
Kayra akan melakukan operasi untuk pasiennya. Namun dia masih terlihat berjalan buru-buru yang seperti mencari seseorang.
"Nah itu dia!" gumam Kayra saat melihat Suster Maya dan Kayra langsung buru-buru menghampiri Suster Maya.
"Maya!" panggil Kayra.
"Kayra," sahut Maya yang menghentikan langkahnya dan terlihat Maya juga sepertinya sangat buru-buru.
"Ada apa Kayra?" tanya Maya.
"Kamu belum jemput Brian ke sekolah?" tanya Kayra.
"Astaga!" Maya menepuk jidatnya yang sepertinya kepikiran sesuatu.
"Ada apa Maya?" tanya Kayra heran.
"Kayra, aku benar-benar lupa dengan Brian. Aku kayaknya tidak bisa, ada pasien yang baru masuk dalam kondisi luka parah. Jadi kita kekurangan perawat karena ada yang masih cuti, jadi aku harus menanganinya," jelas Maya yang bicara sangat buru-buru.
"Jadi karena itu kamu sepanik itu," ucap Kayra.
"Iya benar," sahut Maya.
"Ya sudah sana buruan!" suruh Kayra yang tidak mau pasien juga nantinya kenapa-kenapa. Maya mengangguk dan dia juga langsung buru-buru pergi.
Huf
"Bagiamana ini aku ada Operasi sebentar lagi dan tidak mungkin menjemput Brian," gumam Kayra dengan wajahnya yang penuh dengan kebingungan.
Papanya dan Silvia tidak ada. Dan Kayra mau tidak mau harus bergerak sendiri. Namun pasien juga sangat penting. Apalagi masalah operasinya.
Tiba-tiba Kayra melihat Davin dan Reyhan yang berbicara sambil berjala. Kayra menghela napas kasar dan langsung berjalan menuju Davin dan juga Reyhan.
"Davin!" tegur Kayra membuat Davin dan Reyhan menghentikannya langkah mereka dan melihat ke arah Kayra.
"Ada apa Kayra?" tanya Davin.
"Hmmmm, begini, aku akan melakukan operasi dan tidak bisa di tinggal dan papa, kak Silvia dan Haykal juga pergi dan tadi aku juga menyuruh Suster Maya dan juga tidak bisa karena tiba-tiba ada pasien masuk dan aku...."
"Kayra sebenarnya apa yang ingin kamu sampaikan. Kenapa harus menceritakan aktivitas orang lain. Kamu katakan saja apa yang ingin kamu sampaikan?" tanya Davin yang merasa Kayra berbelit-belit.
Kayra menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan membuat Davin dan Reyhan saling melihat dan masih menunggu jawaban dari Kayra.
"Aku minta tolong kamu. Tolong jemput Brian ke sekolah," ucap Kayra yang kelihatan tidak punya pilihan lain.
Itu sangat mengejutkan untuk Davin. Sampai wajahnya terlihat terkejut, namun langsung tersenyum.
"Jadi hanya mengatakan itu saja. Tetapi kamu sudah bicara panjang lebar yang menjelaskan urusan orang-orang lainnya," sahut Davin dengan tersenyum.
"Kamu apa tidak menjemputnya?" tanya Kayra dengan wajah kesalnya.
"Kamu sudah menyuruh orang, caranya seperti ini lagi," sahut Davin yang tampak sok jual mahal membuat Kayra sebenarnya sangat emosi tingkat dewa.
"Hmmm, tapi baiklah, tidak masalah bagiku untuk menjemputnya. Seharusnya di katakan dari tadi. Kamu tidak perlu gugup seperti itu," ucap Davin dengan tersenyum.
__ADS_1
"Siapa yang gugup. Ya sudah sana jemput Brian. Jangan bawa kemana-mana. Bawa langsung pulang," ucap Kayra yang mengingatkan Davin. Walau Kayra yakin Davin tidak akan melakukan hal itu.
"Baiklah aku akan menjemputnya dan pasti tidak langsung pulang," sahut Davin yang Kayra sudah bisa menebak hal itu.
"Awas aja kalau kau tidak macam-macam padanya," ucap Kayra mengingatkan.
"Kau itu seharusnya penuh dengan ketengan Kayra. Jangan hidup penuh ketakutan, kau Operasi lah. Aku akan menjemputnya," ucap Davin dengan tersenyum yang langsung pergi dari hadapan Kayra.
"Bos saya bagaimana?" tanya Reyhan.
"Kau kerjakan apa yang ku perintahkan!" teriak Davin yang sangat semangat untuk menjemput Brian.
"Haahhhhh," Reyhan hanya menghela napasnya saja dan melihat ke arah Kayra dan Kayra pun langsung pergi yang juga harus secepatnya melaksanakan operasi.
"Ya aku harus mengerjakan apa yang harus aku kerjakan," gumam Reyhan yang memijat kepalanya.
**********
Setelah selesai dengan semua pekerjaannya di rumah sakit. Kayra pun pulang. Tadi Brian tidak datang kerumah sakit. Karena banyak tugas sekolah yang harus di selesaikannya dan ternyata Davin menemaninya dan bahkan saat Brian melakukan Vidio Call pada Kayra melalui handphone Davin.
Davin tau Kayra pasti khawatir dan akan berpikiran yang aneh-aneh. Jadi Davin menghubungi Kayra yang mengatakan Brian ada do Apartemen dan memang sedang sibuk dengan tugas-tugasnya. Kayra merasa lega dan bisa bekerja dengan tenang dan begitu selesai Kayra langsung pulang kerumahnya.
pintu terbuka silahkan masuk.
Saat pintu Apartemen terbuka bertepatan Davin yang menyusun buku-buku Brian yang ada di meja.
"Kamu masih di sini?" tanya Kayra yang memasuki Apartemen menghampiri Davin.
"Brian di mana?" tanya Kayra.
"Dia sudah tidur," jawab Davin. Kayra langsung memasuki kamar anaknya dan melihat anaknya yang memang sudah tertidur dan Kayra menghampiri ranjang itu dengan menghela napasnya.
"Mama pulang sayang," lirih Kayra mencium lembut kening Brian dan Davin melihat dari luar hal itu yang memang pintunya tidak di tutup Kayra.
Setelah selesai mengecek putranya. Kayra kembali keluar dari kamar dan menutup pintu kamar dan melihat Davin yang sekarang terlihat berada di meja makan.
"Kamu makanlah, tadi aku sama Brian pesan makanan dan Brian meminta untuk mengisahkan untukmu dan dia juga ingin menunggumu untuk makan bersamanya. Tetapi kamu pulangnya kemalaman. Jadi makanlah," ucap Davin dengan lembut yang menyiapkan makanan itu.
"Aku tadi menggantikan Dokter yang tiba-tiba ada urusan. Jadi makanya pulangnya larut," sahut Kayra yang seperti seorang istri yang harus menjelaskan pada suaminya. Hal itu hanya spontan saja di lakukannya.
"Ya sudah makanlah!" ucap Davin.
"Tidak usah nanti saja," sahut Kayra.
"Brian memikirkanmu dan kamu malah tidak peduli dengan makanan yang sengaja di simpannya untukmu. Karena dia tau mamanya belum makan," ucap Davin membuat Kayra terdiam.
"Aku bersih-bersih sebentar. Baru makan setelah itu," sahut Kayra.
"Baiklah," sahut Davin. Dan Kayra pun langsung pergi memasuki kamarnya. Badannya juga terasa sangat lengket dan mungkin lebih enak makan dalam keadaan bersih.
Tidak lama Kayra keluar dari kamar yang sudah bersih-bersih dengan pakaian tidurnya dan Davin sendiri masih berada di Apartemennya yang sekarang sedang duduk di kursi meja makan.
"Ayo makan!" ajak Davin. Kayra mengangguk dan duduk di depan Davin.
__ADS_1
Makanan itu adalah makanan kesukaan Kayra, ayam bakar madu yang sengaja di pesankan Brian untuk mamanya.
"Apa tugas Brian tadi banyak?" tanya Kayra dengan meneguk segelas air putih yang di siapkan Davin untuknya.
"Tidak terlalu banyak," jawab Davin.
"Makasih sudah menjemputnya dan juga sudah mengantarnya pulang dan menemaninya," ucap Kayra.
"Bukannya memang itu adalah tugasku," sahut Davin membuat Kayra melihat kearahnya. Davin memang yakin Brian anaknya. Tetapi tidak mendapat pernyataan dari Kayra rasanya sama saja.
"Jangan membuat mood makanku tidak selera," sahut Kayra dengan ketus.
"Oke makanlah. Aku akan menunggumu untuk siap mengatakannya," sahut Davin dan Davin mendapat tatapan horor lagi dari Kayra.
"Baik Kayra makanlah!" sahut Davin yang tidak mau mencari gara-gara dengan Kayra.
"Selalu saja bicara dengan seenaknya," desis Kayra yang akhirnya makan di depan Davin dan Davin hanya memperhatikan Kayra makan.
"Memang mama kamu tidak bisa pesan .akan sendiri?" tanya Davin pada Brian saat Brian memintanya memesankan untuk Kayra.
"Bisa Om. Tetapi mama pasti akan lupa. Mama kalau sudah pulang pasti capek dan mau tidur. Pasti makan akan lupanya. Makanya kakek terus marah sama mama yang tidak pernah makan teratur. Padahal kan Dokter. Dokter kan mana boleh seperti itu," ucap Brian.
"Apa mama sering seperti itu?" tanya Davin penasaran.
"Sangat sering Om. Kalau kakek tidak di rumah ya sudah mama pasti tidak akan terawat makannya. Kalau saja Brian bisa memasak. Brian akan terus memasak, biar mama pulang kerja akan makan," ucap Brian.
Davin mengingat perkataan Brian membuat Davin terus memperhatikan Kayra yang terlihat sangat lelah.
"Kau benar-benar banyak berubah Kayra," batin Davin yang terus melihat Kayra sampai Kayra akhirnya melihatnya.
"Kenapa kau melihatku seperti itu?" tanya Kayra dengan mengkerutkan dahinya yang membuat Davin tersentak kaget.
"Oh tidak apa-apa," sahut Davin salah tingkah.
"Lalu ngapain masih di sini. Kenapa tidak pulang?" tanya Kayra mengusir secara halus.
"Baiklah, aku akan pulang," sahut Davin menghela kasar napasnya yang berdiri dari tempat duduknya yang terlihat sangat berat untuk pulang.
"Aku pulang!" ucap Davin pamit.
"Hmmm," Kayra hanya menjawab dengan deheman.
"Salam untuk Bria," ucap Davin yang sengaja mengulur waktu.
"Iya," sahut Kayra ketus.
"Ya sudah aku pulang dulu!" ucap Davin lagi.
"Mau berapa kali mengatakannya," sahut Kayra lama-lama kesal.
"Oke baik ini yang terakhir permisi!" Davin tersenyum dan langsung pergi. Kayra hanya gelang-gelang saja melihat kelakuan Davin.
Bersambung
__ADS_1