
Brian dan Kayra berpegangan tangan yang keluar dari Apartemen mereka menuju lobi.
"Memang mobil mama kemana?" tanya Brian.
"Lagi di bengkel Brian. Jadi kita perginya naik Taxi saja. Mama akan antar Brian ke sekolah," jawab Kayra.
"Daddy dan mami tidak bisa antar Brian memangnya?" tanah Brian.
"Mereka itu baru pulang. Jadi pasti capek. Memang kenapa kalau mama yang antar. Brian tidak mau?" tanya Kayra.
"Bukan begitu mama. Kalau naik Taxi akan lama. Belum menunggu, belum antar Brian. Nanti mama jadi terlambat ke rumah sakit dan bagaimana kalau ada pasien yang butuh mama," ucap Brian si anak yang paling pengertian.
"Brian ini benar-benar sangat baik sekali. Mama begitu beruntung punya Brian. Tetapi jangan khawatir. Mama tidak buru-buru kerumah sakit," ucap Kayra.
"Baiklah kalau begitu," sahut Brian dengan tersenyum dan mereka kembali berjalan untuk menunggu Taxi. Namun tiba-tiba mobil yang kelihatan di kenali Kayra berhenti tepat di depan mereka yang ternyata adalah mobil Kayra Davin dan pengemudi mobil tersebut langsung keluar membuat Kayra membuang napas perlahan kedepan.
"Papa!" sahut Brian yang terlihat bahagia. Yang ingin menghampiri Davin dengan tidak sabaran. Namun langkah Brian tertahan dan bukan karena Kayra menahannya. Brian sendiri yang tidak melanjutkan langkahnya dan melihat ke arah Kayra yang sepertinya Brian takut sesuatu.
Davin menghela napasnya dan tersenyum pada Brian, "Brian mau kesekolah?" tanya Davin dengan memegang pucuk kepala Brian.
"Benar pah," sahut Brian tersenyum.
"Kalau begitu boleh Om antar?" tanya Davin.
Brian melihat ke arah Kayra, "ma kita naik mobil papa aja ya. Nanti Brian telat sekolah. Lagian Taxinya juga belum datang," ucap Brian dengan lembut yang membujuk Kayra.
Kayra masih diam yang pasti dia tidak setuju dan melihat ke arah Davin, "ya sudah," sahut Kayra yang ternyata memberikan izin.
"Horeeee," sahut Brian dengan bahagianya sampai melompat-lompat.
"Baiklah kalau begitu ayo masuk mobil!" Davin langsung menggendong Brian dan memasukkannya ke dalam mobil di bagian belakang dan Kayra ingin menyusul Brian. Namun Davin menghentikannya.
"Kami duduk di depan!" ucap Davin yang membukakan pintu mobil untuk Kayra. Kayra pasti menolak. Namun Davin mendorongnya pelan dan Kayra akhirnya duduk di depan yang pasti di samping Davin.
__ADS_1
"Let's go kita berangkat," sahut Davin.
"Let's go papa," sahut Brian yang semangatnya begitu besar.
Mereka bertiga berada di dalam mobil yang Davin terus menyetir.
"Brian sudah sarapan?" tanya Davin.
"Sudah pah," jawab Brian, "papa sendiri bagaimana apa sudah sarapan?" tanya Brian.
"Sudah sayang. Pasti sudah sarapan," Davin.
"Oh iya mah, tidak apa-apa kan. Kalau Brian panggil Om baik papa lagi. Maaf ya mah. Brian bukannya mau melawan mama. Tetapi memanggil papa itu sangat enak dari pada Om baik," ucap Brian dengan polosnya.
Davin melihat ke arah Kayra. Davin sudah bisa menebak. Pasti setelah kejadian semalam. Kayra pasti sudah bicara lada Brian dan di pastikan Kayra melarang Brian memanggilnya papa.
"Mama kenapa mama diam? Tidak apa-apa kan mah. Jadi Brian itu sama dengan teman-teman Brian di sekolah. Mereka itu selalu bilang papa dan mama, ibu dan ayah dan Brian kenapa beda sendiri. Kenapa punya mama, punya Daddy, punya mami tapi papa tidak. Kan Brian bingung," ucap Brian dengan lesunya yang polosnya bicara dan mungkin hal itu bisa membuat Kayra sedih yang sudah sengaja mencuri kebahagian Brian.
"Tapi kalau mama tidak mau ya sudahlah tidak apa-apa," sahut Brian yang tampak sedih.
"Jadi boleh!" sahut Brian memastikan.
"Iya, karena dia memang ayahmu," sahut Kayra yang akhirnya mengalah. Mendengar pengakuan Kayra membuat Davin tersenyum.
"Horeeee. Jadi Brian benar-benar punya papa!" sahut Brian yang sangat bahagia. Davin juga ikut senang dan apalagi melihat Brian begitu happy nya.
"Oh iya mah, mama bilang tadi papa itu ayah Brian. Apa itu ayah kandung?" tanya Brian yang ingin tau.
"Hmmm," jawab Kayra dengan berdehem.
"Lalu kenapa selama ini tidak ada sama kita?" tanya Brian yang anak seusianya tingkat rasa ingin taunya pasti berlebihan.
"Kamu tanya sendiri sama orangnya," sahut Kayra yang melihat ke arah jendela yang tidak ingin menceritakan pada Brian dan kalau mau Davin yang cerita terserah saja.
__ADS_1
"Papa kemana aja selama ini?" tanya Brian yang langsung to the point. Davin tidak langsung menjawab dan kelihatan sulit menelan salivanya.
"Kita hampir sampai ke sekolah Brian. Ceritanya panjang. Nanti papa akan ceritakan," ucap Davin.
"Baik papah," sahut Brian yang tidak masalah. Davin menoleh ke arah Kayra dan mendapati Kayra yang menyeka air matanya. Hal itu membuat Davin menghela napasnya kasar yang sebenarnya dia tidak tega dengan Kayra dan pasti merasa bersalah dengan apa yang terjadi.
*********
Kayra mencoba untuk berdamai dengan keadaannya. Setelah mendapat pencerahan dari sang papa. Akhirnya Kayra berusaha untuk berdamai dengan Davin demi Brian yang mana Kayra membiarkan Brian dekat dengan Davin. Masalahnya dengan Davin bukan dengan Brian. Jadi apa yang terjadi bukan kesalahan Brian.
Apa lagi saat Brian menceritakan masalah di sekolahnya yang berhubungan dengan orang tua membuat Kayra sedih. Karena selama ini Brian tidak pernah membahas hal itu dan Kayra merasa bersalah yang seperti membuat Bria menyimpan semuanya sendiri dan Kayra akan mengenyampingkan egonya demi kebahagiaan Davin.
**********
Setelah mengantar Brian ke sekolah. Davin pasti mengantarkan Kayra ke rumah sakit yang mereka berdua sudah sama-sama turun dari mobil dan Kayra langsung masuk. Namun Davin menahan tangannya.
"Aku minta maaf, jika tadi kamu tidak nyaman," ucap Davin dengan menatap Kayra tulus. Kayra langsung melepas tangannya dari Davin.
"Jaga sikapmu di rumah sakit. Kau tidak membuat isu di rumah sakit. Jadi profesional lah. Aku ini mantan istrimu dan tidak seharunya orang-orang tau hubungan masa lalu kita dulu. Begitu juga dengan Brian. Jangan sampai di memanggilmu papa di rumah sakit. Karena aku tidak mau menimbulkan gosip. Jadi kau yang mengurus semuanya. Aku di sini sebagai Dokter. Jadi tolong hargai pekerjaanku. Karena aku tidak punya waktu untuk mengurus masalah masa lalu," tegas Kayra yang bicara terang-terangan dengan Davin.
"Baiklah aku mengerti. Aku hanya mengucapkan terima kasih kepadamu. Kau telah memberiku kesempatan ikut membesarkan Brian," ucap Davin. Kayra tidak menanggapi kata-kata itu dan langsung pergi dari hadapan Davin.
"Kau bukan mantan istriku Kayra, kau masih sah sebagai istriku," batin Davin yang melihat kepergian Kayra yang menatapnya dengan sendu.
Kayra memasuki lift dan kebetulan. Anggi juga sama ingin masuk dan mereka berdua sama-sama tersenyum.
"Aku melihat kamu di antar Pak Davin. Kalian begitu serasi," ucap Anggi dengan pelan.
"Apa sih kamu, bicaranya ada-ada saja," ucap Kayra dengan kesal.
"Isss wajahnya langsung memerah. Kalian berdua itu cocok dan aku melihat pak Davin itu sangat baik dan perhatian," ucap Anggi lagi.
"Issss, sudahlah jangan bicara lagi, kamu itu nggak usah buat gosip.. Kebiasaan deh," ucap Kayra kesal.
__ADS_1
"Siapa yang buat gosip. Orang aku serius. Dia itu cocok jadi papanya Brian," ucap Anggi lagi. Kayra masa bodo dan tidak mendengarkan perkataan temannya itu yang sering menggodanya.
Bersambung