
" Altarik kamu ini!" tegur Oma melihat putranya yang menggoda cucunya.
" Ya kan benar Oma apa yang aku katakan," sahut Altarik.
" Apaan sih pah. Udahlah nggak usah membahas itu lagi. Aku mau mandi," sahut Davin sudah malas dan langsung pergi ke kamar mandi dari pada harus mendengarkan papanya yang bicara melantur lagi-lagi.
" Sudah-sudah sebaiknya kita ke luar dari kamar ini. Kamu tidak apa-apa kan Kayra?" tanya Oma.
" Tidak apa-apa Oma. Sekali lagi makasih ya Oma," ucap Kayra.
" iya," sahut Oma yang akhirnya pergi bersama yang lainnya.
" Menyusahkan saja," desis Giselle sebelum pergi.
" Huhhhhh, untung aja bisa keluar dari kamar mandi. Jika tidak isssss mau sampai kapan aku di sana. Ya ampun aku juga harus kekantor. Ini sudah sangat siang," ucap Kayra yang baru kepikiran harus pergi kekantor juga.
***********
Davin harus kekantor sangat siang. Walau seperti itu dia tetap kekantor. Karena bekerja adalah hobinya. Davin yang sudah sampai di Perusahaan langsung memasuki ruangannya dan ketika pintu itu di buka Davin kaget dengan seorang wanita yang sudah duduk di sofa itu.
" Davin!" lirih Pricilla yang tersenyum pada Davin dan langsung berdiri.
" Ngapain kamu di sini?" tanya Davin yang memasuki ruang kerjanya itu.
" Aku menelponmu. Kamu tidak mengangkatnya. Jadi aku memutuskan untuk menemuimu di sini. Aku juga tadi tanya di pada Reyhan dan dia juga tidak tau kamu di mana. Makanya aku memutuskan menunggumu di sini," jawab Pricilla, " memang kamu dari mana kenapa baru kekantor siang seperti ini?" tanya Pricilla.
" Tidak dari mana. Aku memang ingin berangkat siang saja," jawab Davin dengan datar-datar.
" Hmmmm, begitu rupanya. Untung aja aku tidak jadi datang kerumah mu tadi," ucap Pricilla. Davin langsung menatap serius Pricilla.
" Kerumahku. Kau mau kerumahku?" tanya Davin menebak dengan wajahnya sedikit panik.
" Tadi iya, tapi aku undurkan bahkan aku sudah sampai di depan pagar rumahmu," jawab Pricilla dengan tersenyum lebar.
" Pricillia!" Davin langsung mencengkram tangan Pricilla dan itu lumayan keras membuat pricillia menahan sakit, " jangan berani-beraninya menemuiku di rumahku. Kau tau kan masalah yang akan terjadi jika kau sampai kesana," ucap Davin menegaskan.
__ADS_1
" Sakit Davin!" keluh Pricilla dan Davin menyadari dia menyakiti wanita itu. Lalu melepaskan cengkraman itu.
" Sorry!" sahut Davin.
" Tidak apa-apa. Aku mengerti. Kamu panik jika aku kesana. Kamu takut aku bertemu Oma. Kamu sangat mengkhawatirkanku, aku minta maaf. Aku janji tidak akan datang kesana. Karena aku juga tidak mau membuatmu khawatir," ucap Pricilia dengan tutur kata yang lembut yang tersenyum pada Davin.
" Baguslah kalau begitu. Jangan coba-coba untuk kesana," sahut Davin. Pricilla menganggukkan kepalanya.
" Ya sudah sekarang kamu mau tidak menemani aku untuk jalan-jalan," ucap Pricilla.
" Aku ada pekerjaan," jawab Davin dengan ketus.
Pricilla langsung memegang tangan Davin,
" Davin aku hanya meminta untuk di temani. Kan kamu yang paling tau tempat yang mana yang bagus-bagus. Lagian kita bukan hanya sebatas teman saja. Tetapi kita juga adalah rekan bisnis. Jadi apa salahnya kamu menemaniku," ucap Pricilla dengan suara manjanya yang memegang lengan Davin dengan kedua tangannya.
" Mau ya," ucap Pricilla dengan tersenyum yang wajahnya begitu mengharap Davin untuk menemaninya.
" Davin!" tegur Pricilla lagi yang berusaha untuk membujuk Davin.
" Baiklah! tetapi hanya sebentar," sahut Davin yang tampaknya tidak bisa menolak.
***********
Davin dan Pricilla jalan-jalan di Mall dengan Pricilla yang membawa beberapa kantong paper bag. Ya sepertinya Pricilla berbelanja dengan banyak. Karena mungkin dia ingin menghabiskan uang nya untuk di Mall itu.
" Davin kita ke toko sepatu sebentar ya," ucap Pricilla.
" Bukannya tadi kamu bilang belanjanya sudah," sahut Davin tampaknya sudah bosan menemani Pricilla belanja.
" Ini yang terakhir janji," ucap Pricilla dengan mengangkat kedua jarinya. Davin membuang napasnya kasar dan mengangguk pasrah.
" Makasih!" sahut Pricilla yang langsung menarik Davin untuk ketoko sepatu. Tempat yang ingin di kunjungi nya.
Ternyata di Mall yang sama Kayra juga ada di sana. Karya dan Indri yang ada di Mall tersebut.
__ADS_1
" Aduh Indri mau cari kemana lagi coba," keluh Kayra yang tampaknya lelah dengan Indri yang mencari sesuatu yang tidak di temukan.
" Bentar Kayra, kita harus bersabar, sebentar lagi juga akan dapat," sahut Indri.
" Sabar mulu. Cari sepatu yang model lain aja kenapa juga harus mencari yang itu sih," ucap Kayra dengan kesal.
" Ya nggak bisa dong Kayra kan kalau kayak kayak gitu nggak cocok. Jadi bersabar sebentar aja nanti kalau sudah ketemu kita langsung pulang," ucap Indri
" Isssss," desis Kayra yang tidak ada semangatnya sama sekali.
" Itu kita kesana!" tunjuk Indri yang langsung menarik tangan sahabatnya itu untuk memasuki toko yang sama dengan toko yang di masuki Davin dan Pricilla.
Pricilla mencari-cari hak-hak model terbaru yang di inginkannya. Sementara Indri mencari-cari model sepatu sport yang sejak tadi tidak di temuinya.
" Aku cari kesana dulu!" ucap Indri menunjuk rak.
" Terserah kamu, aku dah malas, aku di sini saja," sahut Kayra yang membiarkan saja Indri mau mencari kemana dia hanya berdiri dan menunggu temannya. Paling juga yang di cari temannya tidak ada.
Sementara Pricilla sudah menemukan Hells yang di inginkannya.
" Bagus tidak Davin?" tanya Pricilla.
" Bagus," jawab Davin dengan datar.
" Aku ingin mencobanya," sahut Pricilla yang ingin mencobanya. Davi. Hanya mengangguk saja.
" Davin aku boleh minta tolong untuk di bukakan tali heels aku. Soalnya rok aku pendek tidak mungkin aku membungkuk," ucap Pricilla dengan hati-hati minta tolong pada Davin.
" Baiklah kalau begitu," sahut Davin yang langsung berjongkok dan membantu membukakan heels yang masih di pakainya. Namun siapa sangka ternyata Kayra yang ada di sana melihat hal itu.
Tidak terlalu jauh jarak dengannya berdiri. Melihat suaminya yang berjongkok di depan wanita yang membuka sepatu wanita yang membuatnya tiba-tiba merasakan sesuatu seperti tidak suka, marah dan cemburu. Tidak tau apakah itu perasaaan yang biasa atau itu sangat berlebihan.
" Kayra aku menemukannya!" suara Indri dari ujung sana membuat Kayra tersentak kaget. Terlebih lagi dengan Davin mendengar nama Kayra di panggil membuat Davin menoleh kesampingnya dan melihat jelas Kayra berdiri di sana yang membuat Davin kaget dan spontan tangannya terlepas dari kaki Pricilla.
" Kayra!" lirih Davin yang langsung berdiri dan Pricilla heran dengan Davin tidak melanjutkan pekerjaannya dan malah fokus melihat ke arah Kayra.
__ADS_1
" Bukannya dia temannya Aldo," batin Pricilla yang masih mengingat siapa Kayra.
Bersambung