Pernikahan Dalam Ikatan Surat Kontrak.

Pernikahan Dalam Ikatan Surat Kontrak.
Bab 238


__ADS_3

Melihat berita di televisi sungguh sangat mengejutkan yang membuat Rafa dan keluarga sangat panik dengan bencana yang melanda dan bahkan terlihat jelas banyak orang yang berlari.


"Ya ampun kondisi di sana semakin parah," lirih Zoy sampai menutup mulutnya karena saking khawatirnya dengan keadaan di sana.


"Bagaimana dengan Kayra yang ada di sana?" tanya Altarik yang ikutan panik.


"Papa bagiamana mama papa? Mama ada di sana papa bagaimana mama?" tanya Brian yang terus merengek karena takut mamanya kenapa-kenapa.


"Brian kamu tenang ya!" Oma Elishabet langsung mendekati Brian dan berusaha untuk menenangkan Brian. Karena Davin memang tidak bisa tenang dengan kondisi Brian yang panik. Davin sendiri masih melihat berita itu yang terlihat sangat shock.


"Bagaimana Brian mau tenang, mama sedang tidak baik-baik saja," ucap Brian.


"Mama, mama, mama," rengek Brian yang terus memanggil sang mama membuat Davin membuang napasnya dengan perlahan kedepan.


"Sayang tenang sayang. Mama tidak akan papa. Mama akan baik-baik saja, kamu jangan kawatir," ucap Davin yang berusaha untuk menenangkan putranya yang terus merengek.


"Davin apa yang harus kita lakukan?" tanya Mesya.


"Coba Giselle kamu hubungi terus Kayra," sahut Altarik.


Giselle mengangguk dan mencoba untuk menghubungi Kayra. Reyhan juga melakukan hal yang sama menelpon rumah sakit di sana menanyakan tentang Kayra apakah baik-baik saja atau tidak.


"Tidak ada respon sama sekali," sahut Giselle dengan wajah paniknya.


"Aku juga sudah menghubungi rumah sakit dan sepertinya sinyal di sana tidak ada. Makanya komunikasi tidak bisa," sahut Reyhan.


"Aku akan menyusul Kayra," sahut Davin yang langsung mengambil keputusan.


"Kamu mau menyusul Kayra?" tanya Mesya.


"Iya, aku harus memastikan konsinyasi. Jika dia baik-baik saja. Aku tidak bisa hanya diam menunggu saja," sahut Davin yang langsung bertindak.


"Tapi Davin di sana juga bahaya," sahut Oma mengingatkan.


"Kayra jauh lebih penting dari pada lainnya," sahut Davin yang memang sangat mencemaskan Kayra.


"Brian mau ikut. Kalau papa menyusul mama," ucap Brian.

__ADS_1


"Tidak Brian. Brian tidak boleh ikut. Brian harus tetap di sini sama Nenay dan yang lainnya biar papa yang menemui mama dan papa janji mama akan pulang, papa akan bawa mama pulang bertemu dengan Brian dan yang lainnya. Brian jangan Khawatir," ucap Davin yang mencoba memberi sang anak pengertian.


"Tapi mama benar-benar baik-baik ajakan?" tanya Brian.


"Iya mama akan baik-baik saja. Jangan takut, papa akan bawa mama dan akan kumpul lagi sama kita," ucap Davin meyakinkan Brian.


"Baiklah pak kalau begitu papa harus janji sama Brian mama akan pulang sama papa," ucap Brian.


"Papa janji sayang," jawab Davin yang memeluk Brian. Sebenarnya dia juga sedang tidak baik-baik saja. Namun harus kuat semuanya untuk sang anak yang mana Brian harus tenang dan percaya kepadanya.


"Kamu hati-hati lah Davin dan semoga Kayra tidak apa-apa," ucap Oma. Davin menganggukkan kepalanya.


"Aku minta sama kalian semua di sini untuk menenangkan Pak Aris juga. Katakan kepadanya kalau aku akan membawa Kayra pulang," ucap Davin yang tau kalau Aris juga akan mengkhawatirkan anaknya


"Kamu jangan Khawatir nanti papa akan sampaikan. Yang penting kamu bisa fokus dan bisa membawa Kayra pulang. Masalah lain kami yang akan mengurus di sini," ucap Altarik yang membuat Davin menganggukan kepalanya. Hal itu jauh lebih baik baginya.


"Aku ikut sama kak Davin," sahut Zoy.


"Jangan Zoy itu bahaya," cegah Mesya.


"Tidak mah, Zoy akan baik-baik saja. Kak Davin Zoy ikut ya," ucap Zoy dengan yakin akan ikut. Davin sepertinya tidak masalah dan menganggukkan kepalanya. Mesya harus pasrah dengan keputusan Zoy yang mengerikan.


"Reyhan tunggu!" panggil Davin.


"Iya bos," sahut Reyhan


"Aku akan bersam Dion. Kamu urus pekerjaan disini," ucap Davin. Karena dia juga tidak mungkin meninggalkan pekerjaan. Jadi harus bagi tugas dengan Reyhan.


"Baiklah bos," sahut Reyhan.


"Yang penting kalian hati-hati. Oma berharap tidak ada yang terluka dan kalian bisa pulang dengan selamat dan kamu juga Zoy kamu harus jaga diri. Kamu sudah memilih untuk ikut. Jadi harus punya tanggung jawab sendiri dan jangan merepotkan," ucap Oma memberikan saran pada Zoy.


..."Iya Oma. Jangan khawatir," sahut Zoy dengan mengangguk dengan yakin....


**********


Papua Barat.

__ADS_1


Bencana longsor itu memang tepat di depan mata Kayra. Tetapi untunglah Kayra tidak apa-apa sama sekali dan bisa menyelamatkan diri. Namun cuaca di tempat itu semakin buruk, belum lagi sekarang di tambah hujan deras. Yang membuat mereka memasang tenda darurat dan lagi-lagi harus hancur karena angin kencang dan mereka harus menggunakan rumah sakit dengan padatnya minta ampun.


Belum lagi pasien yang terus bertambah dan bantuan dari ibu kota tidak kunjung datang yang pasti butuh banyak bantuan seperti obat-obatan dan makanan.


Kayra yang begitu berantakan terus berusaha menangani pasien yang tidak peduli dengan kondisi dirinya yang seperti apa. Yang penting pasien-pasien itu selamat.


"Kayra kamu makan dulu, biar aku gantikan," ucap Anggi yang tau Kayra sejak tadi belum makan sama sekali.


"Tidak apa-apa Anggi, ini tanggung," jawab Kayra.


"Kayra ayolah, kamu makan dan bersih-bersih sebentar, lihat diri kamu. Kalau kamu tidak peduli dengan diri kamu. Kalau kamu sakit kita akan kekurangan Dokter lagi. Jadi makanlah," tegas Anggi yang berusaha memaksa rekannya itu yang sejak tadi hanya peduli dengan pasien di bandingkan dengan dirinya.


"Ayo buruan," desak Anggi mendorong Kayra pelan dan mau tidak mau Kayra pun harus mengisi perutnya dulu. Agar dia juga baik-baik aja dan tidak sempat drop karena tidak peduli dengan dirinya.


**********


Setelah beres-beres. Kayra pun langsung ke dapur umum untuk makan dan di sana ada Maya yang juga sedang makan.


"Kayra!" sapa Maya. Kayra hanya tersenyum kaku.


"Ayo kemari makan!" ajak Maya. Kayra mengangguk dan langsung menduduki tempat duduk untuk segera makan.


Kayra mulai makan. Namun wajah Kayra tidak bisa bohong. Jika Kayra tidak baik-baik saja. Makan terlihat tidak selera dengan banyak yang di pikirkannya.


"Ada apa Kayra?" tanya Maya.


"Aku tidak menyangka. Jika kita akan ada di dalam masalah ini," ucap Kayra dengan lesu yang duduk di atas tidak bersama dengan Maya.


"Sama aku juga. Ini pertama kali aku menjadi Suster relawan dan ini ternyata seperti ini. Pertama aku sangat mengeluh dengan keadaan di sini yang tidak sama dengan Jakarta. Ternyata keluhanku di balas dengan sangat parah yang mana sekarang bencana besar datang melanda tempat ini dan tidak tau apa kita akan bisa pulang ke Jakarta atau tidak," ucap Maya yang bercerita sembari berkaca-kaca.


Kayra sendiri bahkan menakutkan hal itu. Dia memikirkan Brian dan barusan di depan matanya juga melihat bencana dengan jelas dan untung saja dia bisa lolos dengan di selamatkan warga. Jika tidak mungkin sekarang dia tidak bisa makan bersama Maya.


"Kayra kamu pasti khawatir sama Brian ya?" tebak Maya. Kayra mengangguk apa adanya. Memang dia sangat mengkhawatirkan Brian.


"Aku tidak sempat bicara banyak kepadanya. Namun suaranya yang aku dengar tadi terlihat sangat ketakutan. Aku juga sama seperti kamu Maya. Aku takut tidak bisa kembali dan aku tidak bagaimana nanti nasib Brian jika aku tidak ada," Kayra jadi mewek yang pikirannya sudah kemana-mana.


"Lalu apa yang harus kita lakukan. Pihak rumah sakit di Jakarta belum bertindak. Sampai saat ini tidak ada bantuan sama sekali dan tempat ini yang paling teraman dan bagaimana jika tempat yang paling teraman ini juga akan di serang bencana," sahut Maya yang ikutan mewek.

__ADS_1


Keduanya sama-sama sensitif dengan pikiran mereka masing-masing dan akhirnya berpelukan dengan menangis yang sama-sama menguatkan satu sama lain.


Bersambung.


__ADS_2