
"Tante mau bawa Brian kemana. Bukannya kita mau mengawasi mama dan papa," ucap Brian yang sekarang di gendong paksa Zoy yang takut bocah kecil yang banyak ingin taunya itu mengganggu keromantisan Davin dan Kayra di dalam sana.
"Brian tidak boleh melihat hal itu. Jadi Brian ikut sama Tante saja," ucap Zoy yang terus menggendong Brian. Sampai akhirnya mereka bertemu dengan Oma dan Dion.
"Zoy apa yang kamu lakukan, kenapa Brian teriak-teriak seperti ini?" tanya Oma heran. DNA Brian langsung turun dari gendongan Zoy.
"Nggak tau nih Nenay, Tante Zoy paksa Brian dari ngintip mama dan papa," sahut Brian membuat dahi Oma mengkerut mendengarnya. Dion sendiri juga bingung dengan apa yang di katakan Brian.
"Maksudnya apa Zoy?" tanya Oma, "Kayra ada di sini?" tanya Oma.
"Kak Davin itu sakit Oma, badannya tiba-tiba panas. Jadi ya sudah aku sama Brian menelpon Kayra kan Kayra Dokter. Ya makanya Kayra ada di sini," jelas Zoy
"Lalu kamu apai Brian kenapa dia sampai teriak-teriak seperti ini?" tanya Oma.
"Tidak di apa-apai Oma Brian hanya mengganggu dan itu tidak boleh. Sudah setelah itu tidak ada apa-apa," jawab Zoy apa adanya.
"Memang Brian ganggu apa. Bukannya sebelumnya kita sepakat mau melihat mama dan papa baikan atau tidak. Tetapi Tante malah tiba-tiba bawah Brian pergi, kan Brian tidak mengganggu namanya," ucap Brian dengan polosnya.
"Issss Brian nggak usah di perpanjang juga kali," ucap Zoy yang lama-lama ingin menutup mulut keponakannya itu.
"Kamu ini ya Zoy mengajari anak kecil yang tidak-tidak," tegur Oma geleng-geleng.
"Siapa yang mengajari sih mah, nggak ada yang mengajari Oma, memang Brian ini aja yang banyak taunya," sahut Zoy.
"Sudah-sudah Brian sekarang kamu tidur aja ya, ini sudah malam," ucap Oma.
"Baik Nenay, Brian akan tidur di kamar papa," sit Brian dan Zoy langsung menarik tangan Brian yang ingin berlari.
__ADS_1
"Tidak boleh!" cegah Zoy. Bukan hanya Brian yang heran Oma dan Dion juga heran dengan Zoy yang melarang Brian.
"Kenapa Tante?" tanya Brian.
"Kan mama lagi berduaan sama papa..Kalau Brian ada di sana sama saja. Brian itu menjadi pengganggu. Jadi tidak boleh tidur di sana!" tegas Zoy.
"Lalu Brian akan tidur di mana?" tanya Brian heran.
"Sama Tante aja," jawab Zoy.
"Baiklah kalau begitu," sahut Brian yang tidak masalah asalkan rencananya untuk membuat orangtuanya berdamai bisa segera terwujud.
"Ayo kita kekamar!" ajak Zoy.
"Ayo Tante," sahut Brian dengan semangatnya.
"Ayo Dion bawa kekamar saya berkas-berkasnya!" perintah Oma.
"Baik Oma," sahut Dion.
***********
Malam hari semakin larut dan Kayra masih berada di kamar Davin yang juga dulu adalah kamarnya. Di mana sekarang Kayra yang berada di atas ranjang yang berbaring miring menghadap Davin yang tertidur lelap yang juga miring menghadap dirinya.
Kayra tidak tidur hanya melihat terus wajah Davin dengan ke-2 tangannya yang berada di bawah pipinya. Di mana mata kayra tidak lepas sama sekali menatap Davin yang masih tertidur dengan lelap dan mungkin suhu tubuh Davin sudah mendingan. Atau mungkin karena mendapatkan asupan dari Kayra, apalagi jika bukan ciuman.
Tangan Kayra perlahan membelai pipi Davin. Masih terasa hangat di pipi Davin. Merasa ada jemari lentik menghelai pipinya. Davin menggenggam tangan dengan erat. Di mana mata Davin masih terpejam yang tetap tertidur. Namun genggaman tangan itu terlalu kuat dengan yang di peluknya di dadanya.
__ADS_1
Kayra hanya diam dengan eksperesi wajahnya yang tidak terbaca. Mungkin Kayra bisa merasakan perasaan Davin masih ada untuknya. Tetapi perasaan apa. Karena dulu dia lah yang mencintai dan Davin tidak. Hal itu membuat Kayra bingung dengan gejolak hatinya yang bergelombang di dalam sana.
Tidak hanya menggenggam tangan itu Davin menarik Kayra untuk lebih dekat padanya dan memeluknya dengan erat. Lagi dan lagi Kayra tidak bisa melakukan apa-apa dan hanya pasrah di peluk Davin Pria yang masih menjadi suaminya. Karena Davin tidak pernah menceraikannya.
**********
Mentari pagi kembali tiba dan sekarang gantian. Jika tadi malam Kayra memperhatikan Davin yang tertidur dan sekarang gantian Davin yang sudah bangun Kayra belum sama sekali yang masih tertidur dengan wajah Kayra yang tepat di depannya. Di mana jarak mereka memang sangat dekat.
Davin tersenyum sembari mengusap-usapnya lembut pipi Kayra, "Kayra maafkan aku jika aku pernah menyia-nyiakan mu, aku juga membiarkanmu mengalami semua ini, pergi membawa janin yang kamu kandung merawat sendiri sampai kamu melahirkan dan juga membesarkannya sendirian menjadi anak yang tampan dan sangat pintar. Maafkan aku Kayra yang tidak ada di sisi mu waktu itu," batin Davin yang setiap waktu hanya bisa menyesali apa yang sudah terjadi.
Di tatapnya nanar Kayra dan di matanya turun pada bibir Kayra yang ingin mencium kembali bibir yang menjadi candunya. Namun belum sempat melakukannya. Kayra tiba-tiba membuka matanya dan mendapati hal itu. Kayra langsung menghindar.
Kayra sepertinya menolak ciuman dari Davin dan Kayra juga langsung duduk dengan merapikan dirinya yang tidak berantakan.
"Kamu sudah bangun. Aku akan periksa kembali," ucap Kayra tanpa melihat Davin dan terlihat Davin yang sangat kecewa dengan penolakan dari Kayra.
"Aku kekamar mandi sebentar!" ucap Kayra langsung pergi kekamar mandi. Davin hanya menghela napas dan Davin juga akhirnya duduk yang berusaha sabar menghadapi Kayra.
Tidak lama Kayra keluar dari kamar mandi dan Davin yang bersandar di kepala ranjang. Kayra terlihat datar yang langsung mengambil alat medisnya untuk memeriksa kondisi Davin.
"Jangan makan udang lagi. Ini baru Alergi ringan," ucap Kayra memberikan saran. Dan tanpa di jawab Davin yang hanya terus melihat ke arah Kayra yang di mana Kayra sengaja menghindari kontak mata dengan Davin.
"Aku akan siapkan air hangat untukmu. Mandilah supaya tubuhmu lebih fresh dan kemerahan di tubuhmu berkurang," ucap Kayra dan lagi-lagi Davin tidak menjawabnya yang masih saja memperhatikan wajah Kayra.
Selesai memeriksa Davin dan juga bicara cukup pada Davin. Kayra langsung berdiri. Namun Davin langsung menarik tangannya dan Kayra terduduk di pangkuan Davin dengan wajah mereka yang saling berdekatan dan pasti debaran jantung yang sama-sama berdetak yang tidak bisa di katakan seperti apa.
"Kenapa menghindariku. Bukannya semuanya sudah baik-baik saja. Apa yang terjadi tadi malam bukannya sudah menjawab semuanya," ucap Davin yang berbicara dengan suara serak yang menatap Kayra. Namun Kayra masih tetap mengalihkan pandangannya yang tidak berani menatap kembali Davin.
__ADS_1
Bersambung