
Walau hadirnya Dion yang membantu Zoy. Namun Zoy tidak bisa bernapas lega begitu saja. Zoy yang sudah berdiri tetapi wajahnya sangat gelisah melihat Dion yang harus melawan 3 orang yang sangat hebat-hebat dan bahkan ada yang menggunakan senjata tajam yang membuat Zoy semakin panik.
"Semoga kak Dion baik-baik aja," ucap Zoy dengan panik dengan tangannya yang mengepal di mulutnya dengan tidak tenang. Sampai akhirnya Zoy melihat Dion berhasil melumpuhkan pria-pria itu dan pria-pria itu langsung lari.
"Awas kalian semua. Jika berani mengganggu nya lagi akan kuhabisi kalian semua," teriak Dion dengan penuh ancaman.
Zoy yang merasa lega langsung berlari menghampiri Dion.
"Kak Dion!" lirih Zoy yang langsung memeluk Dion yang mana Zoy memeluk erat yang merasa lega telah di selamatkan oleh Dion. Dion juga menghela napasnya yang memeluk Zoy juga yang bahagia dengan Zoy yang tidak apa-apa. Karena jujur dia juga sangat takut Zoy kenapa-napa.
"Makasih kak Dion sudah menyelamatkan Zoy, makasih," ucap Zoy dengan tangannya yang tidak henti-hentinya memeluk Dion dengan erat.
"Aku lega Zoy kamu tidak apa-apa. Aku benar-benar lega," ucap Dion dengan memeluk erat sembari mengusap-usap bahu Zoy dan juga mengusap-usap rambut Zoy.
Dan Zoy yang melepas pelukan itu dari Dion dengan melihat ada beberapa luka di wajah Dion.
"Kak Dion tidak apa-apa?" tanya Zoy dengan lembut.
"Aku tidak apa-apa sama sekali. Bagaimana dengan kamu. Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Dion.
"Aku tidak apa-apa. Makasih kak sudah membantuku hari ini," ucap Zoy lagi.
"Sama-sama Zoy," sahut Dion.
"Ya sudah sekarang kita pulang yuk!" ajak Zoy. Dion menganggukkan kepalanya dan saat Zoy berjalan Zoy melihat bajunya yang tiba-tiba merah dan Zoy langsung kaget dengan bajunya penuh dengan darah dan langsung melihat ke arah Dion yang mana melihat kearah Dion.
Zoy begitu terkejut dengan matanya yang melotot saat melihat perut Dion yang terdapat noda darah yang di pastikan Dion telah terluka senjata tajam.
"Kak Dion!" pekik Zoy yang langsung kembali mendekati Dion dan melihat luka di perut Dion luka tusukan.
"Ya ampun kak Dion. Kakak terluka!" pekik Zoy dengan wajah paniknya yang terkejut luka parah itu.
"Aku tidak apa-apa Zoy," sahut Dion yang masih merasa baik-baik aja yang padahal wajah Dion sudah mulai pucat.
"Baik-baik aja bagaimana kak, kakak itu tidak baik-baik aja," sahut Zoy dengan paniknya.
"Luka kak Dion harus di obati, ayo kerumah sakit!" ajak Zoy begitu mengkhawatirkan Zoy dan langsung menarik tangan Dion yang tidak tau Zoy akan membawa Dion kerumah sakit dengan apa. Apa dengan mobilnya yang mogok dan Dion sendiri tidak tau kenapa bisa ada di sana dan naik apa Dion. Mungkin saja juga naik mobil.
__ADS_1
*********
Hujan deras membasahi bumi. Hujan yang di dampingi dengan suara petir yang lumayan takut. Ternyata Zoy dan Dion bukan kerumah sakit melainkan masih berada di dalam mobil yaitu mobil Zoy yang mogok.
"Aku akan coba mengobati luka kak Dion," ucap Zoy dengan panik namun harus tenang dan mengeluarkan kotak P3K yang ada di depan. Sementara Zoy dan Dion duduk di belakang.
"Kak Dion maaf boleh buka bajunya!" ucap Zoy dengan lembut. Dion mengangguk dan membuka pertama jasnya dan kemudian membuka kancing kemeja putihnya satu persatu dan melepas dari tubuhnya yang mana sangat jelas memperlihatkan lukanya yang membuat Zoy merasa ngeri dengan luka Dion.
Dia cukup takut dengan luka dan apa lagi darahnya sangat banyak. Namun dia harus berusaha untuk tenang dan tidak merasa takut pada darah untuk bisa mengobati Dion yang sudah menolong dirinya.
"Zoy jika kamu tidak bisa melakukannya jangan memaksakan diri. Aku tidak apa-apa Zoy," ucap Dion dengan menahan rasa sakit.
"Tidak kak Dion. Tidak ada yang tidak bisa kok. Luka kak Dion harus di obati karena luka kak Dion semakin parah. Kita tidak bisa kerumah sakit. Jadi tidak apa-apa Zoy akan melakukannya. Kak Dion jangan khawatir Zoy pasti bisa kok," ucap Zoy dengan menghela napasnya yang berusaha untuk tenang dengan apa dan berkali-kali menarik napasnya dan membuangnya perlahan kedepan dan langsung mengobati Dion yang di mulai dengan membersihkan darah pada luka itu.
"Auhhhh!" Dion sudah kesakitan aja saat lukanya di sentuh oleh Zoy.
"Maaf kak Dion, pasti sakit ya," ucap Zoy yang merasa tidak enak dan takut salah dalam mengobati Dion.
"Tidak apa-apa Zoy, lanjut aja," sahut Dion. Zoy menganggukkan kepalanya dan lebih pelan-pelan lagi mengobati Dion.
Zoy ini tipe wanita yang banyak takutnya, takut petir, takut darah, apa lagi melihat luka separah itu pasti Zoy bergetar dengan penuh ketakutan. Namun ternyata tidak dia sekarang jauh lebih tenang dalam mengobati Dion dan bahkan sangat lembut dan Dion sepertinya sudah tidak merasakan sakit lagi sampai Dion hanya memperhatikan Zoy saja yang tidak henti-hentinya menatap wajah cantik Zoy yang sangat tenang. Namun masih terlihat begitu panik.
"Kamu kenapa bisa ada di sini Zoy?" tanya Dion dengan suara seraknya yang begitu pelan.
"Aku tadi mau kepernikahan Indri dan Reyhan. Mama dan yang lainnya sudah pergi terlebih dahulu. Aku tadi kelamaan jadi makanya datangnya belakangan. Tetapi mobilku tiba-tiba bermasalah. Makanya aku bisa mengalami hal ini," jawab Zoy dengan apa adanya sembari terus mengobati Dion.
"Kak Dion sendiri kenal bisa ada di sini?" tanya Zoy melihat Dion sebentar.
"Jawabannya hampir sama Zoy. Tapi aku sudah pulang dari tempat Reyhan dan Indri. Kau tadi naik Taxi dan tiba-tiba aku mengenali mobilmu yang berhenti di pinggir jalan. Aku yang penasaran langsung menyuruh supir Taxi untuk berhenti dan ternyata aku tidak menemukan mu di dalam mobil. Dan aku mencarimu dan menemukanmu yang sedang di ganggu orang-orang itu," jawab Dion dengan penjelasan.
"Dan kak Dion tidak mengatakan apa-apa yang padahal kak Dion sudah terluka seperti ini," ucap Zoy dengan menatap nanar Dion yang sangat khawatir dengan Dion.
"Apa kamu mengkhawatirkanku?" tanya Dion.
"Apa itu suatu pertanyaan yang sangat penting untuk di jawab. Kak Dion lihat apa yang terjadi dan bagaimana mungkin aku tidak khawatir dengan kak Dion yang terluka parah seperti ini," ucap Zoy.
"Jadi sungguh kamu mengkhawatirkanku?" tanya Dion yang ingin memastikan lagi dengan menatap Zoy dalam-dalam.
__ADS_1
"Aku sangat mengkhawatirkan kak Dion. Dan apa lagi semua ini terjadi karena hanya menolongku. Jadi mana mungkin aku tidak khawatir pada kak Dion," ucap Zoy apa adanya.
Dion yang menahan sakit yang bersandar pada jok mobil berusaha untuk duduk tegap dengan mendekati Zoy yang mana wajah mereka saling berdekatan dan Zoy memegang pipi Zoy dengan tangannya dengan menatap Zoy dalam-dalam.
"Kamu sungguh mengkhawatirkanku?" tanya Dion dengan menatap dalam-dalam Zoy. Dan Zoy yang dek-dekan menganggukan pekan kepahanya.
"Lalu bagaimana dengan perasaan mu kepadaku Zoy. Kamu belum menjawabnya sama sekali?" tanya Dion yang butuh kepastian atas perasaan itu.
Mendengar hal itu hanya membuat Zoy terdiam yang tidak langsung menjawab pertanyaan itu, "aku tau Zoy begitu banyak kesalahan yang sudah aku lakukan kepadamu. Aku mengabaikan perasaan mu yang bertahun-tahun kepadaku, dari kamu masih remaja sampai sekarang dewasa. Aku tau itu dan seharusnya aku tidak..Mpt....."
Dion tidak melanjutkan kalimatnya saat benda kenyal menempel di bibirnya yang mana Zoy dengan beraninya melakukan hal itu yang mencium Dion dengan lembut dan melepas ciuman itu dengan perlahan dengan matanya dan Dion saling bertemu.
"Aku rasa kak Dion sudah tau bagaimana perasaan ku kepada kak Dion," ucap Zoy yang menjauhkan wajahnya dari Dion dan terlihat selesai mengobati Dion. Namun Dion langsung menarik tangan Zoy dengan tangannya yang langsung memegang pipi Zoy dan langsung mencium bibir Zoy.
Tidak hanya mencium sebentar tetapi mencium dengan dalam dengan penuh perasaan yang membalas ciuman Zoy tadi dan tidak ada penolakan dari Zoy. Zoy sangat menikmatinya dan memejamkan matanya dengan perlahan dan sama-sama menikmati ciuman dengan Dion.
Dion cinta pertama saat dia masih remaja sampai detik ini dan saat itu Zoy tidak bisa berpaling kepada siapapun yang hanya Dion yang ada di hatinya. Yang akhirnya pasangan itu bisa saling mengungkapkan perasaan dan berciuman dengan romantis di dalam mobil di tengah hujan deras.
Tidak lama ciuman yang penuh sensasi itu akhirnya selesai dengan tautan bibir mereka yang saling melepas dengan perlahan dan mata mereka yang sama-sama saling terbuka dengan deru napas mereka yang naik turun.
"Apa kamu sudah menerimaku?" tanya Dion dengan menatap dalam-dalam Zoy dengan tangannya yang masih memegang ke-2 pipi Zoy.
"Iya aku sudah menerima kak Dion kembali untuk mengisi hatiku," jawab Zoy dengan apa adanya.
"Aku sangat mencintaimu Zoy," ucap Dion.
"Aku juga mencintai kak Dion dan kak Dion tau itu. Jika perasaan ku dari dulu sampai detik ini tidak pernah berubah sama sekali," ucap Zoy dengan apa adanya.
"Kalau begitu aku boleh tanya sesuatu?" tanya Dion. Zoy menganggukkan kepalanya.
"Kamu mau menikah denganku?" tanya Zoy yang langsung to the point yang melamar Zoy.
"Kak Dion sungguh!" ucap Zoy. Dion menganggukan kepalanya.
Zoy menganggukan kepalanya dengan tersenyum dan langsung memeluk Dion. Dion padahal merasa sakit pada perutnya. Namun tidak apa-apa jika di peluk rasa sakitnya hilang yang mana dia bahagia dengan momen singkat itu yang mana perasaannya dan Zoy bisa saling menyatu dengan waktu yang cukup panjang.
Bersambung
__ADS_1