
" Baiklah pak, terima kasih sudah ingin bekerja sama dengan kami," ucap Aldo.
" Sama-sama Pak Aldo, saya senang bekerja sama dengan pak Aldo dan juga Bu Kayra," ucap Pria itu.
" Bapak ini terlalu berlebihan," sahut Aldo tersenyum.
" Tidak ada yang berlebihan, ya sudah kalau begitu saya permisi dulu!" ucap Pria itu yang kembali undur diri.
" Baik pak, sekali lagi terima kasih," ucap Aldo lagi. Pria itu mengangguk setelah basa-basi dan langsung pergi meninggalkan tempat itu.
" Apa itu artinya dia akan bekerjasama dengan Perusahaan kita?" tanya Kayra. Aldo menganggukkan kepalanya dengan tersenyum lebar.
" Alhamdulillah aku tidak percaya jika meeting pertamaku telah membuahkan hasil dan bahkan sampai bekerja sama," ucap Kayra begitu bahagianya.
" Iya Kayra ini hasil kerja keras kamu," ucap Aldo.
" Makasih pak Aldo sudah memberikan saya kesempatan untuk semua ini," ucap Kayra.
" Sama-sama, ya sudah sekarang kamu duduk kembali. Kita makan ya!" ucap Aldo mempersilahkan Kayra bahkan menarik kembali kursi untuk Kayra duduki.
" Pak Aldo, bukannya kita harus kembali kekantor?" tanya Kayra.
" Kita belum makan. Jadi kita makan dulu, baru kita pergi kekantor. Memang kamu tidak lapar apa," ucap Aldo dengan menaikkan 1 alisnya.
" Hmmmm, ya sudah pak kalau begitu saya memang lapar," sahut Kayra yang sebenarnya begitu segan kalau harus makan bersama dengan bosnya itu.
" Ya sudah mari duduk," ucap Aldo mempersilahkan. Kayra mengangguk dan kembali duduk.
Di tempat yang sama ternyata mobil Davin juga berhenti di Restauran yang sama dengan Kayra dan Aldo. Pintu mobil Davin di bukakan oleh Reyhan. Dengan mengkancing jasnya bagian tengah Davin keluar dari mobil itu berjalan menuju Restaurant yang diikuti oleh Reyhan yang berjalan di belakangnya.
" Apa dia sudah sampai?" tanya Davin.
" Seharusnya nona Priscilla sudah sampai," sahut Reyhan.
" Jangan seharusnya pastikan dengan benar. Aku tidak mau menunggu lama-lama. Waktuku tidak di buang untuk cuma-cuma," sahut Davin dengan tegas yang kakinya terus berjalan.
" Baik bos," sahut Reyhan yang harus pasrah jika sudah di sembur oleh Davin.
Mereka pun sampai kedalam Restauran dan menuju meja no 7 meja yang sudah di siapkan klien mereka untuk pertemuan hari ini. Reyhan menarik kursi dan mempersilahkan bosnya untuk duduk. Davin duduk dengan membuka kembali kancing jasnya.
" Lihat, aku akan menunggu lagi. Kenapa wanita selalu saja lelet harus terus membuatku menunggu. Apa dia pikir dia yang paling hebat, sehingga membuang waktuku dengan percuma," umpat Davin dengan kesal.
" Maaf bos," sahut Reyhan yang hanya bisa minta maaf saat di sembur habis-habisan.
" Jangan bicara lagi kepadaku. Kau sekarang tunggu di mobil!" perintah Davin.
" Baik bos," sahut Reyhan yang akhirnya pergi dari pada di amuk lagi oleh Davin yang kalau sudah kesal semuanya akan menjadi salah.
" Dia itu marah-marah terus karena menunggu atau sebenarnya dek-dekan menunggu nona Priscila. Aku yakin itu pasti hanya alasannya saja," gerutu Reyhan yang sepertinya tau apa yang di pikirkan tuannya itu. Ya Reyhan hanya bisa bergerutu di dalam hatinya saja.
Davin yang duduk di mejanya beberapa kali membuang napas beratnya perlahan kedepan. Wajahnya terlihat resah dan terus melihat melihat ke sekitarnya dengan gelisah, mencari-cari dan matanya juga terus melihat pintu masuk yang pasti Davin gelisah dalam menunggu tamunya.
Sampai akhirnya matanya berhenti di suatu meja yang mana lagi jika bukan Aldo dan Kayra yang makan dengan duduk dekat-dekat dan sambil tertawa-tawa.
Davin mendengus kasar melihat wanita itu yang dengan bahagianya bisa tertawa giliran padanya saja wajah wanita itu tidak pernah tertawa-tawa.
" Ya dia memang begitu semangat setiap hari kekantor yang apa lagi jika bukan untuk menemui pacarnya itu, sekarang makan saja harus sama-sama, benar-benar keterlalua," desis Davin yang terlihat tidak suka istrinya dengan Aldo yang dekat-dekat.
Davin malah kepanasan tiba-tiba. Padahal ruangan itu ruangan ber-AC. Dan begitu dingin namun suasana tiba-tiba saja menjadi panas.
Aldo dan Kayra makan dengan nikmat sambil mengobrol dan tidak menyadari jika Davin sedang menonton mereka. Terlihat akrab, terlihat dekat, dan seperti ada hubungan itu yang di saksikan Davin di depannya.
Aldo melihat ada bekas makanan di ujung bibir Kayra yang sepertinya mengganggu matanya. Aldo menghela napasnya.
" Sorry Kayra!" Aldo tiba-tiba mengambil tisu dan melap bibir itu membuat Kayra menjadi canggung tiba-tiba.
" Ada noda," ucap Aldo menunjukkan noda yang sudah berada di tisu itu. Kayra hanya mengangguk dengan tersenyum tipis.
__ADS_1
" Maaf ya," ucap Aldo.
" Tidak pak, saya yang makan tidak benar, seperti anak kecil saja," ucap Kayra yang sedikit malu.
" Itu biasa," sahut Aldo tersenyum lebar.
Davin melihatnya mendengus kasar bahkan mengepal tangannya yang semakin kepanasan dengan keromantisan yang di tunjukkan istrinya dengan Pria yang menjadi atasan istrinya.
" Wanita ini kalau di biarkan lama-lama semakin menjadi-jadi. Apa dia lupa jika sudah menikah," geram Davin yang berdiri melangkah mendekati meja Kayra dan Aldo yang tidak jauh darinya.
" Aku ingin melihat apa reaksimu setelah ini. Apa kau akan panik aku ada di sini, atau kau akan banyak bersandiwara," umpat Davin yang kelihatannya ingin mengacaukan makan siang Kayra dan Aldo.
Langkah Davin semakin dekat pada meja itu yang mana Kayra memang membelakanginya sampai akhirnya langkah itu terhenti tepat berada di belakang Kayra dan Aldo masih fokus makan yang tidak menyadari kehadiran Davin.
Mulut Davin bergerak ingin berbicara sesuatu.
" Davin!" Panggilan itu membuat Davin yang tadinya ingin mengeluarkan suara mendadak diam melihat ke depannya.
Seorang wanita cantik, tinggi, putih, dengan rambut lurus memanjang berdiri di depan Davin jarak 3 meter dengannya. Mendengar nama Davin membuat Kayra juga kaget dan melihat wanita di depannya memanggil nama suaminya dan Kayra melihat kebelakang nya yang sudah berdiri suaminya yang membuat mata Kayra terbelalak.
" Davin. Ngapain dia di sini, kok Davin tiba-tiba ada di sini," batin Kayra heran melihat Davin yang diam mematung dan yang masih tetap melihat wanita itu yang mana Davin dan wanita itu sama-sama memandang yang membuat Kayra bingung.
" Pak Davin!" batin Aldo yang juga kebingungan dengan kehadiran Davin tiba-tiba dan Aldo juga melihat ke arah wanita yang sejajar dengan Davin tersebut.
" Pricilla!" tegur Aldo yang mengenal wanita yang memanggil nama Davin tadi. Pandangan mata Kayra berpindah pada Aldo dan juga kembali pada wanita itu dengan wajah tanda tanya. Kayra bahkan sudah tidak makan lagi.
Davin dan Pricilla pun akhirnya sama-sama membuyarkan tatap-tatap mereka dan mata Pricilla mengarah pada Aldo.
" Aldo!" sahut Pricilla tersenyum tipis.
Aldo juga tersenyum lalu berdiri dan terlihat mereka berpelukan yang sepertinya sangat dekat. Kayra dan Davin sama-sama bingung. Pasangan suami istri itu saling melihat dan dan wajah Kayra penuh dengan pertanyaan. Namun kesalnya Davin sepertinya sudah hilang dan lupa untuk apa dia mendatangi meja itu. Karena melihat Pricilla yang sekarang berpelukan dengan Aldo.
" Kamu kok bisa ada di sini?" tanya Pricilla yang sudah melepas pelukan itu.
" Aku sedang makan bersama karyawanku," jawab Aldo, " kamu sendiri kapan kembali dari Bangkok?" tanya Aldo.
" Benarkah? ya ampun aku benar-benar tidak percaya bisa bertemu dengan kamu di sini," ucap Aldo.
" Sama aku juga tidak percaya," sahut Pricilla yang tampak begitu bahagia.
" Ehemmm!" Davin berdehem untuk menghentikan keasyikan Aldo dan juga Pricilla.
" Hmmm, Davin aku juga senang bertemu dengan mu, aku tidak percaya bisa bertemu kamu dan Aldo sekalian di sini," sahut Pricilla yang mendekati Davin dan memeluknya. Davin terlihat diam dan tidak membalas pelukan wanita yang sepertinya sangat merindukan dirinya. Sementara Kayra yang masih duduk hanya diam saja masih dengan wajahnya yang tanda tanya.
" Kamu apa kabar?" tanya Pricilla yang sudah melepas pelukan itu.
" Aku baik-baik saja," jawab Davin dengan datar dan Kayra akhirnya berdiri berdiri di samping Davin. Karena merasa tidak enak harus duduk. Namun wajahnya tetap penuh dengan pertanyaan.
" Kalian saling kenal?" tanya Aldo.
" Kamu juga mengenalnya?tanya balik Pricilla.
" Dia ini CEO Perusahaan utama dan aku kebetulan yang mengelola cabang anak Perusahaan," jawab Aldo sedikit penjelasan.
" Ya ampun kebetulan sekali," sahut Pricilla.
" Lalu bagaimana kamu mengenalnya?" tanya Aldo.
" Aku dan Davin ini...."
" Ehemmmm!" Davin tiba-tiba berdehem dan membuat Pricilla tidak jadi melanjutkan kalimatnya.
" Iya Davin, Aldo ini adala Aldo ini adalah sepupuku," sahut Pricilla yang langsung menjelaskan siapa Aldo.
" Benarkah!" sahut Davin dengan datar.
" Iya, kami memang sepupu," sahut Aldo membenarkan semuanya.
__ADS_1
" Aku dan Davin sedang janjian makan siang di sini dan kalian juga makan siang. Ini sangat kebetulan yang mana kita bertemu secara bersamaan. Apa kita makan siang bersamaan aja," sahut Pricilla yang tiba-tiba mendapatkan ide.
" Tidak usah kita makan di tempat yang sudah kita sepakati," sahut Davin yang tidak setuju dengan hal itu.
" Tidak Davin jangan seperti itu. Ayolah sekali-kali, aku juga kebetulan bertemu dengan sepupuku," bujuk Pricilla dengan memegang lengan Davin membuat pandangan Davin turun pada lengan itu.
Kayra yang sejak tadi diam saja. Tiba-tiba melihat wanita yang sama sekali belum di mengertinya siapa yang nempel-nempel pada Davin seketika membuat Kayra tidak suka dan bahkan Kayra ingin melepas tangan wanita itu. Tetap tertahan karena tidak ada alasan untuk melakukannya.
" Sepertinya mereka begitu dekat," batin Kayra yang penasaran.
" Mau ya Davin?" tanya Pricilla memastikan. Davin masih diam saja.
" Kalau Davin diam pasti mau," sahut Pricilla tersenyum.
" Hmmm, bagus kalau begitu. Oh iya Pricilla kenalin ini Kayra," sahut Aldo yang hampir lupa mengenalkan Kayra.
" Hay aku Pricilla," sahut Pricilla mengulurkan tangannya.
" Kayra," sahut Kayra dengan tersenyum.
***********
Setelah membujuk Davin akhirnya Davin mau bergabung makan bersama Aldo dan juga Kayra di mana Aldo Kayra berhadapan dengan Davin dan Pricilla. Aldo dan Pricilla lebih banyak bicara sementara Kayra maupun Davin lebih banyak diam. Jika di tanya Kayra menjawab dan Davin hanya menjawab iya atau dengan deheman.
" Pricilla kamu tidak pernah cerita mengenal pak Davin," ucap Aldo.
" Aku mungkin menceritakan kepadamu tetapi kamu tidak ingat. Davin ini Pria yang sering aku ceritakan padamu dulu saat kita sama-sama di Bangkok," ucap Pricilla tersenyum pada Davin.
" Jangan bilang dia ini Doraemon yang kamu ceritakan," sahut Aldo menebak-nebak.
Mendengar kata Doraemon ingin membuat Kayra spontan tertawa. Tetapi masih di tahannya dan Davin harus menangkap Kayra yang ingin tertawa mengejek dirinya.
" Apa dia menertawakanku," batin Davin kesal dengan Kayra yang dari wajahnya itu terlihat sedang mengejek.
" Ya siapa lagi jika dia," sahut Pricilla tertawa-tawa dengan bahagianya. Namun Davin hanya datar-datar saja. Aldo juga bahkan ikut tertawa karena Davin adalah Doraemon dari sepupunya yang sepertinya ada sejarah yang tersembunyi.
" Lalu apa ada si Nobitanya," batin Kayra.
Tiba-tiba Pricilla yang tertawa-tawa melihat tangan Davin ada di atas meja. Matanya fokus pada jari manis Davin yang terpasang cincin, " cincin apa ini?" tanya Pricilla mengambil tangan Davin melihat dengan jelas cincin itu, " kamu sudah bertunangan?" tebak Pricilla dengan wajah seriusnya melihat Davin.
Davin melihat ke arah Kayra yang Kayra juga melihatnya. Dan Davin diam yang harus menjawab apa. Terlihat tegang di wajah Davin. Sementara Kayra yang langsung menurunkan tangannya dari atas meja untuk menyembunyikan tangannya yang juga terpasang cincin sebelum ditanya atau justru akan menyamakan ke-2 cincin itu.
" Davin kenapa diam?" tanya Pricilla yang masih menunggu jawabannya.
" Ini pemberian Oma," jawab Davin menjauhkan tangannya dari pegangan Priscilla dan kembali makan.
Terlihat Priscilla menghembuskan napas lega saat mendengar jawaban Davin. Dan Kayra menangkap lah itu yang membuat Kayra bingung.
" Dia begitu lega Davin belum menikah siapa dia sebenarnya, apa dia begitu dekat dengan Davin," batin Kayra yang akhirnya penasaran dengan wanita itu.
" Aldo kamu terlihat dekat dengan rekan kerjamu. Apa kalian ada hubungan special?" tanya Pricilla yang sekarang membuat Kayra yang canggung.
" Tidak seperti itu. Kami hanya sebatas atasan dan karyawan," sahut Kayra yang mengambil alih menjawab.
" Hmmm benarkah, tetapi kalian begitu cocok jadi semoga kalian berdua lebih dari rekan kerja," sahut Pricilla dengan tersenyum.
" Kamu bisa aja," sahut Aldo yang tertawa-tawa dan melihat ke arah Kayra dengan tatapan yang dalam penuh arti hal itu di perhatikan Davin yang sepertinya tau maksud dari cara melihat Kayra.
Bisa di pastikan Davin. Kalau Aldo menyukai Kayra. Ya dia seorang pria pasti sangat tau gelagat pria kalau menyukai wanitanya.
" Selalu melihat Kayra dengan tatapan lain. Apa dia memang menyukai Kayra. Mereka juga terlihat makan berdua bersama," batin Davin yang memperhatikan gerak-gerik Aldo.
Bahkan sampai detik ini Aldo masih terus menatap Kayra yang makan dengan tenang.
" Davin ayo makan!" ucap Pricilla yang melihat Davin bengong.
" Iya aku makan," sahut Davin dengan tersenyum. Pricilla tersenyum. Beberapa kali Davin dan Kayra yang duduk saling berhadapan terkadang saling mencuri untuk pandang sana, pandang sini.
__ADS_1
Bersambung