
"Mama papa pergi saja. Pokoknya Brian tidak mau pulang titik!" tegas Brian dari dalam kamar.
"Tapi nak. Kita harus pulang, Brian tidak boleh seperti ini," ucap Kayra.
"Mama juga seharusnya tidak boleh marah-marah teriak-teriak. Lalu kenapa melakukannya, Brian tau salah tapi Brian juga sudah minta maaf dan papa bilang Brian juga tidak salah Tante Dokter yang salah. Tapi mama terus marah-marah sama Brian. Brian tidak mau pulang sama mama. Papa juga marah-marah pada mama Brian juga tidak mau sama papa. Papa dan mama pergi saja. Brian mau di sini," tegas Brian yang sudah tidak bisa di bujuk lagi.
"Baiklah Brian papa dan mama akan pergi. Brian keluarlah dari kamar mandi. Brian istirahatlah," sahut Davin yang lebih baik mengalah dengan memberi waktu untuk putranya.
"Mama sama papa harus pergi dulu. Keluar dulu dari kamar Brian. Baru Brian mau keluar," sahut Brian.
"Baiklah," sahut Davin yang mengalah, "ayo Kayra!" ajak Davin.
"Tapi Davin," sahut Kayra.
"Brian buruh waktu. Biarkan dia seperti ini. Semakin kita mendesaknya Brian akan semakin marah dan semakin tidak mau menemui kita. Jadi kita harus memberinya waktu," ucap Davin dengan lembut.
Kayra menghela napasnya dengan perlahan kedepan, "mama sayang sama kamu. Maafkan mama, mama tidak akan ganggu Brian. Brian istirahatlah. Mama sangat menyayangi Brian," ucap Kayra dengan kesedihannya dan berat hari meninggalkan kamar sang anak.
Brian yang di dalam kamar mandi yang sudah tidak mendengar suara lagi, membuka pintu dengan perlahan dan Brian mengintip dulu yang memastikan ada atau tidak orang di kamarnya dan ternyata mama dan papanya sudah pergi dan Brian langsung berlari ketempat tidur menarik selimut menutupi tubuhnya dan memang bersembunyi dari orang tuanya.
Davin dan Kayra kembali menghadap Aris dengan wajah Kayra dan Davin yang sangat lesu.
"Kalian pulanglah, biar papa yang menjaga Brian. Karena bagaimanapun Brian belum mau menemui kalian. Kalian berdua lebih baik mencerna kesalahan kalian. Baru datang kemari," ucap Aris dengan tegas.
"Titip Brian pah," ucap Kayra dengan tidak bersemangatnya.
"Jangan Khawatir," jawab Aris.
"Kalau begitu saya pamit dulu pah. Maaf harus merepotkan papa dengan keadaan ini," ucap Davin mencium punggung tangan Aris.
"Kamu jangan khawatir yang penting sekarang kamu buktikan kebenaran kalau apa yang di katakan Kayra tidak benar dan jika apa yang di katakan Kayra benar. Papa juga minta maaf Davin yang benar-benar tidak akan memberikan kamu kesempatan apa-apa," ucap Aris.
"Iya pah, aku akan buktikan bahwa aku tidak salah," ucap Davin dengan yakin.
"Baiklah kalau begitu," sahut Aris menepuk bahu Davin.
__ADS_1
"Kayra pamit pah," ucap Kayra yang juga berpamitan dengan tidak bersemangat. Karena Brian tidak ikut pulang dengannya.
"Kalian hati-hati," ucap Aris. Kayra dan Davin sama-sama mengangguk dan mereka langsung berjalan menuju mobil yang mana Kayra membuka pintu mobil.
"Kau pulang bersamaku?" tanya Davin membuat Kayra melihat ke arah Davin. Karena tidak fokusnya. Kayra bisa-bisanya langsung menyelonong saja memasuki mobil Davin.
"Siapa juga yang mau pulang bersamamu," sahut Kayra gengsi yang kembali menutup pintu mobil.
"Sudahlah kau pulang saja bersamaku. Mau pulang naik apa hah! mau menginap di sini. Memang Brian mau melihatmu," ucap Davin. Kayra merasa apa yang di katakan Davin benar. Pulang juga tidak tau mau naik apa.
Kayra berdecak kesal dan langsung kembali membuka pintu mobil Davin yang mana Kayra langsung masuk kembali. Davin mendengus dengan tersenyum melihat keterpaksaan Kayra.
Ya biasanya harus ada dulu acara bujuk sana, bujuk sini. Namun kali ini tidak perlu ternyata. Aris yang lagi-lagi melihat perdebatan itu gelang-gelang kepala.
"Aku hanya berharap kalian berdua bisa jauh lebih dewasa lagi. Jangan sampai semuanya semakin parah dan lagi-lagi Brian yang menjadi korban," batin Aris yang hanya penuh dengan harapannya yang melihat mobil Davin uang sudah menyala dan sudah semakin jauh pergi dari rumahnya.
************
Rumah sakit.
Sampai pada titik di mana mereka semakin dekat dan bukannya malah menyinggir ke-2nya malah seakan tidak mau mengalah yang ingin berjalan cepat. Kayra lewat kanan Davin juga, Davin kekiri, Kayra juga.
"Minggirlah Davin aku mau lewat," ucap Kayra kesal.
"Aku juga mau lewat. Kau yang menghalangi jalanku sejak tadi," ucap Rafa yang tidak mau mengalah.
"Kau itu benar-benar ya. Apa salahnya kau itu berhenti dulu," Kayra malah mengoceh semakin kesal dengan Davin.
"Lalu bagaimana denganmu. Kau juga bisa berhenti seharunya. Tapi kau tidak. Kau itu memang tidak mau pernah mengalah. Keras kepala,"umpat Davin.
"Jangan sembarangan mengataiku. Kau itu seharunya ngaca," sahut Kayra yang tidak terima. Mereka malah berdebat seperti anak kecil. Untung saja Brian tidak ada. Jika ada dia tidak akan semakin perca dengan ke-2 orang tuanya itu.
"Dokter cantik!" tiba-tiba suara anak kecil membuat Davin dan Kayra berhenti berdebat dan melihat ke arah suara itu yang ternyata adalah Cika anak Pricilla yang berlari menghampiri Kayra yang mengejutkan Kayra.
Ini juga pertama kali Davin melihat Pricilla dan di pikiran Davin anak itu mungkin yang di maksud Kayra.
__ADS_1
"Pricilla," batin Davin yang melihat Pricilla yang tersenyum sendu kepadanya. Dan Kayra memperhatikan ekspresi wajah Davin saat melihat Pricilla.
"Hay Dokter!" sapa Cika membuat lamunan Kayra buyar.
"Hay Cika," jawab Kayra dengan tersenyum datar.
"Kayra, Davin!" sapa Pricilla.
"Apa yang kau katakan pada Kayra?" tanya Davin yang langsung to the point dengan ke-2 tangannya berada di dalam sakunya.
"Aku hanya mengatakan apa yang sebenarnya," jawab Pricilla dengan wajahnya yang sendu seolah sangat ingin di kasihani.
"Apa maksudmu apa yang benar," sahut Davin mulai meninggikan suaranya.
"Siapa Om tampan ini?" tanya Cika tiba-tiba melihat ke arah Davin.
"Dia papamu Cika," sahut Pricilla yang langsung mengatakan tanpa basa-basi yang mengejutkan Davin. Begitu juga dengan Kayra. Bisa-bisanya Pricilla langsung mengatakan hal itu pada Cika yang padahal buktinya belum ada.
"Apa yang kau bicarakan Pricilla," sentak Davin.
"Papa," sahut Cika menghampiri Davin dengan Cika yang tersenyum seolah sangat bahagia yang akan bertemu dengan papanya.
"Pricilla kau benar-benar. Bagaimana mungkin kau mengatakan hal itu," ucap Davin.
"Aku hanya mengatakan apa yang bear dan Kayra sudah tau semuanya dan kamu juga harus tau jika Cika anak kita sekarang sedang sakit. Jadi aku mohon untuk kamu harus bertanggung jawab. Aku tidak minta padaku. Tapi untuk anak kita. Agar dia jauh lebih semangat. Kamu bisa tanya Kayra bagaimana kondisinya," ucap Pricilla.
"Hentikan omong kosong mu!" bentak Davin yang tidak masuk akal mendengar semua perkataan Pricilla.
"Aku tidak omong kosong Davin itu kenyataan. Cika anak kita. Kau tidak bisa lepas tanggung jawab," tegas Pricilla.
Kayra menghela napasnya dan memilih untuk pergi. Tidak ada kepentingan Kayra untuk berada di antara keributan Davin dan Pricilla.
"Kayra!" panggil Davin yang lebih memilih mengejar Kayra dari pada mendengarkan omong kosong Pricilla.
Bersambung
__ADS_1