
Perkataan Davin membuat jantung Kayra berdetak kencang, " A_a_ apa maksudmu? Apa kau ingin aku mengandung anakmu?" tanya Kayra dengan gugup.
Davin tersenyum tipis yang tampak punya arti. Bukannya menjawab pertanyaan Melody malah senyum-senyum.
" Kenapa kau tersenyum. Aku tidak mungkin melakukan itu. Tidak ada di dalam kontrak dan kau jangan menambah-nambahi peraturan dan hal itu tidak akan mungkin terjadi," tegas Kayra yang tiba-tiba langsung marah-marah.
" Kenapa kau jadi marah? kau yang berpikiran kesana dan aku tidak mengatakan apa-apa. Kau saja yang sudah berpikiran ke sana," sahut Davin santai yang tampak betah menggoda Kayra.
" Ya aku bisa membaca pikiran mesum mu itu dan pertanyaanmu jelas mengarah kesana," sahut Kayra dengan wajah paniknya berbicara.
" Kayra jika ingin pernikahan kita berakhir dengan cepat dan kau tau caranya. Ya sudah kenapa berpikir sana-sani. Ya berarti kau...."
" Aku tidak mau," sahut Kayra yang langsung memotong pembicaraan Davin yang padahal Davin belum selesai berbicara.
" Aku belum sempat...."
" Stop jangan membahasnya lagi," sahut Kayra mengangkat tangannya yang tidak mengijinkan Davin bicara lagi.
Davin mendengus kasar dengan menggedikkan ke-2 bahunya yang tersenyum geleng-geleng yang melihat Kayra yang tiba-tiba salah tingkah. Tidak ingin bodoh di depan Davin Kayra pun melanjutkan makannya.
" Issss, kenapa juga pikirannya sampai sana. Aku mana mungkin melakukannya. Tidak akan. Enak saja. Lagian kamu sih Kayra kenapa juga mengungkit hal itu. Kamu yang memulainya dan lihatlah dia yang besar kepala yang memanfaatkan situasi," batin Kayra yang bergerutu di dalam hatinya.
" Kayra- Kayra terkadang aku benar-benar heran melihatmu. Kau itu gadis yang aneh. Yang tiba-tiba serius, tiba-tiba panik dan sekarang. Astaga Kayra kau itu benar-benar," batin Davin masih geleng-geleng dengan melanjutkan makannya. Namun baginya Kayra begitu menggemaskan.
Karena bagaimana tidak menggemaskan. Wajah Kayra yang tiba-tiba cemberut dan saat melihat Davin lagi. Kayra langsung menatap sinis yang mau menerkam Davin.
********
Setelah selesai makan malam dengan perdebatan panjang. Kayra yang mengantuk tertidur dengan lelap. Sementara Davin yang di sampingnya sibuk dengan laptopnya yang sepertinya Davin menyelesaikan berbagai pekerjaannya. Begitulah kalau orang gila dengan pekerjaan. Di mana pun akan bekerja terus tanpa melihat tempat.
Kayra yang tertidur bergerak-gerak sedikit sampai akhirnya kepalanya jatuh pada bahu Davin. Davin menoleh ke sampingnya, melihat wanita itu tertidur dengan tenang dengan memeluk tubuhnya yang terlihat Kayra kedingina.
Cukup lama Davin melihat Kayra. Namun pramugari yang lewat membuat Davin memanggilnya.
" Mbak!" panggil Davin.
__ADS_1
" Ada yang bisa saya bantu?" tanya pramugari tersebut.
" Bisa berikan saya selimut. Istri saya kedinginan," ucap Davin.
" Baik Tuan, tunggu sebentar!" jawab pramugari itu yang tanpa masalah memberikan apa yang di inginkan Davin. Davin meluruskan kepala Kayra. Bersandar pada kursi pesawat.
Tidak lama akhirnya Pramugari itu pun datang, " ini tuan yang anda inginkan!" ucap Kayra memberikan selimut tersebut.
" Terima kasih," jawab Davin.
Pramugari itu mengangguk dan langsung pergi. Davin langsung membentangkan selimut tersebut pada Kayra, menyelimuti Kayra agar tidak kedinginan dengan tubuh Kayra yang bergerak-gerak sedikit. Namun tidak terbangun sama sekali.
" Hmmmm," Kayra mengeluarkan suara sedikit dan tiba-tiba meraih lengan Davin memeluk lengan itu yang begitu nyaman bagi Kayra.
Davin hanya diam dengan matanya yang tidak hentinya melihat Kayra. Davin menutup laptopnya yang kelihatan ingin menghentikan pekerjaannya. Karena Kayra sudah menempel padanya.
Davin pun membawa Kayra kedalam pelukannya. Ya sekalian dari pada Kayra memeluk lengannya mending Davin memeluknya dan Kayra tambah nyaman.
Bahkan mengeratkan tangannya di pinggang Pria yang menjadi suaminya itu yang begitu nyaman kepalanya di bawah leher Davin di dada bidang itu.
************
Mentari pagi kembali tiba-tiba yang mana pesawat mereka akan landing di Dubai. Namun Kayra dan Davin masih tetap dengan posisi romantis dadakan mereka yang tertidur dalam berpelukan.
Kayra mengerjapkan matanya. Tubuhnya merasa ada yang menempel membuatnya membuka perlahan mata itu. Namun mata itu ternyata langsung melihat dada bidang yang membuatnya melotot heran dengan keberadaannya yang di mana.
Kayra yang terkejut mengangkat kepalanya dengan perlahan dan lebih terkejut lagi Kayra saat melihat Davin yang memeluknya.
" Astaga kok bisa," batin Kayra panik dengan kesulitan menelan salivanya.
Kayra masih diam dan terus melihat wajah Davin. Sampai di detik berikutnya dengan tiba-tiba Davin membuka matanya yang membuat Kayra tersentak kaget dan langsung menjauh dari Davin kembali pada posisi duduknya.
" Mencari kesempatan!" tuduh Kayra mengalihkan rada gugupnya.
Davin mendengus kasar mendengarnya dengan memperbaiki posisi tubuhnya, " Siapa yang mencari kesempatan kau yang nempel-nempel padaku," sahut Davin tidak terima dengan tuduhan itu.
__ADS_1
" Mana mungkin!" bantah Kayra.
" Ya kau mana mungkin mengakui perbuatanmu. Kau itu selalu mau menang sendiri," sahut Davin.
" Alah sudahlah. Kau itu jangan menambah-nambahi cerita. Jangan mentang-mentang aku tertidur. Jadi mau suka-suka mu. aku tau niat jelekmu kepadaku. Kau hanya modus dengan memanfaatkan kesempatan," ucap Kayra yang tau akal busuk Davin dan terus saja menuduh Davin. Padahal kenyataannya dia yang memang mendekati Davin.
" Terserah apa katamu. Seharusnya ruangan ini ada cctvnya. Supaya terlihat kelakuanmu dan tidak menuduhku yang tidak-tidak," ucap Davin kesal.
" Tidak ada yang menuduhmu. Kau yang seperti itu dan apa yang aku katakan adalah kebenarannya," sahut Kayra menegaskan.
" Ya, terserah," sahut Davin yang malas berdebat.
" Ya sudah," sahut Kayra yang kalau berdebat tidak mau kalah.
Davin hanya berdecak kesal yang di jadikan tersangka oleh Kayra. Padahal dia tidak berbuat apa-apa sama sekali. Ya walau dia memang memeluk Kayra. Tetapi kan Kayra yang memulai duluan.
Mereka diam sejenak yang tidak berdebat lagi dan Kayra Merapi-rapikan dirinya.
" Mana mungkin aku nempel padanya. Dia kan memang modus," batin Kayra yang tetap pada pendiriannya.
" Dasar wanita ini benar-benar tau gitu tadi malam aku tidak usah memberinya selimut dan kepalanya aku hempaskan saja ke jendela pesawat," umpat Davin dengan kesal.
" Ehemmm!" Kayra berdehem membuat Davin menoleh ke arahnya..
" Ada apa?" tanya Davin dengan ketus.
" Kita sudah sampai?" tanya Kayra basa-basi.
" Aku tidak tau," jawab Davin ketus.
" Kenapa tidak tau?" tanya Kayra.
" Kau lihat saja. Sudah sampai apa belum. Jangan bertanya padaku," sahut Davin yang sepertinya moodnya hilang.
" Ya sudah," sahut Kayra yang tidak peduli.
__ADS_1
Bersambung