
Hubungannya Kayra dan Davin semakin rumit. Bukannya semakin membaik. Davin begitu marah dengan Kayra yang jelas-jelas meminta untuk mengakhiri segala hubungannya dengan Davin. Kemarahannya masih belum padam. Davin dengan luka di punggung tangannya menyetir dengan kecepatan tinggi untuk meluapkan emosinya.
Di dalam otaknya terus terbayang dengan kata-kata Kayra malam itu saat mabuk. Mengingat semua bagiamana kehidupannya bersama Kayra. Bisa di katakan begitu manis dan membuatnya bahagia. Namun semakin mengingat semua itu membuat Davin semakin marah dan memukul-mukul stir mobil dengan kencang.
" Argggghhh!" teriak Davin dengan suara menggelegar. Sementara Kayra sudah kembali pulang. Kayra juga terlihat menangis yang terduduk di pinggir di lantai yang bersandar di ranjang dengan memeluk ke-2 lututnya. Kayra terlihat prustasi dengan air matanya yang terus keluar.
Kayra mengingat semua kenangannya bersama Davin, dari pertama kali bertemu sampai akhirnya menikah dan banyak kehidupan yang mereka jalani bersama membuat Kayra bahagia.
Namun semakin mengingat semua itu semakin membuat hatinya terluka dia semakin sakit dan air matanya semakin banyak keluar.
" Kenapa harus jatuh cinta Kayra. Kenapa tidak bisa profesional. Kenapa harus jatuh cinta padanya dan lihat semua ini sangat menyakitkan Kayra. Apa yang kau harapkan tidak akan bisa kau dapatkan," ucap Kayra dengan terisak-isak yang beberapa kali mengacak rambutnya dengan frustasi.
**********
Mentari pagi kembali tiba. Keluarga besar Altarik sedang sarapan bersama lengkap dengan semua orang.
Kayra dan Davin juga ada di sana. Di mana terlihat diam yang tidak bicara sama sekali.
" Aku ingin membicarakan sesuatu," sahut Davin di tengah sarapan membuat orang-orang di meja makan itu terlihat serius melihat ke arah Davin.
Sementara Kayra terlihat dek-dekan. Bahkan tidak jadi menelan apa yang baru masuk kemulutnya.
" Aku dan Kayra ingin membicarakan hal serius!" lanjut Davin membuat Kayra semakin terkejut. Semakin gugup dengan jantungnya yang berdebar tidak menentu. Tangannya memegang sendok itu sangat kuat dan membuat Oma begitu memperhatikannya.
" Ada apa Davin kenapa begitu serius?" tanya Oma heran.
Davin melihat ke arah Kayra yang menunduk dengan rasa takut di wajah Kayra.
" Sebelum itu papa yang bicara terlebih dahulu," sahut Altarik.
" Ada apa mas?" tanya Mesya.
" Papa hanya mengingatkan untuk pesta ulang tahun Perusahaan besok malam. Jadi papa ingin semuanya hadir tanpa ada ketercuali dan iya acara ini jelas sangat penting untuk kita semua dan sebaiknya. Jika ada masalah di dalam keluarga ini jangan di bahas dulu. Biar kita bisa fokus pada Perusahaan," tegas Altarik.
__ADS_1
" Papa hanya ingin kalian semua bersikap dewasa dan profesional. Sangat banyak Maslaah yang terjadi belakangan ini. Masalah Lian yang belum selesai dan juga masalah kerikil-kerikil yang sengaja di cari oleh Davin. Jadi papa berharap untuk kebijakan dari kalian semua agar paham," tegas Altarik.
" Iya pah," sahut Lian.
" Baiklah Davin apa yang ingin kamu sampaikan tadi. Silahkan di lanjutkan," ucap Oma.
Davin terlihat berpikir dan melihat ke arah Kayra yang tetap menunduk.
" Aku kekator dulu. Ada meeting mendadak," ucap Davin langsung berdiri dan pergi begitu saja yang tidak melanjutkan apa yang ingin di sampaikannya kepada keluarganya.
Davin mungkin ingin menyampaikan perpisahannya dengan Kayra. Namun harus di hentikan Davin. Karena sebelumnya papanya sudah memberi kesan. Davin tidak ingin membuat kegaduhan dan mungkin nanti setelah ulang tahun Perusahaan akan selesai barulah Davin membicarakan masalah serius itu.
" Kalian ada masalah Kayra?" tanya Oma membuat Kayra mengangkat ke kepalanya melihat ke arah Oma.
" Kayra juga mau ke kantor!" Kayra tidak menjawab pertanyaan Oma dan menghentikan sarapannya. Lalu berdiri meninggalkan meja makan itu.
" Tidak punya sopan santun. Di tanya bukannya di jawab malah main pergi aja," desis Gisella.
" Mama lagian ngapain sih tanya masalah dua. Jelas dia punya masalah dengan Davin," sahut Mesya.
" Aku hanya mengatakan yang sebenarnya," tegas Mesya yang malas melanjutkan sarapannya.
" Aku tau ke-2 anak itu masih belum bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Aku hanya berharap mereka dapat menyelesaikan masalah mereka sendiri," batin Oma.
*********
" Dion!" panggil Oma yang menghampiri Dion yang menunggu di depan pintu mobil.
" Iya nyonya?" tanya Dion dengan menundukkan kepalanya.
" Saya berharap kedepannya. Kamu lebih bisa sportif, mungkin kedekatan kamu dengan Davin. Atau persahabatan kalian mungkin begitu sampai kamu menuruti apa yang di katakan Davin. Jadi ini kesempatan terakhir kamu. Jangan membuat saya kecewa lagi," ucap Oma dengan tegas yang mengingatkan Dion.
" Maafkan saya nyonya," ucap Davin tertunduk mengakui kesalahannya.
__ADS_1
" Saya selalu memberi kesempatan untuk kamu. Namun ini kesempatan terakhir kamu. Jangan membuat kesalahan yang sama yang tidak saya sukai!" tegas Oma. Dion menganggukkan kepalanya. Dan saat Zoy keluar dari rumah yang pasti untuk berangkat yang bersama Dion.
" Zoy sudah siapa. Berangkatlah kalian!" titah Oma. Dion menganggukkan kepalanya dan melihat Zoy berdiri di samping Oma.
" Zoy berangkat dulu Oma," ucap Zoy pamit. Oma mengangguk dan Dion membukakan pintu untuk Zoy. Sebelum pergi Dion menundukkan kepalanya. Lalu pergi dari hadapan Oma.
*********
Di dalam mobil terlihat Dion yang menyetir yang tidak biasanya tidak bersemangat dan Zoy yang duduk di belakangnya melihat Dion.
" Jadi benar. Jika Pricilla dan kak Davin bersama di Dubai?" tanya Zoy tiba-tiba. Dion melihatnya dari kaca spion.
" Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?" tanya Dion.
" Oma selalu tau apa yang di lakukan semua cucunya dan buktinya Oma juga tau. Kalau kau berpihak pada kak Davin dan menghiyanati Oma dengan menutupi kebersamaan Pricilla dan juga kak Davin," ucap Zoya.
" Tapi aneh sih. Masa iya istrinya tidak tau kekakuannya," ucap Zoy.
" Untuk masalah itu saya juga tidak tau apa-apa, saya hanya menjalankan tugas dari nyonya Elishabet dan juga Davin," jawab Dion.
" Oh, oke lagian aku hanya bertanya saja," sahut Zoy yang belakangan ini memang tidak mau mencampuri urusan Kayra dan kakaknya.
***********
Di Perusahaan perjalanan hubungan Kayra dan Davin begitu datar. Ke-2nya saling menghindar. Bahkan jika berpapasan akan tidak menyapa dan bahkan saking tidak kenal sama dengan detik ini. Di mana Kayra berjalan dan di depannya ada juga Davin dan mereka hanya lewat begitu saja tanpa berpapasan sama sekali.
Bagai 2 orang asing yang tidak saling mengenal. Reyhan yang berjalan di samping bos itu hanya gelang-gelang saja. Sudah biasa bagi Reyhan untuk melihat pemandangan itu. Namun kali ini paling parah sampai tidak mau saking tegur.
Masalah diam-diam Davin dan Kayra juga sampai ke rumah. Semenjak keributan itu Kayra dan Davin tidak bicara sama sekali. Davin juga pulang sering larut malam. Karena pekerjaan yang mendesak untuk persiapan ulang tahun Perusahaan dan sekalian menghindari tatap muka dengan Kayra.
Namun kali ini Davin pulang agak cepat Davin berdiri di depan nakas yang memegang map merah. Apa lagi jika bukan surat perjanjian pernikahannya dengan Kayra. Davin membuka surat itu dan menatapnyanya dengan lama.
Krekkk. Kayra tiba-tiba keluar dari kamar mandi membuat mereka berdua saling melihat dari jarak yang jauh. Saling melihat dengan tatapan yang sendu. Davin kembali memasukkan surat perjanjian itu ke dalam nakas. Lalu memasuki kamar mandi yang melewati Kayra begitu saja.
__ADS_1
Kayra menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan. Tidak ada yang di harapkannya lagi. Dia dan Davin sudah akan mengakhiri hubungan mereka.
Bersambung