Pernikahan Dalam Ikatan Surat Kontrak.

Pernikahan Dalam Ikatan Surat Kontrak.
Bab 265


__ADS_3

Kayra dan Davin yang berada di pesta itu menghampiri pricillia.


"Hay Kayra!" sapa Pricilla.


"Iya Pricilla," sahut Kayra dengan tersenyum lebar, "kamu hanya datang berdua dengan Cika?" tanya Kayra.


"Tidak Kayra aku tadi di jemput sama Lian," jawab Pricilla.


"Oh begitu rupanya," sahut Kayra.


"Lalu Lian mana?" tanya Davin.


"Lagi mengobrol bersama teman-temannya," jawab Pricilla.


"Ohhhh," sahut Davin yang hanya mengangguk santai saja dengan kata-kata Pricilla.


"Hmmm, kita makan yuk!" ajak Kayra.


"Kalian duluan aja, aku mau mengucapkan selamat untuk Reyhan dan Indri dulu," sahut Pricilla.


"Oh ya sudah kalau begitu kami duluan," sahut Kayra. Pricilla menganggukkan kepalanya dan Pricilla langsung ke pelaminan yang langsung memberi ucapan untuk Indri dan juga Reyhan sementara Kayra dan Davin mengambil makanan untuk mereka nikmati.


"Kita duduk di sana!" tunjuk Kayra. Davin menganggukan kepalanya yang menurut saja apa kata istrinya dengan mereka yang mengambil tempat duduk dan langsung makan.


Kayra melihat ke arah putranya Brian yang bermain-main dengan Cika yang sangat akrab.


"Kamu kenapa lihatin anak kita terus?" tanya Davin heran yang memperhatikan istrinya yang hanya terus menerus melihat Brin.


"Sayang aku tidak sabar menunggu anak kita besar. Kira-kira anak kita besar akan seperti apa ya," ucap Kayra yang tiba-tiba kepikiran dengan perkembangan putranya.


"Dia akan menjadi pria tampan seperti ku. Pria yang di kejar-kejar banyak wanita dan pasti bukannya dia akan menjadi seorang Dokter penerus ayah dan ibunya," ucap Davin.


"Hmmm, benar sih dengan apa yang kamu katakan dia akan menjadi Dokter yang hebat dan pasti tampan. Tapi aku sangat tidak rela jika putraku nanti akan menjadi seperti kamu yang menjadi Pria yang....." Kayra tidak melanjutkan kalimatnya membuat Davin menatap penuh selidik istrinya itu.


"Yang apa!" ucap Davin.


Yang menyebalkan yang suka main perempuan, suka tebar pesona dengan wanita sana-sani," ucap Kayra yang pasti mengatai sang suami.


"Oh jadi maksudnya itu aku ya," sahut Davin yang merasa tersindir.


"Tidak juga sayang kamu aja yang berperasaan seperti itu. Tetapi memang iya sih," sahut Kayra yang bicara apa adanya.

__ADS_1


"Kamu ini ya benar-benar," geram Davin dengan wajah kesalnya.


"Iya-iya nggak deh, aku hanya berdoa semoga saja kelak Brian jadi anak yang berbakti pada orang tua yang dewasa dan bijaksana dalam setiap tindakannya dan iya jika dia menjadi Dokter dia akan menjadi Dokter yang hebat dan bisa konsisten dalam setiap pekerjaannya," ucap Kayra dengan doa dan harapannya pada putra semata wayangnya.


"Aku juga sangat berharap seperti itu. Tapi aku yakin dia akan menjadi pria yang sangat bijaksana nantinya. Karena ibunya sekarang sudah mendidiknya dengan baik," sahut Davin yang memuji istrinya.


"Kamu bisa aja," sahut Kayra dengan tersenyum, "oh iya sayang kamu lihat deh anak kita. Dia itu sangat dekat dengan Cika. Apa nanti sampai dewasa mereka itu akan seperti itu ya," ucap Kayra melihat keakraban Cika dan juga Brian.


"Hmmm, sayang kamu jangan seperti orang tua zaman dulu yang mulai menjodohkan anak sejak dini," ucap Davin memperingati Kayra.


"Siapa yang menjodohkan sayang tapi kalau jadi juga kan tidak apa-apa. Kita mana tau nanti bagaimana jika dan Cika kelak sudah dewasa nanti. Kamu lihat mereka sangat dekat dan mereka juga kalau misalnya bersama kan tidak ada masalah. Kamu sama Lian bukan 1 ayah dan bukan satu ibu. Jadi jika anak kita dan anak Pricilla berjodoh tidak akan ada yang salah," ucap Kayra.


"Sayang kamu jangan seriusin masalah ini ya. Anak kita itu masih kecil, jangan seperti ibu-ibu yang apa-apa menjodohkan anaknya. Pokoknya kalau nanti Brian sudah dewasa aku ingin Brian memilih pendampingnya sendiri. Nggak ada cerita Lian harus di jodohkan dengan ini dan itu," ucap Davin menegaskan di mulai dari sekarang.


"Iya sayang ya ampun kamu ini ya benar-benar serius amat deh," sahut Kayra dengan geleng-geleng.


"Iya harus serius. Karena jika tidak serius, kamu bisa kebablasan," ucap Davin mengingatkan.


"Iya-iya terserah kamu deh," sahut Kayra dengan geleng-geleng sembari melanjutkan makannya yang kembali melihat Brian dan Cika yang bermain bersama.


Bagaimana Kayra tidak gemes sangat terlihat sekali bagaimana Brian yang masih kecil. Namun terlihat begitu dewasa. Sangat terlihat sayang pada Cika dan bahkan saat Cika sakit Brian yang masih anak-anak selalu mensuport Cika dengan memberi dukungan kepada Cika dan selalu menghibur Cika.


"Jangan senyum-senyum terus cepat makan!" titah Davin.


"Iya sayang, senyum itu ibadah lalu apa yang salah," sahut Kayra.


"Ada saja jawabannya," sahut Davin.


"Oh iya aku tidak melihat Zoy. Apa dia tidak datang bukannya tadi dia katanya mau datang," ucap Davin yang melihat di sekelilingnya dan tidak melihat adiknya.


"Iya ya, padahal mama, papa, Giselle dan Oma tadi sudah datang Zoy kok belum ya," ucap Kayra yang juga bingung sendiri.


"Mungkin dia lagi di jalan kali ya," sahut Davin yang hanya berpikiran positif saja.


"Ya mungkin sih," sahut Kayra mengangguk-angguk saja.


*********


Ternyata Zoy sedang berada di jalan di pinggir jalan yang mana Zoy sedang gelisah dengan mobil yang di kendarai yang harus rusak di pinggir jalan yang begitu sepi.


"Aduh bagaimana ini, aku juga tidak bisa menghubungi siapa-siapa," ucap Zoy yang panik yang melihat ponselnya yang mati dan membuatnya tidak bisa mengabari siapa-siapa.

__ADS_1


"Ya ampun bagaimana ini. Tidak ada orang di sini dan handphone ku juga mati. Apa yang ahrus aku lakukan," Zoy semakin panik saat melihat di sekelilingnya yang benar-benar begitu sepi sampai Zoy semakin takut. Bahkan tidak ada kendaraan yang lewat sama sekali yang membuatnya begitu takut.


"Aku tidak bisa di sini terus, sebaiknya aku pergi saja dari tempat ini. Aku sebaiknya pergi," ucap Zoy yang mengambil tasnya dari dalam mobil dan dan langsung meninggalkan tempat itu karena jalanan begitu sepi.


Langkah Zoy terlihat buru-buru yang nekat pergi dari tempat mobilnya yang mogok dan sekarang Zoy sedang berjalan di pinggir jalan dengan melihat-lihat di sekitarnya yang memang begitu sepi tanpa ada siapa-siapa.


Namun tidak lama langkah itu. Zoy menghentikan langkahnya dan dengan cepat berbalik kebelakang yang melihat ke belakang yang ternyata kosong.


"Kenapa aku merasa ada orang ya tadi," batin Zoy yang melihat di sekitarnya yang merasa ada orang di sampingnya dan melihat di sekitarnya dan sama sekali tidak ada siapa-siapa. Zoy bahkan sampai merinding dengan mengusap belakang lehernya.


"Ya ampun kenapa tempat ini begitu menyeramkan. Ya Allah sebaiknya aku pergi saja dari tempat ini," ucap Zoy yang semakin takut dan cepat-cepat melangkah.


Saat melangkah dengan berlari-lari kecil. Zoy merasa ada yang mengejarnya dan dengan cepat langkah itu semakin cepat sampai Zoy berlari.


"Siapa itu, kenapa mengejarku," batin Zoy semakin takut saat tau jika ada orang yang mengikutinya bahkan bayangannya saja terlihat jelas dan Zoy karena tidak berani lagi langsung berlari dengan kencang yang tidak berani melihat kebelakangnya lagi karena yang adanya membuatnya semakin takut.


Di tengah larinya tiba-tiba Zoy terjatuh dengan ke-2 lututnya menyentuh lantai yang membuat Zoy semakin tidak bisa berbuat apa-apa dengan menahan sakit di lututnya dan Zoy melihat bayangan di aspal dan melihat bayangan beberapa orang dan membuat Zoy langsung melihat ke belakangnya dengan keberaniannya


Zoy di kejutkan dengan 3 pra yang tidak di kenalnya terlihat begitu menyeramkan dan sangat menakutkan.


"Siapa kalian!" teriak Zoy yang takut dan refleks untuk mundur kebelakang dalam keadaan yang masih duduk.


"Nona seharusnya tidak perlu lari-lari seperti itu Nona. Lihat apa yang terjadi nona cantik jadi jatuh kan," ucap pria yang satunya yang membuat Zoy jadi takut dan apalagi 3 pria itu semakin mendekatinya.


"Tutup mulut kalian, jangan menggangguku pergi dari sini! pergi!" teriak Zoy dengan penuh emosi yang begitu takut.


"Siapa yang mengganggu Nona. Tidak ada yang mengganggu kok," sahut pria yang satunya.


"Aku bilang jangan mendekati ku, kalian semuanya pergi dari sini. Apa yang kalian inginkan!" teriak Zoy.


"Pakai nanyak lagi yang pasti yang kita inginkan itu adalah kamu sayang. Jadi jangan pakai bertanya sayang," sahut pria itu dengan tersenyum miring dan di sambut dengan tertawa terbahak-bahak yang membuat Zoy semakin takut, sudah tempatnya sepi dan tidak ada siapa-siapa. Jadi bagaimana dia tidak takut.


"Sudah Nona tenang kami nggak akan nyakiti kamu kok. Kita hanya bermain sebentar saja sayang, jadi jangan Khawatir sayang kita ini sedang bersenang-senang dan nanti kamu juga akan ketagihan kok," ucap salah seorang pria itu membuat Zoy semakin takut


3 pria yang tidak di kenal itu saling melihat yang ingin melancarkan aksi mereka dan mereka semakin mendekati Zoy bahkan ingin memegang pipi Zoy dengan tangan kurang ajar mereka.


Dan Zoy yang penuh ketakutan tidak bisa apa-apa. Sampai tangan Pria itu yang hingga di tangan di pipi Zoy langsung di hentikan dengan tangan kekar yang membuat Pria yang hampir menyentuh Zoy itu kesal dan Zoy yang tadinya memejamkan matanya membukanya kembali yang melihat siapa yang menghentikan Pria.


"Dion!" lirih Zoy yang ternyata Dion dan Dion yang penuh emosi langsung menendang pria itu yang mana Dion langsung menghajar 3 Pria itu yang mana 3 pria itu juga tidak mau kalah yang saling baku hantam dengan Dion dan Zoy pasti merasa lega dengan hadirnya Dion di tengah-tengah kesulitannya yang mana dia hampir saja di perkosa. Tidak tau siapa Pria itu yang pasti preman jalanan.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2