Pernikahan Dalam Ikatan Surat Kontrak.

Pernikahan Dalam Ikatan Surat Kontrak.
Bab 194.


__ADS_3

"Kayra kau tidak bisa mengelak sekarang. Karena Brian sangat jelas adalah putraku. Kau tidak bisa memisahkan aku dan juga Brian. Hasil tes DNA sudah membuktikan dia putraku, anak yang kamu kamu kandung saat kamu pergi," ucap Davin merendahkan suaranya.


"Lalu kalau kamu sudah tau. Kamu mau apa selanjutnya jah! mau mengambilnya, mau memilikinya," sahut Kayra dengan matanya yang berkaca-kaca.


"Apa yang kau bicarakan Kayra. Kau pikir aku sejahat itu hah!" sahut Davin.


"Lalu apa lagi jika tidak. Kau mati-matian sangat ingin tau siapa Brian. Sampai kau melakukan tes DNA di belakangku. Kau tau perbuatan mu juga melarang hak cipta dan kau melakukan semua itu. Lalu apa lagi yang kau inginkan Davin. Pasti melakukan semua itu hanya untuk mendapatkan Brian. Kau menginginkannya, kau ingin memisahkan ku dengan dia," teriak Kayra dengan kemarahan pada dirinya.


"Aku tidak ingin melakukan itu Kayra," sahut Davin.


"Bohong. Aku sangat tau siapa dirimu yang sebenarnya. Apa kau belum puas menyakitiku dan sekarang kau muncul dan berniat ingin mengambil Brian dari ku. Brian memang anak yang aku janjikan kepadamu demi warisan yang kau inginkan. Tapi selama ini hanya dia yang aku miliki. Apa kau masih ingin memisahkan kami," ucap Kayra.


"Aku tidak pernah ingin memisahkan kamu dengan Brian. Aku hanya ingin tau kebenarannya," sahut Davin.


"Lalu setelah kau tau apalagi jika tidak ingin mengambilnya. Apa kau akan pergi dan tidak mengganggu aku dan juga Brian. Apa kau akan melakukan itu?" tanya Kayra dengan menekan suaranya.


"Kayra setelah aku tau, aku merasa lega dan tidak punya niat sedikit pun untuk mengambilnya dari kamu. Aku hanya ingin bertanggung jawab atas Brian. Dia darah dagingku dan aku harus bertanggung jawab padanya dan bukan untuk mengambilnya dari mu," tegas Davin yang beberapa kali menjelaskan pada Kayra.


"Dan aku juga tidak mungkin lagi Kayra, ketika sudah tau dan harus meninggalkannya. Kayra kesalahan ku yang besar aku menyadarinya dan kebencianmu kepadamu. Aku juga menyadarinya karena semua itu perbuataku Dan aku hanya ingin menebus kesalahan ku dengan kamu memberiku kesempatan untuk sama-sama membesarkan Brian. Hanya itu yang aku inginkan," ucap Davin dengan ketulusannya yang bicara.


"Dia hanya anakku dan hanya aku yang akan membesarkannya. Aku dan kau sudah tidak ada hubungan lagi. Jadi jangan berharap. Jika aku akan memberimu kesempatan itu. Karena aku tidak butuh," tegas Kayra dengan air matanya yang menetes dan langsung pergi dari hadapan Davin.


"Kayra!" panggil Davin dan Kayra tetap pergi yang tidak mau mendengarkan Davin.


"Aku tau ini tidak mudah bagimu. Tapi aku tetap tidak bisa pergi begitu saja. Setelah aku tau Brian benar-benar putraku. Aku juga ingin Kayra bertanggung jawab kepadanya," batin Davin dengan menghela napasnya.


Kayra kembali ke meja di mana Brian masih ada di sana yang sedang menikmati makanannya.


"Mama sudah kembali. Papa mana?" tanya Brian.

__ADS_1


"Ayo Brian kita pulang!" ajak Kayra yang membereskan makanan Brian yang belum selesai makan.


"Pulang. Kan kita belum selesai makan," sahut Brian heran.


"Makannya nanti saja di lanjutkan di rumah. Kita sekarang pulang!" ajak Kayra membantu Brian turun dari kursi dan langsung membawa Brian pergi dan bertepatan dengan Davin datang yang berada di depan mereka.


"Papah!" sahut Brian yang ingin menghampiri Davin. Namun Kayra menahan tangannya sehingga kaki itu tidak bisa melanjutkan langkahnya.


"Kita pulang!" tegas Kayra menatap Davin tajam dan langsung membawa Brian pergi dari hadapan Davin. Bahkan tidak memberikan kesempatan untuk Brian berpamitan pada Davin. Kayra sudah membawanya pergi begitu saja dan Davin tidak bisa melarat.


Dia harus menyadari jika Kayra butuh waktu semua ini dan dia tidak mau Kayra marah-marah di depan orang ramai dan terlebih lagi di depan Brian. Jadi Davin harus banyak-banyak mengalah untuk menghadapi emosi Kayra yang kurang stabil.


**********


Kayra berada di kamar Brian yang sedang menidurkan Brian dengan mengusap-usapnya pucuk kepala Brian.


"Mama tidak akan membiarkan. Siapapun yang memisahkan kita. Walau itu dia sekalipun. Hanya kamu yang mama miliki, kamu yang menemani mama selama ini. Kita berdua sama-sama berjuang sampai detik ini. Mama tidak akan membiarkan ada orang yang memisahkan kita. Tidak akan Brian," batin Kayra yang terus menatap nanar wajah tampan putranya yang tertidur lelap itu.


"Mama sangat menyayangimu," batin Kayra mengucap lembut kening Brian dengan mata Kayra yang berkaca-kaca.


Toko-tok-tok-tok.


Pintu kamar Brian di ketok membuat Kayra melihat ke arah pintu yang ternyata Aris yang membuka pintu kamar itu.


"Papa mau pulang?" tanya Kayra.


"Iya. Tapi papa ingin bicara sebentar dengan kamu," jawab Aris.


"Baiklah!" sahut Kayra menghela napas dan langsung turun dari ranjang yang sebelumnya Kayra menyelimuti putranya dulu dan kembali mencium lembut kening Brian. Lalu Kayra menghampiri Aris yang ingin bicara kepadanya.

__ADS_1


Kayra dan Aris duduk di ruang tamu dan sepertinya Aris ingin bicara serius pada Kayra.


"Ada apa pah?" tanya Kayra.


"Tadi papa bertemu Davin dan dia menceritakan semuanya kepada papa," ucap Aris.


Mendengar nama Davin membuat Kayra berdecak kesal.


"Lalu kenapa papa mengajak Kayra bicara setelah bertemu dengannya dan setelah papa mendengar semua ceritanya. Apa papa sekarang ingin membujuk Kayra untuk menyerahkan Brian kepadanya?" tanya Kayra dengan pikirannya yang tidak menentu.


"Kayra kamu ini bicara apa. Mana mungkin Davin sanggup memisahkan kamu dengan Brian. Walau Brian adalah darah dagingnya. Dia tidak mungkin memisahkan seorang anak dengan seorang ibu. Kamu ini pikirannya negatif terus," ucap Aris.


"Bagaimana tidak pikiran ku negatif. Karena selama ini memang itu yang terjadi," ucap Kayra.


"Kamu hanya di butakan dengan kebencian kamu kepadanya dan sampai mengorbankan Brian," sahut Aris.


"Bagaimana aku tidak membencinya dengan semua yang di lakukannya kepadaku dan aku tidak mengorbankan Brian," sahut Kayra membantah pikiran papanya kepadanya.


"Kamu tidak mengorbankan Brian. Tetapi kamu menghukum Davin dengan hal yang tidak wajah memisahkannya dari anaknya," sahut Aris.


"Papa membelanya. Karena papa tidak tau apa yang di lakukannya kepada Kayra," sahut Kayra.


"Papa mengerti perasaan kamu. Tapi kamu seorang ibu yang seharusnya juga paham. Kayra kamu tidak bisa seperti ini. Jika marah pada ayahnya maka marahlah dan jangan libatkan Brian dalam urusan kalian berdua. Kamu dan Davin orang tuanya dan kamu juga harus memikirkan. Bagaimana jika nanti Brian dewasa dan akhirnya tau ibunya melarangnya untuk bersama ayahnya. Jadi jangan melakukan sesuatu yang merugikan diri kamu sendiri," ucap Aris mengingatkan Kayra.


Kayra hanya diam dengan napasnya yang perlahan-lahan di atur nya.


"Sebagai seorang ayah. Papa hanya memberi kamu ingat dan semua hanya demi Brian. Jangan egois Kayra. Seorang ibu harus mengenyampingkan masalahnya hanya demi seorang anak. Jadi jangan melarang Davin untuk bisa dekat dengan Brian. Bukan berati mereka dekat Davin akan mengambilnya dari kamu. Davin bukan orang seperti itu. Jadi pikirkan baik-baik apa yang papa katakan," ucap Aris membuka pikiran Kayra yang sedang buntu dan hanya di penuhi emosi.


Kayra hanya diam saja yang mencoba untuk menenagkan dirinya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2