
"Brian benar-benar masih marah padaku dia bahkan tidak mau menemui ku dan Davin. Ya Allah apa aku sangat keterlaluan pada anakku makanya anakku sampai seperti itu," batin Kayra yang menjadi sedih.
"Aku sudah menduganya jika Brian pasti sangat marah dengan ku dan Kayra dia benar-benar sangat kecewa," batin Davin yang juga sedih dengan putranya yang sanga cuek.
"Brian mama dan papa kamu datang. Apa tidak mau menyapanya?" tanya Oma Elishabet. Dengan mudahnya Brian menggelengkan kepalanya yang memang tidak ingin melakukan hal itu.
"Kenapa Brian. Mama pasti capek loh pulang kerja," sahut Altarik.
"Seharusnya kakek tidak menyuruh mama dan papa kemari. Brian jadi tidak bisa main. Mama dan papa nanti ribut lagi. telinga Brian sakit," ucap Brian.
"Brian papa kamu tinggal di sini. Jadi mana mungkin dia tidak pulang kemari," sahut Mesya.
"Kalau begitu ayo Opa kita pulang," sahut Brian.
"Brin bukannya tadi mau makan malam di sini. Jadi kenapa pulang. Sebentar lagi makanannya siap loh," sahut Zoy.
"Tidak mau makan. Kalau mama dan papa di sini," sahut Brian.
Kayra dan Davin saling melihat. Baru tau rasakan bagaimana sakitnya tidak di sukai anak sendiri. Makanya jangan suka ribut di depan anak.
"Brian tidak boleh seperti itu. Mama kamu mau seperti apapun tetap mama kamu dan sama dengan papa kamu. Jadi jangan menjadi anak yang bandal," ucap Aris dengan bijak.
"Tapikan Opa Brian tidak bisa bersama mama dan papa kalau mama dan papa bertengkar terus," ucap Brian.
"Tidak Brian mama dan papa tidak akan bertengkar. Jadi kita makan malam sama-sama ya," ucap Silvia dengan lembut membujuk keponakannya itu.
"Iya Brian, Brian tidak boleh jadi anak bandal," sahut Haykal menambahi.
"Baiklah kalau begitu," sahut Brian yang akhirnya mau makan bersama dengan ke-2 orang tuanya.
*********
Akhirnya keluarga itu melakukan makan malam bersama. Di mana Kayra dan Davin duduk berduaan dengan Brian yang berada di depan mereka. Kayra dan Davin sejak tadi hanya diam saja yang tidak ingin bicara yang nanti bisa menjadi salah dan membuat Brian tambah ngambek lagi.
"Ayo Brian makan ikannya yang banyak," ucap Zoy dengan membuat ikan di dalam piring Brian.
"Makasih Tante," sahut Brian.
"Sama-sama tampan," jawab Zoy dengan tersenyum lebar.
"Hmmm, oh iya Brian mau tanya sesuatu untuk mama dan juga papa," sahut Brian tiba-tiba membuat Kayra dan Davin begitu semangat dan langsung melihat ke arah Brian yang tampaknya Brian sudah mulai ingin mengobrol dengan mereka.
__ADS_1
Hal itu juga sangat baik untuk Aris dan Altarik yang tersenyum saling melihat yang melihat Brian sudah mulai tidak marah lagi.
"Brian ingin bertanya apa sayang," tanya Kayra dengan lembut.
"Tapi mama dan papa harus menjawabnya," ucap Brian yang ingin memastikan.
"Mama dan papa akan menjawabnya," sahut Davin.
Brian mengangguk-anggukkan kepalanya dan melihat ke arah Zoy. Di mana Zoy mengedipkan matanya yang sepertinya sebelumnya ada kongkalingkong di antara keduanya.
"Baiklah untuk pertama pertanyaan untuk papa," sahut Brian.
"Katakan pertanyaan apa?" tanya Davin.
"Apa papa sayang sama Brian?" tanya Brian.
"Itu pasti Brian," jawab Davin.
"Lalu mama?" tanya Brian.
"Tanpa mama mengatakan. Brian pasti tau kalau mama dan papa sangat menyayangi Brian," jawab Kayra dengan tersenyum.
"Maafkan mama Brian. Mama tidak bermaksud untuk marah-marah belakangan ini," sahut Kayra yang mengakui kesalahannya.
"Lalu apa mama dan apa mama dan papa akan bertengkar lagi?" tanya Brian.
"Papa janji tidak akan pernah bertengkar lagi dengan mama kamu," ucap Davin.
"Papa dan mama pernah tinggal bersama saat Brian belum lahir dan kata Tante Zoy itu karena mama dan papa saling mencintai. Kalau begitu Brian ingin bertanya pada papa apa papa masih mencintai mama?" tanya Brian yang langsung to the point mempertanyakan hal yang tidak terduga itu. Walau nama Zoy harus di bawa-bawa.
Soibnya Brian memang Zoy yang terus memberi banyak informasi. Namun Brian tidak pernah tidak keceplosan. Walau pertanyaan Brian sangat mencengangkan tapi sepertinya semua orang yang ada di sana ingin mendengar jawaban Davin.
"Ayo papa jawab Brian dan papa tidak boleh bohong. Apa papa masih mencintai mama?" tanya Brian lagi.
Davin melihat kearah Kayra yang mana Kayra melihat lurus kedepan pada putranya yang pastinya Kayra juga sangat dek-dekan.
"Papa jawablah?" desak Brian lagi.
"Papa masih mencintai mama. Dan itu tidak akan pernah berubah sampai kapanpun," jawab Davin dengan apa adanya yang berbicara dengan menatap Kayra yang walau Kayra tidak melihatnya sama sekali.
Brian mendengarnya tersenyum dan yang lainnya juga tersenyum mendengar hal itu. Brian bisa aja membuat orang tuanya tidak berkutik sama sekali.
__ADS_1
"Lalu mama bagaimana. Apa mama masih mencintai papa?" tanya Brian yang sekarang giliran Kayra. Kayra terdiam yang tidak bisa menjawab pertanyaan itu.
Jawaban Kayra adalah penentuan segalanya penentu hubungan mereka. Karena jika jawaban itu sama berati banyak kemungkinan untuk bersama.
"Mama kenapa diam. Ayo jawab pertanyaan Brian dan kalau mama bohong mama berdosa," ucap Brian.
Semua orang pasti sangat menunggu jawaban dari Kayra. Termasuk Davin.
"Mama jawablah," Brian terus mendesak sang mama.
"Mama sudah tidak mencinta papa lagi?" tanya Brian yang sangat butuh kejelasannya
Sementara Kayra mengingat bagaimana kehidupannya saat bersama Davin dan saat-saat dia berjuang sendiri dengan air matanya yang mendampingi penderitaannya saat itu.
"Mama!" desak Brian
"Bukan tidak mencintai. Tetapi sudah tidak berani untuk mencintai kembali," jawab Kayra dengan matanya berkaca-kaca.
Semua orang saling melihat yang seakan tau bagaimana perasaan Kayra. Davin terus melihat Kayra yang pandangan Kayra sudah kosong. Terlalu sakit yang di alami Kayra yang merasa cintanya tidak tidak di hargai membuat Kayra tidak berani untuk mencintai Davin lagi.
"Jawaban apa itu," sahut Brian tertunduk tidak bersemangat dengan perbedaan jawaban ke-2 orang tuanya.
"Sudah-sudah jangan bertanya hal itu lagi Brian. Ayo sekarang Brian makan yang banyak, biar nanti kita main-main lagi," sahut Oma Elishabet.
"Baik Nenay," sahut Brian yang melanjutkan makannya.
***********
Setelah selesai makan malam Brian melanjutkan bermain dengan para tantenya. Namun Kayra hanya melihat dari kejauhan di mana melihat putranya yang main-main.
"Kayra!" tegur Davin membuat Kayra menoleh kebelakang dan melihat Davin sebentar.
"Ada apa?" tanya Kayra.
"Aku menjadi egois dan tidak akan peduli perasaan mu seperti apa kepadaku lagi," ucap Davin.
"Maksudmu?" tanya Kayra.
"Hasil tes DNA besok akan menentukan segalanya. Di mana jika terbukti Cuka bukan anakku. Maka kau akan kembali tinggal di rumah ini," ucap Davin yang mengingatkan Kayra Syarat pernah di katakan Davin sebelumnya.
Bersambung
__ADS_1