Pernikahan Dalam Ikatan Surat Kontrak.

Pernikahan Dalam Ikatan Surat Kontrak.
Bab 70 Menangis di pelukannya


__ADS_3

Kayra menunggu Davin di dalam mobil yang terparkir di depan gedung tinggi pencakar langit. Dia memang memilih untuk menunggu di sana saja dari pada harus mengikuti Davin. Karena dia juga tidak tau mau ngapain ikut yang paling Davin hanya membicarakan bisnisnya dengan klien di dalam sana.


Kayra terlihat membuang napasnya dengan panjang kedepan, " apa yang harus aku lakukan lagi. Bagiamana caranya bicara dengan Pak Aldo agar dia tidak menggunakan alat untuk mengeluarkan ku dari Perusahaan. Aku juga tidak mungkin mengatakan hal ini kepada Davin yang kemungkinan pasti Davin akan marah dan tidak tau apa lagi yang akan terjadi nantinya," batin Kayra yang kebingungan mencari alasan pada Aldo atasannya di Perusahaan.


" Padahal Pak Aldo sudah memberiku cuti dan bahkan aku tidak pernah cuti sebelumnya dan bukankah seharusnya cuti ini adalah hak ku. Kenapa tiba-tiba Pak Aldo harus terkesan memaksa. Memang iya ini demi karirku dan demi semua kebaikan ku. Tetapi tidak harus memaksa ku," Kayra hanya berbicara sendiri dengan memijat pangkal hidungnya.


" Papa juga ada di sini. Davin ada benarnya juga aku bisa-bisanya meninggalkan papa hanya karena suatu hal yang tiba-tiba mendesak. Itu sama saja aku menghilangkan kesempatan yang begitu banyak," ucap Kayra dengan wajahnya yang penuh dengan kebimbangan.


" Huhhhhhhh, entalah nanti saja di pikirkan. Kepalaku bisa bertambah sakit nantinya," ucapnya geleng-geleng kepala yang tidak mau memikirkan hal itu lagi.


*********


Setelah menyelesaikan urusan Davin dengan Reyhan akhirnya Davin pun kembali ke mobil. Dia memang tidak lama. Hanya sebentar saja sesuai dengan apa yang di katakannya dengan Kayra sebelumnya tadi.


Setelah melakukan perjalanan yang singkat. Akhirnya mereka sampai rumah sakit. Karena memang dekat yang hanya tinggal menyebrang saja.


Mereka pun memasuki rumah sakit dengan langkah yang sejajar. Untung saja ke-2nya sudah baikan. Jadi tidak saling *** lagi.


Namun tiba-tiba ada beberapa suster yang berlarian dari belakang dan juga terlihat Dokter yang ikut berlari membuat Davin dan Kayra sama-sama heran melihat suster dan Dokter yang ternyata memasuki salah satu ruangan perawatan dan yang tak lain itu adalah ruangan Aris, Papa Kayra.


" Kenapa mereka masuk kamar papa?" tanya Kayra mendadak panik.


" Aku tidak tau Kayra," jawab Davin yang juga memang tidak tau dan malah ikutan panik seperti Kayra.


" Apa terjadi sesuatu sama papa?" tanya Kayra yang mulai cemas.


" Entahlah," sahut Davin yang memang tidak bisa menjawab apa-apa. Karena memang tidak tau juga yang terjadi. Dan di detik berikutnya Dokter Han pun datang dengan berjalan terburu-buru.


Dokter Han terlihat datang dengan buru-buru dan Davin langsung menghentikan langkah Dokter Han dengan memegang lengan tangan Dokter Han.


" Dokter apa yang terjadi? ada apa dengan Pak Aris?" tanya Davin panik.


" Iya Dokter. Papa saya kenapa apa yang terjadi kenapa para suster banyak yang masuk kesana. Ada apa Dokter sebenarnya?" tanya Kayra yang semakin panik.


" Tuan Davin dan nona Kayra tenang dulu. Saya periksa dulu sebentar pak Aris. Karena saya juga tidak apa yang terjadi, jadi mohon menunggu sebentar ya," jawab Dokter Han yang sedikit memberikan ketenangan.


" Baik Dokter," sahut Davin.


Dokter pun langsung pergi ke ruang perawatan Aris untuk memeriksa kondis Aris.


" Papa," lirih Kayra yang semakin panik dan berlari menyusul Dokter untuk memasuki ruangan itu yang ingin melihat kondisi papanya.


" Kayra!" panggil Davin yang akhirnya mengejar Kayra.


Saat Kayra tiba di depan ruangan itu. Kayra yang langsung ingin masuk. Namun suster menghalanginya dan Kayra tetap memaksa yang ingin mengetahui keadaan papanya yang harus saling berhadapan dengan Suster.


" Papa, papa!" teriak Kayra yang ingin masuk yang melihat Dokter sedang memompa jantung Aris membuat Kayra semakin panik dengan air matanya yang sudah mengalir deras menangisi papanya.

__ADS_1


Davin langsung menghampiri Kayra dan berusaha untuk menenangkan Kayra yang histeria menangis dan bahkan Davin menarik Kayra dari suster yang berusaha menghalanginya masuk. Setelah Davin berhasil melakukan hal itu. Suster langsung menutup pintu.


" Pa! papa!" teriak Kayra yang masih berusaha untuk melihat ke adaan papanya.


" Kayra, tenanglah! kamu harus tenang papa tidak akan apa-apa," ucap Davin yang menarik Kayra membawanya kedalam pelukannya yang merasakan tubuh Kayra yang penuh dengan ketakutan yang terus meronta ingin masuk kedalam.


" Papa Davin, apa yang terjadi pada papa. Kenapa papa seperti itu. Apa yang terjadi pada papa, aku harus masuk aku melihat ke adaan papa. Apa yang terjadi pada papa Davin," ucap Kayra menangis di dada bidang Davin. Davin mengusap-usap rambut Kayra untuk memberikan Kayra ketenangan.


" Tidak akan terjadi apa-apa. Percaya padaku. Kamu tenanglah," ucap Davin.


" Tidak mungkin papa tidak apa-apa. Aku melihat papa seperti itu. Aku takut terjadi sesuatu pada papa," ucap Kayra yang terus menangis Haris.


" Kita berdoa saja. Semoga papa tidak apa-apa. Kamu harus percaya padaku. Biar Dokter yang mengurusnya," ucap Davin yang hanya bisa mengatakan itu. Supaya Kayra tidak khawatir.


Kayra memang semakin panik ketika melihat nyata kondisi papanya yang begitu parah. Biasanya jika sudah berhubungan dengan pompa jantung kondis pasien pasti semakin parah. Dan hal itu yang di takutkan Kayra.


" Apa yang terjadi dengan pak Haris kenapa tiba-tiba dia seperti itu. Bukannya sebelumnya dia tidak apa-apa. Kenapa mendadak parah. Kayra pasti tidak bisa tenang. Aku bisa merasakan dia begitu ketakutan kehilangan pak Aris," batin Davin yang ikut-ikutan khawatir.


Jelas dia khawatir. Apa lagi melihat Kayra yang seperti itu. Davin sendiri juga tidak bisa melakukan apa-apa dan bahkan tidak tau apa-apa. Dia sama seperti Kayra yang memang sebelumnya Aris tidak apa-apa dan dia juga terus bersama Kayra dan baru kali ini kerumah sakit dan semalam juga sudah ke rumah sakit.


*********


Dokter terus menangani Aris. Dan Kayra dan Davin menunggu di luar di mana mereka duduk di salah satu bangku di dekat ruangan itu. Karya terus mengusap wajahnya yang terlihat panik dan bahkan air matanya terus saja keluar.


" Kayra!" lirih Davin dengan lembut memegang bahu Kayra sembari mengusap-usapnya. Davin juga sedikit menunduk agar bisa melihat wajah Kayra yang menunduk dengan ke-2 sikut tangannya menyentuh pahanya m


" Kamu harus bersabar," ucap Davin dengan lembut. Kayra mengangguk-angguk yang memang harus tenang dan percayakan semuanya pada Dokter.


Dratttt, Dratttt, Dratttt. Tiba-tiba ponsel Davin berdering dan Davin langsung mengeluarkan dari saku jasnya dan melihat panggilan masuk dari Pricilla.


Davin melihat Kayra yang ternyata Kayra sudah melihat panggilan masuk itu. Dan Kayra langsung menyeka air matanya. Yang tidak ada waktu untuk marah, cemburu atau bersikap seperti apa di depan Davin. Karena panggilan masuk yang tak kunjung di angkat Davin.


Dan untuk menjaga perasaan Kayra Davin lebih memilih untuk mematikan panggilan itu dan mengembalikan handphone ke dalam sakunya.


" Kenapa tidak mengangkatnya?" tanya Kayra dengan suara seraknya.


" Aku tidak ada alasan untuk mengangkatnya," jawab Davin.


" Oh, begitu, ya sudah aku mau ke toilet dulu," ucap Kayra yang langsung berdiri. Namun saat ingin pergi Davin memegang tangannya membuat langkahnya terhenti.


" Aku akan menemani mu," ucap Davin dengan lembutnya bicara pada Kayra.


" Aku bisa sendiri!" tolak Kayra. Davin berdiri dan langsung membawa Kayra ke toilet dengan memegang tangan Kayra. Dia tau perasaan Kayra sedang hancur-hancura nya dan harus di temani. Karena dia khawatir pada Kayra.


Akhirnya Kayra berada di toilet dan Davin menunggu di luar. Kayra berdiri di depanq cermin dengan air keran wastafel yang hidup dan Kayra yang mencuci wajahnya di wastafel terus menangis tersedu-sedu yang begitu khawatir dengan keadaan papanya.


" Maafin Kayra papa. Papa harus bangun. Jangan tinggalin Kayra pah, papa sudah janji akan bangun dan kita bisa sama-sama lagi," ucap Kayra yabg sekarang terduduk yang menangis terisak-isak dengan dengan memegang dadanya yang terasa sesak. Dia begitu khawatir dengan apa yang akan terjadi pada papanya dia sangat takut kehilangan orang satu-satunya yang dia punya.

__ADS_1


Davin menunggu Kayra di luar dengan harap-harap cemas. Yang mana sejak tadi Kayra tak kunjung datang membuatnya menjadi gelisah.


" Kenapa dia belum keluar juga," ucap Davin dengan khawatir. Tidak ingin Kayra nantinya akan kenapa-kenapa akhirnya membuat Davin menyusul kedalam toilet yang tidak peduli itu toilet perempuan atau laki-laki.


Dan tibanya masuk kedalam ke toilet. Davin sudah melihat apa yang terjadi pada Kayra. Di mana Kayra sudah berada di lantai yang menangis sengugukan.


" Kayra!" ucap Davin yang langsung berjongkok di hadapan Kayra.


" Apa yang kau lakukan. Jangan seperti ini," ucap Davin dengan memegang ke-2 bahu Kayra dan melihat betapa hancurnya wanita di depannya itu yang terus saja menangis.


" Aku takut Davin!" ucap Kayra dengan suara seraknya.


" Aku sudah mengatakan semuanya akan baik-baik saja. Kenapa kamu tidak mengerti juga. Kayra kamu jangan seperti ini terus percayakan semuanya kepada Dokter. Kamu sendiri bisa drop jika melakukan hal ini," ucap Davin yang memberikan Kayra peringatan.


" Tapi aku takut, aku takut," ucap Kayra dengan suaranya yang menelan. Davin langsung membawanya kembali kedalam pelukannya.


" Jangan takut aku akan terus ada di sisimu," ucap Davin yang memang tidak akan meninggalkan Kayra dalam ke adaan seperti itu.


" Kita sekarang keluar dari sini. Aku akan bicara dengan Dokter setelah ini," ucap Davin. Karya menganggukkan kepalanya. Karena tubuh Kayra yang begitu lemah. Akhirnya Davin pun langsung menggendong Kayra keluar dari kamar mandi. Hal itu lebih baik dari pada Kayra harus berjalan yang hanya akan membuat tubuh Kayra semakin lemah.


*********


Kondis Aris ternyata semakin parah tidak mengerti apa yang terjadi Davin dan Dokter Han tadi sudah bicara dan Kayra sekarang berdiri di depan pintu kamar perawatan Aris. Yang mana Kayra tidak di ijinkan masuk sama sekali karena memang belum waktunya untuk Kayra masuk.


Dengan adanya larangan itu membuat Kayra semakin panik yang tidak bisa menemui papanya. Padahal dia ingin sekali tau kondisi papanya. Karena tadi Dokter hanya bicara pada Davin dan Kayra tidak tau apa-apa mengenai kondisi papanya tersebut. Kayra hanya bisa melihat papanya dari pintu yang terdapat kaca sedikit.


" Pah, apa yang terjadi pada papa. Kenapa papa seperti ini. Maafin Kayra pa seharusnya Kayra terus ada di sisi papa. Papa jangan tinggalin Kayra pa. Papa harus kasih Kayra kesempatan yang banyak untuk merawat papa. Papa juga harus janji untuk kita berdua yang akan kembali sama-sama seperti dulu lagi," ucap Kayra yang terus menangis melihat sang papa dari jauh.


" Kay!" tiba-tiba terdengar suara lembut membuat Kayra membalikkan tubuhnya yang ternyata Davin yang sekarang menatapnya dengan sendu.


" Apa kata Dokter? apa yang terjadi dengan papa? mengapa papa seperti itu? kenapa semuanya tiba-tiba seperti itu? tanya Kayra dengan suara seraknya. Bagaiman tidak serak pekerjaannya hanya menangis terus.


Davin tidak menjawab dan menatap nanar wajah Kayra yang penuh air mata. Davin mendekatinya dengan mengusap air mata Kayra lembut dan membawanya kedalam pelukannya.


" Kamu jangan khawatir dia tidak akan apa-apa. Dia akan baik-baik saja," ucap Davin yang menenangkan Kayra yang berada di pelukannya. Seakan mengetahui bagaimana perasaannya membuat Davin begitu simpatik pada istrinya itu.


" Davin kenapa kamu selalu mengatakan papa baik-baik saja. Bagaimana mungkin papa akan baik-baik saja. Dengan Dokter tadi begitu lama di ruangan papa dan kamu juga bicara dengan Dokter dan sekarang mengatakan papa baik-baik saja. Itu tidak mungkin Davin. Mana mungkin papa baik-baik saja," ucap Kayra yang menangis senggugukan.


" Iya kamu benar. Tidak mungkin baik-baik saja. Tetapi setelah Dokter menangani papa. Papa baik-baik saja. Dia sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Jadi jangan terus berpikiran masalah papa. Kamu juga harus jaga kesehatan," ucap Davin yang terus memberi dukungan keras pada Davin.


" Aku akan tetap ada di samping mu Kayra. Percayalah aku tidak akan meninggalkanmu. Kita akan jaga papa dengan baik dan akan terus menunggunya," ucap Davin.


Tidak tau kenapa Davin bisa mengatakan hal itu pada Kayra. Dia sangat takut Kayra kenapa-napa dan hanya ingin menjaga perasaan Kayra yang bisa di pastikan sangat hancur dan dia ingin wanita itu tetap baik-baik saja. Tanpa ada sesuatu.


" Ya Allah aku mohon kepadamu. Tolong berikan keselamatan pada papa. Tolong sembuhkan papa dari sakitnya. Ini sudah terlalu lama ya Allah. Aku mohon jawablah semua doa ku selama ini," batin Kayra yang terus menangis di pelukan Davin tempat ternyaman untuknya.


" Aku tau bagaimana perasaannya. Dia begitu takut kehilangan Pak Aris. Dia terus saja menangis. Aku tidak tau Kayra harus melakukan apa lagi kepadamu. Karena aku juga bukan seorang Dokter Kayra. Aku hanya bisa berusaha memberikan pengobatan yang terbaik untuk pak Aris," batin Davin yang ikut sedih. Dia hanya mengusap-usap rambut Kayra.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2