
Kayra berdiri di taman panti asuhan di atas jembatan kecil yang ada kolam ikan di bawanya. kayra melihat indahnya bulan di atas sana dengan bintang yang menemani bukan. Tiba-tiba sebuah jas menutup tubuhnya yang siapa lagi jika bukan Davin yang tidak ingin istrinya kedinginan. Davin juga memeluknya dari belakang dengan erat.
" Apa kamu tidak lelah hari ini?" tanya Davin dengan mengusap-usap lembut perut rata Kayra.
" Tidak. Hal ini sangat menyenangkan. Jadi mana mungkin aku merasa lelah," jawab Kayra dengan tersenyum. Davin menempelkan pipinya pada Kayra dengan semakin mengeratkan pelukannya.
" Bagaimana dengamu apa kamu bahagia dengan mengikuti kegiatan ku hari ini?" tanya Kayra.
" Aku sangat bahagia!" jawab Davin apa adanya.
" Aku tidak pernah mendapatkan semua ini dan sekarang aku benar-benar bahagia," lanjut Davin mengutarakan isi hatinya. Kayra tersenyum lebar dan membalikkan tubuhnya menghadap Davin dengan Davin memeluk pinggangnya. Agar Kayra lebih dekat lagi kepadanya.
Davin membelai-belai rambut Kayra, dengan menyinggir- nyinggirkan anak rambut itu dari wajah cantik istrinya.
" Terima kasih Davin kau sudah menepati janjimu untuk menjanjikan kebahagiaan untukku," ucap Kayra dengan tersenyum terharu yang memegang pipi Davin.
" Aku tidak melakukan apa-apa kepadamu," jawab Davin.
" Sangat banyak yang kamu lakukan untukku dan aku tidak bisa mengatakan satu persatu dan pasti aku akan berusaha semampuku untuk membalas semua kebaikan kamu," ucap Kayra.
" Jangan berusaha untuk melakukan apapun. Itu tidak perlu Kayra. Aku tidak membutuhkan balasanmu. Seperti yang aku katakan. Aku hanya membutuhkan dirimu ada di sisiku," ucap Davin.
" Kalau itu pasti akan aku lakukan," jawab Kayra yang mencium pipi Davin. Davin tersenyum mendapat ciuman lembut itu.
Dan dia membalasnya dengan mengecup bibir Kayra.
" Aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu," ucap Davin dengan lembut dengan suara seraknya yang menatap dalam-dalam Kayra.
" Apa?" tanya Kayra yang sangat menunggu apa yang di katakan Davin.
" Bos Davin!" tiba-tiba Reyhan datang yang mengganggunya keromantisan mereka berdua. Davin berdecak kesal dengan kedatangan Reyhan selaku jadi perusuh.
" Ada apa? kau itu mengganggu saja," ucap Davin dengan kesal dan Kayra hanya tersenyum saja melihat wajah Davin yang begitu kesal.
" Maaf bos. Nyonya Elishabet sedang menunggu di rumah," jawab Reyhan yang menunduk takut-takut.
" Hanya itu saja. Apa harus kau katakan sekarang. Nanti juga bisa," sahut Davin kesal.
" Maaf bos. Tetapi nyonya sejak tadi terus menelpon," sahut Reyhan.
__ADS_1
" Alasan saja. Bilang aja kau itu tidak suka melihatku bersenang-senang," sahut Davin kesal.
" Bos juga salah bersenang-senang di tempat umum, seharunya di dalam kamar bos," sahut Reyhan yang mulai berani dengan Davin.
" Apa kau bilang. Berani sekali kau mengajariku," ucap Davin kesal.
" Davin sudah!" cegah Kayra melihat Davin ingin menjitak kepala Reyhan.
" Kamu ini cepat sekali marahnya. Ya sudah sekarang kita pulang secepatnya. Lagian ini juga sudah malam siapa tau Oma ingin bicara serius dengamu," ucap Kayra menenagkan suaminya yang penuh kekesalan itu.
" Hmmm, ya sudah. Ayo kita pulang!" ajak Davin yang akhirnya bisa meredahkan emosinya untuk tidak marah-marah pada Reyhan.
" Awas saja kalau kau menggangguku lagi. Selesai kau!" ancam Davin sebelum dia pergi. Reyhan harus mengusap dadanya dengan apa yang di katakan Davin. Maklum Davin lagi bucin- bucinnya dan sangat kesal kalau ada yang mengganggunya.
*********
Kayra dan Davin sudah sama-sama pulang kerumah dan bahkan. Oma tidak hanya ingin bicara dengan Davin. Dia juga mengumpulkan keluarga yang terlihat ingin berbicara serius.
Davin, Kayra, Altarik, Mesya, Zoy, Giselle dan Lian sedang berkumpul di ruangan keluarga.
" Ada apa Oma. Kenapa memanggil aku dan Kayra kemari?" tanya Davin heran.
" Oma mengeluarkan map tebal berwarna hitam yang membuat semua orang heran. Dan tidak lama Dion juga datang yang terlihat membawa map juga yang membuat orang-orang penasaran.
Hal itu mengejutkan semua orang dan termasuk Mesya yang begitu terkejutnya sampai matanya melotot yang hampir ingin keluar.
" Maksud Oma apa?" tanya Davin yang merasa salah dengar dengan apa yang di katakan Omanya.
" Oma dan papa kamu sudah membicarakan masalah ini dengan serius dan ini sudah waktunya untuk menyerahkan Perusahaan utama ke tangan kamu. Karena kamu juga sudah menikah dengan wanita pilihan kamu dan apa lagi. Istri kamu juga sedang hamil dan Perusahaan utama akan di resmikan menjadi atas nama kamu dalam waktu dekat ini," jelas Oma yang membuat Davin semakin tidak percaya dan Davin melihat ke arah Kayra. Kayra tersenyum yang pasti bahagia dengan Davin mendapatkan apa keinginannya selama ini.
" Sial, kenapa semua secepat itu. Jika semuanya milik Davin. Lalu Lian akan mendapatkan apa dan mas Altarik bisa-bisanya sudah membicarakan hal itu dengan Oma tanpa sepengetahuan ku, arghh sial!" umpat Mesya di dalam hatinya yang kebakaran jenggot.
" Sia-sia semuanya. Aku bahkan tidak bisa memisahkan hubungan Kayra dan Davin dan sekarang Perusahaan sudah menjadi milik Davin. Semua rencanaku berantakan," batin Lian yang juga tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.
" Mah, apa ini tidak terlalu buru-buru," sahut Mesya yang masih berusaha untuk mencegah pengalihan itu.
" Tidak ada yang buru-buru. Ini sudah keputusan mutlak dan Davin sudah seharusnya mendapatkan semua hak ini," ucap Oma Elishabet memutuskan.
" Dion kamu siapkan notaris dan juga data-data dan dokumen-dokumen untuk pengalihan ini. Kami mempercayai kamu dan semoga kamu bisa mengerjakannya secepatnya. Media juga harus tau semua ini," sahut Altarik memberikan perintah.
__ADS_1
" Baik pak," sahut Dion dengan mengangguk.
Jantung Mesya terlihat mau copot dengan pernyataan yang mengejutkan yang di dengarnya hari ini sungguh itu tidak mungkin dan tidak dapat di percaya.
" Baiklah Oma rasa semuanya sudah selesai dan semuanya yang ada di sini sudah tau apa yang Oma ingin sampaikan. Jika Perusahaan utama akan jatuh pada Davin," tegas Oma sekali lagi. Masya, Lia dan Giselle terlihat tidak menyukai hal itu dan pasti mereka tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
Sementara Davin dan Kayra sama-sama tersenyum dengan tangan Davin menggenggam tangan Kayra. Pasti Davin begitu bahagia dengan apa yang telah di dapatkannya.
" Masalah ini sudah selesai. Kalian bisa kembali kekamar kalian masing-masing," ucap Oma yang langsung berdiri dan langsung pergi.
" Ayo Kayra!" ajak Davin. Kayra mengangguk dan menyusul untuk pergi. Dion dan Zoy juga terlihat pergi.
" Kenapa papa tidak membicarakan semua ini kepada mama terlebih dahulu?" tanya Mesya.
" Benar pah. Papa seperti tidak punya istri saja. Masa iya mama harus tau baru saat ini," sahut Giselle dengan kesal.
" Apa yang kalian bicarakan. Bukannya kalian semua sudah tau apa yang terjadi. Kalian semua sudah tau. Jika Davin memang akan menjadi pewaris dan Oma hanya menundanya saja dan apa perlu lagi papa harus membicarakan ini kepada kalian lagi," sahut Altarik.
" Ya apapun ini tidak bisa secepat ini lah. Bagaimana dengan Lian dan yang lainnya. Anak mu bukan hanya Davin," sahut Mesya yang benar-benar protes dengan semua keputusan itu.
" Mesya. Bukan aku yang mengatur semuanya. Tetapi mama dan mama pasti tau apa yang terbaik," tegas Altarik.
" Dan semua yang terbaik hanya untuk Davin. Lalu yang lain tidak. Apa anak-anakku tidak akan mendapatkan keadilan?" tanya Mesya dengan emosinya yang semakin naik.
" Apa yang kamu bicarakan Mesya," sahut Altarik menguatkan suaranya.
" Semuanya sudah jelas. Jika hanya Davin yang di utamakan di rumah ini. Dan Lian, Zoy atau Giselle seolah tidak di anggap sama sekali," sahut Mesya dengan kesalnya.
" Kamu salah paham. Mama tau yang terbaik dan untuk mereka ber-3 Oma sudah menyiapkan semuanya," tegas Altarik.
" Tetapi kenapa tidak sebanyak Davin. Tidak seperti Davin," sahut Mesya.
" Kamu ini kenapa sih Mesya. Kenapa sekarang kamu itu pikirannya aneh-aneh. Apa kamu pikirnya semuanya hanya berupa harta. Apa itu yang di kejar," ucap Altarik.
" Lalu Davin bagaimana. Kamu bisa melihat sendiri apa yang terjadi, pernikahannya dan semua Drama yang di ciptakannya. Apa kamu pikir tidak untuk semua harta hah! kamu jelas-jelas melihat permainannya untuk mendapatkan semuanya. Namun apa kalian masih memberikannya Perusahaanmu," teriak Mesya kehilangan kesabarannya.
" Cukup!" bentak Altarik.
" Mah sudahlah mah," Giselle mencoba untuk menenangkan mamanya.
__ADS_1
" Aku tidak percaya. Jika jalan pikiran kamu seperti ini, aku kesewa dengan apa yang kamu lakukan!" tegas Altarik yang langsung berdiri dari tempat duduknya meninggalkan iatrinya yang penuh kemarahan. Karena protes masalah pengalihan pada Davin.
Bersambung