Pernikahan Dalam Ikatan Surat Kontrak.

Pernikahan Dalam Ikatan Surat Kontrak.
Bab 65 Senangnya hati Oma.


__ADS_3

Jakarta.


Oma Elisabeth ada di ruangan kerjanya yang duduk di bangku kerjanya dan ada seorang pria yang berdiri di depannya yang terlihat menunduk yang tadi memberikan Oma Elisabeth map biru yang sekarang di lihat Oma tersebut apa isinya.


" Hmmm, jadi mereka benar-benar berbulan madu di sana!" gumam Oma Elisabeth yang ternyata melihat foto-foto Kayra dan Davin yang terlihat begitu romantis.


Dari makan bersama, saat Kayra yang ingin jatuh dan Davin mencegahnya. Davin yang membukakan pintu mobil padanya dan Davin menggendongnya memasuki hotel, Davin yang terlihat menghimpit tubuhnya di pilar dan sampai mereka yang berciuman di depan air mancur.


Ternyata Oma Elishabet benar-benar tidak menghilangkan kesempatan yang mana Oma Elishabet mengirim orang suruhannya untuk mengawasi Davin dan Kayra. Dia ingin tau apa yang di kerjakan Davin di sana selain bekerja. Jadi Oma sekarang begitu bahagia melihat hasil foto-foto itu. Untung saja orang suruhannya itu tidak mendapati Davin bersama Pricilla. Jadi Oma tidak darah tinggi.


" Romantis juga Davin. Aku baru tau cucu ku itu bisa seperti itu," ucap Oma yang terus tersenyum melihat foto-foto itu.


" Ya begini kan enak di lihat. Jadi aku percaya. Jika cucuku yang sangat keras kepala itu memang sudah menikah. Ya hubungan di antara mereka memang ada. Lagian sudah menikah juga masih kaku saja. Kan aku jadi heran," gumam Oma yang begitu bahagianya melihat foto-foto itu.


" Apa ada lagi foto-foto yang lain?" tanya Oma melihat anak buahnya di depannya yang sejak tadi menundukkan kepalanya.


" Untuk sekarang tidak ada nyonya. Nanti saya akan tanyakan pada Boy yang masih mengawasi tuan Davin dan nyonya Kayra di sana," jawab Pria itu.


" Hmmm, baiklah kalau begitu! kau urus saja semuanya. Tetapi ingat suruh Boy. Jangan sampai masuk kedalam hotel di mana mereka menginap. Aku takut Davin nanti tau hal itu. Jika aku mengawasinya dan Davin bisa marah padaku. Ya kau suruh Boy untuk hati-hati. Ingat di sana juga ada Reyhan tangan kanan Davin. Jadi pastikan semuanya benar-benar aman. Jangan sampai ketahuan," ucap Oma Elishabet memberi pesan pada anak buahnya itu.


" Baik nyonya, saya akan menjalankan apa yang nyonya perintahkan," sahut pria di depannya itu.


" Aku memperyaimu. Yang penting cukup awasi di sekitar hotel saja," tegas Oma Elishabet menekankan.


Ya sebenarnya untung saja memang orang suruhan Oma Elishabet tidak mengawasi sampai gedung hotel. Jika sampai mengawasi maka mereka akan tau jika Kayra dan Davin tidak sekamar. Oma bisa darah tinggi dan bahkan akan murka pada Davin. Apa lagi ada Pricilla yang sebenarnya beberapa kali bersama Davin. Untung saja tidak tidak tertangkap orang suruhannya Oma.


" Apa ada lagi nyonya?" tanya bodyguard tersebut.


" Aku rasa sampai di sini cukup. Sekarang kau boleh keluar!" pinta Oma.


" Baik nyonya," sahut Pria itu yang langsung pergi keluar dari ruangan itu setelah membungkukkan badannya.


" Huhhhh, jika begini aku tidak akan ragu memberikan mu warisan Davin. Tetapi aku harus bersabar dulu. Aku tidak boleh gegabah. Aku harus benar-benar memastikan Davin dan Kayra itu benar-benar saling mencintai. Setelah itu aku baru akan memberikan hak Davin," batin Oma yang harus ekstra hati-hati dalam pengambil keputusannya.


" Kayra semoga kamu itu bisa terus berada di dekat Davin. Kamu gadis yang baik dan semoga kamu selalu sabar menghadapi cucuku yang menyebalkan itu. Ya jika kamu mencintai Davin. Oma hanya bisa mengucapkan terima kasih untuk cinta yang kamu berikan pada Davin. Semoga saja kebaikan kamu bisa terbalaskan," ucap Oma dengan tersenyum yang masih melihat foto-foto tersebut.


Ternyata di luar pintu Mesya tadi sedang menguping dan setelah kepergian anak buah Oma Mesya bersembunyi di balik tembok.


" Apa yang sebenarnya mama bicarakan dengan Dion," batin Mesya yang penasaran dengan apa yang di bahas Oma dengan Bodyguard yang bernama Dion itu.


" Aku melihat ekspresi mama begitu bahagia. Apa ada sesuatu yang di sembunyikannya atau justru di rencanakan nya tanpa sepengetahuanku," batin Mesya dengan wajahnya yang begitu kepo yang ingin tau semua urusan orang.


" Mah!" tiba-tiba Zoy datang menepuk bahu mamanya membuat Mesya terkejut.


" Zoy, kamu ini ngagetin mama aja," sahut Mesya yang mengusap dadanya yang jantungnya hampir copot.


" Lagian mama ngapain di sini?" tanya Zoy.


" Mama itu lagi nguping pembicaraan Oma kamu dengan Dion pengawal ke percayaannya itu," jawab Mesya.


" Dion. Bukannya dia lagi sedang di tugaskan Oma mengawasi pergerakan Perusahaan di Luar Negri. Lalu kenapa tiba-tiba kembali ke Indonesia?" tanya Zoy heran.

__ADS_1


" Justru itu Zoya. Jika Dion sudah ada di sini. Itu artinya ini sudah masalah penting sampai Oma melibatkan dia. Kan kamu tau sendiri dia itu kepercayaan Oma kamu. Makanya mama itu penasaran apa yang di bicarakan Oma dengannya," ucap Mesya.


" Ya ampun mah. Paling dia juga datang kemari hanya untuk memberi laporan mengenai Perusahaan. Mama itu jangan berlebihan deh," sahut Zoy.


" Mama tidak berlebihan. Siapa tau memang ada sesuatu yang mama tidak ketahui," sahut Mesya.


" Kalau pun ada hal penting. Papa pasti kasih tau. Sudah ah. Jangan nguping lagi. Nanti Oma keluar loh. Baru tau rasa brabe urusannya. Mama mau mendengar ceramahan Oma yang panjang lebar," ucap Zoy mengingatkan.


" Iya-iya mama tau. Ya sudahlah. Ayo kita pergi. Nanti mama coba cari-cari tau mengenai pembicaraan Oma tadi. Mama akan Korek-korek papa kamu," ucap Mesya.


" Iya terserah mama deh," sahut Zoy yang langsung menarik tangan mamanya.


Agar tidak di sana lagi. Sebelum Oma Elisabeth menangkap mereka. Walau Zoy tadi tidak ikut-ikutan menguping. Tetapi dia ada di sana dan pasti akan terlibat. Jadi dia harus membawa mamanya pergi sebelum semuanya terjadi.


***********


Di sisi lain ternyata di dalam mobil Silvia dan Lian bertemu yang awalnya Lian malas untuk bertemu Silvia. Namun Silvia memaksanya dan akhirnya mereka bertemu di mobil yang mana Lian duduk di kursi pengemudi dan Silvia duduk di sebelah Lian.


" Katakan apa yang ingin kau bicarakan. Aku sedang banyak pekerjaan," ucap Lian dengan ketus.


" Kamu kenapa sih Lian. Dari tadi di telpon bicara kamu seperti ini kepadaku. Memang aku ada salah apa sama kamu. Kamu seperti menghindariku dan bicara asal-asal an," ucap Silvia yang marah-marah pada Lian.


" Aku memaksakan diri untuk bertemu denganmu. Bukan untuk mendengar ocehanmu. Jadi jangan membuang waktuku katakan apa yang ingin kau katakan," ucap Lia dengan ketus yang sepertinya kesal dan muak melihat Silvia.


Silvia menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan dengan mengusap wajahnya dengan ke-2 tangannya sampai ke pucuk rambutnya.


" Jika kau masih mengulur waktu maka turunlah dari mobioku!" ancam Lian yang tampaknya sudah bosan dengan Silvia. Yang tidak tau hubungan mereka itu seperti apa sebenarnya.


" Ini!" ucap Silvia. Lian pun menoleh kesampingnya dan melihat apa yang di berikan Silvia kepadanya yang berupa tespeck.


" Apa ini?" tanya Lian dengan kasar mengambilnya. Apa lagi jika bukan garis dua di tespeck tersebut.


" Apa maksudnya ini?" tanya Lian menatap serius Silvia.


" Kau masih bertanya. Jelas-jelas itu sudah jelas. Tespeck itu menjelaskan. Jika aku hamil," jawab Silvia membuat kaget Lian. Namun kagetnya hanya sebentar dan ekspresinya langsung berubah menjadi datar.


" Lalu apa hubungannya denganku?" sahut Lian dengan santainya membuat Silvia kaget mendengarnya.


" Apa maksudmu apa hubungannya denganmu. Ya jelas ada hubungannya. Karena anak yang ada di dalam kandunganku itu anakmu. Ingat kita sering berhubungan," tegas Silvia.


Lian menyunggingkan senyumnya kepada wanita yang meminta pertanggung jawaban itu kepadanya, " jadi kau ingin aku bertanggung jawab padamu," sahut Lian dengan tatapan sinis pada Silvia.


" Ya iyalah. Kita harus menikah sebelum perutku semakin membesar. Aku tidak mau hamil di luar nikah," sahut Silvia.


Apa yang di katakan Silvia malah membuat Lian tertawa-tawa yang membuat Silvia heran


" Apa yang kau tertawakan. Apa ada yang lucu. Ini masalah serius Lian," tegas Silvia.


" Jelas ini sangat lucu untukku. Jika kau tidak mau hamil ngapain bercinta," sahut Lian yang masih tertawan.


" Cukup Lian. Kau jangan menganggap remeh ini. Ini masalah serius," tegas Silvia.

__ADS_1


" Masalah serius itu hanya untukmu. Kau dengar aku Silvia. Aku ini Pria bebas. Jika semua wanita yang pernah tidur denganku hamil dan aku nikahi. Istriku pasti sudah banyak. Jadi kau jangan bermimpi akan menikah denganku. Karena itu tidak akan mungkin terjadi!" tegas Lian yang berterus terang.


Silvia mendengarnya benar-benar terkejut yang tidak percaya dengan apa yang di katakan Lian kepadanya. Tanggapan Lian yang ternyata di luar dugaannya.


" Kau tidak akan bertanggung jawab dengan apa yang kau lakukan?" tanya Silvia memastikan.


" Aku tidak mungkin bertanggung jawab," sahut Lian dengan yakin dan bahkan menatap Silvia dengan tatapan yang meremehkan.


" Lian, kau itu benar-benar keterlaluan. Lalu apa hubungan kita selama ini. Setelah aku memberikan tubuhku kepadamu dan kau malah seperti ini bersikap pecundang dan tertawa-tawa menganggap semua ini remeh. Kau itu bajingan, kau itu kurang ajar," maki Silvia.


" Cukup Silvia!" bentak Lian, " kau jangan sembarangan mengataiku. Kau sebaiknya ngaca dengan dirimu. Kau seperti seorang Virgin saja yang harus aku bertanggung jawab dengan wanita seperti mu dan kau pikir aku tidak tau apa yang kau inginkan sebenarnya. Kau sengaja mendekatiku, sengaja merayuku dan iya kau dengan senang hati beberapa kali mau ku ajak bercinta. Itu karena kau juga punya tujuan yang ingin menikah denganku," ucap Lian yang ternyata dia tidak sebodoh yang Silvia pikir. Apa yang di katakan Lian sampai membuat Silvia tidak bisa berkata apa-apa lagi.


" Sial. Jadi dia tau tujuanku. Brengsek!" umpat Silvia di dalam hatinya.


" Kenapa kau diam. Apa yang aku katakan tidak benar. Ingat Silvia. Aku tidak sebodoh itu. Aku tau siapa dirimu yang sebenarnya. Jadi jangan bermimpi bisa menjadi istriku. Karena aku juga pilih-pilih untuk siapa yang menjadi istriku dan jelas kau bukan tipeku dan jauh dari tipeku," tegas Lian dengan meremehkan Silvia.


" Apapun itu. Aku sudah mengandung anakmu dan aku tidak mau tau. Kau harus bertanggung jawab," ucap Silvia menekankan.


" Kau hanya menjebakku dan menggunakan kehamilan untuk kau menikah denganku. Dan aku tidak akan melakukan hal itu," tegas Lian.


" Kau tidak bisa Lian tidak bertanggung jawab. Aku mengatakan kepada keluargamu dengan perbuatan mu ini dan aku ingin tau reaksi Oma Elishabet dengan perbuatanmu kepadaku," ucap Silvia yang memberikan ancaman kepada Lian dan hal itu sontak membuat Lian kaget dengan matanya yang terbuka lebar menatap tajam wanita yang barusan mengancam dirinya.


" Apa katamu. Kau ingin mengadukan semua ini?" tanya Lian yang memastikan sekali lagi.


" Iya aku akan mengatakan. Jika aku mengandung anakmu dan jika keluargamu ingin bukti. Aku rasa buktinya akan cukup dan kau tidak akan bisa mengelak," sahut Silvia yang tidak takut dengan Lian.


Mendengar ancaman dari Silvia membuat Lian megertakkan rahangnya dengan tangannya yang terkepal dan tampak marah yang langsung mencekik Silvia dengan ke-2 tangannya membuat Silvia kaget yang kepalanya sudah bersandar pada pintu mobil.


" L_ li_an_ ap_a ya_ng kau la_ku_kan," Silvia kesulitan bicara saatnya lehernya di cekik dengan kuat.


" Berani kau melakukan itu aku akan membunuhmu!" ancam Lian kembali dengan matanya yang seperti monster. Silvia tidak bisa bicara lagi dan hanya memegang tangan Lian yang mencekik dirinya yang membuatnya bisa mati. Dia hanya berusaha untuk memberontak.


" Kau dengarkan aku Silvia. Aku ini bukan orang sembarangan. Kau jangan berani-beraninya bermain-main denganku. Karena aku tidak akan melapaskanmu. Aku benar-benar akan membunuhmu mengirimu ke neraka jahanam sekalian," ancam Lian dengan menekan suaranya yang terus mencekik Silvia yang sudah begitu lemas.


Namun Lian masih memberi ampunan pada Silvia dan langsung melepaskan cengkramannya itu dari leher Silvia.


uhuk uhuk uhuk uhuk uhuk uhuk.


Silvia langsung terbatuk-batuk dengan dengan lehernya yang sakit dan dirinya hampir saja mati di tangan Lian yang penuh emosi.


" Ini adalah kesempatan hidup untukmu. Jika kau berani macam-macam lagi. Kau akan melihat siapa aku sebenarnya yang kau anggap bodoh yang bisa kau tipu," ucap Lian menekankan dan Silvia masih batuk-batuk saja.


" Jadi gugurkan kandungan itu dan jangan temui aku lagi," ucap Lian membuat Silvia kaget sampai mengangkat kepalanya melihat Pria yang mengancam dirinya dan menyuruhnya untuk menggugurkan kandungan itu.


Di mana tatapan Lian memang seperti seorang monster yang begitu muak padanya dan ingin menerkamnya.


" Kau masih tidak mendengar apa yang aku katakan. Gugurkan kandunganmu secepatnya!" tegas Lian mengulang sekali lagi perintahnya.


" Apa yang kau katakan Lian?" tanya Silvia dengan menekan suaranya yang tidak percaya dengan suruhan Lian, bukannya bertanggung jawab malah menyuruhnya menggugurkan kandungannya. Jelas itu mengejutkan untuk Silvia.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2