
Setelah selesai operasi. Cika di pindahkan ke ruang perawatan kembali untuk melakukan proses penyembuhan yang mana Cika belum sadar yang mungkin masih menghabiskan obat bius yang ada di dalam tubuhnya.
Pricilla menunggunya dengan setia yang duduk di samping Cika dengan menggenggam tangan Cika dan terus menatap putrinya itu dengan tatapan sendu.
"Cika mama janji. Mama akan jadi ibu yang lebih baik lagi. Makasih ya sayang kamu sudah mau bertahan demi mama. Mama sangat bahagia dengan kesembuhan kamu. Makasih sudah ada untuk mama. Mama janji tidak akan pernah pergi dari Cika, mama janji akan menjadi ibu yang bertanggung jawab lagi, ibu yang baik yang bisa membuat Cika bangga. Makasih sayang sudah ada bersama mama selama ini. Makasih ya sayang," ucap Pricilla dengan menatap nanar putrinya itu dengan air matanya yang menetes.
krekkk.
Pintu ruangan Cika terbuka dan Pricilla langsung melihat kebelakang yang ternyata Lian yang datang dengan kondisi Lian yang masih lemah karena memang baru saja melakukan transplantasi organ jadi wajar dia sangat lemah.
"Lian," sahut Pricilla yang menyeka air matanya begitu melihat kedatangan Lian.
"Bagaimana keadaan Cika?" tanya Lian.
"Kata Kayra dia akan segara siuman. Hanya obat bius yang perlu di habiskan dan setelah itu dia akan baik-baik saja. Hanya tinggal pemulihan saja,"jawab Pricilla dengan apa adanya.
"Syukurlah kalau begitu. Aku sangat berharap dia baik-baik saja," sahut Lian.
"Terima kasih kamu sudah memberikan donor untuk Cika. Terima kasih sudah menyelamatkannya dan aku akan menepati janjiku untuk pergi dan tidak akan mengganggu keluargamu, menuntut apa-apa dari mu dan Cika juga tidak perlu tau kamu adalah ayah kandungnya. Biarlah Cika tidak pernah tau siapa ayahnya. Karena ini sudah janjiku dan apa yang sudah kamu berikan pada Cika akan aku anggap sebagai tanggung jawab yang paling besar dan sudah cukup itu semua sudah cukup membayar semuanya," ucap Pricilla yang memang akan menepati janjinya pada Lian.
Lian hanya diam saja mendengar apa kata Pricilla tanpa Lian yang berbicara ini dan itu lagi.
"Mama!" lirih Cika yang akhirnya membuka matanya yang sudah siuman.
"Cika!" lirih Pricilla mendekati Cika dengan memegang pipi Cika yang melihat sang anak sudah sadar.
"Cika sudah bangun. Apa ada yang sakit? tanya Pricilla dengan wajahnya yang panik. Cika yang masih lemah hanya menggelengkan pelan kepalanya.
"Cika mau sesuatu sayang biar mama ambilkan," ucap Kayra.
"Cika tidak mau apa-apa kok mah," jawab Cika dengan suara lemahnya. Namun mata Cika melihat ke arah Lian.
"Siapa Om itu mama?" tanya Cika membuat Pricilla melihat ke arah Lian yang mana Lian melihat kearah Cika yang tidak tau Lian harus bersikap bagaimana karena yang dia hanya melihat dengan penuh arti anak kandungnya itu.
"Hmmm, ini adalah..."
"Aku ayah kandung mu," sahut Lian yang memotong pembicaraan Pricilla yang mengakui dirinya sebagai ayah kandung Cika yang pasti mengejutkan bagi Pricilla mendengar pengakuan itu.
__ADS_1
"Ayah kandung Cika," tanya Cika yang pasti tidak menyangka.
Lian mendekati tempat tidur Cika dan berdiri di samping Cika dengan mengusap lembut kepala Cika.
"Iya benar aku ayah kandungmu. Aku selama ini meninggalkan mu," ucap Lian mengakui semua perbuatannya dan Pricilla hanya diam yang pasti masih tidak percaya dengan orang seperti Lian yang berani mengakui siapa dirinya.
"Apa itu benar mah?" tanya Cika melihat ke arah Pricilla. Dia tidak mau kecewa lagi dan harus bertanya dengan benar pada mamanya.
"Katakan Pricilla dengan apa yang sebenarnya. Jika anak ini adalah darah dagingku. Aku tidak ingin menjadi orang yang semakin banyak dosa dengan membuang atau tidak mengakui darah dagingku," ucap Lian yang tumben-tumbenannya bicara begitu bijak dan dewasa sampai Pricilla meneteskan air matanya mendengarnya.
Pricilla mana pernah berharap banyak dari orang seperti Lian yang dalam kehidupannya suka main-main dengan mendonorkan tulang sumsum belakang saja untuk Cika itu sudah cukup dan dia akan pergi tanpa berharap ada pengakuan dari Lian dan semua ini di luar ekspetasi di mana Lian dengan gentelment mengakui semuanya.
"Mama kenapa diam? apa yang di katakan Om ini benar?" tanya Cika yang ingin mendengar kepastiannya.
Pricilla mengangguk dengan menyeka air matanya, "iya Cika ini papa kamu, dia adalah papa kandung kamu," jawab Pricilla.
"Jadi Om papa kandung Cika?" tanya Cika lagi yang melihat ke arah Lian dan Lian menganggukan kepalanya.
"Kalau begitu boleh Cika minta di peluk papa?" tanya Cika yang butuh pelukan dari orang tua kandungnya. Lian menganggukkan kepalanya dan langsung memeluk Cika dengan erat yang mana Lian di pastikan juga terharu dengan memeluk anak kandungnya itu yang baru saja melewati operasi dan selama ini sangat menderita dengan sakitnya.
Pricilla melihat hal itu lagi-lagi air matanya mengalir semakin deras yang tidak percaya dengan apa yang di lihatnya membuatnya benar-benar tidak bisa mengendalikan tangisnya.
"Dia sudah banyak berubah dan semoga saja dia terus bisa bertanggung jawab untuk Cika," ucap Oma.
"Apa itu artinya dia dan Pricilla akan....," sahut Mesya yang sepertinya tidak menginginkan sesuatu.
"Maksud mama Pricilla akan menjadi menantu mama gitu dan kakak iparku gitu," sahut Giselle yang sepertinya tidak akan menerima hal itu.
"Itu tidak mungkin terjadikan," sahut Masya yang juga sepertinya keberatan.
"Memang kenapa Mesya kalau terjadi. Kamu tidak lihat. Jika Lian bertanggung jawab," ucap Altarik.
"Tapikan Pricilla itu wanita yang tidak baik," sahut Mesya yang masih meragukan Pricilla.
"Mah Cika itu anak kak Lian dan jika kak Lian juga ingin bertanggung jawab pada Pricilla ya sudahlah mah. Mungkin memang sudah takdir seperti ini dan Pricilla juga sudah berubah, kak Lian juga mama bisa melihat dia menjadi pribadi yang lebih baik dan penuh tanggung jawab," ucap Zoy dengan apa adanya.
"Tapikan...." sahut Mesya.
__ADS_1
"Sudahlah Mesya kamu jangan menyulitkan keadaan. Jika Lian sudah seperti itu maka kamu tidak perlu mencari masalah biarkan Lian memilih jalannya sendiri dia sudah dewasa dan sekarang jauh lebih baik. Jadi biarkan dia menjadi orang yang lebih bertanggung jawab lagi," ucap Oma dengan penuh penekanan dan penegasan kepada Mesya.
Dan Mesya tidak bisa mengatakan apa-apa lagi yang mungkin apa yang di katakan mertuanya itu benar dan Mesya hanya diam yang mungkin harus menyerahkan semuanya kepada Lian nanti.
*********
Setelah selesai operasi Kayra mencuci tangannya di wastafel dan membuka pakaian operasinya yang langsung keluar dari ruangan ganti yang sudah kembali memakainya pakaian Dokternya.
Namun Kayra tiba-tiba di kejutkan dengan boucket bunga yang ada di depannya.
"Selamat atas operasinya Bu Dokter," ucap Brian yang ternyata yang memberikan kejutan untuk sang mama yang mana Davin juga ada di sampingnya.
"Makasih sayang," sahut Kayra dengan tersenyum lebar dan langsung mencium kening Brian.
"Mama Dokter yang hebat yang sudah menyelamatkan teman Brian," ucap Brian yang tidak henti-hentinya untuk tidak memuji sang mama.
"Brian ini selalu memuji mama, anak mama juga anak yang hebat," sahut Kayra dengan tersenyum lebar.
"Tapi lebih hebat mama," sahut Brian. Kayra hanya tertawa dengan manisnya sang anak. Davin mendekati Kayra dan merangkul istrinya itu.
"Selamat ya kamu berhasil menyelamatkan Cika," ucap Davin dengan mencium lembut kening Kayra.
"Itu tugasku sebagai Dokter, makasih sudah selalu memberiku suport," ucap Kayra, Davin tersenyum dengan anggukan kepala dan langsung memeluk Kayra.
"Papa Brian juga mau peluk mama," sahut Brian yang sudah mulai cemburu dan Kayra tersenyum dan langsung berjongkok yang langsung memeluk Brian dan Davin juga ikut-ikutan yang memeluk putranya yang mulai cemburuan dan mereka berpelukan bersama dengan Davin kembali mencium kening Kayra dan juga mencium pucuk kepala Davin.
Keluarga itu terlihat harmonis dan sangat sweet yang mana begitu sederhana. Namun terlihat sangat bahagia yang saling mendukung satu sama lain.
Bella harus menyaksikan ke harmonisan keluarga itu yang membuatnya kesal dan pasti mempunyai iri dengki.
"Jangan di lihatin terus nanti pengen loh," tiba-tiba suara yang tidak asing terdengar di telinganya dan membuat Bella melihat ke sampingnya yang ternyata adalah Anggika.
"Siapa yang menyuruhmu untuk ikut berbicara," sahut Bella dengan kesalnya.
"Ya namanya juga orang punya mulut, udah deh jangan berharap lagi dengan suami orang, tuh lihat mereka itu keluarga yang bahagia jadi jangan di ganggu mending cari sana kebahagiaan sendiri," ucap Anggi yang langsung pergi.
"Issss!" geram Bella dengan mengepal tangannya yang stres sendiri dengan kata-kata Anggi yang semakin berani kepadanya.
__ADS_1
Bersambung