
Rumah sakit.
Kayra selesai melakukan operasi langsung memasuki ruangan ganti untuk mencuci tangan dan melepas baju operasinya. Namun dengan bersamaan Dokter Bella juga memasuki ruangan itu yang juga kelihatan selesai Operasi yang sekarang berdiri di samping Kayra.
"Kau harus banyak berdoa agar bisa lulus tes. Supaya karirmu di rumah sakit ini lebih cemerlang. Jadi kau harus banyak-banyak belajar dan jangan kerjanya hanya main-main saja," ucap sinis Bella yang menyindir-nyindir Kayra yang berdiri di sampingnya.
Namun Kayra masa bodo dan tidak memperdulikan apa kata Bella. Dia tetap mencuci tangannya yang mungkin menganggap Bella bukan tidak ada di sampingnya.
"Jangan mendekati Davin, kau tidak pantas untuknya," ucap Bella, membuat Kayra tersenyum tipis dengan selesai mencuci tangannya dan langsung melapnya dan melihat ke arah Bella
"Lalu menurutmu dia pantas untukmu," sahut Kayra yang tersenyum menjawab kata-kata Bella, membuat Bella melotot mendengarkan perkataan itu yang menurutnya Kayra semakin berani kepadanya.
"Apa katamu. Kau sangat berani kepadaku Kayra. Apa kau tidak sadar jika aku ini adalah seniormu," ucap Bella yang terlihat tidak terima dengan kata-kata Kayra.
"Lalu apa yang harus aku lakukan kepada seniorku," sahut Kayra yang menanggapi dengan santai.
"Kau!" geram Bella.
"Terima kasih ya Dokter Bella, sudah memberi saya semangat untuk berdoa supaya supaya bisa lulus ujian yang artinya Dokter Bella ingin saya menjadi Dokter tetap dan posisinya sama dengan Dokter Bella. Saya sangat berterima kasih dengan doa tulusnya dan untuk kata-kata Dokter Bella yang mengatakan masalah Davin. Ya terserah Dokter Bella saja. Walau Dokter Bella senior dan sering meeting bersamanya. Lalu mendapat banyak kesempatan untuk dekat dengannya. Tapi belum tentu dia tertarik pada anda," ucap Kayra dengan santai yang berbicara pada Bella.
Bella pasti tidak terima dengan apa yang di katakan Kayra yang seolah meremehkan dirinya. Kayra melangkah mendekati Bella dan berbisik di telinga Bella.
"Menurut saya dia mencintai wanita lain," bisik Kayra yang tersenyum penuh kemenangan dan langsung pergi dari hadapan Bella setelah puas berkata-kata yang membuat Bella mengepal tangannya mendengar ucapan Kayra.
"Kurang ajar!" umpat Bella dengan dadanya kembang kempis, "wanita itu benar-benar sinting, baru kali ini ada yang memperlakukan ku seperti ini, berani mengataiku, Argggghhh!" Bella jadi marah dengan kata-kata Kayra yang sedikit. Namun mampu menusuk.
Namun Kayra yang keluar dari ruangan pembersih itu menghela napasnya perlahan kedepan, "dia pikir Davin menyukai dia apa," gumam Kayra yang tampak kesal dengan Bella.
"Kayra!" tiba-tiba Anggi memanggilnya dan membuat Kayra menoleh ke arah Anggi yang berlari menghampirinya.
"Anggi!" sapa Kayra.
"Nih," Anggi memberikan amplop pada Kayra.
"Apa ini?" tanya Kayra heran.
"Surat tugas, aku, kamu dan beberapa Dokter lagi menjadi relawan di Papua," jawab Anggi yang mengejutkan Kayra.
"Hah!" pekik Kayra tampak terkejut.
"Iya," sahut Anggi.
"Kok aku nggak tau hal ini. Tiba-tiba aja langsung di oper-oper segala," ucap Kayra yang benar-benar terkejut.
"Ya memang mendadak Kayra. Seharusnya memang bukan kamu. Namun ada Dokter yang berhalangan untuk pergi. Jadi Dokter Bella menggantikannya dengan kamu," jelas Anggi.
__ADS_1
"Bella!" pekik Kayra yang semakin terkejut. Anggi menganggukkan kepalanya.
"Sudah ku duga dia memang tidak akan bisa membuatku senang," gumam Kayra yang semakin kesal dengan Bella yang sengaja menjadikannya relawan di daerah Papua barat dan pasti itu berhubungan dengan masalah pribadi.
"Sudahlah Kayra terima aja. Bukannya kamu itu senang ya. Kalau menjadi Dokter relawan," sahut Anggi.
"Iya sih, tapi caranya yang tidak senang. Takut amat di saingi," desis Kayra.
"Maksudnya?" tanya Anggi.
"Nggak ada. Oh iya berapa hari tugasnya?" tanya Kayra.
"1minggu," jawab Anggi.
"Lama juga," sahut Kayra menghela napas.
"Oh iya kalau kamu pergi Brian bagaimana?" tanya Anggi.
"Aman Davin kan ada, jadi dia bisa bersama papanya," jawab Kayra dengan lancarnya bicara. Yang tidak tau sadar atau tidak. Namun detik berikutnya Kayra sadar jika dia keceplosan dan melihat kearah Anggi yang mana wajah Anggi menunjukkan ekspresi penuh tanya.
"Oh maksud aku, Brian bisa bersama papanya dan ini juga tugas dari pak Davin bukan," sahut Kayra dengan cepat meralat kata-katanya dengan cepat sebelum Anggi semakin berpikir yang tidak-tidak.
"Oh, begitu, aku tadi mendengar kamu bilang pak Davin papanya Brian," sahut Anggi. Membuat Kayra panik.
"Begitu rupanya," sahut Anggi yang mengangguk-angguk saja.
"Ya ampun Kayra, bisa-bisanya kamu itu keceplosan, benar-benar ya Kayra," batin Kayra yang merasa dirinya sangat bodoh.
***********
Kayra sedang memasak di dapur di Apartemennya sementara Davin sedang menemani Brian belajar di Sofa.
"Papa kenapa Dokter itu masih gangguin mama," ucap Brian tiba-tiba
"Dokter. Dokter mana?" tanya Davin heran.
"Yang kemarin marahin Brian," jawab Brian.
"Memang dia ngapain mama?" tanya Davin melihat kearah Kayra yang sibuk memasak seolah-olah tidak dengar. Padahal pasti Kayra mendengar Brian dan Davin bicara.
"Mama bilang dia selalu gangguin mama. Dia suka sama papa dan mama terus di jahatinya," ucap Brian. Tampaknya Kayra curhat pada putranya dan putranya melapor pada Davin.
"Masa iya dia menyukai papa?" tanya Davin.
"Iya papa, dia bilang mama tidak pantas untuk papa. Pokoknya dia itu mengatai mama dan mama juga bilang papa juga dekat-dekat dengan dia. Brian tidak mau ya kalau papa sering sama dia," ucap Brian yang menasehati sang papa.
__ADS_1
Namun Davin mendengarnya tersenyum dan melihat kembali ke arah Kayra yang tetap sok sibuk, "apa mama kamu cemburu kalau papa dekat dengan Dokter itu?" tanya Davin yang matanya fokus pada Kayra.
"Mama, mama cemburu?" tanya Brian yang langsung menanyakan pada mamanya. Kayra pun melihat ke arah Brian dan Davin. Namun Kayra tidak mengatakan apa-apa dan berjalan menuju kulkas mengambil beberapa bahan makanan lainnya.
Melihat hal itu membuat Davin tersenyum dengan mengusap mulutnya dan menghela napasnya.
"Mama tidak mau jawab papa," ucap Brian.
"Papa sudah tau jawabannya," sahut Davin.
"Lalu bagaimana papa akan dekat-dekat lagi dengan dia atau bagaimana?" tanya Brian.
"Papa mana berani dekat-dekat dengan wanita lain. Nanti mama kamu marah lagi," sahut Davin.
"Hmmm, betul. Papa yang terbaik," sahut Brian mengacungkan 2 jempolnya membuat Davin tersenyum dengan mengacak-acak rambut putranya itu.
"Tapi tetap aja Dokter itu membuat mama harus kerja ke luar kota," ucap Brian yang kembali menunjukkan wajah manyunnya.
"Keluar kota, maksudnya?" tanya Davin heran yang kelihatannya tidak tau apa-apa.
"Mama akan menjadi Dokter relawan di Papua barat dan itu semua karena Dokter itu," jelas Brian.
"Kamu jadi relawan?" tanya Davin melihat kembali ke arah Kayra.
"Iya," jawab Kayra.
"Kapan?" tanya Davin.
"Barangkatnya Lusa dan 1 Minggu di sana," jawab Kayra.
"Lalu Bella yang melakukannya?" tanya Davin. Kayra menganggukkan kepalanya.
"Aku akan coba cek besok, biar kamu tidak jadi pergi," sahut Davin.
"Tidak usah Davin, aku sangat menyukai pekerjaan ku. Jadi tidak apa-apa aku berangkat. Biar lebih banyak mendapat pengalaman dan Brian akan tinggal sama kamu," jawab Kayra yang memang tidak mempermasalahkan hal itu. Hanya saja karena Bella sengaja melakukannya itu yang membuatnya kesal.
"Jadi Brian akan tinggal sama papa selama mama pergi?" tanya Brian.
"Iya Brian. Jadi Brian jangan nakal-nakal ya. Brian akan harus baik sama papa, kakek, Opa, Nenay dan Oma Tante Zoy, Tante Giselle juga," ucap Kayra yang memberikan pesan pada putranya itu.
"Baiklah mah. Tapi mama juga baik-baik ya di sana, mama harus jaga kesehatan dan makan yang teratur," ucap Brian yang mengingatkan sang mama.
"Itu pasti sayang, Brian jangan Khawatir," sahut Kayra tersenyum. Dan Davin juga tersenyum. Dia merasa Kayra semakin mempercayainya dalam melakukan sesuatu.
Bersambung
__ADS_1