Pernikahan Dalam Ikatan Surat Kontrak.

Pernikahan Dalam Ikatan Surat Kontrak.
Bab 211


__ADS_3

Kayra mau tidak mau akhirnya menyuapi Davin dengan Davin yang duduk di atas ranjang bersandar di kepala ranjang dan Brian juga ada di kamar itu yang sepertinya mengawasi mamanya merawat papanya apa tidak.


Kayra tidak banyak bicara dan hanya menyuapi Davin saja.


"Kalau Brian lihat sebentar lagi papa pasti sembuh," ucap Brian yang meletakkan punggung tangannya di kening Davin yang mengecek kondisi Davin.


"Brian tau dari mana. Kalau papa akan sembuh?" tanya Davin.


"Tubuh papa sudah tidak panas lagi dan kemerahannya juga sudah berkurang. Papa juga sekarang makan dan setelah itu minum obat. Jadi pasti papa akan secepatnya sembuh," ucap Brian yang sok tau.


"Brian ini sudah seperti Dokter saja. Apa nanti kalau besar Brian mau jadi Dokter?" tanya Davin.


"Iya papa Brian jadi Dokter hebat seperti mama. Brian akan merawat pasien seperti mama. Brian akan melanjutkan tugas mama," sahut Brian yang berbicara dengan tegas membuat Davin tersenyum dengan cita-cita mulia anaknya itu. Begitu juga Kayra yang memang sangat tau Brian itu bercita-cita menjadi Dokter. Karena terinspirasi dari dirinya.


"Papa doakan cita-cita kamu akan segera terkabul," ucap Davin.


"Amin. Mama kalau Brian sudah jadi Dokter mama tidak perlu ke rumah sakit lagi. biar Brian yang melanjutkan tugas mama dan mama hanya perlu di rumah untuk beristirahat saja. Kan selama ini mama sangat lelah menjadi seorang Dokter," ucap Brian.


"Iya Brian," jawab Kayra hanya dengan kata itu saja.


"Ayo papa makan lagi!" ucap brian. Davin mengangguk dan Kayra kembali menyuapinya dengan lembut.


Tidak lama akhirnya Davin selesai juga makan dan Kayra juga sudah memberinya obat.


"Kamu istirahatlah jangan bekerja dulu. Fokus pada kesehatan," ucap Kayra memberi pesan pada Davin.


"Terima kasih sudah merawatku," sahut Davin.


"Hmmm," Kayra hanya menjawab dengan deheman.


"Ya sudah Brian mama harus kerumah sakit. Brian mau ikut mama atau mau di sini jagain papa?" tanya Kayra.

__ADS_1


"Brian jagain papa aja ya mah, soalnya papa masih belum sembuh," ucap Brian.


"Baiklah sayang. Kalau Brian mau jagain papa ya sudah tidak apa-apa," sahut Kayra, "kalau begitu mama pamit ya," ucap Kayra.


"Nanti mama pulang dari rumah sakit kemari lagi ya," ucap Brian.


"Untuk apa sayang?" tanya Kayra heran.


"Mama harus cek papa lagi," jawab Brian.


"Baiklah!" sahut Kayra menghela napasnya, "ya sudah kamu jagain papa. Mama pergi dulu," ucap Kayra yang langsung keluar dari dalam kamar tersebut.


"Hati-hati mama," sahut Brian.


Davin menghela napasnya, "kemari Brian!" panggil Davin menepuk tempat duduk di sebelahnya dan Brian langsung datang.


"Ada apa papa?" tanya Brian.


"Iya pah, papa bilang tidak enak badan. Jadi Tante Zoy menyuruh Brian menghubungi mama lewat handphonenya tanya Zoy dan makanya mama datang kemari," jawab Brian apa adanya.


"Tapikan papa bilang sama Brian tidak perlu panggil Dokter," ucap Davin yang ternyata sebelumnya sudah mengingatkan Brian.


"Kan tidak apa-apa pah. Dokternya kan mama. Lagian memang Brian dan Tante Zoy sengaja panggil papa. Biar mama rawat papa. Kalau kata Tante Zoy ini itu misi untuk membuat mama dan papa bisa jadi satu lagi dan kita ber-3 bisa tinggal bersama," ucap Zoy dengan polosnya bicara. Saking polosnya rencananya dan Zoy pun di bongkar habis olehnya.


"Apa Brian benar-benar ingin mama dan papa bersatu?" tanya Davin yang melihat wajah Brian yang mempunyai keinginan sangat besar dan bahkan sudah berusaha dengan begitu hebat.


"Iya Brian memang ingin membuat papa dan mama menjadi satu," jawab Brian apa adanya, " biar keluarga kita semuanya utuh. Kita bisa tinggal bersama, main bersama," jawab Brian dengan semangatnya.


Davin mendengarnya jadi senduh dan langsung memeluk Brian.


"Maafkan papa ya Brian. Semua ini kesalahan papa, kamu jadi seperti ini," ucap Davin dengan rasa bersalahnya.

__ADS_1


"Jangan meminta maaf pah, papa tidak salah sepenuhnya dan papa sudah mengakui kesalahan papa. Dan itu yang paling utama. Jadi papa bisa belajar dari kesalahan dan kita berdua harus lebih berusaha lagi. Kalau kata Tante Zoy sih harus berusaha untuk meluluhkan hati mama," ucap Brian dengan bijaknya yang berbicara sudah seperti orang dewasa dan hal itu membuat Davin sangat bangga dengan putranya itu.


Davin melepas pelukannya dari Brian dengan mencium kening Brian,


"Kamu anak yang sangat pintar. Papa bangga sama kamu. Makasih ya sudah membantu papa. Papa janji akan menyelesaikan semua ini dalam waktu dekat. Kamu jangan khawatir ya," ucap Davin.


"Iya papa. Brian percaya kok sama papa," ucap Brian tersenyum lebar. Davin pun tersenyum dan memeluk erat kembali putranya itu.


***********


Zoy dan Brian sedang berada di taman belakang yang mana Brian membantu Zoy menyiram tanaman dengan selang air.


"Tante apa menurut Tante rencana kita akan berhasil?" tanya Brian yang berdiri di samping Zoy sembari menyiram tanaman dengan selang yang sama yang seperti di lakukan Zoy.


"Tidak bisa di pastikan Brian. Karena hati wanita itu sangat susah di tebak. Ya harapannya hanya 50:50," jawab Zoy.


"Memang hati wanita susah di tebak maksud Tante bagaimana?" tanya Brian kalau sudah mendengar kata baru harus ada penjabaran yang akurat karena rasa ingin taunya yang sangat besar.


"Brian wanita itu bisa saja perhatian seperti mama kamu yang kita bisa lihat dari luar sepertinya sangat menerima papa kamu. Tetapi nyatanya tidak dan sebaliknya bisa saja mama kamu itu sangat cuek dan tidak pedulian. Tetapi ternyata di balik ke cuekan nya dia sangat perhatian. Ya seperti itu lah hati wanita tidak bisa di tebak dan kalau marahnya itu lama. Dia bisa mengatakan memaafkan. Tetapi ternyata kesalahan itu masih terngiang-ngiang," jelas Zoy.


"Ya dari apa yang Tante katakan memang sangat aneh hati wanita," sahut Brian mengangguk-angguk seolah sangat mengerti.


"Kalau kamu nanti pacaran Brian. Kamu harus memahami bagaimana dia sebelumnya," ucap Zoy menyarankan.


"Kan Brian sudah mendapat wejangan dari Tante. Jadi nanti kalau Brian dekat sama wanita Brian sudah tau apa yang harus Bria lakukan," ucap Brian membuat Zoy tertawa.


"Tapi kamu jangan pacaran waktu kecil ya," ucap Zoy memberi ingat. Takut nanti keponakannya itu sudah punya pacar saja dan dia bisa di habisi Davin.


"Tapi pacaran itu apa sih Tante?" tanya Brian yang lupa bertanya tadi.


"Hmmm, pacaran itu!" Zoy menggaruk-garuk kepalanya. Bisa-bisanya dia harus membahas masalah pacaran dengan anak kecil yang baru 5 tahun. Zoy memang kadang-kadang anak kecil pun di jadikan teman curhat.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2