Pernikahan Dalam Ikatan Surat Kontrak.

Pernikahan Dalam Ikatan Surat Kontrak.
Bab 67 Serangga berbadan manusia.


__ADS_3

Davin pun keluar dari kamarnya untuk mencari angin di mana dia merasa panas di kamarnya. Mungkin karena masih efek dari perbuatannya pada Kayra barusan.


Saat keluar dari kamarnya Davin melihat ke arah kamar Kayra. Rasanya dia ingin masuk dan mungkin akan merasa adem kalau di samping Kayra. Namun tidak dia takut akan khilaf lagi.


Davin mengusap kasar wajahnya dan langsung pergi meninggalkan kamar hotel tersebut.


Di luar hotel Davin bertemu kembali dengan Reyhan yang tampak sedang menelpon dengan serius.


" Reyhan!" panggil Davin yang mengejutkan Reyhan dan langsung berbalik badan.


" Iya bos Davin," sahut Reyhan pelan yang tampaknya belum mematikan telponnya.


" Siapa itu?" tanya Davin menggerakkan matanya pada telpon ponsel Reyhan.


" Dion," jawab Reyhan pelan tanpa suara yang hanya menggerakkan mulutnya untuk mengatakan siapa yang di telponnya itu.


" Berikan kepadaku," sahut Davin meminta handphone itu.


" Tapi bos," sahut Reyhan.


" Sini aku bilang!" sahut Davin tidak mau lama dan langsung mengambil handphone itu dari tangan Dion dan melanjutkan pembicaraan itu.


📞" Eh Dion!" ketus Davin.


📞" Apa ini Davin?" tanya Dion.


📞" Kau melupakan suaraku," sahut Davin.


📞" Jelas tidak. Bukannya kemarin aku baru saja mengabarimu. Kita bicara di telpon. Jadi bagaimana mungkin aku lupa suaramu," sahut Dion dengan menyunggingkan senyumnya yang menelpon di kediaman Altarik.


📞" Untuk apa kau menelpon Reyhan?" tanya Davin.


📞" pertanyaan mu salah Davin. Reyhan yang menghubungiku," sahut Dion dengan santai.


📞" Hmmm, benar sekali. Aku lupa jika Oma mempunyai cucu kesayangan sampai dia harus menyuruhmu pulang hanya untuk mengawasiku, kau sangat tidak punya pekerjaan," ucap Davin sinis dalam panggilan telponnya.


📞" Jika kau terus mengatakan aku cucu kesayangan nyonya Elishabet. Mungkin lama kelamaan aku akan meminta nyonya Elishabet memasukkan nama ku di data keluarga, biar kita sama-sama menjadi cucu nyonya Elishabet," sahut Dion dengan suara dinginnya yang pasti terserat nada bercandaan.


📞" Ya terserahmu. Mintalah dia melakukannya. Biar dia punya kerjaan dan kau tidak mengawasiku di sini. Kalian ber-2 memang harus sama-sama sibuk. Supaya tidak mengawasi ku terus," sahut Davin dengan kesal.


📞" Santai Davin. Kau selalu saja sensitif padaku. Meski aku begitu penurut kepada nyonya Elishabet dan selalu berhasil memberikan informasi-informasi yang akurat pada nyonya Elishabet. Aku masih menutupi sedikit permintaan mu. Aku tidak mengatakan pada nyonya Elishabet jika kau dan istrimu tidur berpisah kamar. Aku juga tidak mengatakan jika kau bertemu Pricilla. Aku masih menjadi penghiyanat pada nyonya Elishabet," ucap Dion dengan santai.


📞" Jika kau sampai mengadukan itu. Awas saja kau akan berhadapan denganku. Kau dengar aku Dion. Suruh anak buahmu untuk berhenti mengawasiku. Awas jika kau terus mengawasiku dan apalagi berani mengambil foto-foto ku saat ada Pricilla," ucap Davin penuh penekanan dan penegasan pada Dion.


📞" Ini sebuah Ancaman atau hanya sekedar peringatan?" tanya Dion.


📞" Terserah kau mau menganggapnya apa. Kau hanya perlu melakukan apa yang aku katakan. Kau jangan menggangguku. Kau nikmati saja kehidupanmu yang harus terus mengangguk dengan perkataan Oma. Jangan mengusik hidupku dan juga Kayra," tegas Davin yang langsung mematikan telpon itu tanpa mengucapkan salam perpisahan.


" Nih!" Davin langsung memberikan handphone pada Reyhan dengan wajahnya yang pasti kesal.


" Makasih bos," sahut Reyhan.


" Kau pastikan jika tangan kanan Oma itu tidak memberikan kabar mengenai aku dan Pricilla. Terus katakan kepadanya untuk memberikan kabar baik-baik mengenai aku dan juga Kayra!" ucap Davin mengingatkan.


" Baik bos," sahut Reyhan.


" Sial, Oma benar-benar menyuruh dia datang hanya untuk mengawasiku. Ya aku pikir dia main-main. Ternyata benar-benar nyata," batin Davin dengan mengusap kasar wajahnya dengan mulutnya.


Dion adalah temannya Davin dari kecil. Yang mana Dion anak panti asuhan yang di rawat keluarga Altarik saat usianya 10 tahun. Dan dia juga adalah kepala bodyguard kepercayaan Oma. Bahkan Dion juga sering di tugaskan mengawasi beberapa perusahan di Luar Negri kalau Davin sibuk.


Oma harus memanggil Dion. Karena Oma punya feeling mengenai Davin dan pernikahannya. Ya Dion dengan seenaknya sewaktu berangkat menelpon Davin dan mengatakan jika dia di perintahkan mengawasi Davin selama di Dubai dan di suruh untuk berhati-hati.


Awalnya Davin pikir hanya bercanda dan tidak mungkin jika Dion di suruh pulang hanya untuk hal yang spele seperti itu. Namun beberapa hari setelah di Dubai Davin mendapat foto-foto dirinya dan Pricilla yang membuat Davin terkejut.


Mau tidak mau Davin pun menyuruh Reyhan turun tangan dan akhirnya Reyhan dan Dion pun negoisasi dan tidak tau apa negoisasi mereka yang akhirnya Dion harus menunjukkan pada Oma foto-foto yang bagus-bagus nya saja. Dan Dion juga memerintahkan anak buahnya hanya perlu mengambil foto-foto Kayra dan Davin saja tidak perlu dengan orang lain.


******


Setelah menelpon Davin. Dion menghela napasnya dengan panjang dan geleng-geleng.


" Huhhhhhh, dia tidak pernah berubah. Masih saja ingin wanita itu. Apa tidak sadar. Jika wanita yang di milikinya sekarang merupakan emas. Davin, Davin aku tidak mengerti kau itu terlalu pintar atau memang kau sudah mulai bodoh. Kau bahkan hampir terjebak dengan keluarga Pricilla. Tetapi apa kau tidak secepatnya bertindak. Huhhhhhh gara-gara kau aku harus berbohong pada Nyonya Elishabet. Awas saja jika semua ini terbongkar aku akan mengatakan jika ini adalah rencanamu," ucap Dion yang geleng-geleng dengan senyum miringnya.

__ADS_1


" Dion!" tiba-tiba terdengar suara membuat Dion kaget dan melihat ke arah belakang yang mana sudah ada Oma. Dion mendadak panik dengan kehadiran Oma.


" Iya Nyonya," sahut Dion dengan gugup.


" Kamu sedang menelpon siapa?" tanya Oma dengan matanya penuh selidik.


" Hmmmm, ini saya lagi menelpon...."


" Aku tidak mungkin bilang menelpon Davin, Nyonya Elishabet bisa mencurigai semuanya," batin Dion yang menjadi bingung sendiri.


" Dion!" tegur Oma Elishabet yang ingin tau.


" Hmmm, ini anak buah yang aku suruh mengawasi Davin," jawab Dion bohong.


" Hmmm, begitu pantesan saja saja saya mendengarkan kamu mengatakan Davin-Davin," sahut Oma yang ternyata sempat mendengar Dion menyebutkan nama Davin. Untung saja Davin menjawabnya pintar.


" Syukurlah jika nyonya Elishabet tidak mencurigai ku. Ini semua gara-gara cucunya yang bebal itu," batin Dion yang masih dek-dekan yang takut jika Oma tau dan dia di katakan sebagai penghiyanat.


" Pah Dayat cepat siapkan mobil!" tiba-tiba Zoy menuruni anak tangga dengan sibuk melihat kedalam tasnya yang sepertinya mencari sesuatu.


" Pak Dayat buruan saya sudah telat," teriak Zoy lagi yang terus melangkah sampai anak tangga terakhir.


" Zoy, kamu bisa tidak jangan teriak-teriak," sahut Oma Elisabeth membuat Zoy menghentikan pekerjaannya dan melihat ke arah Oma dan Dion yang sejak tadi Dion terus melihatnya dan mata Zoy juga berpindah melihat Dion.


" Jadi benar kata mama. Bodyguard kepercayaan Oma telah kembali," batin Zoy.


" Malah melamun kamu tidak dengar apa kata Oma," sahut Oma Elishabet membuat Zoy tersentak dan mengalihkan pandangannya dari melihat Dion.


" Zoy buru-buru Oma," sahut Zoy.


" Ya. Tapi tidak perlu teriak-teriak seperti ini. Apa lagi orang yang kamu panggil itu tidak ada," sahut Oma.


Zoy menautkan ke-2 alisnya, " maksud Oma?" tanya Zoya heran.


" Pak Dayat sedang pulang kampung," jawab Oma.


" Kok bisa," sahut Zoy.


" Memang kamu mau kemana?" tanya Oma heran.


" Aku mau ke Bandung. Aku tidak bisa menyetir kalau jauh," jawab Zoy.


" Ya sudah Dion kamu antar Zoy," sahut Oma yang langsung bertindak.


" Tidak Oma!" tolak Zoy dengan cepat.


" Kenapa?" tanya Oma heran.


" Tidak apa-apa. Aku pergi naik travel aja," sahut Oma.


" Jangan aneh-aneh. Sana biar Dion yang mengantar kamu!" tegas Oma.


" Tapi Oma!" Joy tampaknya menolak


" Mari nona," sahut Dion yang langsung mempersilahkan Zoy yang masih ragu.


" Zoy cepat. Apa lagi yang kamu tunggu!" tegas Oma yang heran melihat Zoy dan Zoy tampaknya terpaksa melakukannya dan dia pun langsung pergi.


" Saya permisi nyonya," sahut Dion pamit. Oma mengangguk dan Dion pun langsung menyusul Zoy keluar dari rumah.


" Hmmmm, di rumah ini seperti hutan saja teriak sana, teriak sini," batin Oma geleng-geleng dan dia pun langsung meninggalkan tempat itu.


************


Mentari pagi kembali tiba. Terlihat Kayra yang sudah bangun dari tidurnya dan sekarang bahkan sudah mandi. Di mana Kayra yang keluar dari kamar mandi yang sudah rapi dengan dress coklat susu yang di pakainya dengan belt hitam di bagian pinggangnya. Dengan rambutnya yang sanggul cepolnya karena dia ingin sesimpel mungkin dalam berpenampilan.


Kayra berjalan ke cermin dan melihat dirinya di depan cermin dengan melihat lehernya yang tampak merah-merah.


" Kenapa merah- merahnya tidak hilang sama sekali. Bukannya semalam sudah lumayan hilang ya. Kenapa sekarang malah makin parah seperti ini, aneh sekali," ucap Kayra heran sendiri dengan apa yang ada di lehernya.


Dia tidak tau saja jika apa yang terjadi pada bagian lehernya itu adalah perbuatan Davin. Davin mencumbui dirinya di saat dia tertidur pulas. Davin memang keterlaluan yang melakukannya hanya dengan diam-diam saja.

__ADS_1


" Aneh sekali apa ada serangga yang mengigitku. Seharusnya hotel semewah ini tidak ada serangganya dan apa Dubai dan Indonesia itu sama sampai ada serangganya segala," ucap Kayra menggedikkan bahunya yang terus melihat bekas memerah di lehernya itu dengan melihat dari cermin yang mengamati tanda-tanda itu.


" Tadi juga di bagian dalam ada. Benar-benar aneh, hotel ini sudah mulai tidak bersih percuma harus bayar mahal-mahal," Kayra terus saja bergerutu dengan semaunya.


Krekkk.


Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dan siapa lagi. Jika bukan Davin yang membuka pintu yang membuat Kayra melihat ke arah pintu.


" Ada apa? Kenapa pagi-pagi begini sudah masuk? Bahkan masuk terus suka-suka. Mentang-mentang punya kartu serapnya," tanya Kayra yang kembali menghadap cermin melihat lagi bekas-bekas memerah yang terdapat pada dirinya.


" Terserahku dong mau masuk apa tidak. Aku punya seribu hak untuk masuk kedalam kamar ini," sahut Davin yang memasuki kamar itu dan menutup pintu kamar.


" Baiklah terserahmu," sahut Kayra malas berdebat dan terus memeriksa lehernya.


" Apa yang kau lakukan?" tanya Davin yang melihat Kayra sibuk dengan lehernya.


" Aku sepertinya harus memanggil cleaning servis di hotel ini," ucap Kayra


" Untuk apa?" tanya Davin menautkan Ke-2 alisnya.


" Kamar ini kayaknya tidak bersih. Masa iya aku menemukan serangga di sini," ucap Kayra. Davin mendengarnya hanya menautkan ke-2 alisnya.


" Serangga di mana?" tanya Davin yang melihat di sekitarnya.


" Aku juga tidak tau di mana. Tetapi jelasnya aku digigit serangga. Lihatlah ini!" Kayra menunjukkan lehernya yang memerah yang terdapat tanda-tanda kepemilikan dari Davin.


" Ini pasti gigitan serangga. Kamar ini tidak bersih," lanjut Kayra membuat Davin terkejut. Yang mana itu adalah perbuatan Davin tanpa di sadari Kayra dan Kayra mengatakan itu karena perbuatan serangga. Berarti Davin adalah serangganya.


" Kau mengatakan gigitan serangga?" tanya Davin.


" Iya siapa lagi. Jika bukan serangga," jawab Kayra dengan polosnya.


" Serangga," ucap Davin mendengus kasar lalu menghampiri Kayra mendekat pada Kayra dengan berdiri di hadapan wanita itu memegang leher Kayra yang memerah karena perbuatan serangga.


" Bukankan ini karena perbuatanku," ucap Davin menatap Kayra dengan intim.


" Seharusnyakan sudah hilang. Karena kemarin sudah hilang, tetapi malah seperti ini. Seperti makin parah," jawab Kayra dengan polosnya. Davin mendengarnya hanya menyunggingkan senyumnya.


" Benarkah yang kemarin sudah hilang?" tanya Davin. Kayra mengangguk.


" Kecuali!" ucap Kayra dengan tiba-tiba menatap Davin dengan penuh curiga.


" Kecuali apa?" tanya Davin yang menunggu kesadaran Kayra.


" Kau tidak melakukannya lagi kan?" tanya Kayra yang langsung mundur selangkah yang punya Firasat jika Davin melakukan sesuatu hal-hal yang di takutkannya.


" Melakukan apa?" tanya Davin dengan menaikkan 1 alisnya.


" Hal itu. Kau tidak melakukannya diam-diam kan, kau tidak sedang, sedang berbuat itu padaku kan?" tanya Kayra lagi dengan wajahnya yang tampak begitu panik. Davin tidak menjawab namun tersenyum yang mengandung arti.


" Davin kau kenapa senyum-senyum, kau jangan macam-macam," sahut Kayra tampak kesal.


" Ya memang kenapa kalau aku senyum-senyum apa itu salah. Hey Kayra aku mana mungkin melakukannya kepadamu tanpa persetujuanmu. Kecuali kau memintanya. Aku akan melakukannya. Apa kau menginginkannya," sahut Davin menggoda Kayra dengan seriangi nakal di wajahnya


" Siapa juga yang mau memintanya, kepedean," sahut Kayra kesal dan langsung mengambil Foundation untuk menutupi tanda-tanda itu.


Tetapi Davin langsung menghentikannya, " jangan menutupinya. Itu bukan perbuatan yang salah," ucap Davin dengan suara lembut yang serak-serak basah yang memegang lembut tangan Kayra yang membuat darah Kayra berdesir.


" Jika aku tidak menutupinya. Maka akan terlihat oleh orang lain," jawab Kayra dengan gugup. Davin tersenyum miring dan melepas ikatan rambut Kayra. Lalu mengambil sisir dan menyisir rambut Kayra.


" Kau cukup membuat rambutmu seperti ini. Di gerai dengan indah dan kau begitu cantik saat seperti ini," puji Davin tiba-tiba. Pujian singkat itu mampu membuat Kayra terdiam yang pasti meleleh dengan kata-kata Davin. Tidak tau pernah atau tidak Davin memujinya.


" Kau tidak keberatan kan jika seperti ini?" tanya Davin. Karya menggeleng pelan.


" Bagus kalau begitu. Jika sudah selesai bersiap. Kita akan Kerumah sakit," ucap Davin yang meletakkan sisir membuat Kayra tersadar dari lamunannya yang singkat. Dan Davin menunggu duduk di pinggir ranjang. Sementara Kayra kembali menghadap cermin.


" Huhhh, apa dia tidak salah bicara. Ya kemungkinan dia memang pasti salah bicara. Apa itu sebuah pujian atau justru ejekan untukku," batin Kayra yang jelas masih mengatur napasnya yang mendadak sesak dengan debaran jantungnya yang semakin tidak bisa di kondisikannya.


Davin memujinya membuat dirinya menjadi malu-malu dan debaran jantung yang tidak bisa di kendalikan. Belum lagi tatapan mata Davin yang seolah ingin membunuh dirinya. Membuatnya terbang melayang-layang ke langit angkasa yang paling jauh.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2