
Kayra dan Anggi berjalan menuju ruangan direksi untuk mengikuti rapat rumah sakit dengan pihak-pihak rumah sakit yang berkaitan.
"Akhirnya punya kesempatan juga untuk melihat pemilik rumah sakit terbaru," ucap Anggi begitu semangat yang sekarang mereka sedang memasuki lift.
"Apa gunanya. Memang pemiliknya seperti apa. Kok sangat heboh," sahut Kayra dengan cueknya dengan ke-2 tangannya yang berada di sakit jas Dokternya.
"Ya ampun Kayra bagaimana tidak heboh pemiliknya sangat tampan. Punya wajah yang rupawan dan iya sangat berwibawa," sahut Anggi yang memuji-muji Pria yang belum di temui Kayra sebelumnya.
"Memangnya kamu sudah pernah melihatnya? Katanya belum. Tetapi sudah sok tau," sahut Kayra sewot.
"Melihat dengan dekat memang belum. Tetapi aku pernah melihatnya dari jauh belum dan ini kesempatan untuk melihatnya dari dekat, Udahlah Kayra kamu itu harus buka mata," ucap Anggi menyarankan.
"Buka mata, jadi menurut kamu sekarang aku tutup mata gitu. Kamu ini aneh-aneh aja," ucap Kayra geleng-geleng.
"Bukan itu maksud aku Kayra. Maksud aku kamu itu harus..."
"Stop jangan bicara lagi," sahut Kayra yang malas mendengar ocehan temannya itu.
"Baiklah aku hanya menyarankan saja," sahut Anggi dengan mengangkat ke-2 bahunya.
Akhirnya rapat para Dokter dan dewan direksi di adakan di lantai atas yang mana memang khusus untuk rapat. Semua Dokter sudah berkumpul baik dari Pria maupun dari wanita dan untuk perawat sendiri hanya ada beberapa saja yang mana hanya kepala perawat saja yang mewakili yang lainnya.
"Selamat pagi semuanya!" sapa seorang Pria yang berkacamata yang sudah tua menyapa para orang-orang yang ada di dalam ruangan itu.
"Selamat pagi," sahut mereka dengan serentak.
"Untuk pertemuan kita kali ini pasti berkaitan dengan kepemilakan rumah sakit yang baru. Mungkin kalian semua sudah mendengar isu-isu yang beredar dan memang benar pengalihan kepemilikan rumah sakit sudah di pindahkan. Jangan khawatir untuk para Dokter tidak akan ada yang berubah dan mungkin hanya kinerja kerja yang akan ada perubahan sedikit. Tetapi sampai sejauh ini pemilik yang baru tidak akan melakukan pemindahan posisi Dokter atau wilayah pemindahan pemandangan medis. Karena mereka tidak akan turut campur karena tugas utama Dokter untuk kesembuhan pasien," jelas Pria itu singkat dan padat yang lain mendengarnya mengangguk-angguk sajak.
"Baiklah untuk mempersingkat waktu. Kita akan datangkan langsung pemilik rumah sakit yang baru," ucap Pria itu mempersilahkan dengan melihat kearah pintu.
__ADS_1
Prok- prok prok prok prok prok prok prok.
Sambutan tepuk tangan yang meriah telah di perdengarkan untuk menyambut pemilik rumah sakit yang baru. Seorang Pria tampan yang memasuki ruangan itu yang ternyata adalah Davin dan Reyhan yang mengikut di belakangnya.
"Kayra lihat itu orangnya," ucap Anggi dengan pelan yang menunjuk Davin. Kayra menghela napasnya dan melihat ke arah pintu. Mata Kayra terbuka lebar begitu terkejutnya saat melihat Davin yang ternyata adalah pemilik rumah sakit yang baru.
"Davin! jadi dia pemilih rumah sakit yang baru," batin Kayra yang begitu terkejut ketika melihat kedatangan Davin.
"Bagaimana Kayra tampan bukan. Ya ampun jelas sangat tampan kamu sampai tidak berkedip melihatnya," ucap Anggi yang menggoda Kayra dengan menyenggol Kayra membuat Kayra panas dingin dan terlihat sangat shock.
Davin dengan wibawanya dan cool-nya berdiri sejajar dengan para petinggi lainnya menghadap Dokter-Dokter yang berdiri berbaris dan pandangan mata Davin langsung pada Kayra yang terlihat gelisah yang membuat Davin mendengus.
"Ini tuan Davin yang menjadi pemilik rumah sakit cendrawasih," ucap Pria itu yang memperkenalkan Davin.
"Selamat siang semuanya," sapa Davin dengan ramah.
"Selamat siang pak," sahut mereka dengan serentak.
"Dan iya semoga kalian juga menerima saya untuk pimpinan yang baru di rumah sakit ini," lanjut Davin dengan ramah.
Dokter-dokter itu menanggapi dengan baik dan mengangguk-angguk yang tampaknya sangat menyukai Davin.
Davin menghela napasnya dan berjalan di depan jajaran para dokter-dokter itu.
"Jika ada sesuatu yang ingin kalian sampaikan, jangan sungkan untuk menemui saya. Karena saya masih baru dan pasti sangat tabu dengan dunia medis dan sangat senang sekali. Jika kalian mau berbagi pengalaman, masukan untuk masalah medis," ucap Davin yang berhenti tepat di depan Kayra.
Jangan tanya Kayra bagaimana eksperesinya melihat Davin saja dia ogah sangat berbeda dengan Anggia yang di samping Kayra yang tersenyum manis memandangi wajah Davin tanpa berkedip sama sekali.
"Dokter Kayra!" tegur Davin melihat kearah Kayra membuat mereka beradu pandang.
__ADS_1
"Benar Dokter Kayra?" tanya Davin.
"Iya," jawab Kayra ketus.
"Saya tidak mungkin salah, karena bad namanya tertulis," ucap Kayra tersenyum miring. Dan Kayra hanya mengumpat kesal.
"Dokter Kayra. Kira-kira ada yang ingin Dokter ingin sampaikan atau laporkan kepada dewan direksi?" tanya Davin dengan sindiran.
Kayra mengepal tangannya mendengar kata-kata Davin. Belum sampai 1 jam. Kayra mengancam Davin dan ternyata Davin pemilik rumah sakit itu.
"Bagaimana Dokter Kayra apa ada?" tanya Davin lagi.
"Untuk saat ini tidak ada. Tetapi mungkin nanti ada," jawab Kayra dengan mengepal tangannya membuat Davin tersenyum dengan mengendus.
"Hmmm, saya akan menunggunya," sahut Davin.
"Sial. Kenapa harus Davin yang menjadi pemilik rumah sakit. Apa jangan-jangan ini adalah taktiknya. Dia tau aku ada di sini dan pasti ini adalah rencananya," batin Kayra yang hanya bisa mengumpat dengan penuh kekesalan dengan Davin.
"Baiklah pak. Saya rasa cukup perkenalan hari ini," sahut Davin dengan tersenyum.
"Baiklah terima kasih tuan Davin untuk waktunya dan mohon bimbingan dan arahan untuk para dokter-dokter kami," sahut pria itu yang sejak tadi bicara.
"Saya juga mohon bimbingannya," sahut Davin dengan tersenyum.
"Baiklah untuk kalian semua silahkan kembali melaksanakan tugas kalian, tetap semangat dan lakukan yang terbaik untuk pasien-pasien kita," ucap Pria itu memberikan arahan.
Para dokter-dokter itu mengangguk-angguk dan akhirnya satu persatu bubar dan Kayra dan Davin saling melihat. Dan jangan tanya bagaimana mata Kayra melihat Davin sangat membenci Davin dan rasanya ingin mencabik-cabik Davin.
Namun Davin menanggapi tatapan itu hanya dengan mengeluarkan senyumnya untuk Kayra.
__ADS_1
"Mau sejauh apapun kamu menghindar tidak akan bisa Kayra. 5 tahun sudah cukup Kayra untuk aku membiarkan mu bersembunyi dan sekarang tidak akan," batin Davin yang melihat kepergian Kayra yang di tarik Anggi.
Bersambung