Pernikahan Dalam Ikatan Surat Kontrak.

Pernikahan Dalam Ikatan Surat Kontrak.
Bab 24 Selalu membuat kesal


__ADS_3

Athar mendengar perkataan Kayra langsung berkacak pinggang di depan istrinya yang bicara sembarangan itu, " Apa katamu, kau bilang aku tua. Kau sadar tidak jika sedang bicara kepada siapa," sahut Davin kesal.


" Memang aku bicara dengan siapa. Perasaan biasa aja. Kau saja yang aneh," sahut Kayra santai.


" Hey Kayra aku itu seorang penguasa. Aku bisa memecatmu dari pekerjaanmu yang kau sombong kan itu. Jika kau tidak bisa sopan kepadaku. Dengan dia saja kau manis-manis bicara. Giliran kepadaku kau seenaknya mengataiku. Hey aku ini adalah pimpinan dan dia hanya atasan mu di anak perusahan," tegas Davin mengingatkan Kayra.


" Tapi aku bekerja di sana dan di sana dia bosku bukan kau, jadi seharusnya semua bukan urusanmu. Aku mau ini itu itu terserahku. Karena ketika di luar rumah kita bukan suami istri," tegas Kayra yang jauh lebih galak dari pada Davin.


Sampai Davin tidak bisa bicara dan dan hanya membuang napas beratnya dengan kasar Mendekati Kayra.


" Ada apa? kenapa mendekati ku? Mau apa kau?" tanya Kayra heran. Davin mengangkat dagu Kayra dan Athar sedikit menunduk dengan wajah Kayra yang tepat di depannya, membuat Kayra melotot.


" Aku yang punya kuasa atas dirimu. Mau itu di dalam rumah, atau di luar rumah. Kau tetap dalam pengawasanku. Aku mengijinkanmu bekerja bukan berarti kau bebas mempunyai hubungan dengan orang lain. Kau bisa memiliki hubungan setelah berpisah dengan ku. Kau mengerti!" tegas Davin dengan wajah seriusnya.


Kayra menepis tangan Davin dari dagunya. " Kau selalu saja mengaturku. Aku punya kebebesan sendiri yang seharusnya kau tidak mengaturku," ucap Kayra dengan kesal yang protes dengan pernyataan Davin.


" Kau ingin melawanku?" tanya Davin. Kayra diam saja.


Davin membuang napasnya perlahan kedepan dan beralih dari hadapan Kayra.


" Ikut dengan ku!" ucap Davin berjalan terlebih dahulu. Kayra membalikkan tubuhnya.


" Mau kemana?" tanya Kayra.


" Aku lapar kebanyakan bicara denganmu. Jadi temani aku makan siang," sahut Davin.


" Tapi aku sudah janji makan siang dengan pak Aldo," ucap Kayra membuat Davin menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya menghadap Anna.


" Aku suamimu dan juga atasan utama mu. Jadi turuti aku dan bukan dia," tegas Davin kembali membalikkan tubuhnya dan langsung pergi.


" Tapi.-"


" Isssss, kenapa sih dia selalu aja mau suka-suka, aku sudah berjanji, benar-benar Davin sialan," umpat Kayra dengan mengertakkan telapak kakinya di atas lantai.

__ADS_1


*************


Aldo menunggu Kayra di dalam mobil. Dia merasa sudah lama sekali Kayra ke toilet dan tidak datang sama sekali.


" Di mana Kayra, tidak mungkin kan dia kesasar dan tidak menemukan toilet," batin Aldo yang terus melihat ke arah perusahan menlihat Kayra yang tidak muncul juga.


" Sebaiknya aku menelponnya saja," ucap Aldo yang langsung mengambil handphonenya dan langsung menghubungi Kayra.


Sementara Davin menyandarkan tubuhnya yang berdiri di dingding di dekat Perusahaan dengan ke-2 tangannya yang berada di saku celana dan sementara Kayra berdiri di sampingnya yang sedang memegang handphone.


Dratttt Dratttt Dratttt Dratttt Dratttt Handphone Kayra yang di pegangnya terus saja berdering dan Kayra bingung harus mengangkat atau tidak. Yang mana dia malah terlihat gelisah.


" Kenapa tidak di angkat? Cepat angkat," ucap Davin dengan menaikkan 1 alisnya. Kayra berdecak kesal lalu mengangkat panggilan dari Aldo dengan terpaksa.


" Iya Pak Aldo," sahut Kayra.


" Kamu di mana?" tanya Aldo.


" Hmmm, begitu rupanya. Teman kamu cowok apa cewek?" tanya Aldo. Davin mendengar pertanyaan itu membuatnya mendengus kasar.


" Apa urusannya mau cowok apa cewek. Apa sih hubungannya dengan wanita ini," umpat Davin di dalam hatinya yang terlihat kesal.


" Hmmmm, ya sudah pak Aldo, saya tutup dulu ya, tidak enak soalnya dengan teman saya, sekali lagi saya mohon maaf," sahut Kayra yang tidak menjawab sama sekali pertanyaan Aldo.


" Hmmm, ya sudah kalau begitu, kamu jangan telat ya sayang kekantor," ucap Aldo memberi ingat.


" Pasti pak!" sahut Kayra menutup telponnya dengan bernapas lega dan langsung melihat kearah Davin dengan menatap kesal Davin.


" Puas," ucap Kayra yang ingin rasanya menerkam Davin.


" Biasa aja. Oh iya. Kenapa kau tidak menjawab kau bersama dia. Apa takut dia tersinggung?" tanya Davin sinis.


" Apaan sih, pertanyaannya tidak penting. Lagian terserahku mau bagaimana itu bukan urusanmu. Apa perlu aku bilang aja jika aku pergi bersamamu. Kau memaksaku untuk pergi bersamamu," sahut Kayra dengan bertambah emosi.

__ADS_1


" Kau benar-benar ya selalu bicara kasar kepadaku, kau itu lama-lama ingin juga di beri pelajaran," sahut Davin kesal.


" Itu karena kau yang mencari masalah denganku. Ya sudah ayo, kau makan apa tidak, jangan banyak bicara lagi," sahut Kayra dengan galaknya.


Kesabaran Davin benar-benar diuji oleh Kayra yang jauh lebih galak dari pada dirinya. Davin Berdecak kesal. Lalu langsung berjalan terlebih dahulu dan di ikuti oleh Kayra yang terpaksa ikut dengan Davin.


" Kau pula yang mengatur," desis Davin yang berjalan terlebih dahulu melewati Kayra. Kayra hanya bisa mengumpat dengan Pria yang begitu menyebalkan itu.


*******


Davin sedang berada di kamar Oma Elisabeth. Di mana Davin duduk di depan Elisabeth yang duduk di meja kerja Elisabeth dengan memakai kaca matanya.


" Ada apa Davin kamu menemui Oma?" tanya Oma.


" Oma aku sekarang sudah menikah dan aku rasa Oma tidak akan melupakan untuk pemindahan alih Perusahaan utama kepadaku," ucap Davin yang langsung to the point.


" Jadi kedatangan kamu hanya untuk itu?" tanya Oma.


" Apa lagi jika bukan itu. Bukannya selama ini pernikahan itu yang Oma inginkan dan aku melakukannya sesuai kemauan Oma," ucap Davin.


" Jadi kamu menikah hanya untuk Perusahaan menjadi milik kamu?" sahut Oma melihat kearah Davin dengan menaikkan 1 alisnya.


" Bukan begitu Oma, jangan salah paham dulu. Aku menikah karena aku dan Kayra sudah punya komitmen untuk menikah dan saling mencintai pastinya," sahut Davin dengan cepat mengarang cerita. Sebelum dia di curigai lagi.


" Benarkah!" sahut Oma yang kelihatan tidak percaya.


" Ya benarlah Oma. Sudahlah jangan meragukan pernikahanku. Mending Oma buruan hubungi pengacara dan langsung buat pemindahan Perusahaan menjadi milikku," sahut Davin yang terburu-buru.


" Tidak semudah itu Davin," sahut Oma membuat Davin kaget.


" Apa maksud Oma?" tanya Davin heran yang mulai merasa ada yang tidak beres dengan kata-kata Omanya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2