
Davin menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan setelah itu Kayra membuka matanya. Memang dia tidak tidur sejak tadi.
Kayra membuang napasnya perlahan kedepan. Lalu memilih untuk duduk dengan melihat jam yang menggantung di dingding yang sudah pukul 10 malam.
Semenjak Kayra bekerja di Perusahaan Davin. Davin tidak pernah pulang malam. Dan paling lama jam 8 dan itupun karena ada meeting di luar. Bahkan terkadang Kayra ikut bersama Davin dan sekarang sudah pukul 10 dan tadi Davin bersama Pricilla di pikiran Kayra pasti entah apa-apa. Karena tadi seharian dia tidak melihat Davin.
Kayra tidak bisa tidur dan memilih untuk turun dari ranjang yang langsung ke teras kamar untuk menikmati udara dingin. Dari pada pikirannya tidak tenang.
Tidak lama Davin akhirnya selesai mandi yang sudah memakai kaos putih dan celana training untuk tidur. Davin melihat ke atas tempat tidur sudah kosong. Mata Davin langsung menoleh ke arah teras yang mana Kayra berdiri di sana yang kepahanya melihat ke langit.
Davin menghela napasnya dan menghampiri istrinya ke teras kamar. Davin berdiri di belakang Kayra dengan memegang ke-2 pundak Kayra.
" Kenapa belum tidur?" tanya Davin. Kayra hanya melihat tangan Davin dengan ekor matanya.
" Aku sudah tidak mengantuk!" jawab Davin.
" Lalu saat aku pulang tadi. Kamu sudah tidur apa belum? Apa kamu sadar jika aku pulang?" tanya Davin.
" Aku tidur. Hanya saja tidak nyenyak. Jadi aku sadar kamu pulang," jawab Kayra ada bohong dan ada benarnya.
" Apa kamu menungguku?" tanya Davin. Kayra menghela napasnya panjang dan menghadap ke arah Davin.
" Kamu dari mana. Kenapa pulang larut?" tanya Kayra. Dia tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya. Ya walau Kayra harus menyadari dalam pernikahannya ada batasan yang harus di jaga dan mungkin pertanyaan yang barusan di tanyakannya tidak perlu. Karena itu hanya pertanyaan untuk pasangan suami istri yang benar-benar menikah.
" Sudahlah aku istirahat saja," ucap Kayra yang berlaku dari hadapan Davin. Namun Davin menahan tangannya dan membuat Kayra tidak jadi pergi.
Davin memegang ke- bahu Kayra dengan kepalanya sedikit menunduk agar sejajar dengan Kayra.
" Aku ada meeting Kayra. Maafkan aku. Aku tidak memberitahumu. Aku tadi ke Bandung dan melihat proyek Zoy," jawab Ardian.
" Tapi kenapa Reyhan tidak pergi bersamamu. Apa kamu pergi bersama..."
" Aku tidak pergi bersamanya," sahut Davin yang memotong kata-kata Kayra. Dia tau Pricilla yang di maksud Kayra. Kayra diam dengan menatap mata Davin yang memang tidak mungkin berbohong.
" Kayra aku pergi bersama Dion dan juga Zoy. Bahkan pulang bersama. Aku juga tidak membawa mobil," ucap Davin menjelaskan pada Kayra. Hati Kayra memang begitu gundah.
" Lalu Pricilla kemana? Aku juga tidak melihatnya tadi dan kalian pergi sebelumnya?" tanya Kayra mengintimidasi Kayra.
__ADS_1
" Aku memang pergi tadi bersamanya dan kamu melihat itu. Tapi kita hanya bicara beberapa kata saja dan aku tidak bersamanya. Aku juga tidak tau dia di mana dan bukannya jika aku pergi bersamanya aku akan memberi tahumu," ucap Davin.
" Jadi kau tadi tidak pergi bersamanya?" tanya Kayra lagi. Davin menganggukkan kepalanya dan langsung memeluk Kayra dengan mengusap-usap punggung Kayra.
" Apa ini yang membuat dirimu gundah?" tanya Davin. Jelas iya karena Kayra sangat khawatir Davin dan Pricilla bersama-sama.
" Aku hanya merasa aneh. Ketika 1 harian tidak di tanya kabar, tidak di panggil ke ruanganmu," ucap Kayra yang sekarang kau lebih lega dan perasaannya sudah tenang.
Mendengar kata-kata Kayra hanya membuat Davin tersenyum. Semakin lama Kayra semakin tidak bisa menyembuyikan perasaannya pada Davin.
" Kamu sudah makan?" tanya Davin. Kayra melonggarkan pelukannya dan melihat ke arah Davin dengan menggelengkan kepalanya.
" Kenapa tidak makan?" tanya Davin.
" Kamu sendiri bagaimana? apa sudah makan?" tanya Kayra tanpa menjawab pernyataan Davin.
" Aku sudah makan tadi," kawan Davin.
" Sayang sekali. Padahal aku ingin makan di temani," ucap Kayra.
" Aku bisa melakukannya. Ayo makan bersamaku!" ajak Davin. Kayra mengangguk dengan senyum.
***********
Davin dan Kayra sama-sama menikmati makanan di pinggir kolam renang. Dengan suasana yang indah. Di mana Kayra dengan lahap memakan spageti yang duduk di pinggir kolam renang dan Davin hanya menemaninya duduk di sampingnya.
Kayra melihat cincin di jari manis Davin. Berupa cincin pernikahan mereka.
" Davin!" tegur Kayra sembari mengunyah makanannya.
" Kenapa?" tanya Davin melihat ke arah Kayra.
" Kenapa kau betah sekali memakai cincin itu? apa tidak ada yang bertanya kepadamu mengenai cincin itu?" tanya Kayra.
" Maksudnya?" tanya Davin.
" Orang-orang tidak ada yang tau kau sudah menikah apa belum dan kau juga tidak ingin jika orang-orang tau dan apa jawaban mu saat orang menanyakan masalah cincin itu?" tanya Kayra.
__ADS_1
" Selama ini tidak ada yang bertanya dan mungkin ada beberapa. Tapi aku bisa menjawabnya dan tidak ada masalah sampai detik ini," jawab Ardian.
" Apa ada yang sadar jika itu cincin pernikahan?" tanya Kayra.
" Aku tidak tau ada yang sadar atau tidak," jawab Davin simple.
" Kalau ada yang meminjamnya. Apa kau akan berikan?" tanya Kayra.
" Bukan hanya cincin ini. Aku tidak suka meminjam kan apapun pada orang lain," jawab Davin.
" Lalu bagaimana jika ada yang bertanya padamu. Apa kamu sudah menikah atau belum. Apa yang akan kamu jawab?" tanya Kayra. Membuat Davin melihatnya dengan serius.
" Apa kau ingin di akui Kayra!" Davin tidak menjawab dan bertanya kembali pada Kayra membuat Kayra dan Davin saling melihat. Namun seketika Kayra tersenyum kaku.
" Aku tidak menanyakan hal itu Davin. Kalau masalah di akui atau tidak bukankah sebelum pernikahan kita sudah membahasnya. Pernikahan kita yang tidak di ketahui orang dan alasan kamu melakukannya di luar Negri untuk kebaikan kita ber-2. Karena jika kita berpisah. Tidak akan ada yang di rugikan di antara kita. Jadi untuk apa aku punya keinginan untuk di aku. Aku menyadari pernikahan ini hanya sementara," ucap Kayra yang sejak tadi bicara tidak melihat Davin dan hanya mengaduk-aduk spageti dengan kepalanya yang menunduk.
Davin mendekatkan wajahnya pada Kayra dengan memegang dagu Kayra dan mencium bibir Kayra dan melepasnya dengan wajah mereka yang saling berdekatan dan mata mereka yang saling melihat.
" Kenapa kau sering kali mengatakan perpisahan?" tanya Davin membuat Kayra diam yang kesulitan menelan salivanya.
" Selama aku dan kau menikah. Aku tidak pernah membahas perpisahan. Bukannya waktu itu kita pernah bicara untuk saling memberi kenyamanan," ucap Davin.
" Tapi aku takut terlalu nyaman bersamamu!" ucap Kayra di dalam hatinya.
" Ehemmm!" tiba-tiba terdengar deheman membuat Kayra dan Davin kaget dan perlahan mereka saling menjauh yang ternyata Zoy berdiri di samping mereka yang menggangu Kayra dan Davin.
" Ada apa?" tanya Davin.
" Aku mau membicarakan masalah terpotong tadi, mengenai proyek itu," jawab Zoy.
" Apa tidak bisa besok saja?" tanya Davin.
" Sekarang aja," sahut Zoy. Davin menghela napasnya.
" Aku ke dapur duku!" ucap Kayra mengambil piringnya lalu pergi ke dapur dan Davin hanya melihat saja istrinya yang aneh itu.
" Bisa kita mulai kak Davin?" tanya Zoy mengganggu Davin saja dan Davin mau tidak mau harus membahas permasalahan itu bersama adiknya itu.
__ADS_1
************