Pernikahan Dalam Ikatan Surat Kontrak.

Pernikahan Dalam Ikatan Surat Kontrak.
Bab 87 Davin dan Kayra.


__ADS_3

Hujan yang sama juga terjadi di Bandung. Di mana perjalanan pulang dari Bandung menuju Jakarta. Dion dan Zoy yang sebelumnya mengunjungi pabrik. Saat perjalanan pulang mereka terjebak macet dan di warnai hujan deras.


Di mana di dalam mobil Dion dan Zoya yang masih sama-sama di sana. Dengan Zoy yang duduk di kursi penumpang. Dion dan Zoy hanya diam saja tanpa ada pembicaraan sama sekali dan terlihat di antara ke-2nya. Hanya sunyi dan senyap.


Namun Dion yang duduk di depan melihat dari kaca spion melihat Zoy yang terlihat gelisah yang beberapa kali melihat arloji di tangannya.


" Kenapa macetnya nggak kelar juga. Sudah larut malam lagi," gerutu Lea dengan suara pelan yang gelisah karena situasi macet yang membuatnya emosi.


" Saya akan coba melihat apa yang terjadi di depan," sahut Dion yang bicara melihat dari kaca spion.


" Hmmmm," Zoy hanya menjawab dengan deheman saja dan Dion pun langsung keluar dari mobil dan pergi begitu saja.


" Apa dia tidak membawa payung. Dia kan bisa basah!" batin Zoy yang melihat Dion berlari kedepan dengan tangannya di atas kepalanya seolah menjadi payung sementara.


" Lagian dia sih aneh. Bukannya dari tadi di periksa macetnya. Malah baru sekarang. Seharusnya kalau dari tadi," Zoy masih bergerutu dengan kesal. Karena memang hal yang paling menyebalkan itu adalah macet.


Tidak lama akhirnya Dion pun berlari lagi kemobil dan di pastikan Dion memasuki mobil dalam ke adaan basah-basahan. Dion menghela napas yang naik turun karena dari tadi lari-lari saja.


" Apa yang terjadi?" tanya Zoy.


" Di depan ada pohon besar yang tumbang dan menghalang jalan karena jatuhnya pada aspal semuanya, sehingga mobil tidak bisa lewat dan terjadi kemacetan," jawab Dion.


" Lalu apa masih lama?" tanya Zoy.


" Saya kurang tau, beberapa warga dan petugas sedang bekerja sama meminggirkan pohon itu dengan memotong beberapa kayunya agar mudah terpotong," jawab Dion.


" Kira-kira menurut kamu itu akan berapa lam?" tanya Zoy.


" Sayang kurang tau nona, kemungkinan bisa beberapa jam kedepan lagi," jawab Dion hanya menebak-nebak saja.


Zoy menghela napasnya, " mau sampai kapan sampai kerumah, masa di mobil terus," umpatnya dengan kesal membuat Dion melihatnya dari kaca spion.


" Apa nona tidak mau menginap saja. Kebetulan saya tadi melihat ada hotel di dekat sini. Kita bisa berjalan menuju hotel agar nona bisa istirahat dan mobil saya akan menanganinya," ucap Dion menawarkan Lea.


" Tidak usah, tunggu saja macetnya. Semoga tidak lama," jawab Zoy.

__ADS_1


" Baiklah kalau begitu," sahut Dion.


" Kenapa nasibku sial sekali yang harus macet-macetan sekarang. Tidak di Jakarta tidak di sini hanya macet-macetan saja. Hmmmm benar-benar," batin Zoy yang kelihatan kesal.


Dion melihat lagi dari kaca spion dia tau pasti Zoy tidak nyaman bersamanya dan apa lagi harus berduaan di dalam mobil bersamanya.


" Jangan melihatku seperti itu. Aku risih!" sahut Zoy yang menyadari Dion yang terus melihatnya.


" Maaf," sahut Dion datar dan mengalihkan pandangannya yang tidak melihat Zoy lagi dan Zoy hanya melihat keluar jendela wajahnya yang kelihatan masih kesal karena terjebak macet.


" Aku tau kau tidak nyaman. Tapi aku hanya profesional dan menjalan semua yang di katakan nyonya Elishabet," batin Dion.


" Hmmm, aku ingin bertanya sesuatu padamu?" tanya Zoy tiba-tiba.


" Tanyakan saja," sahut Dion.


" Apa alasan pulang apa hanya untuk Oma atau ada sesuatu??" tanya Zoy yang sebenarnya sangat penasaran.


" Yang pasti kepulanganku atas perintah nyonya Elishabet," jawab Dion.


" Kalau masalah itu saya kurang tau. Nona bisa tanyakan pada nyonya Elishabet langsung," sahut Dion yang menjawab dengan datar.


" Lalu apa kau terpaksa pulang?" tanya Zoy. Dion diam sejenak yang tidak bisa menjawab pertanyaan itu.


" Sudahlah jangan di jawab. Lagi pula itu tidak penting untukku," sahut Zoy.


" Baiklah!" sahut Dion.


" Aku yakin Oma pasti ada tujuan lain menyuruhnya pulang. Mungkin tebakan mama benar. Jika dia pulang hanya karena kak Davin. Ya aku juga tidak tau pastinya," batin Zoy yang sebenarnya ingin tau tetapi tidak bisa mengetahuinya.


*********


Setelah beristirahat beberapa waktu. Davin dan Kayra sudah berada di dalam mobil yang terparkir di pinggir jalan. Mereka tidak jadi menginap karena hujan sudah berhenti dan memutuskan untuk pulang.


Namun karena Davin tetap lapar. Dia tetap menagih janjinya pada Kayra untuk meneraktirnya makan dan mau tidak mau Kayra menepati janjinya dengan mengajak Davin makan di pinggir jalan.

__ADS_1


Ke-2nya menikmati nasi goreng abang-abang dan bersama duduk di dalam mobil yang memilih makan di dalam mobil. Karena di luar juga sangat dingin.


" Bagaimana enak?" tanya Kayra yang mengunyah makanannya.


" Biasa aja," jawab Davin dengan mengunyah makanan itu dengan lahap.


Kayra menoleh kearahnya melihat piring Davin yang nasi itu bersisa sedikit lagi, " biasa aja. Tetapi buktinya kau duluan habis," desis Kayra.


" Aku lapar jadi wajar habis," jawab Davin dengan santai.


" Alasan," desis Kayra.


" Tidak alasan Kayra memang kenyataan. Memang rasanya biasa dan aku lapar jadi mau tidak mau makanannya harus di makan," jawab Davin dengan hal yang sama dan mengunyah makanannya.


Kayra hanya berdecak kesal mendengar kata-kata Davin yang suka mengeles.


" Hmmmm, tapi aku senang. Akhirnya kau sudah kembali lagi," ucap Davin tiba-tiba membuat Kayra menoleh ke arahnya yang melihat Davin dengan heran.


" Kembali! memang aku kemana?" tanya Kayra bingung.


" Melihat kejadian tadi di kamar. Kau terlihat aneh yang tiba-tiba berhenti di tengah jalan," jawab Davin.


" Kan aku sudah mengatakan aku sedang capek dan juga pikiran ku ada," jawab Kayra bohong.


" Hmmm, begitu rupanya. Berarti sekarang kau sudah tidak capek lagi. Kau juga sudah terlihat santai dan apakah akan ada lanjutannya?" tanya Davin dengan menatap Kayra intens membuat Kayra mengkerutkan dahinya.


" Kau itu benar-benar ya. Pikiran mu hanya mensum saja," sahut Kayra kesal.


" Siapa yang berpikiran mesum. Lagian hubungan intim itu wajar di lakukan itu untuk membuat pikiran kita tenang, makanya sering-sering melakukannya," sahut Davin membuat Kayra berdesis semakin kesal dengan Davin.


" Itu kemauanmu dan hanya teorimu saja. Jadi lakukan saja semaumu," sahut Kayra kesal.


" Berarti tandanya boleh dong dan akan ada kelanjutannya," sahut Davin.


" Jangan mengatakan itu lagi," sahut Kayra semakin emosi melihat Davin yang terus saja menggodanya. Namun Davin kelihatannya memang sengaja melakukan hal itu supaya Kayra tidak seperti orang cemberut lagi.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2