Pernikahan Dalam Ikatan Surat Kontrak.

Pernikahan Dalam Ikatan Surat Kontrak.
Bab 35 Kalau sudah uang bicara.


__ADS_3

Ternyata mereka berhenti di depan gedung besar. Yang Kayra bingung tempat apa itu. Namun Kayra juga melihat ada beberapa orang yang masuk kedalam gedung itu. Baik laki-laki maupun wanita.


" Kenapa berhenti di sini?" tanya Kayra tanpa melihat Davin. Dia masih sibuk melihat-lihat di sekitarnya.


" Turunlah!" titah Davin membuka sabuk pengamannya. Tidak menjawab pertanyaan istrinya membuat Kayra bingung.


" Jangan asal menyuruh turun. Kita ngapain di sini?" protes Kayra lagi yang harus tau dulu untuk apa di sana baru mau turun.


" Aku bilang turun maka turun! jangan banyak bertanya!" ucap Davin menegaskan pada Kayra, Davin langsung turun.


" Issh apa susahnya menjawab," gerutu Kayra membuka sabuk pengamannya yang buru-buru langsung keluar dari mobil dan berdiri di samping Davin. Kayra masih Tetap melihat di sekitarnya yang penasaran dengan tempat itu.


" Ayo masuk!" ajak Davin yang melangkah terlebih dahulu. Kayra hanya mengikut saja di belakang Davin. Ada dua peria di depan pintu yang membukakan pintu untuk setiap orang yang masuk.


Setelah masuk Kayra yang ternyata isi di dalam gedung itu adalah lukisan-lukisan yang klasik- klasik yang bisa di pastikan tempat itu adalah untuk pameran lukisan. Kepala Kayra berkeliling melihat-lihat di sekitarnya yang mengikut saja di belakang Davin.


" Ngapain juga dia harus mengajakku kemari, hanya buang-buang waktu saja," umpat Kayra namun di dalam hatinya.


Davin terus berjalan dan jalannya bahkan sangat cepat yang seperti orang bukan untuk melihat lukisan. Karena langkah Davin sama sekali tidak berhenti untuk pada satu objek untuk di lihatnya. Malah terus berjalan yang membuat Kayra hanya bergerutuk kesal.


Sampai akhirnya Davin berhenti saat seorang wanita cantik berhadapan dengannya. Wanita itu menundukkan kepalanya.


" Di mana profesor Han?" tanya Davin pada wanita itu. Bisa di pastikan Davin datang kegedung itu bukan untuk melihat lukisan. Tetapi untuk bertemu seseorang.


" Ada di dalam tuan?" jawab wanita itu dengan ramah yang bahkan mempersilahkan masuk. Lagi-lagi Kayra hanya mengikuti saja kemana Davin. Sampai akhirnya mereka Memasuki ruangan yang di mana sudah ada Pria itu yang duduk di kursi sibuk dengan pulepnnya yang menulis di dalam buku.


" Tuan Davin ingin bertemu profesor!" sahut wanita itu menginformasikan membuat Frofesor tersebut mengangkat kepalanya.


" Davin!" Pria itu tersenyum berdiri dari tempat duduknya menghampiri Davin dan memeluknya ala persahabatan.


" Sangat beruntung bisa langsung di datangi kemari," sahut profesor.


" Saya permisi!" wanita itu akhirnya keluar setelah tugasnya selesai. Kayra masih bingung saja dengan banyaknya pertanyaan di dalam otaknya.


" Saya sudah mengatakan akan datang bukan," ucap Davin.


" Ya benar, aku sangat bahagia melihat kedatanganmu," ucap profesor tersebut.


profesor itu mengalihkan pandangannya melihat ke arah Kayra yang ada di sana dengan wajah bingung Kayra.


" Siapa dia? Apa dia kekasihmu?" tanya frofesor tersebut.


" Dia anak dari orang yang aku ceritakan," jawab Davin.


Mendengar kata-kata Davin membuat Kayra semakin bingung, " Anak apa maksudnya? Anak siapa? apa yang di ceritakannya?" Kayra harus bertanya-tanya sendiri di dalam hatinya.


" Oh jadi ini putri dari tuan Aris," sahut profesor tersebut yang menyebutkan nama ayah Kayra yang membuat Kayra semakin kaget.


" Benar sekali," sahut Davin menoleh ke arah Kayra, " Kayra ini profesor Han. Perofesor paling terbaik. Dia ini memiliki rumah sakit di Dubai. Rumah sakit terkenal dan pasti rekomendasi di sana," ucap Davin menjelaskan sedikit siapa Pria itu.


" Lalu apa urusannya denganku," batin Kayra menanggapi pernyataan Davin.


" Saya profesor Han," sahut profesor itu dengan ramah dengan mengulurkan tangannya untuk berkenalan.


Kayra menyambut uluran tangan itu dengan tersenyum tipis, " Kayra!" sahut Kayra.

__ADS_1


" Kayra aku akan memindahkan papa mu dari Singapura ke rumah sakit beliau yang ada di Dubai dan profesor Han sendiri yang akan menanganinya agar papa mu bisa sembuh," jelas Davin singkat dan padat.


Hal itu sontak membuat Kayra yang tidak percaya dengan Davin yang mengambil keputusan yang tidak di bicarakan dulu kepadanya terlebih dahulu.


" Ya Davin sudah menceritakan semuanya kepada saya dan saya akan menangani orang tua mu. Saya juga sudah sempat melihatnya di rumah sakit," sahut profesor mengulang kembali penjelasan Davin.


" Tapi kita belum membicarakan ini," ucap Kayra pelan pada Davin.


" Aku rasa demi kebaikan papamu. Hal ini tidak perlu di bicarakan terlalu serius denganmu," sahut Davin. Kayra sendiri jadi bingung tidak tau harus menanggapi apa. Karena pemindahan papanya pasti tidak mudah di lakukan.


" Jangan khawatir Kayra. Papa kamu akan sembuh secepatnya. Rumah sakit kami akan memberikan yang terbaik untuk orang tua mu. Jika Davin sudah mempercayakan saya..


Maka jangan berpikir apa-apa. Itu artinya papa kamu akan aman di tangan saya," sahut Profesor dengan yakin.


Kayra hanya menanggapi dengan datar-datar saja. Dia mana mungkin berdebat dengan Davin di depan orang lain, " Dia tidak membahas apapun denganku dan sekarang sudah melakukan tindakan yang besar," batin Kayra yang pasti harus bicara lagi dengan Davin setelah ini.


***********


Setelah menemui Professor Han. Kayra menarik tangan Davin paksa yang mengajaknya untuk berbicara di koridor gedung tersebut.


" Apa sih!"desis Davin kesal dengan ditarik-tarik seperti hewan peliharaan. Kayra melepas tangan Davin dan berdiri di hadapan Davin.


" Apa yang kau lakukan?" tanya Kayra dengan wajah seriusnya melihat Davin.


" Apa yang aku lakukan?" Davin balik bertanya dengan ke-2 alisnya yang saling bertautan.


" Ya tadi, bisa-bisanya kau memindahkan papa tanpa bicara dulu denganku dan bahkan sampai ke Dubai segala. Kau pikir Dubai itu Bandung dekat apa," oceh Kayra marah-marah.


" Kau ini ya bukannya berterima kasih malah marah-marah kepadaku. Heh seharunya kau itu bersyukur aku mengeluarkan uang yang jauh lebih banyak yang melewati kesepakatan kita hanya untuk kesembuhan papamu. Bukannya berterima kasih malah banyak protes pakai tarik-tarik segala lagi," sahut Davin tidak kalah galaknya marah-marah pada Kayra.


" Hey, Kayra mau kau itu setuju atau tidak itu tidak ada gunanya. Semua itu ada di tangan ibu tirimu," tegas Davin.


Kayra menautkan ke-2 alisnya mendengar kata-kata Davin. " Apa maksudmu?" tanya Kayra.


Flashback on.


Davin menemui ibu tiri Kayra di salah satu Restaurant mewah. Di mana anak dan menantu itu sudah duduk saling berhadapan dengan 2 gelas kopi yang ada di depan mereka.


" Kamu ingin memindahkan papa Kayra ke Dubai," pekik Susan yang benar-benar kaget mendengar permintaan Davin.


" Benar, aku mempunyai Dokter yang terkenal di sana dan aku rasa itu akan membantu pengobatan papa dari istriku," tegas Davin membenarkan niatnya.


" Mana mungkin aku akan membiarkan hal itu. Jika seperti itu. Aku tidak akan ada alasan untuk meminta uang pada Kayra. Tapi jika aku menolak tawaran Davin. Dia bisa berpikir jika aku sengaja memanfaatkan papanya Kayra," Susan penuh dengan pemikirannya sendiri yang bingung harus mengatakan apa.


" Ehemmm!" Davin berdehem sambil meminum kopinya.


" Davin, mama rasa keputusan kamu kurang tepat. Karena kan Dubai terlalu jauh," sahut Susan dengan beralasan pada Davin.


" Tadi aku mentransfer uang ke rekening anda aku tidak tau sudah masuk apa tidak, coba di cek dulu," sahut Davin.


Susan yang mendengar nama duit matanya langsung hijau dan langsung buru-buru mengambil handphone. Mata Susan membelalak terbuka lebar sampai bola matanya ingin jatuh di ponsel itu. Mata hijau kalau sudah melihat uang " 300 juta," batin Susan yang begitu terkejut melihat nominal uang tersebut.


" Hmmm, Davin kenapa tiba-tiba mentransfer mama uang ini?" tanya Susan dengan pura-pura bego.


" Apa anda tidak membutuhkannya?" Davin kembali bertanya.

__ADS_1


" Ya pasti butuh. Apa lagi kan papa Kayra akan di pindahkan ke Dubai, bukannya pasti butuh biaya untuk kami melihatnya kesana," sahut Susan dengan senyum cengengesan yang membuat Davin menyunggingkan senyumnya.


Hanya dengan uang sang mertua secepat kilat mengubah keputusannya.


" Apa itu artinya anda menyetujui jika papa Kayra akan aku bawa?" tanya Davin memastikan pikirannya.


" Ya pastilah, jika itu demi kebaikan papanya," sahut Susan. Jika sudah masalah uang. Pikirannya pasti sudah tidak perlu memikirkan yang jauh-jauh lagi.


" Hmmm, bagus kalau begitu," sahut Davin mengeluarkan sesuatu dari dari dalam tasnya yang meletakkan selembar kertas di atas meja.


" Apa ini?" tanya Susan


" Persetujuan pemindahann," jawab Davin.


" Apa harus di tanda tangan?" tanya Susan ragu.


Davin menganggukan kepalanya. Susan tampak ragu. Tetapi karena sudah mendapat transferan jadi Susan langsung menandatangani berkas- berkas persetujuan itu.


" Jika sudah bicara dengan uang saja. Langsung tidak berpikir panjang, memang dasar mata duitan," batin Davin dengan menyinggingkan senyumnya. Uang memang bisa mengatur segalanya.


Flashon.


" Jadi mama menyetujuinya," gumam Kayra dengan wajah bengongnya yang berdiri di depan Davin.


Setelah Davin menjelaskan semuanya. Namun Kayra masih saja tetap bengong.


2 wanita berjalan di belakang Kayra. Namun karena bengong Kayra tidak minggir untuk memberikan jalan yang akhirnya 2 wanita itu berhimpitan dan salah satunya tidak sengaja mendorong tubuh Kayra.


Pada akhirnya tubuh Kayra terdorong pada Davin yang juga Davin terdorong pada dingding dengan Kayra yang sudah begitu dekat dengannya.


Wajah Kayra dan Davin saling berdekatan dengan hidung mereka yang saling bersentuhan dan. Tangan Davin berada di pinggang Kayra menahan wanita itu agar tidak jauh dari darinya.


Kedekatan ke-2nya membuat mereka saling menatap dengan tatapan yang begitu intes. Deg suara debaran itu pasti di rasakan keduanya dengan posisi yang masih betah untuk saling menatap. Sampai akhirnya Kayra tersadar dan melepas diri dari Davin.


" Mengambil kesempatan," desis Kayra dengan salah tingkah.


Davin menyunggingkan senyumnya, " kau yang mengambil kesempatan," sahut Davin bergantian menyalahkan Kayra.


" Menuduh lagi," desis Kayra dengan matanya yang melihat kesana kemari tiba-tiba membuatnya tidak berani untuk melihat Davin.


" Terserah mu! Pada intinya semua prosedur pemindahan papamu sudah di jalankan dan hanya tinggal membawanya saja dan persetujuan juga sudah di dapatkan dari ibu tirimu. Jadi tidak ada yang harus di pikirkan tegas Davin.


" Lalu bagaimana aku jika ingin melihatnya?" tanya Kayra.


" Itu urusan gampang. Masalah melihatnya tidak menjadi permasalahan yang harus membuat kepala sakit," sahut Davin dengan santai, " sudah jangan banyak berpikir. Sudah syukur bertindak seperti itu. Supaya papamu hidup kembali dan kau tidak di manfaatkan ibu tirimu," ucap Davin Merapi-rapikan jasnya. Lalu dia langsung pergi dari hadapan Kayra.


" Semoga saja dengan tindakan Davin papa benar-benar sembuh," batin Kayra yang juga berharap banyak.


Namun pasti dia sedih. Karena pasti akan kesulitan untuk melihat papanya. Di Singapura saja belum pernah di lihatnya apa lagi nanti di Dubai. Selain memakan waktu yang banyak untuk perjalanan kesana. Dia juga bingung masalah biaya dan lain sebagainya. Harapannya hanya satu agar papanya benar-benar akan sembuh.


" Kenapa masih bengong, ayo buruan!" teriak Davin.


" Iya mau kemana lagi?" tanya Kayra dengar berteriak. Davin tidak menjawab dan melanjutkan untuk pergi. Dan Kayra mau tidak mau harus mengikuti Davin walau dengan terpaksa.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2