Pernikahan Dalam Ikatan Surat Kontrak.

Pernikahan Dalam Ikatan Surat Kontrak.
Bab 208


__ADS_3

Kayra pun langsung memeriksa kondis Davin dengan menggunakan steteskop. Kayra membuka kancing kemeja Davin dan melihat kulit Davin merah-merah, Kayra juga memeriksa di bagian leher Davin di mana kulitnya memang memerah.


"Davin apa yang kamu makan. Kenapa kau bisa alergi seperti ini," ucap Kayra panik saat mengetahui jika Davin mengalami gejala alergi dari panas dan perubahan kulit yang berubah.


"Mama ini airnya," sahut Brian yang pelan-pelan memasuki kamar membawa segelas air.


"Brian mama sudah bilang suruh bibi kenapa Brian yang bawa. Bagaimana jika tidan tumpah," ucap Kayra.


"Maaf mah. Tetapi Brian hanya ingin cepat-cepat takut papa kenapa-kenapa," jawab Brian.


"Ya sudah berikan pada mama airnya," sahut Kayra. Brian mengangguk dan langsung memberikannya pada Kayra.


"Bantu mama pegang kepala papa!" ucap Kayra. Brian menurut dan langsung mengangkat kepala Davin agar Davin bisa minum.


"Davin minumlah dulu!" ucap Kayra memberi minum dengan perlahan walau Davin tidak bangun sama sekali.


"Papa kenapa mah?" tanya Brian yang kembali merebahkan kepala Davin di atas bantal.


"Papa alergi. Mama juga tidak tau apa yang di makan papa," jawab Kayra.


"Lalu bagaimana? apa papa akan sembuh?" tanya Kayra.


"Jangan khawatir sayang papa pasti akan sembuh," jawab Kayra.


"Syukurlah kalau begitu," sahut Brian.


"Ya sudah mah. Brian keluar dulu ya. Kalau mama butuh apa-apa panggil Brian ya. Jangan lupa rawat papa sampai sembuh," ucap Brian berpesan pada mamanya. Kayra hanya mengangguk saja dan Bria pun buru-buru keluar dari kamar.


Tinggal Davin dan Kayra yang ada di dalam kamar. Di mana Kayra kembali memeriksa Davin.


Saat memeriksa Davin Kayra melihat ke sekitar kamar tersebut yang sama sekali tidak pernah berubah. Bahkan masih ada foto pernikahannya dengan Davin yang terpajang di dingding.

__ADS_1


Kayra menghela napas dengan turun dari ranjang menuju lemari. Kayra ingin mengambil pakaian ganti Davin. Namun lagi-lagi Kayra di perlihatkan pakainnya yang masih tersusun rapi di sana membuatnya kembali menghela napasnya dan mengambil pakaian Davin.


Kayra kembali ke atas ranjang dan membuka satu persatu kemeja Davin.


"Aku harus mengganti pakaian mu," ucap Kayra dengan lembut. Davin yang setengah sadar hanya mengeluarkan suara pelan yang mungkin menyadari ada orang di dekatnya.


Kayra melepas pakaian yang di pakai Davin dan mengambil handuk kecil yang di bilas dengan air hangat dan langsung melap tubuh Davin terlihat memerah akibat alergi yang di alaminya.


Kayra dengan lembut melap tubuh polos tersebut yang sebenarnya Kayra sangat gemetar. Karena setelah sekian lama ini pertama kali dia melihat tubuh itu lagi. Tubuh kekar Davin dengan dada kotak-kotak. Kayra sangat gugup melakukan hal itu yang padahal dia seorang Dokter dan pasti sudah sangat biasa baginya. Namun karena Davin wajar dia gugup.


Tiba-tiba di tengah pekerjaannya. Pergelangan tangan Kayra di genggam membuat Kayra langsung melihat siapa yang memegangnya dan siapa lagi jika buka Davin yang sudah bangun dengan matanya yang terbuka sipit.


"Kamu ada di sini?" tanya Davin dengan suara seraknya yang begitu lemas.


"Brian menelponku dan mengatakan kamu sakit, kamu mengalami alergi," jawab Kayra dengan lembut.


"Apa yang kamu makan. Kenapa bisa sampai seperti ini?" tanya Kayra.


"Aku akan membersihkan dulu, kamu harus ganti baju dan setelah itu minum obat," ucap Kayra. Davin menganggukkan dengan matanya dan Kayra kembali melanjutkan pekerjaannya.


Kehadiran Kayra membuat Davin sepertinya jauh lebih baik. Dia sebenarnya sangat lemas dan ingin kembali memejamkan matanya. Namun melihat Kayra ada di dekatnya sangat sayang jika Davin tidak melihat wajah yang sangat jelas mengkhawatirkan dirinya.


Sementara di depan pintu Zoy dan Brian sedang mengintip Kayra dan Davin.


"Apa Tante yakin akan berhasil?" tanya Brian melihat ke arah Zoy.


"Pasti berhasil Brian. Kamu lihat mama kamu sangat perhatian pada papa kamu. Jadi pasti akan berhasil," jawab Zoy dengan yakin.


Brian dan Zoy terus melihat Kayra dan Davin yang sekarang Kayra membantu Davin memakaikan pakaian Davin dengan kaos putih. Di mana Davin terus saja memperhatikan wajah Kayra dan pasti Kayra sangat gugup.


Setelah selesai memakaikan pakaian tersebut Davin bersandar pada kepala ranjang dengan wajahnya yang sangat lemas.

__ADS_1


"Bagaimana perasaan mu?" tanya Kayra dengan memegang kening Davin dengan punggung tangannya.


"Aku baik-baik saja. Aku sudah tidak apa-apa, aku merasa jauh lebih enakan sekarang, karena ada kamu di sini," jawab Davin menatap Kayra dengan intens.


"Merah-merahnya akan segera hilang. Sekarang kamu minum obat biar besok kondisi kamu jauh lebih baik," ucap Kayra. Davin mengangguk dengan menuruti saja apa yang di katakan Kayra.


Kayra yang duduk di samping Davin langsung memberikan Davin sebutir pil dan Davin langsung menelannya dan meminum air hangat yang di berikan Kayra.


"Kondisi kamu pasti akan lebih baik, kaku istirahatlah," ucap Kayra. Davin mengangguk lagi.


Kayra meletakkan gelas di atas nakas, "aku pulang dulu. Kamu langsung tidur saja," ucap Kayra yang berdiri dari tempat duduknya. Namun belum sempat Kayra berdiri Davin menahan pergelangan tangannya dan langsung mencium bibir Kayra dengan memegang ke-2 tengkuk Kayra yang membuat Kayra shock.


Zoy dan Brian yang masih mengintip langsung menutup mata Brian. Hal seperti itu tidak pantas di perlihatkan pada anak kecil.


"Kenapa Tante?" tanya Brian.


"Shutttt," jawab Zoy dan menutup pintu perlahan. Sebelum mereka berdua menjadi perusak moment yang sangat manis itu.


Davin melepas ciuman itu dan saling menatap dengan Kayra, melihat wajah Kayra yang terlihat sangat terkejut.


"Apa yang kau lakukan Davin?" tanya Kayra dengan suara seraknya.


"Kayra aku tau kau sedang mengkhawatirkanku. Kau sangat gugup saat di dekatku Kayra. Begitu juga aku. Jadi tetaplah di sini. Jangan pergi. Tetaplah bersamaku walau hanya malam ini saja. Aku mohon," ucap Davin dengan suara seraknya dan wajahnya yang terlihat sangat memohon kepada Kayra.


Kayra tidak menjawab apa-apa dan tetap saling menatap dengan Davin. Pandangan mata Davin kembali turun pada bibir Kayra dan langsung mencium kembali Kayra, menautkan bibirnya kembali dalam sebuah ciuman yang perlahan. Namun sangat menuntut.


Tidak ada penolakan dari Kayra. Bahkan Kayra memejamkan matanya yang membuat Davin semakin memperdalam ciumannya. Mungkin itu juga sekalian melepas kerinduan selama ini kepada Kayra.


Rindu dengan penuh dengan rasa bersalah. Dan Kayra sendiri juga tidak bisa menolak seakan dia juga merasakan hal yang sama yang juga penuh dengan kerinduan. Namun pasti tidak mudah bagi Kayra menyimpulkannya mengingat dia juga tidak ingin terluka untuk yang ke-2 kalinya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2