Pernikahan Dalam Ikatan Surat Kontrak.

Pernikahan Dalam Ikatan Surat Kontrak.
Bab 144 Peringatan.


__ADS_3

Lian yang kesakitan langsung terjatuh ke lantai dan melihat siapa yang memukulnya yang tak lain adalah memukul dengan tingkat bisbol.


" Apa yang kau kau lakukan di rumahku. Kau ingin membunuh anakku hah!" teriak Susan yang ingin memukul lagi.


" Mah cukup!" cegah Silvia dengan cepat berdiri menahan tangan mamanya sebelum Lian habis di tangan mamanya.


" Kau berani sekali memukulku dari belakang. Kau pikir kau siapa!" teriak Lian yang terlihat tidak terima dan berusaha untuk berdiri.


" Apa kau. Kau masih menantang hah!" sahut Susan yang kembali ingin memukul dan Silvia langsung mencegah lagi.


" Apa yang kau lakukan Silvia. Dia hampir membunuhmu. Jadi biarkan mama akan membunuhnya," sahut Susan dengan penuh amarahnya.


" Aku memang ingin membunuh anakmu yang tidak tau diri itu. Kau tau kenapa. Karena anakmu itu sudah menghancurkan hidupku. Anakmu yang tidak tau diri itu sudah membuat rencanaku berantakan!" teriak Lian menunjuk-nunjuk Silvia.


" Jaga bicaramu pria berengsek. Justru kau yang sudah menghancurkan hidup anakku. Kau membuatnya hamil dan tidak bertanggung jawab. Lajur mencelakainya. Kau yang sudah mengahancurkan anakku!" teriak Susan yang pasang badan untuk Silvia.


" Aku hanya meladeninya. Dia wanita yang licik. Jika dia hamil itu bukan salahku. Karena dia juga wanita murahan yang mau sana-sini," ucap Lian yang meremehkan Silvia.


" Kurang ajar!" umpat Susan tidak bisa mengendalikan dirinya dan langsung memukul Lian. Hal itu membuat Silvia kaget dengan Lian yang di hajar mamanya.


" Hentikan! apa yang kau lakukan, hey, hey!" teriak Lian yang mencoba melindungi dirinya. Namun dengan menahan dengan tangannya. Susan membabi buta memukul Lian yang tidak peduli dengan Lian.


" Kau berani sekali menghina kami. Kau datang ingin membunuh Silvia. Maka kau harus pulang tanpa bernyawa," ucap Susan terus memukul Lian.


" Mah, sudah mah! mah!" Silvia yang tidak mau mendapat masalah berusahalah menghentikan mamanya.


" Mah, mah. Lian pergilah kau dari sini!" usir Silvia yang berhasil menghentikan mamanya. Sudah dengan napasnya yang naik turun melihat penuh kemarahan pada Lian menahan sakit.


" Jangan coba-coba berani datang ketempat ini lagi. Aku dan kau sudah tidak ada urusan. Masalah kita sudah selesai dan kau pergilah dari sini! jika kau menggangguku aku akan melaporkan polisi!" tegas Silvia.


" Berani kau mengancamku!' sahut Lian tidak terima.


" Aku bilang pergi!" teriak Silvia penuh emosi.


" Ohhhh, kau merasa paling hebat. Aku akan mengingat perbuatan kalian berdua. Ibu sama anak sama aja. Lihat saja apa yang akan aku lakukan nanti," ucap Lian memberi ancaman.

__ADS_1


" Kau masih mengancam!" Susan kembali ingin memukul.


" Dasar sampah!" umpat Lian langsung pergi dengan beberapa luka yang di dapatkannya.


" Kau yang sampah!!!" teriak Susan melempar tongkat bisbol tersebut dan untung Lian sudah pergi.


Silvia menghela napasnya yang untungnya tidak ada yang mati di rumahnya, " Seharunya kau membiarkan mama membunuhnya. Kau lihat dia hampir membunuhmu," ucap Susan yang memarahi Silvia.


" Dia bisa mati. Aku capek berurusan dengan keluarga mereka. Apa yang mama lakukan tadi hanya akan menambah masalah saja. Jadi percuma mah," ucap Silvia semakin stress.


" Masalah itu datang dari kamu. Dan masalah akan berhenti. Jika kau mati di tangannya. Seharusnya kamu penurut sama mama. Mama sudah memperingatkan kamu dari awal jangan ikut masuk kedalam keluarga Kayra. Kamu harus tau jika Kayra bermasalah dengan suaminya. Kita yang akan menjadi miskin. Jika kamu ingin seperti Kayra. Bilang sama mama. Mama akan mencarikan yang lebih kaya dari pada Davin!" tegas Susan.


" Kenapa sih. Di kepala mama itu hanya uang saja, mama tidak pernah berpikir perasaanku apa," sahut Silvia.


" Jangan sok suci kamu. Kamu juga selama ini menikmati semuanya. Sekarang sudah bermasalah baru sok-sokan. Awas saja kalau kamu buat ulah lagi. Kamu akan lihat apa yang mama lakukan kepadamu!" tegas Susan dengan ancaman dan langsung pergi.


" Mama selalu saja seperti ini kepadaku. Mama benar-benar keterlaluan," batin Silvia yang terduduk dengan memegang kepalanya yang sembari memijatnya yang semakin berat.


************


" Aku tidak percaya. Jika Davin bisa melakukan semua ini. Davin kau benar-benar biadap!" teriak Mesya.


" Lalu sekarang bagaimana mah. Mama dan kak Lian mungkin bisa di penjara karena kecelakaan itu dan mungkin kak Davin akan memberi hukuman lebih parah lagi," sahut Giselle memikirkannya saja sudah takut.


" Ini semua gara-gara Dion. Sekarang dia berani ikut-ikutan Davin. Itu sama saja dia menantang ku," ucap Mesya yang menyalahkan Dion.


" Mama kenapa jadi nyalahin Dion sih. Mama dan kak Lian yang membuat masalah," sahut Mesya kelihatan tidak setuju dengan mamanya yang menyalahkan begitu saja.


" Kamu membelanya iya!" sahut Mesya.


" Siapa yang membelanya. Mah mendingan dari pada mama menuduh ini dan itu. Mending sekarang mama meminta maaf dan mungkin hukuman mama akan berkurang jika minta maaf," sahut Willo memberikan saran.


" Minta maaf kamu bilang. Enak saja dia yang salah keluarga itu yang sudah berani bermain-main dengan keluarga kita," sahut Mesya yang pasti tidak akan pernah mengakui kesalahannya dan lihat sama dengan hari ini.


" Terserah mama lah," sahut Zoy yang lelah dengan mamanya yang tidak pernah mau mengakui kesalahannya. Walau sudah tau bersalah.

__ADS_1


**********


Kayra memang sudah mulai enakan dan hari ini ada jadwalnya untuk kuliah dan Davin mengantarkannya. Davin bahkan menyetir sendiri. Reyhan beruntung hari ini yang tidak jadi obat nyamuk dari bosnya itu.


Mobil yang di kendarai Davin berhenti di depan kampus Kayra.


" Terima kasih sudah mengantarku," ucap Kayra.


" Iya. Kamu hati-hati ya. Dan ingat nanti siang aku akan menjemputmu, kita juga ada cek kandungan hari ini," ucap Davin yang mengingatkan Kayra.


" Astaga aku lupa. Tapi agak sorean nggak apa-apa ya. Soalnya siang juga ada kuliah. Maklum lah mau kejar skripsi," ucap Kayra.


" Kamu itu lama sekali lulus kuliahnya. Kamu apa tidak belajar giat apa," sahut Davin.


" Issss sembarangan. Justru ini sudah tercepat. Bahkan aku itu sedang ngejar target. Harus lulus sebelum lahiran nanti. Karena kalau sudah lahiran. Pasti banyak yang terbengkalai nantinya," ucap Kayra.


" Iya-iya aku mengerti. Tetapi ingat ya jangan terlalu lelah dan stress dalam memikirkan mata kuliah kamu. Ingat kamu sedang mengandung. Aku nggak mau anak kita nanti kenapa-kenapa," ucap Davin mengingatkan Kayra.


" Iya Davin. Kamu itu santai aja. Akan beres semuanya," sahut Kayra meyakinkan suaminya yang mulai galak itu.


" Aku berharap kamu memang mendengarkan ku," ucap Davin.


" Iya-iya. Ya sudah aku pergi dulu ya. Kamu juga hati-hati di jalan," ucap Kayra membuka sabuk pengamannya dan meraih punggung tangan Davin dan langsung menciumnya. Davin juga mencium kening Kayra dan tidak lupa pada perut Kayra membuat Kayra tersenyum lebar dengan manisnya Davin kepadanya.


" Jaga mama ya nak," ucap Davin.


" Iya papa," jawab Kayra menirukan suara bayi.


Davin mengusap-usap rambut Kayra, " ada apa-apa telpon aku," ucap Davin.


Kayra mengangguk, " aku masuk, bye," sahut Kayra yang langsung keluar dari mobil dan Davin melihat istrinya yang memasuki kampus dan bertemu dengan Indri yang mana Indri langsung merangkulnya.


" Aku tidak percaya jika aku akan menikah dan sekarang dia menjadi istriku dan bahkan mengandung anakku. Kenapa dunia ini aneh sekali?" gumam Davin yang masih tidak percaya dengan kehidupannya sekarang.


Mungkin di dalam hidup Davin. Davin tidak akan pernah menikah dan punya keluarga. Namun kenyataannya dia mempunyai hal itu dan mengalir begitu saja.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2