Pernikahan Dalam Ikatan Surat Kontrak.

Pernikahan Dalam Ikatan Surat Kontrak.
Bab 39 cekcok


__ADS_3

Hari sudah kembali malam dan hari sudah terlewati. Dengan awal makan siang yang sebenarnya penuh kecanggungan dan pertanyaan yang mungkin hanya Kayra yang bertanya-tanya mengenai wanita yang di katakan sepupu bosnya. Namun hubungannya dengan suaminya dia tidak tau sama sekali.


Setelah makan siang mereka berpisah, Kayra bersama Aldo kembali kekantor dan Davin dan Pricilla pergi entah kemana. Tetapi sebelumnya di saat masih makan siang. Pricilla sempat minta di ajak untuk jalan-jalan di temani Davin dan dengan mudahnya Davin mengiyakan. Ya mengiyakan dengan menganggukkan kepalanya. Setelah itu tidak tau apa mereka jalan-jalan atau tidak.


Kayra sudah berada di rumah yang sudah pulang kerja dia memang langsung pulang dan sekarang bahkan sudah berbaring di atas ranjang. Kayra melihat ponselnya yang sudah menunjukkan pukul 9 malam.


" Apa dia masih di kantor," batin Kayra yang tiba-tiba kepikiran Davin.


Padahal biasanya Davin juga selalu pulang lebih malam dari itu. Tetapi Kayra tidak peduli dan sekarang dia resah bahkan tidak bisa tidur.


Kayra pun duduk dengan menyibak selimutnya yang ingin turun dari ranjang. Belum sempat turun dari ranjang, pintu kamar sudah di buka dan menampilkan Davin. Mereka sempat saling melihat beberapa detik. Namun Kayra langsung turun dari ranjang menuju kamar mandi.


Tidak tau kenapa suasana di antara ke-2nya menjadi tegang. Apa mungkin berhubungan dengan makan siang tadi. Davin memasuki kamar dengan ekspresi datar meletakkan tasnya, membuka jasnya dan melonggarkan dasinya.


" Aaaaaaaaaa!" teriakan dari dalam kamar mandi membuat Davin terkejut dan langsung berlari kekamar mandi.


Brukk, Davin membuka kamar mandi asal dan melihat Kayra naik ke atas bathup


" Ada apa?" tanya Davin panik.


" Itu, itu, ada kecoa," ucap Kayra menunjuk-nunjuk kecoa berjalan. Davin diam dan hanya melihat kecoa itu dan bahkan mundur selangkah yang sepertinya ingin pergi dari kamar mandi.


" Kau mau kemana?" Tanya Kayra panik melihat Davin yang ingin pergi.


" A- a- aku di panggil Oma," jawab Davin gugup membuat Kayra terbelalak kaget.


" Lalu kecoa nya bagaimana?" tanya Kayra panik.


" Ya sudah biarin aja, kau hanya tinggal berjalan saja. Dia juga tidak akan membunuhmu kan," sahut Davin santai.


" Tidak. Kau harus membuangnya dulu baru pergi," sahut Kayra yang penuh ketakutan.


" Oma memanggilku," sahut Davin.


" Tunggu! Jangan bilang kau juga takut dengan kecoa!" sahut Kayra menduga-duga.


" Ya nggaklah masa iya binatang seperti itu harus di takuti," sahut Davin tertawa-tawa dengan mengusap mulutnya. Namun matanya melirik-lirik kecoa itu yang sepertinya takut kalau tiba-tiba menghampirinya.


Kayra bisa membaca ekspresi wajah suaminya itu yang memang bisa di pastikan begitu takut kecoak sama seperti dirinya.


" Kau jangan banyak alasan. Jika kau tidak takut, buang kecoak itu," sahut Kayra menantang Davin.


" Oma memanggilku. Jadi itu bukan urusanku, kau saja yang melakukannya," sahut Davin tidak mau tau dan menutup pintu kamar mandi yang benar-benar meninggalkan Kayra di dalam kamar mandi.


Di balik pintu Davin mengusap-usap dadanya dengan dahinya yang berkeringat.


" Davin tolong aku!" teriak Kayra sekencang-kencangnya sampai membuat Davin menutup ke-2 telinganya mendengar suara Kayra yang begitu berisik.


" Aaaaaaa!" Kayra terus berteriak.


" Wanita ini benar-benar," geram Davin yang kebingungan harus apa. Dia memang takut kecoa dan tidak tau kenapa dia takut dengan binatang kecil itu.


" Bisa-bisa wanita ini akan membuat 1 rumah heboh," geram Davin yang jadi ikutan panik. Davin pun akhirnya kembali membuka pintu kamar mandi dan Kayra berusaha untuk mengusir kecoa itu.


" Kau tidak bisa diam apa!" bentak Davin.


" Makanya bantuin!" teriak Kayra.


" Issss, kau ini!" geram Davin yang langsung masuk kekamar mandi dengan membanting pintu. Davin mungkin begitu kesal sampai bantingan pintu dengan keras sampai bagian luarnya ada yang lepas.


Davin pun mencari alat yang bisa di lakukannya untuk membunuh kecoa itu.


" Kau benar-benar menyusahkan," umpat Davin.


" Kau juga akan memakai kamar mandi ini. Jadi jangan mengomeliku," geram Kayra yang masih tetap di tempatnya yang berdiri karena kesal dengan Davin.


" Ya sudah diam, kita buang sama-sama," sahut Davin.


" Kenapa harus ber-2, kau takut kan!" sahut Kayra dengan yakin Davin juga takut dengan kecoa itu.


" Kau mau kutinggal kan di sini!" ancam Davin. Kayra menggeleng pelan yang memang harus baik-baik dulu pada Davin dari pada Davin meninggalkannya lagi.

__ADS_1


" Makanya jangan banyak protes!" geram Davin yang mengambil pas tempat sabut dan menggunakan tempat itu untuk memukul kecoa itu.


Kayra dan Davin sama-sama bekerja sama mengejar kecoa itu, sampai akhirnya memukulnya dan sudah walau sampai mereka berkeringat dan terduduk lemas di lantai dengan napas mereka yang naik turun.


Suara napas mereka terdengar begitu berat dan mereka ber-2 saling melihat.


" Buang!" perintah Davin melihat kecoa yang mati di dekat mereka.


" Kaulah yang membuang kenapa aku," sahut Kayra dengan menggedikkan bahunya yang begitu jijik dengan kecoa itu.


" Aku sudah membunuhnya, sekarang giliran mu membuanga nya," sahut Davin.


" Masa iya aku harus memegangnya," sahut Kayra.


" Lalu menurutmu aku yang akan melakukannya lagi," sahut Davin semakin kesal.


" Ya kan kau laki-laki. Jadi kau yang harus membuangnya," sahut Kayra yang tidak akan mau mengalah.


" Kau yang membuangnya, aku juga tidak Sudi memegang kecoa yang menjijikkan itu," tegas Davin.


" Ya pakai alat lah," sahut Kayra.


" Pakai apa, apa kau lihat ada sapu di sini," sahut Davin kesal.


" Kau kan punya kantong Doraemon ya gunakan lah," sindir Kayra menyinggung pembahasan makan siang tadi.


" Kau!" Geram Davin dengan merapatkan giginya naik pitam dengan tingkah Kayra yang mulutnya kalau bicara tidak pernah pikir-pikir.


" Buang tidak sekarang!" titah Davin merendahkan suaranya.


" Aku tidak mau sendiri," sahut Kayra yang tidak mau kalah.


" Ya sudah kita berdua!" teriak Davin. Argggghhh," geram Davin yang kepalanya hampir mau pecah hanya perkara 1 kecoa yang sudah mati.


Binatang kecil yang harus di buang sama-sama. Suami istri itu memang sangat random. Kayra memegang kumis kirinya dan Davin kumis kanannya dan membuang kedalam closed.


Hahhhhhhh mereka sama-sama bernapas lega dan langsung berdiri untuk mencuci tangan di wastafel dan mereka seperti anak kecil yang rebutan. Mungkin keduanya sama-sama jijik dan takut dengan kecoak makanya sampai seheboh itu.


Kayra hanya menarik ujung bibirnya ke atas masa bodo dengan apa yang di katakan Davin dan Davin pun langsung memegang kenopi pintu untuk membuka pintu. Namun sekali tekan tidak bisa dan Davin mencoba lagi dan tetap tidak bisa membuat Davin bingung ketika berkali-kali tangannya melakukan hal yang sama.


Kayra di belakangnya sudah menunggu dan heran kenapa Pria itu tidak keluar-keluar, " ada apa?" tanya Kayra yang berdiri di sampingnya.


" Tidak bisa di buka," ucap Davin.


Mata Kayra terbelalak sempurna mendengar pernyataan Davin, " kok bisa!" pekik Kayra kaget.


" Aku mana tau, kau coba saja sendiri," sahut Davin dan Kayra langsung mencoba untuk membukanya dan memang nyata tidak bisa di buka.


" Lalu bagaimana? tanya Kayra panik. Davin tampak lelah hanya mengangkat ke-2 bahunya dan Kayra langsung menggedor-gedor pintu berteriak-teriak memanggil-manggil orang untuk membukakan pintu kamar mereka.


Lagi-lagi Davin harus menghelus dada mendengar suara nyaring Kayra dia sudah tidak ada tenaga untuk membentak atau berdebat dengan Kayra dan membiarkan saja apa yang mau di lakukan Kayra.


***********


Tidak tau sudah berapa lama mereka di kamar mandi. Kayra sudah duduk di pinggir bathup dengan Davin juga duduk di sampingnya dengan tangannya berada di dadanya.


" Aku haus!" keluh Kayra dengan mengusap lehernya yang tenggorokannya kering.


" Bagaimana tidak haus. Dari tadi mulutmu berteriak-teriak terus," desis Davin yang masih kesal dengan Kayra.


" Aku berteriak itu supaya ada yang membuka pintu. Kalau pintu di buka kau juga nanti akan keluar," ucap Kayra dengan kesal.


" Lalu apa rencanamu berhasil, lihat ada tidak yang membuka pintu," sahut Davin.


" Yang penting aku berusaha, dari pada kau hanya duduk saja," ucap Kayra kesal.


" Diamlah! jika kau masih banyak bicara kau akan semakin haus. Minum air closet biar kau tidak kehausan," ucap Davin.


" Sembarangan," kesal Kayra yang ikutan sewot yang tenggorokannya memang kering karena benar kata Davin pasti di sebabkan karena dia berteriak-teriak tidak jelas.


Kayra dan Davin tetao ada di dalam kamar mandi yang tidak tau harus berbuat apa. bahkan suasana di kamar mandi mendadak jadi panas. Davin sudah gelisah yang mondar-mandir dengan mengipas-ngipas kerena kepanasan.

__ADS_1


Davin membuka kancing kemejanya yang membuat Kayra panik.


" Kau mau ngapain?" tanya Kayra heran.


" Aku mau mandi menyinggir dari situ!" jawab Davin.


" kau gila!" pekik Davin.


" Enak saja mengataiku gila. Kau yang gila. Orang mau mandi di bilang gila," sahut Davin dengan kesal.


" Ya jelas gila bagaimana ceritanya kau mandi ada aku di sini," sahut Kayra bertambah emosi


" Ya itu bukan urusanku. Aku juga tidak menyuruhmu untuk melihatnya. Minggir jangan di situ aku mau mandi. Kau tidak melihat apa panas," ucap Davin.


" Kau jangan mengada-ada ya, jangan membuat ulah dalam keadaan seperti ini. Aku tau panas. Tetapi tidak seharusnya kau mandi. Kau juga harus memikirkanku," sahut Kayra kesal.


" Ini semua itu gara-gara mu coba aja kau tidak membuat ulah dengan berteriak-teriak. Aku tidak akan ada bersamamu di sini," ucap Davin menyalahkan Kayra.


" Itu hanya kebetulan saja aku masuk kamar mandi, kalau kau juga masuk kamar mandi pasti berteriak-teriak. Jadi jangan hanya menyalahkan ku saja!" geram Kayra yang tidak mau kalah dengan Davin. Sudah kehausan yang adanya dia akan bertambah haus.


" Aku tidak peduli mau kau di sini atau tidak, yang penting aku mau mandi," ucap Davin membuka seluruh kancing pakaiannya dan juga yang membuat Kayra melotot dan langsung menutup matanya dengan ke-2 tangannya saat Davin mulai melepas pakainnya.


Davin mendengus kasar masa bodo dengan Kayra, dia memang kepanasan dan mungkin akan serius mandi ada atau tidak Kayra di dalam kamar mandi itu.


tiba-tiba Kayra membalikkan tubuhnya dan berjongkok dan terdengar suara rengekan yang membuat Davin kaget.


" Eeeeeeeeee!" Kayra tiba-tiba menagis seperti anak kecil yang membuat Davin heran.


" Hey, Kayra kau kenapa?" Davin mendadak bingung.


" Kau itu tega sekali kepadaku hiks, aku juga kepanasan. Tapi jika aku mandi kau yang keenakan. Tapi kau malah bertingkah, seperti ini," rengek Kayra yang menangis sejadi-jadinya karena perbuatan Davin.


" Apa-apaan sih anak ini masa iya dia menangis nggak ada kerjaan," batin Davin yang bisa gila karena tangisan Kayra seperti anak kecil.


" Hiks, hiks, hiks," Kayra terus menangis.


" Oke aku tidak jadi mandi," sahut Davin membuat tangis Kayra berhenti dan tersenyum tipis.


" Sudah jangan menangis, kepala ku sakit mendengar suaramu mu itu," ucap Davin.


" Awas saja, jika kau mandi," sahut Kayra.


" Iyaaaa," sahut Davin. Davin harus terpaksa menuruti Kayra. Dari pada mendengar suara tangisan Kayra yang tidak jelas yang membuat gendang telinganya sakit mending dia mengalah. Tidak tau mau sampai kapan mereka akan berada di kamar kamar mandi.


Namun di luar kamar Davin dan Kayra terdengar ketukan pintu dan juga suara sahutan dari luar.


Tok tok tok tok tok tok


" Tuan Davin! Nona Kayra, waktunya sarapan Makan malamnya sudah siapa. Yang lain sudah menunggu!" ucap pelayan yang terus mengulang kalimatnya yang masih tetap mengetuk pintu dan berdiri di depan pintu kamar itu.


" Kemana ya tuan dan nona Kayra? Kenapa pintu tidak di buka sejak tadi. Kemana mereka," gumam pelayan dengan kebingungan. Ketukan pintu itu memang tidak terdengar sampai kedalam kamar mandi. Jadi Davin atau Rania tidak tau sama sekali jika ada yang menyahuti mereka.


Sementara pelayang jika tidak di suruh masuk mana berani masuk kedalam dan walaupun pintu tidak di kunci. Tetapi itu sangat tidak sopan harus masuk tanpa izin.


" Mungkin sebentar lagi juga turun!" gumam Pelayan yang akhirnya pergi dari depan kamar itu.


Di meja makan semuanya sudah berkumpul yang menikmati sarapan pagi seperti biasanya. Pelayan yang tadi memanggil Kayra dan Davin kembali ke meja makan.


" Mana Davin?" tanya Altarik.


" Tadi saya sudah panggil tuan. Tetapi tuan Davin atau nyonya Kayra tidak ada sahutan dari dalam," jawab pelayan itu. Yang membuat keanehan untuk Altarik ataupun Oma Elisabeth.


" Paling juga istrinya masih kebo," sahut Gisell menuduh sesukanya.


" Ya dan kak Davin ketularan malasnya kan biasanya kak Davin itu rahim banget. Tetapi gara-gara si ceweknya. Jadi gitu deh ikutan Bangkong. Udah tau juga siang. Dapat istri dari mana sih kak Davin. Istri nggak penting seperti itu," tambah Joy yang tidak kalah mengambil kesempatan untuk membuat nama Kayra jelek.


" Bisa jadi mereka memang masih tidur," Mesya tidak kalah ikut-ikutan untuk membuat nama menantunya itu semakin buruk.


" Mungkin saja mereka lelah. Kan tadi malam Davin pulangnya lumayan lama," sahut Altarik yang berpikir positif.


" Biasanya juga Davin pulang lama pa, nggak ada apa-apa, dia bahkan tetap pagi tetap bangun dan berangkat kerja dan memang istrinya aja yang menjadi pengaruh buruk," sahut Mesya menekankan.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2