Pernikahan Dalam Ikatan Surat Kontrak.

Pernikahan Dalam Ikatan Surat Kontrak.
Bab 124.


__ADS_3

" Argggghhh Sial!" teriak Mesya yang seperti orang kesetanan yang mana suaminya juga tidak mempedulikannya dan sekarang Mesya harus mengamuk yang di sana ada Lian, Giselle dan juga Zoy.


" Kenapa rencanaku berantakan seperti ini. Semuanya sia-sia. Davin juga yang pada akhirnya mendapatkan semuanya," teriak Mesya dengan memegang kepalanya yang semakin berat.


" Semuanya belum berakhir mah," sahut Lian.


" Diam kamu!" bentak Mesya dengan suaranya yang menggelegar membuat Lian langsung terdiam.


" Semua ini juga gara-gara kamu. Kamu tidak pernah bejus dalam melaksanakan semua perintah mama. Lihat semuanya. Kamu hanya di suruh untuk lebih unggul dari pada Davin dan itu saja kamu tidak bisa melakukannya. Kamu disuruh untuk mengacau pernikahan Davin dan Kayra, membuat mereka berpisah. Kamu juga tidak bisa melakukannya. Tidak ada yang bisa kamu lakukan. Kamu malahan membuat ulah dengan menghamili wanita itu," ucap Mesya yang marah-marah yang sekarang Lian menjadi sasarannya.


" Aku di jebak mah," sahut Lian melakukan pembelaan.


" Diam!" teriak Mesya.


Alasan ku sudah tidak berguna lagi sekarang. Apapun yang kamu katakan sudah tidak ada artinya lagi. Semuanya kacau. Kalian semua tidak ada yang bisa di andalkan. Kalian mau menjadi gembel yang tidak punya apa-apa nantinya hah! mama melakukan semua ini demi kebaikan kalian. Apa kalian mau menjadi gembel!" teriak Mesya yang kehilangan kendalinya yang terus marah-marah dengan suaranya yang keras. Bahkan Mesya sudah tidak peduli lagi suaranya akan terdengar atau tidak.


" Mama tenangkan diri mama dulu jangan marah-marah seperti ini. Kalau mama marah-marah tidak akan ada gunanya. Tidak akan mendapatkan jalan keluarnya," sahut Giselle mencoba menenangkan mamanya itu.


" Bagaimana tidak marah-marah jika kalian semua tidak ada yang bejus sama sekali," sahut Mesya.


" Mah, pengalihan Perusahaan pada kak Davin belum resmi. Dion masih menyiapkan segalanya dan kita masih punya banyak waktu untuk menggalakan semuanya," sahut Giselle.


" Apa maksud kamu?" tanya Mesya.


" Eyang tiba-tiba membuat keputusan ini. Karena kehamilan Kayra. Itu artinya semua karena Kayra. Jadi menghentikan semua ini pun harus dari Kayra. Karena dia kuncinya," ucap Giselle sepertinya punya rencana membuat Mesya melihatnya seriusnya.


" Apa maksud kamu Giselle?" tanya Zoy merasa ada yang tidak beres.


" Jika tidak ada anak di dalam perutnya mungkin Oma masih akan berubah pikiran yang artinya kita masih punya kesempatan," sahut Giselle tersenyum punya rencana.


" Apa itu artinya sekarang yang kita lakukan adalah menyinggirkan bayi di dalam kandungan Kayra," sahut Mesya menebak apa yang di pikirkan Giselle.


" Lalu apa lagi jika bukan itu," sahut Giselle dengan tersenyum. Lian juga tersenyum mendengarnya yang pasti sependapat dengan Giselle dan Mesya kelihatannya sudah bisa meredahkan emosinya ketika mendengarkan ide terbaik Giselle.


" Itu tidak mungkin di lakukan," sahut Zoy yang protes.


" Apa maksud kakak tidak mungkin," sahut Giselle.

__ADS_1


" Kalian jangan aneh-aneh. Jangan hanya karena harta. Kalian semua ingin membunuh bayi yang tidak berdosa," sahut Zoy mengingatkan orang-orang yang sedang di rasuki keserakahan.


Protes Zoy jelas membuat Mesya, Giselle dan Lian hilang tidak biasanya Zoy berpendapat lain dan sekarang komplen.


" Kak semua ini lakukan demi kebaikan kita dan salah Kayra sendiri. Kenapa masuk kedalam keluarga ini yang mengacaukan semuanya," sahut Giselle.


" Tetap saja Giselle ide kamu sangat buruk. Kalian membahayakan nyawa orang lain hanya untuk masalah kekuasaan dan apa lagi pada anak yang tidak berdosa sama sekali. Hal itu sangat tidak masuk akal," ucap Zoy yang terlihat cemas.


" Ada apa dengamu Zoy?" tanya Mesya menatap anaknya itu dengan serius yang seperti ada sesuatu.


" Benar, tumben-tumbenannya kamu seperti ini. Kamu membela mereka. Jelas-jelas ide Giselle sudah paling terbaik dan kamu malah protes. Kamu berpihak pada mereka. Kamu mau miskin apa," sahut Lian.


" Aku tidak berpihak kepada siapapun. Aku hanya tidak mau mama dan kalian ber-2 melakukan tindakan kriminal yang membahayakan nyawa orang lain. Jadi sebaiknya jangan mengikuti ide Giselle itu sangat tidak benar," tegas Zoy.


" Lalu kamu punya ide yang jauh lebih baik dari Giselle?" sahut Mesya bertanya.


" Mah, sudahlah biarkan saja kak Davin yang mengelolah Perusahaan. Tidak ada gunanya untuk protes," sahut Zoy.


" Kamu menceramahi mama," sahut Mesya dengan nada kesal.


" Aku hanya mengingatkan saja. Aku hanya tidak mau kalian semua terjebak dengan perbuatan kalian sendiri. Aku hanya melakukan ini demi kebaikan keluarga kita. Karena bagaimanapun kita adalah keluarga yang seharusnya tidak seperti ini," tegas Zoy dengan bijak berkata.


" Aku harap mama bisa menerima keputusan Oma dan tidak melakukan hal konyol apapun. Aku permisi dulu," ucap Zoy yang pergi dari tempat itu.


" Zoy!" panggil Mesya. Namun Zoy tidak menjawab sama sekali.


" Ada apa dengannya?" tanya Mesya heran.


" Kau juga tidak tau. Kak Zoy memang belakangan ini sangat aneh, dia bahkan tidak menanggapi rencana-rencana yang mama katakan. Dan sekarang dia bahkan komplen dan seolah membela kak Davin," sahut Giselle yang heran dengan perubahan Zoya


" Sudahlah biarkan saja dia mah. Yang penting kita melakukan banyak upaya untuk menyinggirkan bayi Melody. Agar Oma dengan secepatnya mengubah keputusannya," sahut Lian. Mesya mengangguk dengan menyunggingkan semuanya yang pasti sangat setuju dengan apa yang di katakan Lian dan ide Giselle menurutnya yang paling terbaik.


***********


Sementara di dalam kamar Kayra sedang berdansa di kepala ranjang yang hanya melihat ponselnya menscroll yang tidak tau apa di lihatnya.


Davin keluar dari kamar mandi dengan pakaian santainya dengan rambutnya yang basah dan di lapnya dengan handuk kecil.

__ADS_1


Davin langsung menghampiri tempat tidur dan langsung telungkup di paha Kayra membuat Kayra mengejutkan yang mana Davin mengusap-usap perut rata Kayra sembari menciumnya yang membuat Kayra tersenyum dengan tingkah Davin terlihat gemes dengan calon bayi mereka.


Mungkin memang sebagian laki-laki akan seperti itu yang suka meraba-raba perut istrinya kalau sedang hamil. Davin membalikkan tubuhnya yang terlentang dengan berbantalkan paha Kayra.


" Aku sangat bahagia hari ini!" ucap Davin melihat ke arah Kayra. Kayra tersenyum dengan melap rambut Davin yang masih basah.


" Karena Oma sudah memberikan apa yang kamu mau?" tanya Kayra.


" Kamu benar. Akhirnya aku mendapatkan semua yang aku mau. Aku berkorban banyak untuk mendapatkan semua itu. Aku melakukan hal yang tidak perlu aku lakukan untuk mendapatkan semua itu," ucap Davin yang berbicara melihat ke langit-langit kamar dan Melody tiba-tiba menghentikan pekerjaannya yang meresapi perkataan Davin.


" Apa warisan itu sangat penting untuk mu Davin?" tanya Kayra dengan suara pekanya.


" Jelas itu sangat penting untukku Kayra. Bukankah pernikahan kita karena di mulai dari semua itu," ucap Davin. Wajah Kayra terlihat datar yang sepertinya ada yang di rasakannya. Tetapi tidak tau apa itu.


" Hmmm, pernikahan kita memang di mulai dari sana, kita menikah dengan kontrak untuk mendapatkan warisan dari Oma," ucap Kayra tersenyum kaku membuat Davin melihat ke arahnya.


" Kamu kenapa?" tanya Davin dengan memegang pipi Kayra.


" Memang aku kenapa?" tanya Kayra.


" Aku melihat ada sesuatu yang kamu pikirkan. Apa kamu memikirkan sesuatu?" tanya Davin.


" Tidak tau kenapa tiba-tiba saja aku merasa kau tidak akan membutuhkan ku lagi," ucap Kayra yang jujur dengan apa yang di pikirkannya. Hal itu membuat Davin terkejut mendengarnya. Memang itulah Kayra pikirannya akan begitu panjang.


Davin langsung duduk dengan menghadap Kayra, wajah Kayra menunduk membuat Davin memegang dagu Kayra, mengangkat dagu itu untuk mensejajarkan wajah mereka.


" Apa menurutmu setelah aku mendapatkan semua yang aku mau. Lalu aku akan meninggalkanmu?" tanya Davin. Kayra diam yang tidak mampu menjawabnya. Namu memang itu yang di takutkannya.


" Kayra aku sudah mengatakan aku tidak akan pernah meninggalkanmu dalam keadaan apapun. Masalah warisan sudah tidak bersangkutan dengan pernikahan kita. Itu sudah lain arah. Kau tetap istriku. Mau aku tidak mendapatkan apapun atau mendapatkan semuanya. Kau tetap istriku!" tegas Davin dengan lembut bicara pada Kayra.


" Apa kau mempercai itu?" tanya Davin. Kayra mengangguk pelan.


" Aku mohon padamu Kayra. Jangan memikirkan hal itu lagi. Sama sekali tidak ada di pikiranku masalah itu. Mungkin kau menganggap aku terlalu obsesi untuk warisan. Tapi aku melakukan semua itu hanya untuk mendapatkan hak ku. Dan itu bukan hak mereka," ucap Davin yang terus memberi pengertian pada Kayra agar tidak salah paham.


Kayra memegang pipi Davin yang mana dia sudah mulai sedikit tenang.


" Aku minta maaf sudah berpikiran seperti itu. Sekarang aku sadar. Jika seharusnya aku tidak meragukan dirimu," ucap Kayra. Davin tersenyum mendengarnya dan mencium lembut kening Kayra. Lalu memeluknya

__ADS_1


" Jangan memikirkan hal itu lagi," ucap Davin memeluk Kayra erat. Kayra mengangguk-angguk yang memang seharusnya tidak meragukan Davin.


Bersambung


__ADS_2