Pernikahan Dalam Ikatan Surat Kontrak.

Pernikahan Dalam Ikatan Surat Kontrak.
Bab 179


__ADS_3

Mendengar penjelasan sang papa hanya membuat Kayra menghela napasnya saja. Dia benar-benar tidak tau harus bicara apa lagi.


"Kayra bagaimana selanjutnya?" tanya Aris.


"Biarlah seperti ini pah," jawab Kayra yang tidak bisa berpikir apa-apa.


Aris meraih tangan putrinya itu dan menggenggamnya dengan erat.


"Kamu bukan hanya wanita yang sudah dewasa. Tetapi kamu juga seorang ibu. Kamu punya hak untuk melanjutkan jalan yang mama. Papa tidak akan ikut campur. Karena kamu yang mengalami semuanya. Tetapi ingat Kayra seorang istri sudah sangat berbeda dengan seorang ibu. Jika istri egonya bisa di ledakkan. Tetapi ketika seorang ibu harus meredahkan egonya dan kamu memikirkan Brian," ucap Aris dengan bijak memberi saran pada Kayra.


Kayra menganggukkan kepalanya. Dia tidak dapat berpikir jernih dan butuh ketenangan dulu untuk berpikir.


"Kamu sebaiknya istirahat jangan memikirkan apa-apa," ucap Aris.


"Iya pah," sahut Kayra.


*********


Davin berada di ruangan kerjanya dan di depannya sudah ada Dion dan Reyhan yang berdiri.


"Jadi tidak menemukan apa-apa!" pekik Davin.


"Davin Kayra itu sangat pintar. Tidak satupun aku menemukan masalah kehidupannya selama 5 tahun ini, di mana dia tinggal, pernikahannya dan anaknya. Tidak aku temukan sama sekali. Hanya 2 tahun terakhir Kayra adalah Dokter di rumah sakit Milan dan itu saja lalu di pindahkan ke Jakarta dan itu baru 3 bulan," jelas Dion yang kali ini kesulitan mencari informasi tentang Kayra.


"Apa selama ini dia tinggal di Milan?" tebak Davin.


"Tidak dapat di temukan Bos. Saya juga mencari-cari informasinya. Namun tidak ada petunjuk dia tinggal di sana," sahut Reyhan yang juga ikut turun tangan.


"Aissss, jangan-jangan dia tinggal di planet lagi selama ini," sahut Davin dengan kesal.


" Bisa jadi," sahut Dion dan Reyhan serentak membuat Davin melihat 2 orang itu secara bergantian dengan raut wajahnya yang semakin kesal sementara Dion dan Reyhan saling melihat dan sama-sama menghela napas mereka dengan kasar.


"Davin ini semua itu salahmu. Kau tidak tau apa-apa tentang Kayra saat menikah. Jangan-jangan kau juga tidak tau lagi. Jika Kayra saat kuliah mengambil jurusan kedokteran," sahut Davin menebak-nebak.


"Aku tidak tau. Aku lupa semuanya," sahut Davin dengan kesalnya yang mendadak amnesia. Dion dan Reyhan saling melihat dan sama-sama mengangkat ke-2 bahu mereka.


"Apa lagi yang harus aku lakukan sekarang. Aku benar-benar harus berpikir jernih. Aku tidak bisa membiarkan semua ini terjadi begitu saja," ucap Davin dengan pikirannya yang harus fokus dan serius untuk mengatasi Kayra.


"Reyhan siapkan mobil!" titah Davin.


"Kita mau kemana bos?" tanya Reyhan.


"Kerumah sakit," jawab Davin.

__ADS_1


"Bos sakit?" tanya Reyhan.


"Iya sakit jiwa," sahut Davin dengan kesal yang langsung berdiri.


"Pantes," sahut Dion pelan. Namun tertawa yang seperti mengejek Davin. Reyhan juga sedang menahan tawanya.


"Kau jangan mengulur waktu. Jemput Zoy di Bandara!" tegas Davin menunjuk Dion dan tawa Dion langsung hilang. Karena perkataan Davin.


"Ayo Reyhan!" ajak Davin. Reyhan mengangguk dan menepuk bahu Dion untuk memberikan Dion semangat yang mana wajah sudah kembali lesu. Dia juga sejak tadi menghindari hal itu. Namun Davin terus mengingatkannya.


**************


Mobil Davin berhenti di rumah sakit dan Davin langsung memasuki rumah sakit dan sangat kebetulan Davin melihat Brian yang berlari-lari dengan anak seusianya. Mungkin Brian sudah pulang sekolah dan langsung kerumah sakit menemani mamanya untuk bekerja.


"Brian!" panggil Davin. Brian langsung melihat kearah Davin.


"Om Baik," sahut Brian yang langsung berlari menghampiri Davin.


"Hay Brian!" sapa Davin dengan tersenyum lebar.


"Hay Om, om kok ada di sini. Om sakit?" tanya Brian.


"Om mau ketemu sama kamu," jawab Davin.


"Hmmmm, bagaimana kalau Brian temani Om makan," sahut Davin.


"Maaf ya Om baik, mama bilang tidak boleh pergi lagi sama Om tanpa seizin mama," ucap Brian yang jujur apa adanya. Kayra pun menegaskan untuk Brian tidak dekat-dekat dengan Davin.


"Sudah kuduga dia pasti akan melakukannya," batin Davin.


"Memang apa alasannya mama kamu tidak mengizinkannya?" tanya Davin.


"Brian juga tidak tau Om," sahut Brian dengan suara lemasnya.


"Baiklah sayang jangan di pikirkan. Nanti kamu tanya sama mama kamu. Apa alasannya," ucap Davin.


"Baik Om," sahut Brian mengacungkan jempolnya dengan wajahnya yang begitu bahagia.


"Brian!" tegur Kayra yang membuat Davin melihat ke arah Kayra.


"Mama," sahut Brian. Kayra menghela napasnya dan menghampiri Davin dan Brian.


"Sayang bukannya kamu tadi bilang sama mama ada PR di sekolah. Jadi kenapa belum di kerjakan?" tanya Kayra.

__ADS_1


"Ya ampun Brian lupa," sahut Brian dengan menepuk jidatnya.


"Ya sudah sana di kerjakan," ucap Kayra.


"Suster Maya mana. Brian mau minta temani Suster Maya?" tanya Brian.


"Tetapi Suster Maya sedang merawat pasien," jawab Kayra.


"Hmmmmm, begitu. Kalau begitu Om baik aja yang mengajari Brian," sahut Brian. Davin tersenyum mendengarnya. Namun tidak dengan Kayra.


"Om tidak masalah," sahut Davin.


"Brian belajar sendiri. Jangan merepotkan orang. Ayo sana masuk!" ucap Kayra dengan penuh penekanan pada putranya itu.


"Baik mah," sahut Brian yang menuruti Kayra.


"Dadada Om baik," sahut Brian melambaikan tangannya dan langsung pergi. Davin tersenyum dan juga melambaikan tangannya.


"Untuk apa kau kemari?" tanya Kayra dengan ketus.


"Ini tempat umum. Apa aku harus melapor kepadamu untuk apa aku datang kemari," sahut Davin yang juga menjawab dengan ketus.


"Untuk orang sepertimu. Memang harus di pertanyakan. Karena rumah sakit ini. Bukan rumah sakit nenek moyangmu. Jadi kalau tujuanmu hanya mengganggu anakku lebih baik kau pergi dari sini," ucap Kayra dengan tegas kepada Davin.


"Semakin kau melarangku. Semakin aku penasaran dengan apa yang kau sembunyikan," sahut Davin dengan santai.


"Apa maksudmu. Aku tidak menyembunyikan apa-apa. Aku hanya menegaskan kepadamu untuk menjauhi Brian. Dia bukan anakmu. Apa kau mengerti," tegas kayra.


"Aku tidak mengerti sama sekali," sahut Davin dengan santai.


"Kau!" Kayra benar-benar geram dengan Davin yang mencari masalah dengannya.


"Dokter Kayra!" tiba-tiba Suster menghampiri Kayra dan Kayra langsung meredakan emosinya.


"Ada apa Suster?" tanya Kayra.


"Rapat, para Dokter dengan direksi pemilik rumah sakit sebentar lagi di mulai," ucap Suster mengingatkan.


"Baiklah, aku akan segara kesana," sahut Kayra. Suster mengangguk dan langsung pergi.


"Kau dengar Davin. Jika tujuanmu kerumah sakit ini hanya untuk mengganggu putraku. Kau pergi dari sini. Jika kau melakukan hal itu lagi. Aku akan melaporkan mu pada pihak rumah sakit. Untuk mengecualikan kau datang kerumah sakit ini," tegas Kayra menunjuk tepat di wajah Davin dan Kayra langsung pergi begitu saja.


"Aku akan menunggu laporan mu," ucap Davin yang melihat kepergian Kayra.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2