
Reyhan menelan salivanya saat mendengar pernyataan istri dari bosnya itu dan dia tidak bisa apa-apa. Dia pun langsung pergi dari kamar itu karena sudah di usir juga.
Setiba di luar kamar terlihat Reyhan mengacak-acak rambutnya frustasi seperti orang gila.
" Aduh!!! kenapa juga jadi seperti ini. Nona Kayra kalau marah sangat galak. Sebaiknya aku telpon bos Davin saja. Aku harus katakan apa yang terjadi. Dari pada nanti nona Kayra kenapa-kenapa, aku lagi yang di salahkan bos Davin," batin Reyhan yang harus secepatnya bertindak sebelum Kayra kenapa-kenapa.
*********
Sementara Davin sudah berada di ruangan Wulan. Yang mana Wulan sedang duduk di atas tempat tidur yang bersandar pada kepala ranjang.
Dan Davin duduk di sampingnya yang ada kursi di sana bersama dengan Pricilla yang juga di sampingnya. Terlihat juga ada seorang pelayan di sana yang sepertinya pelayan dari Wulan yang sekarang sedang menuangkan minuman di dalam teko kedalam 3 gelas.
" Terima kasih Davin kamu sudah mau melihat Tante, Tante benar-benar bahagia!" ucap Wulan. Davin menganggukkan kepalanya yang terlihat datar-datar saja menanggapi kata-kata Wulan.
" Silahkan di minum nyonya, tuan!" sahut pelayan itu yang memberikan secangkir teh pada orang-orang yang ada di dalam sana.
" Ayo Davin kamu minumlah!" perintah Wulan dengan tersenyum ramah. Davin hanya kembali mengangguk dan mengambil gelas berisi teh yang di tuangkan untuknya.
" Kira-kira kamu kapan kembali ke Indonesia?" tanya Wulan basa-basi.
" Saya belum bisa memastikan. Tergantung pekerjaan saya kapan selesainya," jawab Davin.
" Hmmm, begitu rupanya. Ya Tante berharap hubungan kita baik-baik saja sama seperti dulu lagi," sahut Wulan.
" Davin butuh waktu ma," sahut Pricilla yang selalu menjaga pembicaraan agar tidak mengarah pada masa lalu yang mungkin bisa membuat Davin marah.
" Iya mama mengerti," sahut Wulan tersenyum kaku, " Davin minumlah tehnya jangan hanya di lihat saja!" titah Wulan yang melihat Davin masih belum meminum tehnya.
Davin pun meminumnya. Pikirannya memang tidak tenang karena memikirkan Kayra yang dalam keadaan sakit yang sedang di tinggalkannya.
Terlihat Wulan tersenyum penuh arti saat Davin meminum teh itu. Tidak tau apa arti senyumannya itu. Namun terliaht seperti ada sesuatu yang terencana. Sementara Pricilla hanya tenang yang duduk di samping Davin.
Ting.
Tiba-tiba notif pesan dari ponsel Davin berbunyi membuat. Davin berhenti minum dan langsung melihat pesan yang ternyata dari Reyhan.
..." Bos nona Kayra?????" Hanya itu yang di tulis Reyhan....
" Apa salahnya mengatakan langsung apa yang terjadi. Anak ini benar-benar ya selalu tanggung memberi informasi," geram Davin yang seakan tidak mendapatkan jawaban apa-apa dari informasi yang di berikan Reyhan.
" Sial kenapa tehnya tidak di habiskannya," batin Wulan.
" Ada apa Davin?" tanya Pricilla melihat Davin tampak cemas.
" Tidak apa-apa. Aku ke toilet sebentar," ucap Davin yang berdiri dan meletakkan cangkir teh tersebut di atas meja
" Aku permisi!" ucap Davin yang pamitan ke toilet. Pricilla dan Wulan mengangguk.
" Kenapa dia terlihat masih begitu dingin bicara," ucap Wulan yang tampak kesal dengan Davin yang begitu ketus.
" Aku sudah mengatakan mah, Davin butuh waktu dan mama jangan mengungkit masa lalu mungkin itu membuatnya tidak nyaman," sahut Pricilla.
" Oke. Tetapi setelah ini Davin tidak akan membutuhkan waktu lagi. Dia akan menjadi milik kamu seutuhnya malam ini juga," ucap Wulan dengan penuh rencana.
" Apa maksud mama?" tanya Pricilla dengan bingung.
" Kamu dan Davin jangan jadi makan malam. Kamu sebaiknya cepat bawa Davin ke Apertemen kita. Karena mama sudah menambahkan obat ke dalam minuman Davin yang mana obat itu akan bereaksi secepatnya dan kamu gunakan kesempatan untuk bisa tidur dengannya dan setelah itu Davin tidak akan bisa berbuat apa-apa lagi. Karena kalian akan terikat dengan hal itu. Terikat selamanya," ucap Wulan yang ternyata itu arti di balik senyumnya di saat Davin meminum teh tersebut.
" Mama melakukan itu?" tanya Pricilla yang memang tidak tau rencana mamanya.
" Iya makanya cepat kamu jalankan rencana kita," tegas Wulan.
" Mah, tapi aku dan Davin memang tidak jadi dinner dan Davin juga akan pulang setelah ini. Kanapa mama tidak mengatakannya dulu kepasaku sebelum bertindak," ucap Pricilla dengan wajah cemasnya.
" Dia pulang setelah ini," pekik Wulan yang gantian terkejut.
__ADS_1
" Iya mah. Jadi rencana mama tidak ada gunanya," sahut Pricilla merasa usaha mamanya hanya akan sia-sia.
" Tidak bisa Pricilla kamu harus hentikan Davin. Ini kesempatan satu-satunya untuk mengikat Davin di sisi kamu. Kamu itu jangan membuang kesempatan besar ini. Kamu harus benar-benar melakukannya," tegas Wulan.
" Bagaimana caranya mah," sahut Pricilla bingung.
" Gunakan otak kamu. Supaya Davin ke Apertemen kita dan kamu harus menjalankan rencana mama. Kamu dengar jangan sampai rencana ini berantakan. Karena hanya dengan obat yang Davin komsumsi yang bisa membuat Davin menjadi milik kamu seutuhnya," tegas Wulan.
Ternyata di depan pintu ruangan Wulan. Davin berdiri di sana. Dengan ke-2 tangannya yang sudah mengepal yang dapat dipastikan dia mendengar semua apa yang di katakan Wulan.
" Kurang ajar. Jadi Tante Wulan merencanakan semua hal murahan itu. Aku sudah menduganya dia memang tidak pernah bisa berubah. Selalu punya niat jahat dan memanfaatkan segala cara untuk kesenangannya," umpat Davin dengan kesalnya, sorot matanya yang begitu tajam.
Davin yang tadi ketoilet memang kembali lagi. Karena penasaran kondisi Kayra Davin memilih untuk kembali dan perpamitan sekalian. Tetapi siapa sangka ternyata dia harus mendengar hal itu. Dan sepertinya obatnya juga sudah berelasi. Karena terlihat Davin mulai tidak nyaman dengan napasnya yang mulai naik turun.
" Ck. Sial, Tante Wulan kau benar-benar!" geram Davin yang hanya bisa berdecak dengan kesal.
Davin mengambil handphonnya dan terlihat mengetik pesan dengan cepat dan Davin langsung pergi setelah mengirim pesan.
Yang ternyata Davin mengirim pesan kepada Pricilla dan Pricilla sudah melihatnya.
..." Aku harus kembali. Sampaikan pada Tante Wulan terima kasih untuk tehnya," ucap Davin dengan singkat sekalian memberi sindiran....
" Mah Davin sudah pulang," ucap Pricilla membuat Wulan terkejut.
" Apa! Davin pulang!" pekik Wulan. Pricilla mengangguk.
" Sekarang juga kamu susul Davin!" perintah Wulan.
" Tapi mah," protes Pricilla.
" Jangan membuang waktu Pricilla cepat kamu susul dia sebelum semuanya berantakan!" perintah Wulan dengan tegas dan Pricilla tidak punya pilihan yang langsung buru-buru keluar dari ruangan mamanya untuk menyusul Davin.
" Sial, anak itu bisa-bisanya pergi begitu saja tanpa berpamitan dulu. Semoga saja Pricilla tidak gagal hari ini. Aku harus membuat Pricilla dan Davin kembali seperti dulu lagi. Agar aku tidak bangkrut sama sekali," ucap Wulan.
********
" Davin tunggu!" teriak Pricilla yang berlari kencang dan sempat menyetopkan Davin yang ingin membuka pintu mobil. Saat itu kondisi Davin sudah tidak baik-baik saja dan bahkan pegangan tangan Pricilla pada lengannya mampu membangkitkan gairahnya.
" Ada apa?" tanya Davin dengan suara beratnya yang berusaha tenang.
Namun Pricilla bisa melihat obat yang di berikan mamanya sudah bereaksi dan Pricilla langsung memeluk Davin. Agar gairah Davin semakin meningkat dan melampiaskan kepadanya.
" Aku ingin bersama denganmu malam ini. Jangan pergi. Bawa aku bersamamu," ucap Pricilla dengan suara serak memancing Davin dan Davin berusaha untuk menahan diri dan mendorong Pricilla dari pelukannya.
" Aku harus pergi!" tegas Davin yang tidak mau meladeni Pricilla lama-lam.
" Tapi davin--" Pricilla kembali mencegah Davin. Davin menatap tajam Pricilla yang mana Pricilla menatapnya dalam.
" Aku ingin bicara denganmu. Ayo bicara di mobil. Kita bicara sebentar. 5 menit saja," ucap Pricilla dengan lembut yang terus berusaha.
" Sial, aku tau Pricilla apa maksudmu dan memang aku tidak bisa menahan diriku. Aku bisa gila. Tetapi aku tidak mungkin bersamamu dan Kayra sedang tidak baik-baik saja," batin Davin yang bergejolak.
Dia harus melampiaskan hasratnya. Agar tidak menyiksanya. Tetapi tidak mungkin melakukannya pada Pricilla yang itu sama saja akan memperlancar rencana Wulan yang sudah di ketahuinya dan dia akan menjadi orang bodoh sedunia yang sudah tau. Tetapi masih melakukannya.
Tidak ingin hasratnya akan terlampiaskan pada Pricilla jika lama-lama bersama Pricilla. Davin memilih memasuki mobilnya dan tidak sempat di hentikan Pricilla.
" Davin!" panggil Pricilla yang mana mobil itu sudah melaju dengan kencang yang tak lain Pricilla melihat mobil itu menuju hotel yang di depan rumah sakit itu. Davin hanya nyebrang saja harus pakai mobil.
******
Tidak perlu hitungan menit. Davin sudah sampai di hotel dan buru-buru keluar dari mobilnya dan berjalan yang seperti orang menahan sesuatu.
" Sial, aku jadi seperti ini. Karena Tante Wulan, wanita yang hanya mampu melakukan hal seperti ini. Aku tidak akan mengampuni mu," umpat Davin yang hanya bisa marah pada Wulan karena perbuatan Wulan yang membuatnya seperti itu.
" Aku harus memastikan kondisi Kayra tidak apa-apa. Setelah itu aku akan ke Club untuk mencari wanita melampiaskan semuanya sebelum aku semakin tersiksa," batinnya yang harus bertindak secepatnya sebelum obat itu semakin menjalar dan membuatnya semakin menjadi-jadi.
__ADS_1
Setelah memasuki lift dan tidak lama keluar dari lift. Davin pun tiba di depan kamar Kayra yang mana Reyhan ada di sana.
" Bos!" ucap Reyhan yang melihat bosnya tampak kacau.
" Kenapa kau ada di sini? aku menyuruhmu di dama?" tanya Davin semakin pusing dan terlihat marah pada Reyhan.
" Maaf bos. Tapi nona Kayra menyuruh saya keluar," ucap Reyhan rada takut-takut kalau mau bicara pada Reyhan.
" Kenapa bisa dia menyuruhmu di sini? Apa dia sudah bangun?" tanya Davin.
" Sudah bos, nona Kayra tadi batuk-batuk. Jadi saya hanya memberinya minum. Lalu nona Kayra bertanya pada saya kenapa ada saya di sana dan saya bilang bos yang menyuruh saya. Dan nona Kayra tanya kemana bos Davin? saya bilang bos sedang kencan dengan nona Pricilla," jelas Reyhan yang jujurnya minta ampun yang membuat Davin kaget.
" Kau mengatakan aku sedang kencan!" pekik Davin dengan menekan suaranya.
Reyhha menganggukkan kepalanya dengan santai. Davin merapatkan giginya yang tampak geram dengan Reyhan yang seenaknya bicara sembarangan.
" Kenapa harus mengatakan itu!" geram Davin yang ingin menerkam Reyhan.
" Ya kan memang benar bos," sahut Reyhan dengan santai.
" Kau!" Davin rasanya ingin menghajar Reyhan. Namun di tahannya. Karena dia tidak punya waktu.
" Lalu apa kata Kayra lagi?" tanya Davin yang ingin tau tanggapan istrinya itu.
" Tampaknya nona Kayra marah!" sahut Reyhan. Dan Davin tampak emosi mendengar pernyataan Reyhan.
" Karena saya lihat nona Kayra membuang kompresnya dengan emosi bahkan mengusir saya dengan bentakan dan terakhir dia juga mengatakan dan katakan pada Davin jangan masuk kekamarku sembarangan. Aku tidak membutuhkannya. Terserah apa yang mau di lakuaknnya," Reyhan mengulang dengan tepat apa yang di katakan Kayra bahkan mengikuti gaya bicara dan ekspresi Kayra saat itu.
Davin mendengarnya terkejut. Dari perkataan itu terlihat Kayra yang tampak marah.
" Sial! ini semua gara-gara mulutmu,"umpat Davin kesal.
" Maafkan saya bos," sahut Reyhan merasa bersalah.
" Tidak ada gunanya kau meminta maaf. Sekarang kau cari wanita malam dan bawa kekamarku secepatnya!" perintah Davin yang yang langsung pergi dari hadapan Reyhan dan memasuki kamar Kayra dengan kartu cadangannya.
Reyhan yang belum sempat protes malah bingung, " kenapa jadi mencari wanita malam. Ada apa dengan bos Davin. Dia memasuki kamar istrinya dan menyuruhku mencari wanita malam. Apa pikiran bos Davin sudah mulai terganggu," batin Reyhan dengan garuk-garuk kepala.
" Argggghhh sudahlah sebaiknya aku pergi saja menuruti apa kata bos Davin. Dari pada aku di marahi lagi," ucap Reyhan yang langsung pergi.
Kayra yang merasa semakin pusing, keluar dari kamar mandi yang menggunakan pakaian tidur. Dress tidur berwarna putih dengan lengan 1.
" Kenapa kepalaku semakin sakit," batin Kayra memegang kepalanya yang semakin berat.
Kayra melihat obat yang tadi di katakan Reyhan dan Kayra berjalan menuju nakas untuk meminum obat itu. Agar kondisinya semakin membaik.
Dan Davin sudah memasuki kamar Kayra dan melihat Kayra berdiri di depan nakas yang terlihat sedang meminum obat yang mana Davin berdiri di depan pintu melihat wanita yang memakai dress baju tidur berwarna putih dengan lengan satu yang sepahanya itu tampak lemas.
Namun Davin menelan salivanya ketika melihat Kayra yang memunggunginya. Yang tampaknya tidak menyadari jika Davin masuk kekamarnya. Karena Davin memang membuka pintu tidak kuat.
" Kayra!" tegur Davin dengan suara seraknya. Dan Kayra perlahan membalikkan tubuhnya melihat Davin di sana.
Tatapan mata Kayra yang terlihat sendu yang begitu lemas. Namun dari mata itu terlihat aura kemarahan yang di tunjukkan pada Pria yang berdiri di depan pintu.
" Untuk apa kau di situ? Pergilah aku mau tidur!" usir Kayra dengan ketus.
" Bagaimana ke adaanmu?" tanya Davin.
" Bukan urusanmu aku tidak harus melapor ke adaanku kepadamu, pergi!" sahut Kayra yang kembali mengusir dengan ketus.
" Aku bertanya bagus apa susahnya menjawab," sahut Davin menguatkan volume suaranya.
Dia sudah menahan dirinya karena obat semakin bereaksi dan di tambah Kayra memancing keributan. Apa susahnya di jawab dan dia bisa cepat keluar dari kamar itu dan melampiaskan hasratnya pada wanita yang di siapkan Reyhan.
Bersambung
__ADS_1