Pernikahan Dalam Ikatan Surat Kontrak.

Pernikahan Dalam Ikatan Surat Kontrak.
Bab 68. Harus berhenti.


__ADS_3

Tidak tau apa yang di lakukan Kayra yang berdiri di depan cermin dia hanya menempel-nempel bedak saja. Namun matanya melihat ke arah Davin dari cermin yang mana Davin sekarang fokus pada handphonenya.


" Kayra apa kau tidak bisa tidak melihatnya seperti itu," batin Kayra yang mencuri-curi pandang melihat Davin dalam diam.


Dan seketika Davin juga melihat ke arah Kayra membuat mata mereka bertemu dari cermin.


" Apa yang dia katakan serangga. Dia menganggapku serangga yang membuat tanda-tanda di tubuhnya itu. Apa aku memang seorang serangga. Karya-karya. Apa kau tidak bisa membedakan mana perbuatan serangga dan perbuatanku. Itu bukan salahku Kayra siapa yang menyuruhmu. Punya tubuh yang membuatku haru kecanduan padamu," batin Davin yang terus menatap Kayra dari cermin.


" Kenapa dia melihatku. Apa dia ingin mengatakan sesuatu?" tanya Kayra di dalam hatinya yang penuh kebingungan.


" Lain kali jangan memancingku Kayra dengan keindahan tubuhmu itu. Aku tidak tau kapan akan khilaf lagi atas tubuhmu. Aku tidak tau kapan aku akan khilaf lagi. Karena menyentuhmu bukanlah suatu kesalahan. Kau istriku dan halal untuk ku sentuh," batin Davin yang tampaknya benar-benar candu dengan tubuh itu.


" Hmmm, Apa aku katakan pada Davin ya masalah kemarin. Sepertinya memang aku harus mengatakan pada Davin masalah itu dan mumpung di ada di sini dan ini waktu yang tepat untuk membicarakan hal itu," batin Kayra yang mengalihkan pikirannya yang tiba-tiba kepikiran dengan hal lain.


Kayra membalikkan tubuhnya dan melangkah mendekati Davin yang tepat berdiri di depan Davin.


" Davin!" tegur Kayra dengan wajahnya yang sedikit gugup. Mungkin apa yang di sampaikannya bukan hal yang biasa makanya dia terlihat begitu gugup.


" Ada apa?" tanya Davin dengan mengangkat kepalanya melihat ke arah Kayra yang sebelumnya Davin memang kembali melihat ponselnya.


" Hmmm, aku_ aku. Ada yang ingin aku bicarakan dengamu ini masalah penting," ucap Kayra yang semakin gugup dengan tangannya memegang bawah dressnya yang tampak begitu gugup.


" Kalau begitu katakan. Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Davin.


" Hmmm, begini Hmmmm," Kayra masih saja belum yakin untuk membicarakan apa yang ingin di bicarakannya. Dia memang tampak begitu gugup.


" Kau ingin bicara?" tanya Davin yang menunggu Kayra yang ingin tau apa yang akan di katakan Kayra kepadanya.


" Hmmm, iya aku mau mengatakan kepadamu. Apa aku bisa pulang ke Jakarta," jawab Kayra dengan yakin yang membuat Davin menatap Kayra tajam setelah Kayra mengucapkan permintaan itu. Di mana tatapan Davin begitu manis dan lembut dengan seketika harus berubah.


" Kau mau pulang ke Jakarta?" tanya Davin memastikan. Kayra mengangguk dengan rasa takut-takut mengatakan hal itu kepada Davin.


" Apa ini berhubungan dengan hal itu dan sekarang meminta pulang ke Jakarta. Kenapa bertanya Davin ini memang berhubungan dengan hal itu," batin Davin yang kelihatannya marah mendengar kepulangan Kayra.


" Ya Allah, kenapa wajah Davin begitu memerah. Apa dia tidak akan memberi ku izin untuk pulang ke Jakarta," batin Kayra yang semakin gugup dengan melihat ekspresi Davin.


" Katakan alasan kenapa kau ingin pulang ke Jakarta? Bukannya kau begitu bahagia. Karena ada papamu di sini dan kau bisa menghabiskan banyak waktu bersamanya selama di sini. Bukankan tempat ini yang kau inginkan dan mengabdikan dirimu kepada papamu yang mana kau dan dia bisa terus bersama di sini dalam waktu yang tidak singkat," ucap Davin.


" Iya kamu benar Davin. Aku memang senang jika ada di Dubai. Tetapi aku harus pulang ke Jakarta karena ada hal yang mendadak," ucap Kayra.


" Kau belum mengatakan alasanmu yang jelas kenapa harus kembali ke Jakarta," ucap Davin yang ingin tau jelasnya.


Sebenarnya tanpa Kayra beritahu juga Davin juga sudah tau pamitan Kayra ini untuk apa. Dia jelas tau arah tujuan bicara Kayra. Apa lagi jika bukan dengan apa yang di katakan Reyhan kemarin kepadanya. Yang mana pasti mengenai permintaan Aldo.


" Jika aku mengatakan Aldo pasti Davin akan marah. Tapi apa yang harus aku katakan," batin Kayra penuh dengan keraguan yang harus mengatakan apa.


" Kenapa tidak menjawab Kayra. Apa aplasanmu harus kejakarta?" tanya Davin yang benar-benar ingin mendengar dari mulut Kayra.


" Aku ada pekerjaan mendadak," jawab Kayra singkat.


" Pekerjaan apa?" tanya Davin dengan menatap serius Kayra.

__ADS_1


" Itu, masalah kantor. Yang mana aku harus kembali ke Jakarta karena ada..."


" Aku tidak mengijinkannya," sahut Davin memotong pembicaraan Kayra padahal Kayra belum selesai melanjutkan kalimatnya dan bahkan tidak menjelaskan apa-apa kenapa dia harus pulang.


" Aku belum selesai bicara Davin," sahut Kayra.


" Kau tidak perlu tau lanjutannya, yang penting aku tidak memberimu izin," sahut Davin dengan penuh penekanan dan juga penegasan pada Kayra.


" Tapi Davin. Ini pekerjaan yang harus aku lakukan," ucap Kayra yang sedikit memaksa Davin untuk memberinya ijin.


" Aku mengatakan tidak mengijinkanmu. Maka tidak dan terserah kau mau menurutiku atau tidak. Jika kau tetap pergi maka pergilah dan minta tiket pada Reyhan. Tetapi tetap dengan apa yang aku katakan. Aku tidak memberimu ijin sama sekali. Jadi semua ada pada pilihanmu. Pergi jika mau pergi," tegas Davin dengan dengan wajah seriusnya yang membuat Kayra diam karena Davin terlihat marah padanya.


Davin memang tidak memberi izin Kayra. Padahal Davin belum mendengar semuanya dari Kayra. Ya karena Davin memang sudah tau alsan Kayra yang harus pergi karena apa.


Tetapi Davin ingin menguji Kayra apakah Kayra akan pergi atau tidak. Karena Davin juga memberikan kemudahan yang walau tidak memberi ijin Kayra tetapi tetap menyiapkan Kayra tiket ke Jakarta dan semua di urus Reyhan jika Kayra tetap ngotot mau pulang ke Jakarta. Tetapi dasarnya Davin tidak mengijinkannya.


" Jika sudah siapa, maka ayo kerumah sakit, jangan membuang waktuku," ucap Davin yang mendadak dingin dan langsung berdiri dan saat melangkah ingin pergi Kayra menghentikan tangan Davin membuat Davin melihat ke arahnya dengan tatapan mereka yang kembali sudah berbeda.


" Ada apa lagi?" tanya Davin dengan suara dinginnya.


" Apa aku tidak ada kesempatan untuk pulang ke Jakarta sebentar saja. Aku akan kembali jika pekerjaanku selesai," ucap Kayra yang masih tetap ingin pergi dan butuh ijin dari Davin.


" Davin aku mohon beri aku ijin. Aku tau ini kesempatanku untuk bersama papa. Tetapi aku juga punya kesempatan lain yang aku juga tidak bisa tidak mengambilnya," ucap Kayra yabg membujuk Davin.


" Sebenarnya aku juga tidak ingin ke Jakarta Davin. Aku ingin bersama papa lama-lama di sini. Tetapi aku bisa di keluarkan dari Perusahaan. Jika aku tidak menuruti Pak Aldo. Aku tidak akan ada pekerjaan lagi dan kuliahku bisa terbengkalai, meski menjadi istrimu. Tetapi aku tidak menikmati uangmu. Davin aku mohon beri aku izin," ucap Kayra. Tetapi semua itu hanya di dalam hatinya saja. Karena mana ada keberanian dia mengatakan itu pada Davin apa lagi harus menyangkut Aldo.


" Kayra benar-benar ngotot ingin ke Jakarta. Ini karena Aldo yang akan membawanya ke Bali atau karena Kayra takut di pecat oleh Aldo, dia akan melakukan apapun demi keinginan pria itu dan bahkan rela meninggalkan papanya," batin Davin yang terus menatap ke-2 bola mata itu.


" Kau menyukainya?" tanya Davin dengan tatapan tajam pada Kayra. Mendengar kata-kata Davin membuat Kayra menautkan alisnya yang heran dengan perkataan Davin.


" Apa maksud mu, siapa?" tanya Kayra heran.


Davin melepas tangan Kayra dari tangannya dan gantian memegang tangan Kayra sedikit mencengkramnya dan mendorongnya ke tempat tidur sampai Kayra berbaring dan dan Davin berada di atas tubuhnya menindihnha yang membuat Kayra kaget dengan perlakuan Davin terlihat kasar.


" Apa yang kau lakukan Davin? lepaskan aku!" tanya Kayra yang berusaha mendorong dada bidang Davin.


" Katakan kepadaku. Kau menyukainya atau tidak. Atau kalian memang punya hubungan special?" tanya Davin dengan suara beratnya yang menindih tubuh Kayra yang mendesak wanita di bawah sana.


" A-a-apa maksud kamu. Siapa yang kamu katakan?" tanya Kayra heran yang merasa sesak dengan Davin yang menindih tubuhnya dan Kayra terus berusaha untuk memberontak.


" Siapa lagi jika bukan Aldo. Bukannya kau ingin pergi bersamanya. Kau pulang ke Jakarta karena permintaannya. Dan kau sampai begitu bersemangatnya sehingga akan meninggalkan papa yang kau katakan yang kau sayangi yang menjadikan alasanmu menjadi perempuan bodoh dan selalu mengalah dengan ibu tirimu dan sekarang karena laki-laki itu kau bisa pulang dengan mudahnya," ucap Davin yang kelihatannya cemburu dan bahkan wajahnya memerah.


Aldo memang satu-satunya Pria yang membuat Davin gelisah dan pasti tidak tenang dan jika di tanya cemburu pasti iya. Hal itu tidak dapat di pungkiri sama sekali.


" Kenapa Davin bisa tau alasan aku pulang ke Jakarta. Aku tidak mengatakan apa-apa sama sekali dan dia terlihat begitu marah," batin Kayra dengan penuh kebingungan.


" Jawab aku Kayra. Apa hubunganmu dengan dia?" tanya Davin yang terus mendesak Kayra.


" Aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya," jawab Kayra.


" Jangan berbohong!" teriak Davin dengan emosi dan bahkan volume suaranya sedikit keras.

__ADS_1


" Aku tidak berbohong Davin. Aku serius. Aku ke Jakarta memang karena ada urusan dengan Pak Aldo yang mana itu masalah pekerjaan. Aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya. Percayalah! aku juga tidak mungkin meninggalkan papa. Tetapi karena masalah itu aku harus ke Jakarta dan akan kembali lagi," jelas Kayra yang merasa sesak dengan dengan tindihan Davin kepadanya yang membuatnya kesulitan untuk bernapas.


" Aku bilang jangan berbohong!" sentak Davin.


" Aku tidak bohong!" tegas Kayra.


" Kayra!" gertak Davin yang menekan suaranya. Membuat mata Kayra berkeliling melihat wajah Pria itu.


" Apa kau cemburu Davin?" tanya Kayra dengan suara beratnya yang menatap pria yang di penuhi emosi di depannya itu. Mendengar Kayra mengatakan hal itu membuat rahang kokoh Davin mengeras dengan urat-urat yang mulai terlihat dan sorot matanya yang tajam.


" Kenapa kau bisa mengatakan aku cemburu?" tanya Davin yang emosinya semakin menggebu-gebu.


" Kau begitu marah. Jika apa-apa menyangkut Pak Aldo yang padahal memang sungguhan. Aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya. Tetapi kau penuh kemarahan dan tepatnya kecemburuan. Aku ingin tau apa kau memang sedang cemburu?" tanya Kayra yang ingin tau perasaan Davin.


Mendengarnya Davin menyunggingkan senyumnya dengan tatapan matanya yang tidak lepas dari 2 bola mata Kayra yang sangat menunggu jawaban darinya.


" Kau akan tau jawabannya?" ucap Davin yang tanpa permisi menempelkan bibirnya pada Kayra yang membuat Kayra benar-benar terkejut dengan Davin yang menciumnya tiba-tiba.


" Mpt, mpt," Kayra memberontak saat di cium kasar oleh Davin. Menciumnya dengan paksaan membuat Kayra kesulitan bernapas dan berusaha untuk mendorong dada bidang Davin.


" Apa yang kau lakukan Davin hentikan Davin," kata-kata itu hanya bisa di ucapkan Kayra di dalam hatinya. Karena mulutnya yang telah di kuasai Davin.


Davin benar-benar tidak peduli dengan Kayra yang menolak ciuman itu atau tidak. Bahkan tangan Kayra yang menghalanginya membuat Davin menaikkan 2 tangan itu di atas kepala Kayra dan mencengkram dengan satu tangannya untuk memudahkan memperdalam ciumannya yang terlihat kasar membuat Kayra hanya terus memberontak dan merasa tidak bisa bernapas.


" Davin kenapa kau seperti ini. Apa yang kau lakukan," Kayra hanya bisa mengeluh di dalam hatinya yang jujur dia tidak menikmati ciuman Davin yang memaksa dan terlihat begitu menggebu-gebu.


Tidak tau Davin kenapa seperti itu tangannya bahkan membuka kancing dress bagian atas Kayra. Cengkraman tangannya sudah di lepasnya dari tangan Kayra yang mana tangan Davin sekarang di gunakannya untuk menyentuh tubuh Kayra. Tangan itu dengan lihainya masuk kedalam pakai dalam Kayra dan menyentuh apa saja yang di inginkannya.


Sementara untuk ciumannya berpindah pada leher jenjang Kayra yang mana tanda-tanda yang di berikannya tadi malam belum juga hilang. Lepasnya ciuman itu membuat Kayra baru bisa bernapas yang terlihat sesak dan terus mengatur napasnya yang naik turun dan sementara Davin sudah menciumi lehernya dengan ke-2 tangannya yang bermain pada area sensitif Kayra yang membuat Kayra menikmatinya namun tersiksa. Karena itu terkesan memaksa dan merendahkan dirinya.


Davin memang layaknya seperti seorang pria yang memperkosa. Hanya dengan marah pada Kayra membuatnya seperti itu dan Kayra seakan pasrah dengan apa yang di lakukan Davin kepadanya.


" Davin kau menyakitiku," kata itu lolos dari mukut Kayra dengan suara seraknya yang mampu membuat Davin yang awalnya membabi buta menghentikan permainan itu dan mengangkat kepalanya melihat wanita di bawahnya yang begitu tersiksa oleh ke bodohannya dan bahkan air matanya menetes dari pelupuk matanya membuat Davin kesulitan menelan salivanya.


" Apa yang kau lakukan. Kenapa memperlakukan ku seperti ini. Aku sangat tersiksa," ucap Kayra mengeluhkan ke adaannya.


Napas Davin naik turun yang berusaha untuk mengendalikan dirinya dengan matanya yang saling menatap dengan Kayra. Napas yang sama-sama berat yang saling menerpa.


" Kau yang membuatku seperti ini," ucap Davin dengan suara seraknya yang menatap simpati pada wajah Kayra yang tanpa sadar dia telah menyakiti Kayra.


Terlihat keheningan di antara mereka berdua yang saling melihat tanpa ada lagi yang bersuara hanya napas yang tidak teratur yang saling menerpa.


" Aku sudah mengatakan tidak mengijinkanmu untuk pergi dan jika kau ingin pergi. Maka pergilah!" ucap Davin dengan suara beratnya dan langsung bangkit dari tubuh Kayra yang akhirnya menghentikan perbuatan gilanya.


Kayra menghela napasnya ketika Davin sudah tidak menindihnya lagi dan Davin sekarang berdiri di depannya dan posisi Kayra masih terbaring.


" Ganti pakaian mu. Tunggu aku di depan kamar ku, Aku ingin mandi sebentar, setelah itu kita kerumah sakit ucap Davin yang akhirnya keluar dari kamar itu.


Tidak bisa memaksa Kayra untuk melampiaskan kemarahannya membuatnya Davin yang keluar dari kamar Kayra sedikit membuka pintu kasar.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2