
Hanya beberapa menit saja Kayra siap-siap. Kayra kembali membuka pintu kamar dan Davin masih menunggunya di depan kamar hotel. Penampilan Kayra terlihat simpel saja dengan memakai dress putih dengan lengan rumbai. Dress selutut nya dengan rambutnya yang di gerainya dan tasnya yang berada bahunya.
" Aku sudah selesai," ucap Kayra. Davin hanya mengangguk dan melangkah terlebih dahulu dan Kayra mengikuti Davin. Davin memelankan langkahnya yang akhirnya sejajar dengan Kayra. Huhhhh ternyata Davin menunggu Kayra agar bisa berjalan berbarengan dengannya.
Tidak lama akhirnya Kayra dan Davin sampai di salah satu Restauran mewah. Pelayan menghampiri mereka dan menunjukkan beberapa menu makanan untuk Davin dan juga Kayra yang mana mereka sama-sama memesan menu makanan menggunakan bahasa Inggris.
Kayra dan Davin sama-sama fasih menggunakan bahasa Inggris. Setelah memesan makanan yang mereka inginkan pelayan Restaurant dengan ramah meninggalkan tempat itu.
Mereka hanya diam dan malah terlihat mencari kesibukan masing-masing. Yang keduanya mendadak canggung. Dengan Kayra yang melihat-lihat di sekitarnya. Yang melihat-lihat tidak tau apa yang di lihatnya yang intinya supaya tidak canggung saja.
Tidak lama akhirnya makanan mereka pun sudah tertata di meja. Bahkan mereka sama-sama menikmati makanan itu. Suasana Restaurant itu memang terlihat sangat indah dengan lapisan dingding kaca yang bisa melihat keluar, melihat keindahan kota Dubai yang kebetulan mereka berdua juga ada di lantai atas.
Mereka makan begitu formal. Hanya makan tanpa ada pembicaraan sama sekali. Tidak ada pertengkaran, atau apapun. Benar-benar hanya diam saja yang duduk saling berhadapan.
" Kau sudah menemui Dokter tadi?" tanya Davin yang akhirnya memulai untuk bicara.
" Hmmm, iya aku sudah menemui Dokter. Saat pertama kali bertemu papa," jawab Kayra singkat.
" Lalu bagaimana perkembangan Pak Aris. Aku tadi tidak sempat menemui Dokter?" tanya Davin yang memang ingin tau perkembangan Aris.
" Dokter bilang kondisi papa ada peningkatan. Hanya saja Dokter tidak menjelaskan kapan papa akan sembuh. Atau kapan papa bangun, Dokter tidak membahas hal itu," jawab Kayra dengan sedikit penjelasan.
" Bersabarlah. Dia akan secepatnya sembuh," ucap Davin. Kayra mengangguk yang pasti harapannya juga sama. Mendengar kata-kata Davin seakan untuk dukungan kepadanya. Ya selama ini mana ada yang mengatakan hal itu. Tidak di sangka Davin temannya bertengkar itu yang malah mengatakan hal itu yang memberinya semangat.
Dratttt Dratttt Dratttt.
Tiba-tiba handphone Kayra bergetar yang berada di sampingnya dan Davin dapat melihat panggilan itu yang tertulis mama Susan.
Kayra belum mengangkatnya dan masih melihat layar itu. Yang mana dari wajah Kayra tampak ragu yang ingin mengangkatnya atau tidak. Karena tidak ingin mamanya memikirkan yang tidak-tidak kepadanya. Akhirnya Kayra ingin mengangkatnya.
" Jangan di angkat!" perintah Davin membuat Kayra tidak jadi mengangkatnya dan melihat ke arah Davin.
" Ta_ ta_tapi Davin," sahut Kayra yang terlihat takut mendapatkan masalah baru jika mengabaikan telpon itu. Karena mengingat kejadian tempo lalu.
Davin langsung bertindak dengan mengangkat telpon itu. Kayra ingin mencegah. Namun tidak bisa lagi di lakukannya.
📞" Lama sekali mengangkatnya. Kamu itu ngapain aja? sengaja tidak mengangkatnya iya," Susan langsung marah-marah pada Kayra.
📞" Kami sedang makan malam," jawab Davin dengan suara dinginnya.
📞" Hmmm, Davin. Apa kah kamu ini Davin," suara Susan berubah menjadi lembut.
📞" Iya ini aku ada apa?" tanya Davin.
📞" Hmmm, Kayra di mana Davin?" tanya Susan yang terlihat basa-basi.
📞" Memang ada apa? Kayra sedang makan bersamaku. Bukannya tadi aku sudah mengatakannya," ucap Davin dengan suara dinginnya.
📞" Oh, tidak apa-apa Davin. Hanya bertanya saja. Apa kalian sedang liburan?" tanya Susan yang tampak ramah bicara.
📞" Iya," jawab Davin. " Jadi tolong jangan ganggu liburan kami. Jika di ganggu aku tidak akan membawanya pulang dan meninggalkannya di sini," ucap Davin bicara dengan tenang dan penuh ancaman.
Susan yang ada di Jakarta yang menerima telpon itu terdiam dengan menahan kekesalan. Yang Davin mengancamnya dan mungkin jika Davin benar-benar marah akan melakukan itu. Yang artinya aset berharga Susan akan hilang.
📞" Hmmmm, Davin kamu serius sekali. Mama hanya bertanya saja dan lagian. Karya juga tidak meminta izin untuk pergi. Makanya mama menelponnya bukannya itu hal yang wajar jika seorang ibu harus bertanya," ucap Susan yang berpura-pura manis bicara pada Davin. Davin mendengarnya hanya mendengus kasar.
📞" Kalau sudah tau aku dan Kayra liburan. Jadi jangan mengganggu. Jika Kayra tidak mengangkat telpon. Itu karena perintahku. Jadi tolong jangan mengganggu kami nerdua," tegas Davin.
📞" Iya Davin, mama tau. Kamu ingin berduaan dengan istrimu. Mama tidak akan mengganggu kamu dan juga Kayra. Nikmati liburan kalian dan jangan lupa kalau pulang bawa oleh-oleh," sahut Susan dengan basa-basi sok akrabnya.
__ADS_1
📞" Bagus kalau begitu," sahut Davin yang langsung mematikan telponnya. Dan kembali meletakan handphone tersebut di atas meja di samping piring Kayra.
" Jika dia menelpon lagi jangan pernah di angkat. Ini perintah yang harus kau turuti!" ucap Davin menegaskan. Kayra hanya menganggukkan kepalanya.
" Aku sudah menduganya. Jika wanita itu akan menelpon. Karena permasalahan itu. Dasar wanita mata duitan. Sekarang dia akan membaik-baikan ku. Kemarin sangat berani mengancamku. Kau pikir aku ini tandinganmu. Aku tidak sebodoh yang kau pikirkan," batin Davin dengan menyunggingkan senyumnya.
" Apa yang di bicarakan mama dan juga Davin. Apa lagi yang di inginkan mama. Kenapa mama selalu saja menggangguku," batin Kayra yang terlihat khawatir.
" Makanlah! aku mengajakmu untuk makan bukan memikirkan hal yang tidak penting," sahut Davin yang seolah tau apa yang di pikirkan Kayra.
" Iya," jawab Kayra. Mengangguk-anggukkan kepalanya dan kembali melanjutkan makannya.
***************
Pricilla yang berada di rumah sakit yang sedang menyuapi mamanya makan yang kebetulan di rawat di rumah sakit yang sama dengan Aris papa Kayra.
" Davin tidak kemari?" tanya Wulan mama dari Pricilla.
" Kalau dia ada waktu. Dia akan mengunjungi mama. Dia kemarin mengatakan seperti itu," jawab Pricilla.
" Bagaimana hubungan kalian. Apa sudah membaik?" tanya Wulan.
" Aku tidak bisa menggambarkan hubungan kami seperti apa. Karena pasti bukan seperti dulu lagi," jawab Pricilla dengan singkat.
" Bukan itu jawaban yang mama inginkan. Mama ingin jawaban kamu masih pacaran atau tidak dengannya?" tanya Wulan dengan suaranya yang volumenya naik.
" Mah, aku tidak tau. Kami hanya bertemu makan, dia menemani ku jalan-jalan, hanya mengobrol. Tanpa Davin mengatakan perasaannya kepada ku kembali. Dia juga tidak mengatakan merindukanku, mencintaiku seperti dulu. Hanya itu yang kami lakukan," jelas Pricilla yang dia juga tidak tau hubungan jelasnya dengan Davin seperti apa.
" Kamu kenapa bodoh sekali? Jika hanya seperti itu. Bagaimana mungkin Davin bisa kembali menjadi milik kamu. Ingat Pricilla keluarga kita sedang bangkrut dan hanya Davin yang bisa menyelamatkannya. Dan kamu harus lebih dekat lagi dengannya. Kamu dan dia harus kembali menjalin hubungan seperti dulu dengan Davin," ucap Wulan dengan desakannya pada Pricilla.
" Tidak semudah itu mah. Karena Oma Elishabet tidak merestui hal itu dan Davin telihat masih berusaha menutupi dan bahkan bertemu terliaht diam-diam yang mungkin Oma mengawasinya," sahut Pricilla.
" Dengar Pricilla. Gunakan kesempatan ini dengan baik yang Davin kebetulan ada di Dubai dan kamu bisa menghabiskan lebih banyak waktu lagi dengannya," tegas Wulan dengan senyumnya penuh dengan rencana.
" Kamu dengar mama tidak?" tanya Wulan.
" Iya ma, aku akan lebih berusaha lagi," sahut Pricilla.
" Bagus, berusahalah terus," ucap Wulan.
Ternyata kedatangan Pricilla kembali ke Indonesia berkedok kerja sama dengan Davin ternyata ada maksud lain. Yang mana untuk menyelamatkan keluarganya dari kehancuran. Mungkin Pricilla masih mencintai Davin. Tetapi tujuan utamanya datang bukan karena cinta. Tapi karena mamanya.
*********
Setelah selesai makan malam berduaan. Davin dan Kayra pun akhirnya keluar dari Restaurant itu. Mereka berjalan keluar Restaurant yang melewati beberapa anak tangga.
Saat melangkah heels yang di pakai Kayra tergelincir dan hampir membuatnya tersungkur mencium lantai untung ada Davin dengan cepat memegang ke-2 bahunya yang membuatnya setengah membungkuk tidak jadi jatuh dan Davin juga setengah membungkuk seperti Kayra.
Suara hembusan napas Kayra terlihat naik turun. Kayra mengangkat kepalanya dan sama-sama melihat dengan Davin. Di mana wajah ke-2nya saling berdekatan dengan Davin yang terlihat kesulitan menekan salivanya. Tidak tau kenapa jantung ke-2nya yang tiba-tiba harus berdetak dengan kencang.
" Kayra ada apa denganmu. Kenapa perasaanmu seperti ini. Sadar Kayra. Kau tidak boleh. Tidak Kayra. Jangan memikirkan hal itu," batin Kayra yang tiba-tiba jantungnya berdetak kencang. Bukan karena dia hampir jatuh. Tetapi Kayra juga tidak tau kenapa jantungnya seperti itu.
" Kau tidak apa-apa?" tanya Davin dengan suara seraknya yang berusaha untuk tenang.
" A- a- aku tidak apa-apa," jawab Kayra yang langsung berdiri tegak dan Davin melepas tangannya dari Kayra. Kayra terlihat salah tingkah.
" Lain kali hati-hati," ucap Davin. Kayra mengangguk kan kepalanya saja.
" Ayo!" Davin mempersilahkan Kayra untuk berjalan terlebih dahulu dan Kayra mengangguk dengan berjalan yang penuh kecanggungan bahkan menghembuskan perlahan napasnya kedepan.
__ADS_1
Sesampai di mobil mereka yang terparkir. Dengan romantisnya Davin membukakan pintu mobil untuk Kayra.
Yang ada Kayra semakin bingung dan gugup dengan perlakuan Davin yang begitu manis. Bahkan jantungnya tidak berhentinya berdetak sejak tadi.
" Masuk. Kenapa bengong?" tanya Davin dengan menautkan alisnya. Kayra membuyarkan lamunannya dan langsung masuk kedalam mobil dengan debaran jantungnya yang tidak berhenti sama sekali semenjak tadi. Davin benar-benar berhasil membuat perasaannya tidak menentu.
*********
Akhirnya mereka sampai ke Hotel dan sudah berada di depan kamar Kayra.
" A-aku masuk dulu!" ucap Kayra yang sejak tadi begitu gugup.
" Masuklah! kamu istirahat lah. Terima kasih sudah mau makan bersamaku," ucap Davin. Lagi-lagi kata-kata lembut Davin mampu membuat Kayra bengong. Dia merasa sepertinya ada yang salah dengan suaminya itu.
" Kayra, kamu tidak jadi masuk?" tanya Davin yang melihat Kayra bengong.
" Oh iya aku masuk. Kamu tidak masuk," sahut Kayra dan tiba-tiba bertanya yang menyuruh Davin masuk.
Davin sampai terkejut dengan menautkan ke-2 alisnya. Kayra menyadari kelancangan mulutnya dan membuatnya seketika melebarkan matanya.
" Ma_ maksudku masuk kekamar mu," sahut Kayra dengan cepat melarat kata-kata nya.
Davin mendengus mengeluarkan senyum tipis yang melihat kegugupan di wajah Kayra.
" Aku akan masuk," sahut Davin.
" Ya sudah aku juga masuk ke kamarku," sahut Kayra yang buru-buru memasuki kamarnya dengan cepat. Menutup pintu dengan cepat.
" Aneh," ucap Davin geleng-geleng yanh langsung menuju kamarnya yang berada di samping Kayra. Sementara Kayra bersandar di pintu kamar dengan memegang dadanya.
Degup suara jantung nya semakin tidak karuan, " Kayra ada apa denganmu. Tidak Kayra kau jangan memikirkan yang aneh-aneh. Kau juga bahkan sampai keceplosan kau ini benar-benar Kayra kenapa semakin lama semakin bodoh," batin Kayra yang mencoba menyadarkan dirinya.
Kayra bahkan sampai memgang pipinya yang terasa panas tiba-tiba. Dia menyadarkan dirinya dengan terus menepuk-nepuk pipinya dengan ke-2 tangannya.
**********
Kayra dan Davin di Dubai sudah ada 1 Minggu. Di mana Davin fokus pada pekerjaannya dan Kayra fokus menjaga papanya. Tujuannya ke Dubai memang untuk papannya. Kesempatan yang di berikan Davin kepadanya tidak akan di sia-siakannya. Yang tempo lalu pernah hampir dia kehilangan kesempatan itu karena ulahnya.
Aldo yang ada di Dubai sering mengajak Kayra untuk jalan-jalan. Namun Kayra menolak. Karena tidak mau mendapatkan masalah dari Davin. Belakangan ini dia tampaknya penurut dan jarang berdebat dengan Davin.
Sama seperti sekarang ini dia ada di rumah sakit menemani papanya. Sementara Davin sedang menui Dokter. Davin yang menyelesaikan pekerjaannya memang langsung menyusul Kayra kerumah sakit.
Setelah menemui Dokter. Davin langsung menghampiri Kayra. Yang melihat Kayra tertidur duduk dengan kepala di menpel di atas tempat tidur di samping papanya.
Davin menghampiri Kayra dan melihat wanita itu yang tampak tertidur. Dia begitu ragu membangunkan Kayra.
" Kayra!" ucap Davin pelan yang Akhirnya membangunkan Kayra.
" Hemmmm," Kayra langsung terbangun dengan mengangkat kepalanya, matan yang masih terbuka sipit.
" Ayo pulang!" ajak Davin.
Kayra mengangguk dan langsung berdiri. Namun kakinya lemas yang membuatnya hampir jatuh dan untung saja Davin menahan tubuhnya sehingga dia tidak jatuh merangkul ke-2 bahu itu dan Kayra menoleh kearah Davin yang membuat mereka saling melihat.
" Kau tidak apa-apa?" tanya Davin yang melihat wajah Kayra tampak begitu pucat. Kayra menggeleng sembari menegakkan tubuhnya. Padahal dia memang sedang merasa tidak enak badan. Makanya tadi tertidur di samping papanya.
" Ya sudah ayo kita pulang!" ajak Davin. Kayra mengangguk dan berjalan pelan terlebih dahulu. Davin melihat sebentar mertuanya dan kemudikan menyusul Kayra.
Kayra sejak tadi pagi memang merasa tidak enak badan yang sepertinya kondisinya mungkin melemah karena tidak melakukan aktivitas apa-apa.
__ADS_1
Bersambung.