Pernikahan Dalam Ikatan Surat Kontrak.

Pernikahan Dalam Ikatan Surat Kontrak.
Bab 199


__ADS_3

"Apa operasi mu sampai berjam-jam. Sampai kau tidak sempat mengangkat telpon," sahut Davin.


"Davin apa-apaan sih. Kenapa kau jadi marah-marah kepadaku. Aku bilang aku operasi dan nyawa orang ditanganku dan aku tidak mungkin memakai handphone saat Operasi. Kau mengerti tidak jika aku hanya menyalatkan pasien," sahut Kayra dengan kesal dengan suara berteriak.


"Lalu bagaimana dengan Brian. Apa nyawanya tidak penting," sahut Davin yang berteriak pada Kayra. Yang membuat Kayra kesal Davin yang bisa-bisanya menyalahkan dirinya.


"Kayra Brian itu adalah anakmu. Apa kau sanggup meninggalkan dia sendirian hah! bagaimana jika aku tadi tidak datang apa yang akan terjadi padanya dan kau malah di rumah sakit. Aku tau kau Dokter. Tapi kau juga harus tau kewajiban mu dan Brian tidak seharusnya di tinggal sampai selarut ini. Kau bisa-bisanya berada di rumah sakit sampai larut malam dan Brian sakit di sini. Apa kau tidak punya pikiran sama sekali mengenainya. Apa kau bisa tenang bekerja hah!" ucap Davin yang marah-marah dengan Kayra menyalahkan Kayra atas apa yang terjadi pada Brian.


Kayra menghela kasar napasnya dengan mendengus kasar melihat Davin dengan tangan Kayra yang terkepal.


"Pergi kau dari sini! kau tidak tau apa-apa tentangku. Jadi pergi dari sini. Jangan menggangguku!" usir Kayra yang mencoba untuk menangkan dirinya di saat Davin menyalahkan dirinya.


"Kau itu baru datang tadi Davin. Aku yang selama ini bersamanya. Kau itu baru muncul. Jadi jangan sok tau pergi dari sini!" usir Kayra lagi dengan air matanya yang keluar dan Davin hanya melihat Kayra dengan bapa Davin yang naik turun.


"Mamah," lirih Brian tiba-tiba.


"Brian," sahut Kayra yang langsung mengecek keadaan Brian dengan memegang tangan Brian.


"Sayang ini mama," ucap Kayra dengan memegang tangan Brian yang masih panas.


"Papah!" panggil Brian yang juga membutuhkan Davin. Karya hanya diam yang mana Davin tadi ingin pergi dan tidak jadi dan menghampiri Brian yang duduk di samping sebelah kiri Brian dan Kayra di kanannya.


"Papa ada di sini Brian," sahut Davin.


"Mama sama papa jangan ribut, Brian mau tidur," ucap Brian yang mungkin mendengar pertengkaran Davin dan juga Kayra. Davin dan Kayra saling melihat.


"Jangan memikirkan apa sayang, biar mama periksa Brian ya. Soga Brian tidak apa-apa," ucap Kayra yang langsung mengecek putranya itu.


Brian yang dengan matanya terpejam sangat penurut dan diam saja saat Kayra menyuntik Brian untuk menghilangkan rasa panas di tubuh Brian. Namun satu tangan Brian terus memegang tangan Davin.


"Brian minum obat sebentar ya," ucap Kayra yang membukakan tablet obat.


"Aku sudah memberinya obat yang sama," sahut Davin yang tadi menyuruh Reyhan ke apotik dan membawakan obat dari Dokter. Kayra pun tidak jadi memberikannya.


Brian membuat matanya dan melihat ke arah Davin dan Kayra. Brian langsung menatap 2 orang itu dengan secara bergantian dan memegang tangan orangtuanya yang menyatukan di dadanya.

__ADS_1


"Brian mau tidur sama mama dan papa," ucap Brian yang tidak ingin jauh-jauh dari orang tuanya.


Davin dan Kayra saling melihat yang mana 2 orang itu sama-sama masih menahan kekesalan.


"Papa harus pulang Brian," ucap Davin.


"Tidak mau. Papa di sini saja," rengek Brian dengan suara manjanya.


"Jangan seperti itu Brian. Biarkan papa kamu pulang," sahut Kayra.


"Mama boleh ya. Papa sama Brian. Brian ingin papa di sini," ucap Brian lagi.


Kayra menghela napasnya, "baiklah, kamu tidurlah bersama papa, biar besok tubuh kamu enakan. Mama kekamar dulu," ucap Kayra.


"Mama juga di sini," ucap Brian yang menahan tangan Kayra. Dia tidak mau jika mamanya pergi.


"Tapi sayang," sahut Kayra yang tidak mungkin tidur bersama Davin.


"Mama jangan pergi. Brian tidak mau," regengek Brian.


"Sekarang Brian istirahat ya," ucap Davin. Brian mengangguk.


Kayra pun merebahkan dirinya di samping putranya dengan memeluk putranya itu dan tidak mempedulikan Davin yang tadi sibuk menyalahkan dirinya.


Davin menghela napasnya dan juga mau tidak mau ikut tertidur di samping Brian. Yang mengawasi Brian jika nanti Brian bangun tiba-tiba.


Brian tau aja cara membuat orang tuanya dekat.


Jam menunjukkan semakin larut dan sekarang Brian dan Kayra sudah tertidur. Namun Davin tidak. Dia yang di samping Brian yang hanya melihat Kayra dan Brian secara bergantian.


tingnong-tinnong.


Tiba-tiba bel apartemen berbunyi.


"Siapa yang datang malam-malam begini," batin Davin yang akhirnya turun dari ranjang untuk melihat siapa yang bertamu di atas jam 12 malam seperti itu.

__ADS_1


Davin pun langsung membuka Apartemen dan ternyata adalah Aris.


"Pah," ucap Davin yang kaget melihat Aris dan Aris juga.


"Davin kamu di sini juga," sahut Aris.


"Iya pah," sahut Davin.


"Kayra sudah pulang?" tanya Aris.


"Sudah pah," jawab Davin.


Hufffff, Aris menghela napasnya dengan panjang.


"Syukurlah jika Kayra sudah pulang, papa lupa tadi Kayra menyuruh papa untuk menjaga Brian. Saat Brian pulang dari rumah sakit. Karena Kayra bilang ada operasi panjang," ucap Aris.


"Maksud papa?" tanya Davin.


"Seharusnya Kayra tadi libur, dia sengaja untuk libur untuk beristirahat di rumah. Tetapi jam 7 malam tadi Kayra di telpon pihak rumah sakit untuk menggantikan Dokter. Dia pergi buru-buru dan papa lupa untuk datang," ucap Aris dengan wajah bersalahnya.


"Jadi sebenarnya seharian ini Kayra bersama Brian dan bahkan dia baru kerumah sakit. Dan aku malah menyalahkannya yang menganggapnya dari pagi pergi," batin Davin yang merasa bersalah telah menyalahkan Kayra tanpa tau apa-apa.


"Kayra itu sangat panik. Jika meninggalkan Brian sendirian. Biasanya papa, Silvia dan Haykal yang menjaganya dan Brian juga sering kerumah papa. Tetapi karena buru-buru pergi. Kayra tidak sempat menunggu papa pastinya. Papa juga baru teringat sekarang," ucap Aris yang menjelaskan.


Semakin Aris menjelaskan hal itu semakin membuat Davin merasa bersalah.


"Ya sudah Davin. Kalau begitu papa pulang aja kembali," ucap Aris.


"Ini sudah larut malam. Kenapa tidak di sini saja," ucap Davin.


"Tidak usah Davin. Papa pulang aja," sahut Aris menepuk bahu Davin dan diapun langsung pergi.


Davin menghela napasnya dan kembali menutup Apartemen dan Davin kembali kekamar Brian. Davin menatap Kayra dengan nanar yang tertidur memeluk Brian. Sangat jelas di lihat wajah Kayra begitu lelah.


"Aku benar-benar bersalah. Tidak seharusnya aku menyalakan Kayra. Dia yang selama ini bersama Brian seharusnya dia sudah tau semuanya dan aku tidak seharusnya menyalahkan dirinya," batin Davin yang baru menyesal sekarang.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2