Pernikahan Dalam Ikatan Surat Kontrak.

Pernikahan Dalam Ikatan Surat Kontrak.
Episode 19 Pasangan yang bertengkar.


__ADS_3

Akhirnya Kayra sampai di kediaman Davin. Di istana mewah itu yang sebelumnya pernah di datangi Kayra saat memperkenalkan diri pada keluarga Davin. Begitu mobil itu sampai pelayan langsung membuka pintu mobil untuk Kayra dan juga Davin dan Kayra dan Davin sama-sama turun dari mobil.


Sementara pelayan yang lainnya sedang mengeluarkan koper Kayra dari bagasi mobil. Kayra dan Davin langsung memasuki rumah. Begitu sudah memasuki rumah tersebut. Davin langsung menggandeng tangan Kayra membuat Kayra kaget dan melihat ke arah Davin.


" Ini hanya sandiwara jangan kepedean," ucap Davin yang tetap cool berjalan. Dan Kayra pun diam tanpa memprotes. Karena di depannya sudah ada Oma Elisabeth, Altarik, ibu tiri dan saudara tiri Davin.


" Akhirnya kalian sampai juga," ucap Oma dengan tersenyum.


" Iya Oma, maaf lama. Tadi soalnya kami mampir untuk makan sebentar," ucap Davin dengan sandiwaranya.


" Kenapa dia suka sekali berbohong?" batin Kayra.


" Hmmm, benarkah begitu!" sahut Oma yang percaya-percaya aja dan Kayra pun hanya senyum-senyum saja seakan membenarkan perkataan Davin.


Kayra melihat ibu mertuanya yang melihatnya dengan tatapan mata yang jelas tidak suka. Kayra juga melihat Joy yang melihat dirinya seperti menilai penampilannya dan pasti menganggap dirinya tidak selepel sama dengan Gisella yang juga melihat sinis Kayra yang seolah menghina Kayra atau mengatai Kayra apapun di dalam hatinya yang tidak baik.


Hanya Lian yang melihat Kayra dengan senyum-senyum. Namun senyum itu mengandung arti yang membuat Kayra malah tidak merasa nyaman.


" Ya ampun wanita ini sungguh kampungan, kenapa juga harus dia yang menjadi istrinya kak Davin," batin Giselle dengan ke-2 tangannya di dadanya yang mengatai Kayra.


" Ya sudah Kayra, kamu juga pasti lelah. Davin kamu bawa istri kamu ke atas. Dia harus istirahat," ucap Altarik dengan ramah.


Memang hanya Altarik dan Oma Elisabeth yang sepertinya manusia biasa di rumah itu dan yang sepertinya menerima dirinya. Karena bisa di pastikan Mesya dan 3 anaknya sama sekali tidak akan menyukainya terlihat jelas dari tatapan mata mereka.


" Kayra kamu jangan sungkan-sungkan ya di rumah ini. Rumah ini sudah menjadi rumah kamu. Kamu menantu pertama di rumah ini dan anggap rumah sendiri dan kalau ada apa-apa minta sama pelayan di rumah ini," ucap Oma Elisabeth yang begitu baiknya.


" Iya Oma," sahut Kayra.


" Walau seperti itu. Kamu harus tau aturan rumah ini dan tidak bisa sembarangan di rumah ini. Kamu masih orang baru dan jangan melakukan sesuatu yang tidak sesuai," ucap Mesya dengan penuh penegasan.


" Baik Tante," sahut Kayra.


" Kayra jangan manggil Tante. Ini sudah menjadi mama kamu jadi panggil mama," sahut Altarik. Kayra hanya mengangguk saja.

__ADS_1


" Ya sudah kalau begitu. Kami istirahat dulu, aku juga lelah dan pasti istriku ini juga sangat lelah," sahut Davin yang langsung membawa Kayra untuk pergi dari tempat itu.


********


Kayra dan Davin pun akhirnya memasuki kamar. Jangan tanya kamar Davin begitu luasnya yang pasti lebih luas dari kamarnya. Di kamar itu juga terdapat sofa putih dan juga terdapat meja kerja Davin. TV besar di depan tempat tidur dengan sofa lagi di depannya.


" Kamu dengar walau kita satu kamar. Bukan berarti kamu bisa suka-suka di kamar ini. Kamu hanya sementara di sini. Dan ini wilayahku. Apapun aku yang memegang kendali bukan kamu. Jadi semua yang ada di tempat ini adalah barang-barang ku. Jadi jangan menyentuhnya dan melakukan apa-apa yang tidak aku sukai," tegas Davin yang terus saja membuat peraturan dengan mulutnya yang merocos panjang lebar.


" Kalau begitu berikan aku kamar lain," sahut Kayra dengan singkat.


" Apa maksud mu? Kalau kita pisah kamar yang ada Oma akan protes dan akan curiga. Kau sengaja ingin cari gara-gara," ucap Davin mulai kesal.


" Kalau kau tidak mengijinkan ku untuk tidak menyentuh apa-apa. Ya lalu aku bagaimana, aku harus bagaimana tinggal di dalam kamar yang tidak bisa aku sentuh," ucap Kayra dengan kesal.


" Ya lagian apa gunanya kau menyentuh barang-barang ku," sahut Davin.


" Ya makanya perjelas bicaramu," sahut Kayra.


" Aku tidak menyalahkanmu. Hanya saja bicaramu tidak jelas," sahut Kayra.


" Baik, jangan berdebat denganku. Yang pertama kau tidak boleh menyentuh ranjangku," sahut Davin.


" Lalu aku tidur di mana?" tanya Kayra.


" Ya di mana aja, di sofa, di lantai kan banyak tidak harus di ranjangku," sahut Davin dengan seenaknya.


" Aku tidak mau, kenapa bukan kau saja yang tidur di sofa," sahut Kayra.


" Ini kamarku, aku yang punya kuasa," tegas Davin.


" Kalau begitu aku akan tidur di kamar lain," sahut Kayra kelihatan mengancam.


" Oke-oke, kita tidur satu tempat tidur," sahut Davin bisa gila menghadapi Kayra.

__ADS_1


" Satu tempat tidur itu artinya kau yang untung," sahut Kayra yang protes lagi.


" Hey, kau jangan berpikir apa-apa. Aku tidak akan menyentuhmu, jadi jangan kepedean!" tegas Davin.


" Bagaimana aku bisa percaya?" tanya Kayra.


" Terserah kepadamu yang jelasnya aku tidak Sudi menyentuhmu. Kau bukan tipeku dan iya kau jangan sekali-kali menyentuh area meja kerjaku dan ingat jangan membuat kamar ini berantakan yang membuat mataku sakit. Apa kau mendengarnya dan jangan melakukan hal yang membuat kacau, ini bukan kamarmu. Jadi ikuti peraturan di dalam kamar ini. Jika ingin tidur tenang. Kau dengar tidak?" ucap Davin dengan banyaknya peraturan yang di keluarkannya. Kayra hanya datar saja mendengar ocehan Davin.


" Apa kau mengerti?" tanya Davin. Dengan santai kepala Kayra menggeleng.


" Kau tidak mengerti, apa gunanya aku bicara panjang lebar jika kau tidak mengerti apa yang aku bicarakan. Oh aku tau. Jangan-jangan kau tidak mendengarkan apa yang aku bicarakan?" ucap Davin tampaknya mulai kesal.


" Davin bagaimana aku mau mendengar apa yang kau katakan. Kau bicaramu sangat panjang dan begitu cepat. Jadi aku tidak bisa menyimaknya," sahut Kayra dengan santainya membuat mata Davin melotot.


" Kau benar-benar Kayra!" geram Davin sampai mengusap kasar mulutnya yang bisa gila berhadapan dengan Kayra.


" Argggghhh, sudah," gertak Davin dengan meremas rambutnya membuat Kayra heran, " Aku tidak ingin gila. Hanya karena dirimu. Jadi terserahmu, ya terserahmu, melakukan apapun," ucap Davin pasrah dan langsung pergi dengan kepalanya yang geleng-geleng.


" Kenapa sih dia, dia yang mengoceh dia yang pusing sendiri. Makanya jangan banyak peraturan bingung sendirikan jadi," gumam Kayra geleng-geleng.


Kayra pun tidak peduli dengan apa yang terjadi pada Davin. Kayra pun membuka kopernya dan dan melihat ke lemari yang panjang dan banyak pintu itu itu membuat Kayra bingung.


Kamar Davin memang luasnya minta ampun mungkin seluar rumah subsidi dan kamar itu tanpa ada ruangan lagi selain kamar mandi, ruang kerja Davin, sofa lengkap dengan mejanya dan sofa single di depan TV di ujung tempat tidur, lemari panjang dengan jejeran pintu yang tidak tau apa isinya. Semuanya menyatu di kamar itu tanpa ada sekat dan di pisah- pisah.


Kamar luas bernuansa klasik itu itu juga langsung berhubungan dengan balkon yang sepertinya begitu luas dan Kayra belum melihat apa-apa saja di luar. Namun Kayra hanya melangkah ke lemari.


Kayra membuka pintu lemari satu persatu dan banyaknya pakaian Davin yang tersusun rapi yang mungkin di susun berdasarkan harga atau apapun Kayra sama sekali tidak mengerti.


Namun di lemari itu terlihat longgar dan Kayra yang tanpa permisi langsung memindahkan pakaian Davin kelemari yang satunya untuk mengosongkan satu pintu untuk pakainnya yang memang tidak banyak.


Kayra dengan santai menyusun pakaiannya tanpa nanti akan perduli Davin mau bicara apa. Yang penting baginya pakainnya tidak berada di dalam koper. Agar memudahkan untuknya menggantinya nanti.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2