
Davin menuju nakas yang mana masih memegang tangan Kayra. Kayra hanya bingung dengan Davin yang terlihat mengambil sesuatu dari dalam laci yang berupa kotak obat.
Davin langsung mendudukkan Kayra di pinggir ranjang. Sementara dia berdiri di depan Kayra. Davin mengangkat dagu Kayra sehingga kepala wanita itu menengok ke atas. Kea arah dirinya.
" Apa yang kau lakukan?" tanya Kayra.
Davin tidak menjawab dan mengambil cairan berupa alkohol menumpahkan tepat di dahi Kayra, sehingga terdengar suara rintihan menahan perih pada dahinya.
Davin mengolesi obat pada luka yang sebelumnya sudah di bersihkan nya dengan alkohol. Kayra hanya melihat Davin yang tampak serius mengobatinya. Seakan ada yang berbeda dari Pria itu.
Setelah selesai memberi obat Davin langsung memberi perban untuk luka itu dengan sekalian perekatnya.
" Kurangi kebodohanmu. Agar tidak terjadi lagi hal seperti ini," ucap Davin dengan suara dinginnya yang selesai mengobati luka di dahi Kayra dan menatap wanita itu dengan intens.
" Seharunya jangan memberi mama uang lagi," ucap Kayra.
" Aku memberinya uang bukan karena takut akan ancamannya. Aku hanya tidak mau dia membuat keributan di rumahku dan akhirnya orang rumah ini tau dia dan terakhirnya rencanaku berantakan karena perbuatan ibu tirimu," ucap Davin memberikan alasannya.
" Aku tau itu tujuanmu. Tetapi dengan kamu memberi mama uang. Maka dia akan semakin ketagihan dan akan terus memeras mu," ucap Kayra dengan wajah sendunya yang tampak begitu khawatir.
" Dia tidak bisa memeras ku begitu saja," sahut Davin. " Jadi pikirkan dirimu. Jangan semakin lama semakin bodoh. Dan kau tau kan berapa banyak yang sudah ku keluarkan untukmu. Jadi aku harap kedepannya kau bisa bekerja sama dengan ku lebih baik lagi," ucap Davin mengingatkan Kayra.
Kayra diam tanpa menjawab iya atau tidak. Davin pun mengambil dompetnya dari saku belakangnya dan terlihat mengambil 2 kartu.
" Ambillah!" ucap Davin memberikan Kayra kartu itu.
" Untuk apa ini?" tanya Kayra heran yang masih tidak mengambil kartu itu.
" Pakai untuk keperluan mu. Aku rasa kau membutuhkannya," ucap Davin.
__ADS_1
Kayra menolak kartu itu dengan menggeser tangan Davin pelan, " tidak usah aku masih punya uang, aku tidak butuh itu," ucap Kayra menolak.
" Jangan menyombongkan pekerjaanmu. Aku tau gajimu tidak seberapa. Jadi jangan jual mahal, ambil ini!" ucap Davin meremehkan Kayra.
" Gajiku memang tidak seberapa. Tetapi cukup untuk keperluan ku. Jadi aku tidak butuh ini," ucap Kayra dengan tetap pada pendiriannya menolak pemberian Davin.
" Aku sudah mengatakan jangan menolaknya," Davin meletakkan kartu itu tepat di samping tempat duduk Kayra, " gunakan kartu itu untuk keperluan mu dan jangan sekali-kali kau gunakan untuk ibumu," ucap Davin memberi ingat pada Kayra.
" Aku sudah mengatakan tidak usah. Bukannya kau sudah memberiku banyak uang," sahut Kayra yang masih tetap menolak.
" Aku tidak pernah memberiku uang. Tetapi ibumu yang aku berikan. Anggap saja apa yang aku berikan adalah nafkah untukmu," ucap Davin yang mempu membuat Kayra tertawa.
" Apa katamu nafkah," sahut Kayra merasa begitu lucu dan sampai detik ini masih tertawa dengan menutup mulutnya.
" Apa yang lucu. Kenapa kau tertawa?" tanya Davin dengan menautkan ke-2 alisnya.
" Jelas aku merasa lucu. Kau ini tumben-tumbennya membicarakan nafkah. Davin nafkah itu orang yang menikah dengan komitmen dan menikah sesungguhnya. Bukan untuk kita yang hanya menikah kontrak. Jadi kata nafkah itu tidak ada di dalam pernikahan kita. Jangan terkecoh dengan perkataan mama tadi. Dia tidak tau apa-apa dan menganggap kita menikah layaknya seperti orang pada umumnya. Tetapi pada nyatanya kita hanya menikah kontrak dan kata nafkah itu tidak pantas yang lebih pantas adalah bayaran," jelas Kayra yang bicara sambil tertawa-tawa.
" Tapi aku tidak mau menerimanya," sahut Kayra.
" Jangan membantah!" sahut Davin menegaskan. Kayra diam tanpa bisa melakukan apa-apa.
Merasa cukup menyampaikan apa yang harus di sampaikannya pada Kayra. Davin pun langsung memilih pergi dari hadapan Kayra.
" Terima kasih!" ucap Kayra membuat langkah Davin terhenti, " aku berterima kasih banyak untu papa dan juga untuk semuanya termasuk hari ini. Jujur aku takut jika mama sampai membuat keributan di rumah ini dan untung ada kamu yang membantuku. Terima kasih Davin," ucap Kayra yang berbicara dengan tulus.
" Sama-sama," sahut Davin dengan dingin dan kembali melanjutkan langkahnya yang langsung keluar dari kamar.
Kayra menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan dengan mengusap wajahnya kasar. Kayra menoleh ke arah sampingnya yang mana terdapat kartu yang di berikan Davin.
__ADS_1
" Mama akan terus menerus memeras Davin. Sementara Davin saja belum juga menjadi CEO utama di perusahannya dan bahkan warisan juga di anggap akan gagal di terimanya. Karena masih banyak ke raguan di dalam diri Eyang," ucap Kayra dengan wajahnya yang penuh dengan kegelisahan.
" Apa yang harus aku lakukan. Aku tidak mungkin membiarkan mama terus memanfaatkan situasi ini. Aku harus membantu Davin untuk secepatnya mendapatkan warisan dari Eyang. Aku harus meyakinkan Eyang dengan pernikahan kami dengan begitu Davin akan mendapatkan apa yang tidak diinginkannya," ucap Kayra yang mulai memikirkan Davin.
" Lagian jika Davin mendapatkan apa yang di inginkannya. Mama tidak akan bisa lagi memeras Davin dan aku juga akan terbebas dari mama," ucap Kayra.
Karya mungkin merasa Davin sudah banyak membantunya walau Pria itu menyebalkan. Tetapi secara tidak langsung Davin begitu banyak membantu dirinya dan dia merasa harus turun tangan untuk ikut membantu Davin menyelesaikan masalahnya dan mendapatkan apa yang di inginkan Davin. Tidak tau kenapa tiba-tiba Kayra ingin melakukan hal itu.
**********
Kayra keluar dari rumah menuju taman belakang di mana ternyata Oma Elishabet sedang menyiram tanaman.
Dengan ke-2 tangannya yang saling mengatup Kayra tampak dek-dekan yang melihat Oma dari kejauhan 7 meter. Kayra terlihat resah yang sepertinya ada yang ingin di katakannya.
" Kenapa berdiri di sana Kayra?" tanya Oma sembari menyiram tanaman yang menyadari keberadaan Kayra. Padahal Oma membelakangi Kayra. Menyadari Oma mengetahuinya membuat Kayra sedikit kaget.
" Kayra!" tegur Oma membalikkan tubuhnya melihat ke arah Kayra.
" Iya Oma," sahut Kayra gugup.
" Kemari!" ajak Oma.
Kayra menganggukkan kepalanya dan menarik napasnya panjang. Lalu membuatnya perlahan kedepan. Kemudian melangkah mendekati Oma yang sekarang Oma sedang menggunting tanaman yang berada di pot kecil.
" Ada yang ingin kamu katakan?" tanya Oma yang tau jika Kayra ingin mengatakan sesuatu.
" Tidak Oma, Kayra hanya kebetulan lewat saja dan melihat Oma," ucap Kayra.
" Hmmm begitu rupanya," sahut Oma yang tetap melanjutkan pekerjaannya.
__ADS_1
Bersambung
.