
Setelah menyiapkan makanan untuk Kayra. Davin dan Brian memasuki kamar Kayra yang pasti akan memberikan Kayra makan.
"Ayo Brian bangunkan mama pelan-pelan," ucap Davin.
"Baik pah," sahut Brian yang naik keatas ranjang.
"Mama bangun! Mama, mama makan sebentar," ucap Brian yang membangunkan Kayra dengan lembut. Bahkan Brian beberapa kali mengecek tubuh Kayra. Apakah masih panas atau tidak.
"Mama bangun!" Brian membangunkan lagi.
"Hmmmm," sahut Kayra dengan suara lemasnya yang akhirnya terbangun, "Brian," lirih Kayra yang sudah membuka matanya.
"Bangun mah! mama makan sebentar!" ucap Brian dengan lembut. Kayra melihat ke arah Davin yang berdiri dengan membawa makanan.
"Mama tidak mau makan. Mama mau tidur," ucap Kayra.
"Makanlah Kayra, biar kamu bertenaga," ucap Davin dengan lembut.
"Iya mama jangan menolak. Nanti mama sakit seperti Brian. Brian aja kalau sakit langsung makan. Jadi mama juga harus makan supaya cepat sembuh," ucap Brian. Kayra mengangguk-angguk dan mencoba untuk duduk. Melihat Kayra yang kesulitan membuat Davin langsung membantu Kayra untuk duduk bersandar di kepala ranjang.
Lalu Davin langsung duduk di samping Kayra dan langsung menyuapi Kayra.
"Aku bisa sendiri," sahut Kayra menolak.
"Kamu sangat lemas. Biar aku yang melakukannya. Jangan keras kepala," tegas Davin. Kayra menghela napasnya dan dengan terpaksa menerima suapan dari Davin.
Sementara Brian berada di sebelah Kayra yang di atas tempat tidur yang sedang memijat tangan Kayra.
"Mama masih panas. Jadi harus banyak makan," ucap Brian. Kayra mengangguk dengan tersenyum tipis. Anaknya itu memang paling tau apa yang terjadi.
"Brian tolong ambilkan air putih," titah Davin.
__ADS_1
"Baik pah," sahut Brian yang turun dari ranjang dan buru-buru mengambil air putih untuk mamanya.
"Kau seharusnya tidak perlu melakukan ini," ucap Kayra.
"Kau sedang sakit. Jadi aku hanya membantumu dan kalau sakit. Brian tidak akan terurus. Dia juga akan panik. Jadi aku melakukannya juga demi Brian," jelas Davin.
"Aku sudah merasa jauh lebih baik. Pulanglah jika ingin pulang. Aku bisa mengurus semuanya dan lagian Brian juga tidak apa-apa. Aku akan telpon papa atau kak Silvia. Jadi tidak ada yang harus di khawatirkan pulanglah!" ucap Kayra yang selalu merasa dirinya bisa melakukan semuanya sendiri.
"Aku akan pulang ketika ada orang di rumah ini. Jadi makanlah. Jangan memikirkan apa-apa lagi," ucap Davin yang kembali menyuapi Kayra dan Kayra pun menerima suapan itu yang harus menurut dengan Davin.
Tidak lama Brian memasuki kamar dan membawa segelas air putih.
"Ini pah," ucap Brian. Davin mengambil dari tangan Brian dan langsung memberikan pada Kayra dengan perlahan dan bahkan Davin melab air yang ada di wajah bibir Kayra yang membuat mereka saling melihat.
"Mama papa," mereka berdua sama-sama membuyarkan keheningan di antara mereka. Ketika Brian memanggil.
"Kenapa Brian?" tanya Davin.
"Brian mau kekamar ya. Mau mengerjakan tugas sekolah. Papa jagain mama ya. Kalau mama tidak menghabiskan makanannya. Papa bilang sama Brian," ucap Brian.
"Baiklah kalau begitu Brian pergi dulu. Ucap Brian yang langsung pergi meninggalkan mama dan papanya berduaan saja.
Davin kembali menyuapi Kayra dan Kayra juga tidak menolak saat di suapi oleh Davin.
"Sudah cukup!" ucap Kayra yang merasa sudah kenyang.
"Sedikit lagi Kayra!" ucap Davin.
Kayra menggelengkan kepalanya, "aku sudah kenyang," jawab Kayra.
"Baiklah kalau begitu," sahut Davin yang akhirnya menghentikan menyuapi Kayra. Karena memang makanan yang di berikan Davin pada Kayra lumayan banyak dan Kayra juga menghabiskan lumayan banyak.
__ADS_1
"Minumlah!" ucap Davin yang kembali memberi Kayra minum. Tidak lupa Davin juga memberi Kayra obat dan Kayra menurut saja.
"Apa kamu tidak perlu kerumah sakit?" tanya Davin.
"Tidak perlu. Aku sudah merasa enakan," jawab Kayra.
"Ya sudah kalau begitu kamu istirahatlah!" ucap Davin. Kayra mengangguk-angguk dan kembali merebahkan dirinya untuk beristirahat dan Davin juga tidak lupa menyelimutinya.
Setelah itu Davin langsung keluar dari kamar Kayra dan pasti tidak lupa membawa bekas makanan tadi. Kayra juga perlahan memejamkan matanya. Kurang istirahat dan kurang tidur membuat Kayra juga pada akhirnya jatuh sakit.
Dari malam hari sampai pagi dan sampai malam lagi. Davin ternyata tidak pulang juga dari rumah Kayra. Dia tetap ada di sana yang seperti nya sedang siaga jika ada sesuatu nanti. Kayra sebelumnya mengatakan akan mengabari papanya untuk membantunya. Dan sepertinya Kayra lupa mengatakannya. Karena sekarang Kayra juga tertidur dan tidak ada yang datang sejak tadi.
Sama dengan Brian yang juga ada di kamarnya yang sekarang sedang beristirahat di pelukan Davin. Yang mana Davin sedang membaca buku. Sebelumnya Brian ingin di bacakan dongeng dan akhirnya Brian tertidur.
Davin yang menyadari Brian sudah tertidur langsung menutup buku tersebut. Davin pun bergeser dari ranjang. Merapikan posisi Brian tidur agar Brian nyaman tertidur. Lalu menyelimuti Brian dan tidak lupa mencium kening Brian.
"Kamu istirahat ya sayang, semoga mimpi indah," ucap Davin menatap putranya itu. Setelah itu Davin terlihat merapi-rapikan kamar Brian. Kamar Brian sedikit berantakan. Karena tadi Brian habis bermain dan juga belajar. Jadi harap di maklumi.
Setelah selesai membersihkan kamar tersebut. Akhirnya Davin keluar dari kamar Brian. Tidak hanya itu Davin yang melangkah menuju dapur. Juga membersihkan dapur. Karena tidak mungkin Kayra melakukannya sementara Kayra sudah sakit.
Tidak masalah bagi Davin untuk melakukannya. Karena Davin juga tidak ada pekerjaan dan dapur juga berantakan karena ulahnya sendiri.
Setelah menyelesaikan semua pekerjaannya dan dapur, ruang tengah semua terlihat rapi. Davin melihat ke arah kamar Kayra.
Dia sangat khawatir dengan Kayra dan tidak mengecek lagi wanita itu sejak tadi yang akhirnya membuat Davin penasaran dan langsung mengecek Kayra.
Davin membuka pintu kamar dan melihat Kayra masih tertidur dengan pulas. Davin menghela napasnya dan melangkah mendekati ranjang.
Kayra yang juga tadi di kompres. Davin kembali mengkompres Kayra dan mengecek kembali suhu tubuh Kayra dengan memegang kening Kayra dengan punggung tangannya.
"Syukurlah panasmu sudah berkurang," batin Davin yang merasa lega. Kayra merasa ada tangan yang menyentuh kulitnya langsung meraihnya dan menariknya sampai tubuh Davin ikut tertarik mendekat pada wajah Kayra. Kayra dengan matanya yang terpejam malah bergeser mendekati pada Davin memeluk Davin yang membuat Davin terkejut. Jika Kayra sudah berada di dada bidangnya dengan wajahnya dan wajah Kayra begitu dekat.
__ADS_1
Jangan tanya jantung Davin seperti apa. Pasti tidak terkendali debarannya. Karena mendapat pelukan dari Kayra.
Bersambung