Pernikahan Dalam Ikatan Surat Kontrak.

Pernikahan Dalam Ikatan Surat Kontrak.
Bab 268


__ADS_3

Davin sedang membantu Brian mengganti pakaiannya sebelum Brian tidur. Kayra sendiri juga siap-siap untuk tidur yang sekarang memakai locion di tangannya seperti biasa pada umumnya wanita pasti di sibukkan dengan aktivitas sebelum tidur yang sudah sangat rutin di lakukan.


"Papa Brian mau tanya sesuatu boleh?" tanya Brian.


"Hmmm, katakan apa yang ingin Brian tanyakan," ucap Davin yang sedang mengkancing kemeja putranya itu.


"Papa tadi saat Brian dan Cika sedang bicara sambil bermain Cika bilang papa Cika itu adalah Om Lian," ucap Brian.


"Iya benar lalu kenapa?" tanya Davin dan Kayra yang duduk di meja rias hanya minat dari bayangan cermin melihat seriusnya putranya yang bertanya.


"Om Lian itu asik papa dan apa itu artinya Cika itu saudara Brian?" tanya Brian yang sangat banyak taunya.


"Ya seperti itu lah," jawab Davin singkat.


"Seperti itu apa papah. Papa tidak jelas dalam berbicara. Kan papa dan Om Lian itu bukan saudara kandung. Jadi Cika dan Brian bagaimana apa kami saudara atau tidak?" tanya Brian yang harus teliti dalam mendapatkan jawaban. Karena dia tidak mau setengah-setengah dalam mendengarkan jawaban.


"Brian mau papa dan Om Lian bukan saudara kandung. Papa dan Om Lian tetap saudara dan Cika juga tetap saudara Brian," sahut Kayra yang mengambil alih untuk menjawab pertanyaan sang anak.


"Nah itu jawaban yang Brian inginkan. Tidak seperti papa payah dalam menjawab. Berbelit-belit dan tidak tepat. Mama sangat mudah dan sangat cepat di mengerti. Huhhh papa apa-apa mau singkat saja," protes Brian dengan wajah cemberutnya yang membuat Kayra tersenyum dan Davin harus menghela napas dengan sang anak yang sudah memprotes dirinya.


"Sudah-sudah sekarang Brian ayo tidur!" ajak Kayra yang berdiri dari tempat duduknya.


"Baik mah," sahut Brian yang langsung menaiki tempat tidur.


"Brian mulai besok kamu harus tidur sendiri," ucap Davin yang menutup tirai jendela kamar.


"Kenapa?" tanya Brian yang sudah merebahkan dirinya dan Kayra juga sudah menyusul berbaring di samping Brian.


"Kamu itu sudah besar dan harus tidur sendiri. Nggak boleh tidur sama mama dan papa," jawab Davin.


"Alah papa alasan saja. Bilang aja mau sama mama terus. Dulu aja belum tinggal serumah dengan mama. Papa sering nyuruh Brian buat mengajak mama tidur sama Brian supaya papa juga tidur sama Brian, biar dekat-dekat mama. Sekarang aja semuanya sudah berubah, Huhhhh!" ucap Brian yang membongkar kartu Davin membuat Davin melotot.


"Ohhh jadi semuanya itu sudah di atur," sahut Kayra dengan menatap selidik suaminya itu.


"Benar mama dan sekarang lihat papa mau mengusir Brian mentang-mentang sudah dapat mama," ucap Brian yang mengadu pada mamanya.


"Brian tidak seperti itu juga sayang kamu ini salah paham," ucap Davin yang mencari pembelaan.


"Mana ada salah paham seperti itu," sahut Brian.


"Sudah-sudah sayang, Brian sekarang bobo ya. Jangan bicara lagi. Besok Brian akan sekolah. Jadi besok bisa kesiangan bangun. Jadi sekarang Brian bobo dulu. Biar papa mama yang urus," ucap Kayra.


"Baik mah," sahut Brian yang langsung menurut dan Davin menghela napasnya.


"Lain kali aku harus hati-hati kalau bicara dengan Brian. Yang adanya semuanya di bongkar," ucap Davin dengan kesal.


"Salah sendiri," sahut Kayra, " Ya sudah sini kamu juga istirahat," ucap Kayra.


"Nanti aja, aku mau turun sebentar mau menemui Oma, kamu istirahat aja duluan," ucap Davin.


"Oke jangan lama-lama ya masuk kamarnya," ucap Kayra.


"Ada Brian sama aja, nggak bisa ngapain-ngapain," ucap Davin dengan kesal yang langsung pergi dan Kayra hanya geleng-geleng saja dengan melihat wajah kesal sang suami kepada anaknya yang memang sangat polos dan tidak segan-segan akan membongkar semua Rahasia yang akan terjadi dan Zoy bukannya sudah sering menjadi korban Brian. Ya Brian di lawan dan mungkin Davin benar nanti Brian ini akan sepertinya. Jika sudah dewasa nanti.


*********


Davin menuruni anak tangga dan saat melewati pintu depan dengan tidak sengaja Davin melihat Dion dan Zoy yang memasuki rumah dengan Zoy yang merangkul Dion yang terlihat kesakitan yang memegang perutnya.

__ADS_1


"Kenapa Dion?" tanya Davin heran.


"Kak Davin, ini kak Dion tertusuk," jawab Zoy.


"Tertusuk! tertusuk apa?" tanya Davin panik.


"Tidak apa-apa Davin, hanya kecelakaan sedikit. Jadi jangan khawatir," ucap Dion.


"Yang khawatir juga siapa. Tidak ada yang khawatir. Hanya heran saja apa yang tertusuk dan kalian berdua dari mana. Bisa-bisanya pulang jam segini dan kamu Zoy apa tidak ada di pesta tadi?" tanya Davin yang bukannya khawatir pada Dion. Tetapi malah mengintrogasi Zoy dan Dion.


"Kak Davin benar-benar ya, nggak liat apa orang sedang terluka," ucap Zoy.


"Ya kan hanya bertanya dan itu langsung di jawab. Alasan terluka itu tidak ada alasannya," ucap Davin.


"Issss terserah kak Davin deh," sahut Zoy kesal, "udah ah aku bawa kak Dion istirahat di kamar dulu. Kak Davin juga Bukannya bantuin dan malah bikin susah," ucap Zoy dengan kesal yang langsung membawa Dion pergi.


Davin melihat Dion dengan dahinya yang mengkerut dan bisa-bisanya Dion yang rangkul Zoy mengedipkan sebelah matanya pada Davin membuat Davin kaget dengan dahinya yang semakin mengkerut.


"Wah benar-benar nih manusia, pasti ada sesuatu nih," ucap Davin yang merasa ada yang tidak beres dengan sahabatnya Dion. Namun Davin yang paling tau dengan hubungan Dion dan Zoy. Jadi tidak masalah bagi Davin kalau Zoy dan Dion ada hubungan apa-apa. Karena dia juga mengenal Dion dengan baik.


***********


Mentari pagi kembali tiba. Brian sudah siap-siap ingin berangkat sekolah yang pasti akan di antar oleh ke-2 orangtuanya. Ya Brian permintaannya sangat banyak. Kalau sampai papanya menyuruh Brian di antar supir dan yang lainnya. Maka Brian tidak akan segan-segan mengatakan papanya itu kacang lupa dengan kulitnya. Karena setelah mendapatkan mamanya kembali dia benar-benar di lupakan.


Jadi Davin harus pintar-pintar mengatur strategi jika mau berduaan dengan istrinya jangan sampai Brian berpikiran macam-macam.


Brian, Davin dan Kayra menuruni anak tangga yang di ruang tamu ada Oma Elishabet, Altarik, Mesya dan Giselle.


"Oma, Opa, Nenay," sapa Brian dengan semangatnya.


"Brian, kamu mau sekolah sayang," ucap Oma Elisabeth.


"Semoga menjadi anak yang pintar ya," ucap Altarik dengan doanya yang tulus.


"Pati Opa ," jawab Brian dengan mengajukan jempolnya.


Tiba-tiba Dion dan Zoy datang bersamaan yang menghampiri ruang tamu.


"Kamu kenapa Dion?" tanya Oma Elishabet.


"Tidak apa-apa Oma. Hanya luka kecil saja," jawab Dion yang merasa tidak apa-apa.


"Kak Dion semalam menyelamatkan Zoy. Makanya dia terluka seperti itu," ucap Zoy.


"Oh iya benarkah. Memang kamu kenapa semalam?" tanya Mesya.


"Ceritanya panjang dan kalau tidak ada kak Dion mungkin tidak tau Zoy akan bagaimana," ucap Zoy yang tidak ingin mengingat hal itu.


"Jadi itu sebabnya kak Zoy tidak terlihat di pesta semalam?" sahut Giselle. Zoy menganggukkan kepalanya.


"Ya sudahlah kalau begitu yang penting kalian berdua sudah baik-baik aja. Lain kali kamu juga Zoy jangan pergi sendirian. Agar kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi," ucap Altarik yang memberi pesan.


"Baik pah," sahut Zoy.


"Apa tidak perlu kerumah sakit Dion," sahut Kayra menawarkan.


"Lukanya juga biasa aja, berlebihan menawarkan," sahut Davin yang langsung kesal.

__ADS_1


"Kan siapa tau," sahut Kayra.


"Tidak perlu kok Kayra. Lukanya juga tidak apa-apa," sahut Dion yang merasa memang jauh lebih baik sekarang.


"Ya sudah kalau begitu, semoga cepat sembuh," sahut Kayra dan Dion mengangguk tersenyum dan pasti Davin sangat kesal dengan istrinya yang perhatian pada Dion.


"Oh iya mah pah, dan semuanya, Zoy ingin bicara serius," ucap Zoy yang tiba-tiba ragu dan seperti terlihat sangat gugup.


"Mau biacara apa kamu?" tanya Mesya.


Zoy pun langsung duduk dan di susul oleh Dion yang duduk di sampingnya dan itu saja sudah membuat semua orang penasaran.


"Ini roman-romannya ada pembicaraan yang mengejutkan ini," celetuk Davin.


"Sayang kamu ini ya," tegur Kayra.


"Memang apa yang ingin kalian bicarakan?" tanya Altarik.


"Om Tante sebenarnya saya ingin menyampaikan bahwa saya...."


"Selamat pagi semuanya?" tiba-tiba terdengar suara yang membuat mereka melihat ke arah suara yang di kenali itu yaitu Lian yang datang bersama dengan Pricilla dan juga Cika yang mana Cika memakan seragam sekolah.


"Cika!" sapa Brian dengan semangatnya.


"Brian!" sahut Cika yang tidak kalah bahagianya.


Pricilla, Cika dan Lian langsung menghampiri ruang tamu. Mesya sudah menghela napas. Jika Lian datang dengan Pricilla artinya Lian akan serius menikah dengan Pricilla.


"Oma, Om, Tante," sapa Pricilla dengan gugup.


"Ayo duduk Pricilla," sahut Oma dengan ramah, Pricilla dengan gugup mengangguk dan langsung duduk.


"Mama bukannya Cika harus sekolah," ucap Cika.


"Kita sama-sama aja Cika," sahut Brian.


"Baiklah," sahut Cika.


"Ayo pah antar Brian dan Cika!" ucap Brian.


"Brian di antar sama Om Dion aja ya, soalnya papa masih harus mendengarkan pembicaraan penting ini," jawab Davin dengan beralasan.


"Kak Davin aku sama kak Dion juga mau bicara penting. Jadi urusan anak jangan libatkan kami," ucap Zoy dengan kesal.


"Apa sih Zoy biasa aja," sahut Davin.


"Sudah-sudah. Kalian jangan ribut Brian dan Cika di antar supir saja oke," sahut Altarik yang memutuskan.


"Iya Brian tidak apa-apa ya sayang. Karena mama dan papa masih harus mengobrol lagi," ucap Kayra.


"Baiklah mah kalau begitu. Tidak apa-apa. Ayo Cika!" ajak Brian dan Cika mengangguk yang mana Cika dan Brian berpamitan pada semuanya dan mereka langsung pergi ke sekolah yang akan di antarkan oleh supir.


"Baiklah kalau begitu aku langsung saja bicara. Aku membawa Pricilla ke rumah ini dan pasti kalian sudah mengerti maksudnya dan Pricilla seperti apa yang aku katakan tadi malam kepadamu. Jika aku sudah membicarakan semua ini pada keluargaku dan aku sangat berterima kasih jika kamu mau ikut denganku dan keluarga sudah tau tujuannya aku membawamu kemari," jelas Lian dengan singkat dan padat yang tidak mau bertele-tele dalam bicara.


"Apa ini sudah keputusan kamu yang sangat bulat Lian?" tanya Mesya yang ingin memastikan sekali lagi.


"Iya mah, ini sungguh-sungguh di mana aku benar-benar serius ingin menikah dengan Pricilla untuk menebus dosa-dosaku dan semoga aku bisa memperbaiki diri lagi," ucap Lian dengan wajahnya yang serius dan pasti dengan keyakinan dari mimik wajahnya yang sesungguhnya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2