
Akhirnya di larikan kerumah sakit untuk memeriksakan keadaannya yang tiba-tiba sakit perut dan akhirnya tidak sadarkan diri.
Davin masih tetap menemani, karena merasa sangat khawatir. Mereka semua menunggu di depan ruangan UGD.
"Daddy ada apa dengan mama? kenapa mama tidak bangun?" tanya Brian memegang tangan Haykal yang sangat mencemaskan mamanya.
Haykal menghela napasnya dan berjongkok dengan memegang ke-2 bahu Brian, "jangan khawatir mama tidak apa-apa. Kita berdoa saja. Supaya mama baik-baik aja," ucap Haykal yang berusaha untuk menenagkan Brian.
Davin tidak bisa berkata apa-apa. Dia hanya melihat anak kecil yang di yakininya adalah putranya itu begitu khawatir. Rasanya Davin juga ingin memeluknya dan memberikan ketenangan untuk Brian. Tetapi Davin tidak bisa melakukan hal itu. Karena belum ada bukti jika Brian itu adalah putranya.
"Seharusnya tidak banyak pada Kayra.Seharusnya jika aku ingin membuktikan Brian anakku atau tidak. Aku bisa bicara baik-baik padanya. Ini semua salahku. Tidak bisa mengontrol diriku. Jika aku bisa mengendalikan diriku hal seperti ini tidak akan terjadi," batin Davin yang merasa bersalah pada Kayra.
Tidak lama akhirnya Dokter pun keluar dari ruangan Kayra.
"Dokter bagaimana anak saya?" tanya Aris dengan cemas.
"Dokter Kayra tidak apa-apa dia baik-baik saja," jawab Dokter Pria itu.
"Alhamdulillah," sahut Aris bernapas lega dengan mengusap wajahnya dengan ke-2 tangannya.
"Apa lambungnya kambuh lagi?" tanya Aris yang sudah menebak ada apa dengan putrinya itu.
"Benar Pak Aris. Dokter Kayra bermasalah dengan lambungnya. Ya kembali lagi. Kita sebagai Dokter hanya bisa mengingatkan pasien. Tetapi kita sendiri juga lupa kalau kita manusia. Contohnya Dokter Kayra, tidak memperhatikan makannya dan semoga dia tidak Opera usus buntu lagi ya," ucap Dokter.
"Iya Dokter, Kayra memang agak susah di beri tahu soal makan yang benar. Tetapi kali ini saya akan lebih tegas lagi kepadanya," sahut Aris.
"Kami juga akan selalu mengingatkannya," sahut Dokter dengan menepuk bahu Aris.
"Kalau begitu saya permisi. Mari!" Dokter langsung pergi dengan tersenyum. Yang lainnya hanya mengangguk saja.
"Mama sakit karena tidak makan lagi ya kakek?" tanya Brian.
"Iya Brian. Jadi kita harus ingatkan mama terus ya. Supaya mama tidak seperti ini lagi," ucap Aris.
"Baik kakek," sahut Brian.
"Apa Kayra memang selalu seperti ini?" tanya Davin yang penasaran dengan kondisi Kayra.
__ADS_1
"Davin Kayra sangat sibuk sebagai Dokter dan terkadang melupakan. Jika dia juga manusia Jadi sangat sulit untuk makan. Dan maagnya akan kambuh dalam waktu yang tidak tentu dan mungkin ini juga karena pikiran yang tidak tenang makanya seperti ini," jelas Aris. Davin hanya diam dengan ekspresi penuh simpatik pada Kayra.
"Om baik, makasih ya. Tadi sudah bantuin mama," ucap Brian.
"Iya Brian," sahut Davin memegang kepala Brian. Davin juga melihat Haykal dan Haykal juga melihatnya dan tidak tau apa yang di pikirkan 2 orang yang saling melihat itu.
***********
Karena kondisi Kayra yang seperti itu membuat Kayra harus di rawat di rumah sakit. Kayra sudah siuman dan bersandar di kepala ranjang masih dengan tubuhnya yang lemas.
Suster Maya sedang memperbaiki infusnya dengan mengecek kondisi Kayra, "Ya ampun Kayra kamu ini Dokter. Tetapi bisa-bisanya bolak balik di tempat tidur pasien hanya karena susah makan," ucap Maya yang mengocehi Kayra karena penyakit maag merupakan penyakit yang di cari sendiri. Karena ketidak pedulian pada diri sendiri.
"Kamu mau operasi lagi. Hah! kamu ini ya benar-benar," Maya terus saja mengocehi Kayra sedang membaca buku mengenai saraf-saraf otak. Ya Kayra tidak peduli dengan dirinya dan terus belajar lebih giat dalam dunia kedokteran.
"Kayra aku bicara padamu. Kau tidak mendengarku?" tanya Maya dengan kesalnya.
"Kamu tolong jemput Brian nanti ya," ucap Kayra yang malah memerintah dan tidak menanggapi kata-kata Maya.
"Iya," sahut Maya kesal.
Krekkk.
"Kamu makan dulu Kayra," ucap Haykal yang langsung membuka beberapa makanan itu. Kayra pun mengangguk yang tidak boleh menolak. Ya dia bisa semakin parah.
Haykal duduk di samping Kayra dan langsung menyuapi Kayra, "Suster Maya sudah makan?" tanya Haykal.
"Sudah," jawab Maya dengan tersenyum.
"Ayo Kayra kamu makan!" ucap Haykal menyendokkan nasi kemulut Kayra dan Kayra langsung membuka mulutnya.
"Brian sudah pulang sekolah?" tanya Kayra sembari mengunyah makananya.
"Setengah jam lagi. Kamu jangan khawatir. Kamu makan saja. Biar Brian nanti aku yang mengurus," jawab Haykal.
"Davin. Bagaimana jika Davin pergi menemui Brian," batin Kayra yang sangat takut Davin dekat-dekat dengan putranya itu.
"Kayra kamu baik-baik saja?" tanya Haykal yang melihat Kayra melamun.
__ADS_1
"Iya aku baik-baik saja. Aku mau minum!" ucap Kayra. Haykal mengangguk dan memberikan Kayra minum dengan memegang gelas dan memegang kepala Kayra. Agar Kayra mudah untuk minum.
Ternyata di depan pintu rumah sakit yang terbuka sedikit. Davin berdiri di sana. Tidak tau Davin sejak kapan ada di sana. Davin berdiri dengan ke-2 tangannya memegang paper bag yang tidak tau apa isinya.
Melihat Kayra dan Haykal lagi-lagi Davin pasti sangat cemburu. Kedekatan dan keromantisan itu membuat api cemburu menyala. Namun apa yang bisa di lakukannya. Tidak ada dan mungkin ini juga yang 5 tahun lalu yang pernah di rasakan Kayra.
"Nak Davin!" tegur Aris yang tiba-tiba datang menegur Davin membuat Davin terkejut. Mendengar nama Davin di sebut Kayra dan Haykal sendiripun melihat langsung ke pintu dan melihat Davin di sana.
"Pak Aris," sapa Davin tersenyum kaku.
"Sedang apa di sini? ayo masuk!" ucap Aris dengan ramah kepada Davin.
"Tidak usah pak. Saya hanya ingin memberikan ini saja kepada Kayra, ini hanya beberapa makanan saja," ucap Davin yang memberikan apa yang di bawanya untuk Kayra pada Aris dan Aris langsung mengambilnya.
"Sampaikan maaf saya padanya dan semoga dia cepat sembuh," ucap Davin yang bicara melihat ke arah Kayra dan Kayra juga melihatnya dengan suaranya Davin yang dapat di dengarnya.
"Baiklah pak Aris saya permisi dulu! maaf jika saya mengganggu kenyamanan bapak dan juga Kayra. Saya permisi!" ucap Davin yang langsung pergi.
"Tapi Davin!" cegah Aris. Namun Davin sudah langsung pergi. Aris hanya menghela napas dengan melihat kepergian Davin dan memasuki ruangan Kayra.
"Bagaimana keadaan kamu Kayra?" tanya Aris.
"Sudah baikan pah," jawab Kayra yang masih lesu.
"Ini makanan dari Davin," ucap Aris. Kayra tidak menanggapi dan hanya diam saja.
"Papa sudah makan?" tanya Haykal.
"Sudah Haykal," jawab Aris.
"Aku sudah selesai makan," sahut Kayra yang langsung rebahan dan bahkan memiringkan tubuhnya membelakangi Haykal dan Aris. Aris dan Haykal saling melihat.
"Biar saya bantu bereskan," sahut Suster Maya yang bingung dengan Kayra dan mencoba merapikan meja yang penuh dengan makanan itu.
"Baik sekali pemilik rumah sakit yang terbaru ini. Sangat perhatian. Dokter Kayra beruntung di perhatikan langsung oleh pimpinan," batin Maya dengan terus merapikan meja.
Kayra hanya terlihat senduh dan tidak tau kenapa air matanya tiba-tiba menetes begitu saja.
__ADS_1
Bersambung.