
" Kenapa kau diam Davin. Katakan di depan Kayra jika kau mencintai wanita itu," teriak Oma dengan suara yang menggelegar.
" Apa jangan-jangan pernikahan mu dengan Kayra hanya menutupi hubungan mu dengan Pricilla. Apa semua ini hanya sebuah rencana?" tanya Oma dengan menekan suaranya dan Davin dan Kayra hanya terus saling melihat dengan air mata Kayra yang jatuh di pipinya.
" Mungkin ini lah akhir dari pernikahan Davin dengan wanita itu. Akhirnya apa yang aku tunggu-tunggu terjadi juga," batin Mesya dengan menyunggingkan senyumnya.
" Huhhhh, akan terjadi perang besar. Kalau begini caranya. Memang enak pernikahannya akhirnya berhenti di tengah jalan," batin Giselle dengan senyum kemenangan yang menikmati drama indah itu.
" Apa yang sebenarnya terjadi. Apa iya kak Davin merahasiakan pernikahannya. Aku juga tidak pernah ke Perusahaan utama. Jadi aku tidak tau apa-apa," batin Zoy.
" Davin kenapa kamu diam! cepat katakan!" teriak Oma.
" Cukup Oma!" bentak Davin yang melihat ke arah Omanya.
" Davin jaga sikap kamu bagaimana mungkin kamu membentak Oma kamu sendiri," gertak Argantara.
" Kenapa Oma selalu melebar-lebarkan masalah. Ini urusan pernikahan ku dan juga Kayra. Urusan ku dengan Pricilla. Jadi stop menekanku dengan bicara ini itu. Aku sudah dewasa dan tau apa yang harus aku lakukan!" tegas Davin.
" Apa kamu ingin menyampaikan pada Oma. Kalau Kayra tau hubungan kamu dengan wanita itu?" tanya Oma.
" Jangan memulai lagi!" sahut Davin.
" Kalau begitu sekarang katakan dengan jelas. Kamu memilih siapa. Kayra atau Pricilla!" ucap Oma mengejutkan Davin dan pasti juga Kayra yang semakin bergetar di atas sana.
" Anggap Oma merestui hubungan kamu dengan Pricilla. Kamu seorang CEO Perusahaan dan Perusahaan itu akan menjadi milik kamu jika kamu bersama Pricilla. Jadi sekarang kamu akan berpihak pada siapa pada wanita itu atau pada wanita yang sudah kau jadikan istri?" tanya Oma yang membuat pilihan pada Davin.
__ADS_1
" Apa yang Oma bicarakan?" tanya Davin menekan suaranya.
" Davin kau tau semakin kau sulit untuk memilih. Istri mu di atas sana semakin menyadari jika kau tidak menginginkan pernikahan mu di lanjutkan dengannya. Jika kau lebih mementingkan perasaan wanita itu," tegas Oma.
Kata-kata Oma seakan menampar Kayra. Memang itu nyatanya keraguan Davin dalam memilih sudah menentukan status Kayra yang tidak ada di hati Davin. Dadanya semakin sesak mendengar hal itu dan tidak ingin seperti orang yang benar-benar hancur di tempat itu. Kayra pun memilih pergi dari tempat itu dengan membawa luka.
" Kayra!" lirih Oma.
" Sangat keterlaluan. Kau benar-benar cucu yang sangat menjijikkan. Kau hanya akan menyesal telah menghancurkan rumah tanggamu sendiri hanya demi wanita yang sudah menghancurkanmu!" tegas Oma menunjuk tepat di wajah Davin dan langsung pergi dengan penuh kemarahan.
" Papa tidak percaya Davin. Jika kamu bisa melakukan semua ini. Kau sudah menyakiti istrimu," ucap Altarik geleng-geleng penuh kekecewaan kepada Davin.
Davin diam dengan dadanya yang kembang kempis dan satu persatu orang di ruangan itupun ikut-ikutan memilih pergi. Karena memang tidak ada lagi tontonan yang menarik.
" Argggg sial!" umpat Davin mengusap kasar wajahnya kasar sampai kepalanya.
Sementara Kayra langsung memasuki kamar dan menutup pintu kamar dengan menyandarkan punggungnya di daun pintu dengan Kayra meremas bagian dadanya yang terasa begitu sakit.
Air matanya mengartikan semua betapa hancurnya dirinya melihat apa yang terjadi tadi. Davin menghentikan Oma untuk mengatakan pernikahan itu yang terlihat Davin sangat takut Pricilla tau dan belum dan tadi Oma menyuruh memilih Davin malah diam seolah berpikir yang membuat semakin tau di mana letak posisinya. Kayra hanya bisa menangis dengan semua yang terjadi. Dia dia merasakan hal yang begitu sakit.
" Apa yang terjadi Kayra, apa semua ini. Kenapa semuanya sesakit ini? bagaimana ini?" Kayra bertanya-tanya di dalam tangisannya yang begitu kuat yang merasakan sesak di dadanya.
Ternyata suara isakan tangis Kayra yang sengugukan di dengarkan Davin yang berdiri di depan pintu. Davin ingin memasuki kamar yang mungkin akan bicara pada Kayra. Namun di hentikan nya ketika mendengar suara Kayra yang menagis begitu jelas.
" Kau harus menyelesaikan semua masalah ini. Aku tidak bisa membiarkan semuanya berlarut-larut seperti ini. Aku harus menyelesaikan urusanku dengan Pricilla," batin Davin yang langsung pergi dari depan kamar itu dengan langkah yang terburu-buru.
__ADS_1
Kayra yang masih terus meremas dadanya yang terasa begitu sakit. Kayra menghentikan tangisnya ketika mendengar suara mesin mobil. Kayra menyeka air matanya dan langsung berjalan cepat ke luar jendela. Yang mana Kayra masih sempat melihat Davin yang melakukan mobil dengan kecepatan tinggi.
Kayra mendengus kasar dengan air matanya kembali jatuh yang dadanya semakin sesak melihat ke pergian Davin yang terlihat buru-buru.
" Jadi sekarang Davin menemui Pricilla. Dia pergi begitu saja yang tidak ingin terjadi apa-apa pada Pricilla," ucap Kayra dengan suaranya yang serak yang semakin sakit dengan kenyataan itu, dia mungkin mengharapkan Davin memasuki kamar dan bicara padanya.
" Seharusnya aku tidak apa-apa. Seharusnya aku baik-baik saja. Seharusnya itu bukan urusanku. Tetapi kenapa rasanya sesakit ini. Kenapa aku merasa begitu sakit dengan semua ini. Kenapa harus ada yang terluka
Pernikahan ini hanya palsu. Aku tidak apa-apa sama sekali," ucap Kayra yang terus menangis dengan menyalahkan dirinya karena bermain perasaan dalam hubungan yang hanya sementara.
Kayra memijat kepalanya yang tiba-tiba pusing bahkan Kayra menahan tangannya pada tembok agar tidak jatuh. Karena tubuhnya mendadak begitu lemas.
Hembusan napas berat Kayra terdengar naik turun dengan Kayra memegang perutnya dan terlihat dia begitu lelah dan Kayra mencoba untuk menenagkan dirinya terlebih dahulu karena takut terjadi sesuatu pada kandungannya.
" Kayra tenanglah, kau harus tenang. Jika tidak bayimu akan kenapa-napa," ucap Kayra yang mencoba menetralkan perasaanya.
********
Davin langsung ke Perusahaan, begitu keluar dari mobil Davin terlihat buru-buru berjalan menuju salah satu ruangan dengan penuh kemarahan yang terlihat wajahnya memerah dengan rahang kokoh yang mengeras sampai urat-urat lehernya terlihat dengan jelas.
Bruk. Davin membuka pintu ruangan itu dengan kasar yang mana ada Pricilla duduk di kursi dan kaget melihat ke datangan Davin yang begitu cepat.
" Davin!" lirih Pricilla yang berdiri dari duduknya dan menghampiri Davin yang terlihat penuh amarah dengan memancarkan aura dinginnya. Namun Pricilla tidak peduli dan langsung menghampiri Davin dengan memeluk Davin erat.
" Aku yakin kau akan datang," ucap Pricilla. Davin memegang kedua tangan Pricilla dan melepas paksa mendorong Pricilla dengan membuat jarak cukup jauh di antara mereka yang membuat Pricilla shock.
__ADS_1
.