
" Kau hanya ingin mengatakan itu saja," sahut Oma sesantai mungkin.
" Oma, aku benar-benar serius bicara pada Oma. Dan jangan membuatku kehilangan kendali. Jadi tolong hargai ku. Aku memang cucu Oma. Tetapi tidak semua harus Oma yang mengatur. Dan aku juga sudah menikah. Jadi hargai pernikahanku," ucap Davin menegaskan pada Omanya.
" Baiklah!" sahut Oma dengan santai.
Davin pun melihat datar ke arah Dion yang sama sekali tidak melihatnya dan Davin langsung keluar dari ruangan itu.
Davin memang mengetahui jika Omanya mengawasinya. Tetapi tetap saja dia harus menegur Omanya. Karena dia juga tidak ingin kehidupan pribadinya akan di awasi terus-menerus.
" Huhhhhhh, dia taunya marah-marah saja," gumam Oma geleng-geleng. Oma melihat ke arah Dion yang masih berdiri di depannya.
" Siapkan apa yang aku perintahkan padamu!" perintah Oma.
" Baik nyonya," sahut Dion, " jika sudah tidak ada lagi. Maka saya akan permisi," ucapanku Dion berpamitan. Oma hanya menganggukkan kepalanya saja dan Dion juga menundukkan kepalanya untuk keluar dari ruangan itu.
**********
" Jadi Davin dan Kayra sudah pulang?" tanya Mesya yang berada di dalam kamar bersama Zoy dan Gisella yang sejak tadi memberi kutek pada kukunya.
" Benar mah, mereka baru pulang pagi ini," jawab Giselle.
" Hmmm, kalau begitu kita harus secepatnya menjalankan rencana kita untuk memisahkan Kayra dan juga Davin. Sebelum semuanya terlambat," sahut Mesya.
" Aku setuju itu," sahut Gisell dengan cepat, Giselle melihat ke arah Zoy yang sibuk pada laptopnya.
" Kak Zoy!" tegur Gisell.
" Iya kenapa?" tanya Zoy tanpa menghentikan pekerjaannya.
" Kakak kenapa tidak merespon apa yang aku katakan?" tanya Giselle
" Merespon apa!" jawab Zoy
" Ya masalah Kayra," sahut Giselle.
" Giselle kamu dan mama saja yang melakukannya. Kakak itu banyak pekerjaan. Oma itu menyuruh kakak untuk memantau Pabrik yang ada di Bandung. Makanya kakak tidak berleha-leha. Kamu kan tau sendiri bagaimana Oma. Kalau pekerjaan tidak beres. Yang adanya kakak akan di omeli," sahut Zoy yang terlihat prustasi karena pekerjaan.
" Tumben amat Oma mempercai kakak mengerjakan pekerjaan itu. Biasanya apa-apa kak Davin," sahut Giselle.
__ADS_1
" Ya mana kakak tau. Mungkin Oma itu tau kali. Kalau selama di Perusahaan aku itu terus malas-malasan. Jadi dia itu ingin melihat kinerja ku," sahut Zoy mengakui jika dia memang bekerja di Perusahaan selalu mau suka-sukanya aja.
" Hmmm, tapi bagus sih. Kalau kakak di beri kepercayaan. Siapa tau nanti kakak bisa meluluhkan hati Oma dan kakak bisa menempati posisi tinggi di Perusahaan utama," sahut Giselle dengan penuh semangat.
" Jangan bermimpi Giselle," sahut Mesya membuat semangat Giselle patah dengan cepat.
" Kenapa mah?" tanya Giselle heran.
" Keluarga ini sudah punya struktur. Jadi mau Zoya jauh lebih baik dari pada Davin. Tetap saja Zoy tidak mendapatkan posisi yang lebih tinggi dari Davin. Karena Zoy itu anak perempuan dan yang mendapatkan posisi itu hanya Davin dan Lian," sahut Mesya menegaskan.
" Hmmm, begitu toh. Ya kan siapa tau aja. Lagian kan aku sama kak Giselle cucu juga dari keluarga ini mau gender apa jelas tidak masalah," sahut Giselle.
" Itu kalau mama yang punya peraturan. Ini yang punya peraturan nenek moyang papa kalian," sahut Mesya.
" Argggghhh sudahlah kenapa kalian jadi membahas masalah nenek moyang. Kepala ku sakit. Jadi mama dan Giselle mending diam aja. Kalau kalian mau membahas rencana mengenai Davin dan Kayra. Jangan bahas di dekatku aku bisa tambah sakit kepala, jadi bahas saja di luar sana," sahut Zoy.
" Orang ini kamarnya mama," sahut Giselle.
" Ya sudah aku yang pergi," sahut Zoy bertambah kesal dan akhirnya memilih untuk pergi dari kamar mamanya itu.
Giselle dan mamanya saling melihat. Saling mengangkat bahu masing-masing yang heran dengan Zoy yang belakangan ini agak susah di ajak kerja sama. Ya mungkin karena pekerjaan yang begitu banyak.
**********
" Apa liburan kamu menyenangkan Kayra?" tanya Altarik pah.
" Bukan liburan Pa, tetapi Kayra di sana hanya menemui papa saja," sahut Kayra.
" Sekalian liburan Kayra," sahut Oma dengan tersenyum.
" Tidak juga Oma," sahut Kayra.
" Ya sudah mau liburan atau tidak. Pertanyaan papa belum di jawab. Apa kah kamu senang atau tidak?" tanya Altarik.
" Alhamdulillah, Kayra senang pah," jawab Kayra apa adanya.
" Hmmm, Davin sepertinya kamu berhasil memberikan kebahagiaan pada istrimu," sahut Altarik.
Seperti biasa Davin menanggapi datar-datar saja. Dia paling benci kalau papanya itu bicara dengan ada ujung-ujungnya pikiran kotor yang ujung-ujungnya nanti menggodanya juga.
__ADS_1
" Kayra setelah sarapan nanti. Kamu kekamar Oma ya. Oma ada sesuatu untuk kamu," sahut Oma.
" Apa itu Oma?" tanya Kayra penasaran.
Bukan hanya Kayra saja, Mesya, Zoy, Giselle saling melihat yang sudah langsung panik saja mendengar kata-kata Oma.
" Nanti kamu juga akan tau sendiri," jawab Oma.
" Apa yang mau di berikan mama kepadanya," batin Mesya yang mendadak panik. Kayra melihat ke arah Davin. Davin terlihat mengangguk.
" Baiklah Oma," sahut Kayra yang ketika mendapat persetujuan dari Davin dan Oma terlihat tersenyum.
" Hmmm, kamu sendiri Davin. Apa tidak mau perayaan ulang tahun kamu di laksanakan lagi. Mengingat saat kemarin kamu ulang tahun. Kamu berada di Dubai dan tidak adanya perayaan?" tanya Oma.
" Tidak perlu. Kau bukan anak kecil," sahut Davin tampak malas.
" Bukannya kemarin-kemarin kamu sangat bersemangat. Lalu kenapa berubah pikiran?" tanya Oma.
" Oma sudah tau jawabannya. Jadi jangan bertanya," sahut Davin.
" Hmmm, begitu. Ya baiklah! Oma hanya mengikuti saja apa yang kamu mau. Tetapi Oma belum mengucapkan selamat ulang tahun padamu. Jadi selamat ulang tahun Davin," ucap Oma dengan tersenyum.
" Hmmmm," Davin hanya menjawab dengan deheman.
" Papa juga Davin, selamat ulang tahun ya," sahut Altarik.
" Iya Davin selama ulang tahun ya," sahut Mesya.
" Kak Davin selamat ulang tahun. Kadonya menyusul," sahut Giselle.
" Zoy juga mengucapkan selamat ulang tahun untuk kakak," sahut Zoy.
" Iya kak Davin selamat ulang tahun ya," sahut Lian yang tidak mau ketinggalan. Davin hanya menjawab dengan deheman setiap ucapan ulang tahun itu. Ya maklumlah Davin sebegitu tidak pedulinya.
" Hmmm, Kayra kamu tidak mengucapkan selamat ulangtahun untuk Davin?" tanya Oma.
" Dia sudah mengucapkannya saat kami di Dubai," jawab Davin.
Kayra mengkerutkan dahinya bingung dengan perkataan Davin. Padahal dia tidak mengatakan apa-apa sama sekali. Namun Davin mengatakan hal itu membuatnya bingung.
__ADS_1
" Iya kan sayang?" Davin bertanya melihat kea tag Kayra dengan tersenyum lebar. Mendengar kata sayang rasanya membuat Kayra kaget dan ingin tersedak makanan yang masih berkumpul di mulutnya. Ya akhirnya tersedak saat Davin mengedipkan sebelah matanya.
Bersambung..