya dengan perbuatanmu yang memalukan ini," ucap Altarik dengan menekan suaranya.


" Mas aku punya alasan melakukannya," sahut Mesya mendekati suaminya dengan memegang tangan suaminya berharap akan mendapat pembelaan dari suaminya. Namun Altarik menepis tangan istrinya itu.


" Alasan kamu hanya untuk kepentingan diri kamu sendiri. Sebagai seorang ibu kamu bukannya mendidik Lian dengan baik. Tapi kau malah membuka jalan kejahatan untuknya. Keterlaluan," ucap Altarik.


" Mas!" lirih Mesya.


" Aku tidak akan ikut campur urusan ini. Kalian berdua harus mendapatkan sangsi dengan perbuatan kalian berdua dan Davin yang akan mengurusnya!" tegas Altarik dan langsung pergi dari hadapan istrinya yang bersandiwara seperti penuh dengan penyesalan.


" Mas!" panggil Mesya.


Davin melihat Lian dan Mesya secara bergantian dengan Davin menyunggingkan senyumnya pada ibu tiri dan adiknya itu. Davin tidak mengatakan apa-apa dan langsung pergi dari hadapan 2 orang itu. Dion dan Reyhan pun menyusul Davin.


" Bagaimana ini mah?" tanya Lian dengan wajah paniknya, " Davin pasti akan bertindak sesuatu di luar nalar mah. Nasib kita bisa berantakan," ucap Lian dengan panik.


" Mama kenapa menyalahkanku. Aku mana tau kalau Davin akan mencampuri urusan Silvia," sahut Lian yang tidak terima mendapat tuduhan itu.


" Argh sudahlah! kepala mama sakit dengan semuanya," ucap Mesya kesal dengan memegang kepalanya dan Mesya langsung pergi meninggalkan ruang tamu.


" Lihatlah aku lagi yang di salahkan. Padahal semua ide mama yang merencanakannya. Kalau ketahuan aku yang kenak imbasnya," umpat Lian bertambah kesal yang sekarang di salahkan sang mama.


*********


Kayra berada di kamar mandi yang baru selesai mandi. Kayra juga keramas karena beberapa hari di rumah sakit rambutnya lumayan lepek. Kayra yang masih polos mengambil bathrobe yang bergantung dan langsung memakainya.


Brukk.


Pintu kamar mandi terbuka dengan tiba-tiba membuat Kayra langsung menutup tubuhnya yang belum sempurna memakai bathrobe tersebut.


" Davin!" pekik Kayra dengan terkejut. Kayra berdecak kesal dan mengikat tali penghubung bathrobe tersebut. Davin mendekatinya dan menghentikan tangan Kayra membuat Kayra mengkerutkan dahinya.


" Kenapa harus di tutupi bukannya aku sering melihatnya," ucap Davin dengan seriangi nakal di wajahnya.

__ADS_1


" Isssss apaan sih," sahut Kayra dengan mengekerutkan bibirnya dan kembali mengikat tali bathrobenya. Namun Davin langsung menghentikannya dan malah mengangkat tubuh Kayra ke atas meja yang ada di atas kamar mandi dan membuat Kayra kaget.


" Davin!" pekik Kayra kesal dengan memukul bahu Davin, " kau ini benar-benar ya," ucap Kayra dengan kesal.


Davin meletakkan ke-2 tangannya di sisi kiri dan kanan Kayra di pinggir meja. Lalu memajukan wajahnya pada Kayra membuat Kayra melotot dan refleksi mundur. Namun Davin menarik pinggang Kayra dan akhirnya membuat Kayra menabrak dada bidang Davin dengan wajah mereka yang saling berdekatan.


" Kenapa sangat galak sekarang?" tanya Davin dengan menatap intens Kayra.


" Si-siapa yang galak," sahut Kayra dengan gugup saat tatapan Davin begitu mematikan.


" Siapa lagi jika bukan istriku ini. Dia sangat galak. Memang aku tidak boleh melihat tubuh polos mu," ucap Davin.


" Bukan begitu. Kau mengangetkan ku, masuk tiba-tiba kekamar mandi. Seharusnya jangan seperti itu," ucap Kayra.


" Lalu seharusnya bagaimana?" tanya Davin.


" Ya ketuk pintu dulu," jawab Kayra gugup.


" Tapi aku adalah suamimu. Masa iya harus ketuk pintu dulu. Apa lagi aku memang menginginkan mu," ucap Davin dengan mengelus-elus rambut Kayra.


" Aku sangat merindukanmu dan juga anak kita. Aku ingin berkunjung, aku harus menjenguknya," ucap Davin mengecup bibir Kayra.


" Tapi kamu mandi dulu," sahut Kayra.


Davin mengkerutkan dahinya, " kenapa?" tanya Davin.


" Kamu bau. Aku tidak mau melakukannya kalau kamu bau. Kamu belum mandikan dari kemarin," ucap Kayra.


Davin mendengus kasar mendengar ejekan Kayra, " jadi aku harus mandi?" tanya Davin.


Kayra menganggukkan kepalanya.


" Baiklah kalau begitu," Davin melepasku tangannya dari pinggang Kayra dan menjauh sedikit dari Kayra dengan berdiri tegak dan langsung membuka kancing bajunya.


" Kamu mau ngapain?" tanya Kayra.


" Mau mandi," jawab Davin.


" Ya tunggu dulu aku keluar dulu!" ucap Kayra mencoba turun. Namun di cegah Davin.


" Kau harus melihatku mandi," ucap Davin membuat Kayra melotot.


" Aku tidak mau!" berontak Kayra.

__ADS_1


" Mau tidak mau kau harus melihatnya," tegas Davin yang membuka pakaiannya dan Kayra langsung menutup matanya dengan ke-2 tangannya. Davin tersenyum melihat Kayra kepanikan sendiri. Davin memang ada gila-gilanya. Dia benar-benar membuka semua pakaiannya dan benar-benar mandi di depan istrinya yang masih menutup matanya.


Bersambung


__ADS_2