Pernikahan Dalam Ikatan Surat Kontrak.

Pernikahan Dalam Ikatan Surat Kontrak.
Bab 267


__ADS_3

Di tempat pesta masih berlanjut dengan semestinya yang mana pasangan pengantin baru itu sekarang sedang bersulang dengan romantis yang mendapatkan sambutan tepuk tangan yang meriah dari pada tamu undangannya dan begitu juga dengan Kayra dan Davin yang saling melihat dan mereka sangat bahagia dengan pernikahan Reyhan dan juga Indri.


"Aku tidak percaya. Jika mereka benar-benar bisa menikah," ucap Davin.


"Kamu sendiri juga tau kalau Indri pertama kali melihat Reyhan sudah jatuh hati. Jadi aku sudah tidak heran lagi dengan hubungan mereka yang berlanjut sampai sekarang," sahut Kayra.


"Iya sih, di mana Indri memanggil Reyhan dengan sebutan mas dan itu terlalu geli," ucap Davin menggedikkan bahunya yang geli sendiri dengan teringat hal yang pernah di perdengarkan dari telinganya.


"Walau seperti itu tetapi pada nyatanya mereka sudah bersama," ucap Kayra.


"Iya sih, Indri yang bisa menaklukkan hati Reyhan," sahut Davin. Kayra hanya tersenyum melihatnya.


"Oh iya sayang Dion tidak datang ke acara ini?" tanya Kayra yang teringat dengan Dion.


"Kamu ini kenapa jadi menanyakannya. Dia datang dan tidak datang itu juga tidak seharusnya membuat kamu khawatir," ucap Davin.


"Ya ampun sayang aku cuma nanyak aja," sahut Kayra.


"Jangan di tanya orang yang tidak ada, heran ya kamu itu kenapa bisa dekat dengan dia sih," ucap Davin dengan kesal sendiri.


"Sayang kamu ini masa iya hanya karena itu jadi cemburu seperti ini," ucap Kayra gemes dengan mengusap pipi suaminya itu sembari mencubit dengan manja.


"Ya kamu yang mencari masalah," ucap Davin dengan kesal.


"Kan hanya bertanya sayang," ucap Kayra.


"Dion sudah pulang, bagaimana apa kamu sudah puas," ucap Davin menjawab dengan tidak ikhlas.


"Oh sudah pulang, ya sudah jangan marah-marah atuh," sahut Kayra yang tertawa dengan tingkah sang suami yang cemburu tidak jelas.


Sementara Lian yang ada di pesta sedang mengambil minuman yang kebetulan Silvia juga mengambil minuman yang sama dengan Lian dan membuat mereka saling melihat dan pasti ini pertemuan mereka setelah dulu pernah ada masa lalu yang terjadi pada mereka.


Silvia langsung menjauhkan tangannya dan mengambil minuman yang lain dan langsung pergi dari hadapan Lian.


"Silvia tunggu!" panggil Lian membuat langkah Silvia terhenti dan melihat ke arah Lian.


"Ada apa?" tanya Silvia dengan wajah ketusnya.


"Aku ingin minta maaf padamu," ucap Lian yang menyadari jika dulu dia laki-laki yang sangat brengsek yang menghancurkan Silvia dan bahkan tega ingin membunuh Silvia hanya karena Silvia ingin pertanggung jawaban dari Lian. Namun Lian membuatnya celaka sehingga mengalami keguguran.


"Aku tidak pernah minta maaf padamu dan seolah-olah aku tidak salah. Aku benar-benar sangat menyesal dengan apa yang aku lakukan dulu dan sungguh aku benar-benar minta maaf Silvia," ucap Lian dengan tulus dan dari wajahnya memang penuh penyesalan.


"Aku sudah melupakan kejadian itu. Memaafkan atau tidak. Tidak ada yang akan berubah, semuanya sudah berlalu dan kita juga tidak ada hubungan apa-apa lagi-lagi. Urusan kita berdua sudah selesai dan aku juga sudah punya kehidupan sendiri dan kau juga bisa bertanggung jawab dengan apa yang masih bisa kau lakukan dan aku sudah melupakan semuanya," tegas Silvia yang memang tidak ingin berurusan dengan Lian lagi.


Karena Silvia juga sudah bahagia dengan suaminya Haykal yang menerima dirinya dan masa lalunya dan itu sudah cukup untuk Silvia.


"Terima kasih Silvia sudah memaafkan ku," ucap Lian.


"Silvia!" tegur Haykal yang tiba-tiba datang dan mata Haykal langsung tertuju pada Lian yang pasti heran dengan Lian.


"Sayang," ucap Silvia.

__ADS_1


"Siapa dia?" tanya Haykal.


"Ini Lian, ini saudaranya Davin anak Tante Mesya," jawab Silvia.


"Oh iparnya Kayra ternyata. Hay aku Haykal suami Silvia," ucap Haykal dengan ramah yang berjabat tangan dengan Lian.


"Saya Lian," sahut Lian yang juga tersenyum ramah, "ya sudah kalau begitu saya kesana dulu," ucap Lian dengan pamit yang tidak mau mengganggu Silvia dan suaminya dan Haykal hanya menganggukkan kepalanya. Sementara Silvia menghela napasnya setelah Lian pergi.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Lian.


"Tidak memang aku kenapa?" tanya Silvia heran.


"Ya tidak apa-apa sih," Jawab Lian.


"Sudah ayo kita kesana!" ajak Silvia yang langsung merangkul lengan suaminya.


Dia sangat malas membahas Lian dan tidak perlu juga harus menceritakan pada suaminya siapa Lian dengan detailnya.


*********


Kayra, Davin dan Brian pulang kerumah setelah datang ke acara pernikahan Indri dan juga Reyhan. Mobil mereka yang berhenti di depan rumah bersamaan datang dengan mobil yang di tumpangi Mesya dan yang lainnya yang juga mereka sama-sama sampai.


Dan semua penghuni mobil itu keluar dari dalam mobil masing-masing yang bertemu di depan pintu.


"Oma sama Opa sudah sampai juga?" tanya Brian.


"Iya sayang," sahut Mesya.


"Syukurlah kalau begitu, ya sudah Brian langsung bobo aja ya," ucap Mesya. Brian menganggukkan kepalanya.


"Oh iya Zoy belum sampai juga," ucap Mesya yang baru mengingat anaknya yang satu lagi.


"Benar juga, perasaan saat di pesta mobil kak Zoy juga tidak kelihatan dan ini juga tidak ada," sahut Giselle yang juga baru teringat.


"Ya sudah Giselle kamu hubungi lagi Zoy, tanya dia ada di mana, ini sudah larut malam," ucap Altarik.


"Iya pah," sahut Giselle.


"Ya sudah kalau begitu aku sama Kayra dan Brian masuk dulu. Kita juga mau istirahat," ucap Davin.


"Iya mati kita masuk dan istrirahat sama-sama," sahut Oma Elisabeth yang lainnya mengangguk dan mereka memasuki rumah yang pasti menuju kamar masing-masing untuk beristirahat karena memang sudah larut malam juga dan pasti semuanya juga lelah.


*********


Sementara di sisi lain Lian mengantarkan Cika dan Pricilla pulang ke kontrakan Pricilla. Ya kehidupan Pricilla berubah drastis karena biaya pengobatan Cika yang besar membuat asetnya sedikit demi sedikit habis terjual. Bahkan semua aset yang terjual tidak cukup untuk pengobatan Cika dan untung Kayra masih berbaik hati yang membantu pengobatannya sehingga Vika bisa sembuh sampai detik ini.


Jadi mau tidak mau Pricilla harus memulai dari awal dengan tinggal di tempat yang bisa di katakan sebenarnya sangat sederhana. Tetapi dari pada tidak ada sama sekali. Yang penting bisa untuk tempat berteduh dari panas dan hujan.


Lian, Pricilla dan Cika langsung turun dari mobil begitu mereka sampai dan mereka berada di depan rumah dengan kepala Lian yang berkeliling melihat di sekitar rumah Pricilla.


"Kamu tinggal di sini," ucap Lian yang memang baru tau. Karena sebelumnya Lian tadi menjemput Cika dan Pricilla di tempat kerja Pricilla.

__ADS_1


"Iya aku sama Cika mengontrak di sini. Ya sudah kalau begitu kami masuk dulu. Makasih ya sudah mengantar kami," ucap Pricilla.


"Iya pah, makasih sudah mengantar Cika dan juga mama," ucap Cika.


"Sama-sama Cika. Tapi boleh tidak papa bicara sebentar dengan mama Cika?" tanya Lian yang sepertinya ada yang ingin di sampaikannya kepada Pricilla.


"Kamu ingin bicara apa?" tanya Pricilla.


"Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan," ucap Lian.


Pricilla mengangguk dan melihat putrinya itu.


"Sayang mama ingin bicara sebentar dengan papa kamu. Kamu masuk dulu ya," ucap Pricilla.


"Iya mah, ya sudah mah, pa Cika istirahat duluan ya," ucap Cika dengan pamit.


"Iya Cika," sahut Lian mengusap pucuk kepala putrinya itu dan Cika pun langsung pergi memasuki rumah yang hanya meninggalkan Pricilla dan juga Lian.


"Duduklah!" ucap Pricilla menyuruh Lian untuk duduk di bangku yang ada di teras rumah dan Lian pun menurut dan Pricilla pun ikut duduk.


"Kamu ingin bicara apa?" tanya Pricilla.


"Mengenai kita," ucap Lian.


"Kita, maksudnya kita bagaimana?" tanya Pricilla heran.


"Aku sudah membicarakan ini dengan keluarga ku dan semuanya sudah setuju," ucap Lian yang membuat Pricilla heran mendengarnya sampai dahinya yang mengkerut.


"Setuju, maksudnya setuju dalam hal apa?" tanya Pricilla heran yang benar-benar tidak tau.


"Pricilla aku ingin menikahi kamu," ucap Lian dengan to the point yang membuat Pricilla terkejut mendengarnya.


"Apa kamu bilang?" tanya Pricilla dengan wajah terkejutnya.


"Aku sudah mengatakannya. Jika aku ingin menikah dengan kamu. Aku ingin bertanggung jawab dengan kamu dan juga Pricilla. Aku ingin kita punya keluarga dan aku sudah membicarakan ini pada keluargaku dan mereka semua setuju dengan keputusanku," ucap Lian yang menjelaskan semua maksud dan tujuannya dalam mengajak Pricilla untuk bicara.


Pricilla pasti terkejut mendengarnya dengan wajahnya yang kaget yang tidak percaya dengan kata-kata Lian. Apa lagi jika di lihat-lihat Lian tampaknya sangat serius dengan perkataannya.


"Lian kamu jangan becanda ini tidak lucu," ucap Pricilla yang tidak mudah untuk percaya.


"Ini tidak becanda Pricilla aku serius. Aku ingin menikah dengan kamu dan Cika pasti akan setuju dengan semua ini. Karena papa dan mamanya harus tinggal bersamanya. Pricilla aku melakukan banyak kesalahan dan sekarang hanya denganmu aku punya kesempatan untuk menebus dosa-dosaku di masa lalu. Jadi aku mohon untuk kamu bisa memberikan ku kesempatan untuk memperbaiki semuanya," ucap Lian yang dengan sungguh-sungguh dalam bicara. Namun Pricilla pasti masih shock dan tidak tau harus mengatakan apa.


"Aku berharap kamu mau menikah denganku. Aku besok akan datang lagi dan akan membawamu pada keluargaku yang mana kita akan meminta restu," ucap Lian yang tidak ingin basa-basi yang padahal Pricilla belum menjawab apa-apa.


"Ya sudah kalau begitu baku permisi dulu, salam untuk Cika, besok aku akan menjemputmu," ucap Lian berdiri dari tempat duduknya dan langsung pergi sementara Pricilla masih sibuk dengan bengong nya yang tidak tau harus percaya atau tidak dengan kata-kata Lian yang ingin menikahinya.


"Apa yang di katakannya apa sungguh dia ingin menikah denganku. Tetapi mana mungkin dia mau menikah denganku. Dan kenapa tiba-tiba Lian jadi kepikiran hal itu. Bukannya sebelumnya dia hanya ingin bertanggung jawab untuk Cika dan kenapa sampai ingin menikah denganku," batin Pricillia yang masih merasa apa yang di katakan Lian itu sungguh tidak masuk akal sama sekali.


"Arggh Pricilla, sudahlah nanti juga akan ketahuan, kamu sebaiknya istirahat, lihat aja besok apa dia sungguh-sungguh. Atau hanya sekedar kata-kata saja," ucap Pricilla yang menggoyang-goyangkan kepalanya yang tidak mau berpikiran dulu mengenai apa yang di katakan Lian. Wajar jika Pricilla tidak terlalu percaya begitu saja.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2