Pernikahan Dalam Ikatan Surat Kontrak.

Pernikahan Dalam Ikatan Surat Kontrak.
Bab 69 Secepat itu berbaikan.


__ADS_3

Setelah kepergian Davin Kayra pun langsung duduk dengan beberapa kali menghela napasnya dengan panjang. Kayra melihat penampilannya yang dengan cepat berantakan. Dengan kancing baju bagian atasnya terbuka dan juga bagian bawahnya yang naik. Rambutnya juga pasti berantakan dan jangan tanya tanda-tanda itu juga pasti semakin bertambah. Padahal sebelumnya dia sudah rapi-rapi.


" Huhhhh, Davin begitu marah karena permintaan ku dan juga perkataan ku. Kayra seharusnya kau mengerti bagaimana sifat Davin. Ini bukan pertama kalinya marah karena masalah Pak Aldo. Aku tidak tau apa yang membuatnya marah. Atau apa yang aku rasakan saat melihatnya bersama Pricilla itu juga yang di rasakannya jika aku bersama Pak Aldo," ucap Kayra dengan menyibak rambutnya kebelakang yang mana dia masih mengatur napasnya yang belum stabil sama sekali.


" Aku belum selesai mengatakan apa-apa kepadanya. Dia sudah semarah itu dan hampir saja memaksaku untuk melakukan hubungan itu. Apa Davin tau apa sebenarnya alasanku untuk ke Jakarta. Tidak perlu bertanya lagi Kayra. Dia pasti tau makanya seperti itu. Kau tau sendiri kan bagaimana dia emosinya jika sudah berhubungan dengan Pak Aldo," ucap Kayra.


" Sudahlah Kayra, kau ganti pakaian saja. Nanti Davin menunggumu terlalu lama dan nanti dia akhirnya marah lagi," ucap Kayra yang tidak mau membuat masalah lagi. Karena masalahnya yang sudah begitu banyak.


Kayra menarik napasnya panjang dan langsung berdiri untuk mengganti pakaiannya. Karena pakaian yang di gunakannya sudah begitu kusut dan tidak mungkin di gunakan lagi.


Sementara Davin ternyata benar-benar mandi di dalam kamar mandi yang ada di kamarnya. Davin yang berdiri di bawah shower dengan kepala yang mengadahkan ke atas dengan matanya yang terpejam.


..." Apa kau cemburu!"...


Perkataan Kayra terus terus teringat di dalam pikiran Davin. Bukan hanya itu perbuatannya yang barusan juga kembali teringat.


" Apa perasaanmu kepadanya. Tidak mungkinkan. Jika kau sudah menyukainya. Davin tubuh wanita memang membuat kita ketagihan dan hanya itu alasan mu melakukan itu kepadanya. Bukan seperti apa yang di katakannya. Kau tidak mungkin cemburu. Kau hanya tidak suka jika Kayra yang masih dalam perjanjian itu harus menyimpang kesana kemari. Hanya itu alasannya bukan karena kecemburuan mu. Aldo bukanlah selevel denganmu yang harus bertanding padanya," batin Davin yang mencoba mengerti perasaannya yang berkecamuk di dalam sana yang tidak dapat di mengertinya.


" Tapi apapun itu seharusnya kau belajar mengontrol dirimu. Tidak seharusnya kau melakukan itu kepadanya. Dia manusia Davin. Terlebih lagi istrimu. Kayra tidak tau apa-apa dia memaksa meminta izin hanya karena takut dengan Aldo. Seharusnya kau mengerti bagaimana posisinya Davin. Bukan Kayra yang kau salahkan tetapi Aldo," batin Davin yang menyadari perbuatannya barusan itu sangat kelewatan.


" Argggghhh," Davin berteriak dengan mengusap kasar wajahnya, " Kau benar-benar gila Davin. Sial!!!!!" umpat Davin menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi hari barusan.


************


Setelah selesai mandi dan menenangkan kembali dirinya Davin pun akhirnya keluar dari kamarnya setelah sudah rapi yang ingin pergi dan Kayra sudah ada di sana menunggu Davin yang mana Kayra juga sudah mengganti pakainnya sesuai dengan apa yang di minta Davin barusan.


Terlihat diam dan hanya saling melihat sebentar tanpa ada pembicaraan. Namun harus ada yang di bicarakan.


" Ayo. Kita harus kerumah sakit!" ajak Davin dengan suara datarnya yang kemudian Davin langsung pergi begitu saja yang tidak bicara banyak-banyak lagi pada Kayra.


" Dia masih marah," lirih Kayra menghela napasnya dan mengikuti Davin yang berjalan terlebih dahulu.


********


Davin dan Kayra berjalan dengan langkah yang tidak sejajar. Di mana Davin melangkah terlebih dahulu dan bahkan memasuki lift tanpa menunggu Kayra. Dan Kayra harus cepat-cepat masuk supaya tidak ketinggalan. Di dalam lift Kayra maupun Davin terlihat sama-sama diam. Mereka berdiri bersebelahan yang diam seribu bahasa.


" Siapa yang sebenarnya harus marah. Apakah dia atau aku. Mungkin dia marah dengan apa yang aku katakan tadi ke padanya, keinginan ku dan iya aku akui aku memaksanya untuk memberiku ini. Tetapi dia juga melakukan itu kepadaku. Lalu apa aku tidak bisa marah dengan apa yang di lakukannya tadi," batin Kayra yang terlihat gelisah dan bingung harus berbuat apa.


Dia juga merasa sakit dengan perbuatan Davin barusan dan dia juga menyadari kesalahannya. Namun ke-2nya tampak tidak akan ada komunikasi karena Davin memilih diam tanpa bicara dengan mood Davin yang sudah berantakan.


" Kayra. Tidak apa-apa jika kau harus mengalah bicaralah padanya," batin Kayra.


Kayra terlihat tidak ingin ada kesalahan pahaman di antara ke-2nya dan ingin mengalah. Jika harus memulai duluan. Kayra menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan.


" Davin!" tegur Kayra memegang lengan Davin.


" Ada apa?" tanya Davin dengan suara datarnya yang melihat tangan Kayra yang memegang lengannya.


" Aku--"

__ADS_1


" Jika kau masih membicarakan apa yang kau bicarakan tadi. Maka jangan membahas itu denganku. Kau tau seperti apa aku Kayra. Jadi jangan memancingku lagi," ucap Davin yang tidak ingin mendengar pembahasan Kayra yang membuat mereka akan semakin berdebat nantinya.


" Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanya Kayra membuat Davin melihat ke arahnya.


" Apa maksudmu?" tanya Davin heran.


" Aku mengakui salah. Aku tau apa yang tidak kau sukai. Namun aku tetap memaksanya. Aku mengakui itu salah satu kesalahanku. Tetapi Davin kau juga bersalah. Kau juga tidak seharusnya melakukan itu. Jika aku hanya bertanya dan tidak seharunya menjawab dengan apa yang kau lakukan barusan. Jadi bukan hanya kau yang marah Tetapi aku juga," ucap Kayra dengan matanya yang sendu yang bicara pada Davin.


Davin tampak diam dan memang benar dia juga salah dan bahkan tadi saat mandi mengakui kebodohannya.


" Aku minta maaf jika apa yang aku katakan membuatmu marah. Aku hanya tidak punya pilihan lain. Karena dalam situasi apapun posisi ku tidak pernah aman. Aku meminta ijin kepadamu karena sudah berpikir panjang-panjang. Aku tidak ada niat apapun selain pekerjaan dan hubunganku dengan pak Aldo tidak ada sama sekali. Perempuan sepertiku. Tidak punya waktu Davin untuk menjalin hal seperti itu. Selain kesulitan posisi ku. Kau juga mengikatku dalam pernikahan yang aku tau batas ku sampai mana. Mau pernikahan itu kontrak atau tidak tapi aku tau batas seorang istri sampai mana," ucap Kayra dengan kata-kata yang lembut yang membuat Davin hanya menyimak perkataan itu saja.


" Jadi maafkan aku. Jika aku menimbulkan keributan tadi dan membuatmu seperti itu," ucap Kayra yang tidak akan henti-hentinya untuk meminta maaf pada Davin.


" Sudahlah lupakan. Aku sudah mengatakan jangan membahas hal itu lagi. Jika kau ingin pwrgi. Aku tidak akan melarang mu untuk pulang ke Jakarta dan terserah kau mau kembali atau tidak. Tetapi aku juga tidak mengijinkanmu untuk pergi dan semua pilihan ada padamu bukan padaku," tegas Davin yang tidak mau mendengar apapun dari Kayra.


Membiarkan pergi dan dan tidak memberikan izin. Itu memang adalah pilihan yang begitu sulit.


" Apa kau mengerti?" tanya Davin yang sudah tidak melihat Kayra lagi.


" Iya aku mengerti," jawab Kayra.


" Kayra sudahlah. Kau sudah bicara padanya dan jika dia masih marah. Itu tidak ada sangkut pautnya lagi denganmu. Yang penting kau sudah berusaha dan dia mungkin tidak menyadari kesalahannya. Kau tidak bisa memaksa hal itu," batin Kayra yang juga akhirnya memilih untuk diam.


Pintu lift terbuka dan membuat Davin langsung keluar dari lift yang di ikuti oleh Kayra yang terus saja menghela napasnya panjang.


" Kita Kerumah sakit dulu. Baru setelah itu kita mencari sarapan," ucap Davin.


Davin dan Kayra menuju mobil dan mereka sama-sama memasuki mobil masih dengan wajah cueknya Davin alias masih kesal pada Kayra.


Sebelum Davin menjalankan mobil itu. Davin menoleh ke arah Kayra. Mata Davin turun pada pergelangan tangan Kayra yang memerah yang dapat di pastikan itu semua karena perbuatannya pada Kayra.


Davin menghela napasnya dan membuka laci di dalam mobil itu lalu mengambil salep dan langsung mengambil tangan Kayra membuat Kayra heran dengan Davin menghadap dirinya dan sekarang mengobati luka di tangan itu.


" Maafkan aku. Tidak seharusnya aku melakukan itu kepadamu, maaf jika aku kasar kepadamu," ucap Davin yang akhirnya meminta maaf pada Kayra. Jujur Kayra begitu senang mendengar kata maaf dari Davin.


" Kau mau memaafkanku?" tanya Davin mengangkat kepalanya melihat ke arah Kayra. Dan Kayra mengangguk tanpa ragu untuk memaafkan Davin.


" Aku tidak akan melakukannya lagi," ucap Davin. Kayra tidak tau apakah itu janji atau tidak. Tetapi mendengar Davin mengucapkan hal itu membuat Kayra merasa lega dan hatinya sudah tenang dan merasa masalahnya dan Davin benar-benar sudah selesai.


" Kau kenapa diam?" tanya Davin yang sudah selesai mengobati lengan Kayra dan sekarang melihat Kayra dalam-dalam.


" Bukannya kejadian ini hari ini harus kita lupakan?" sahut Kayra.


" Iya kau benar. Kita harus melupakannya," jawab Davin yang mengembalikan posisi duduknya tegap lurus di kursi pengemudi.


" Aku ada urusan sebentar bersama Reyhan. Kau menunggu di mobil saja. Setelah itu kita kerumah sakit!" ucap Davin yang tiba-tiba mengubah jadwalnya.


" Memang mau kemana?" tanya Kayra.

__ADS_1


" Tidak kemana-mana. Hanya di tempat kemarin. Jadi jangan khawatir. Aku tidak akan lama. Jika kau mau ikut ya sudah," ucap Davin.


" Tidak usah. Aku menunggu di mobil saja. Jika memang kau tidak lama-lama," ucap Kayra.


" Ya sudah kalau begitu kita jalan sekarang nanti kita terlambatnya," ucap Davin.


Kayra menganggukkan kepalanya dan memasang sabuk pengamannya. Dia cukup lega dengan permasalahannya dan Davin yang dengan cepat selesai dan sekarang tergantung dia harus mengambil tindakan apa atas pilihan yang sudah di berikan Davin kepadanya. Mungkin pilihan itu juga akan mempengaruhi hubungan Kayra dan Davin selanjutnya nanti bagaimana.


**********


Jakarta.


Penyelesaian masalah Davin dan Kayra sangat cepat selesai. Namun sekarang Silvia harus menggila di dalam kamarnya dengan menyapu semua barang-barang di atas meja riasnya. Menyapu dengan tangannya dengan suara teriakan yang begitu kuat.


Silvia dengan kemarahannya yang tidak bisa mengendalikan dirinya di dalam kamar seperti orang gila. Dengan menarik seprai merusak tempat tidur yang tadinya rapi menjadi berantakan karena perbuatannya.


" Bajingan kamu Lian!!!!! bajingan!!!!!" teriak Silvia dengan melempar bantal dan bahkan Susan yang mendengar keributan dari kamar Silvia harus menghampiri Silvia dan melihat apa yang terjadi pada Silvia dan salah satu bantal yang di lempar Silvia harus mengenai wajah Susan dan membuat Susan terkejut.


" Silvia!" bentak Susan yang terpancing kemarahan akibat lemparan yang di terimanya. Silvia menyibak rambutnya kebelakang dan melihat ke arah pintu yang sudah melihat mamanya.


Silvia tidak mempedulikannya dan duduk di pinggir ranjang dengan mengusap kasar wajahnya.


" Kamu ini apa-apaan Silvia. Kamara berantakan seperti ini. Teriak-teriak seperti orang gila. Kamu ini benar-benar ya keterlaluan," ucap Susan yang Akhirnya marah-marah pada Silvia dengan perbuatan Silvia yang membuat semuanya berantakan. Kamarnya yang sudah seperti kapal pecah.


" Diamlah mah!" teriak Silvia yang berani membentak Susan dan pasti membuat Susan kaget.


" Kamu berani membentak mama!" sahut Susan yang tidak kalah emosinya melihat Silvia.


" Sudah mending mama keluar dari sini. Kepala Silvia pusing dengan kehadiran mama yang tidak akan membantu sama sekali!" teriak Susan dengan mengusir mamanya.


" Tadi membentak mama dan sekarang mengusir mama. Kamu ini kenapa sih?" tanya Susan dengan penuh emosi.


" Aku itu pusing. Mama tidak tau apa yang terjadi padaku," sahut Silvia.


" Mama tidak akan pernah tau. Kalau kamu tidak kasih tau pada mama," sahut Susan.


" Percuma kasih tau mama. Mama tidak akan mau tau. Sebaiknya mama keluar dari sini!" usir Silvia lagi. Silvia berdiri dari duduknya dan langsung mengusir mamanya yang berdiri di depan pintu mendorong paksa.


" Silvia tidak mau di ganggu. Jadi Anna pergilah jangan ganggu Silvia," tegas Silvia yang langsung menutup pintu. Kehadiran sang mama hanya membuat kepalanya bertambah sakit. Jadi alangkah baiknya mamanya keluar dari kamarnya.


" Apa sih tuh anak. Malah kayak orang kesetanan sekarang malah mengusir ku. Tadi kamarnya seperti kapal pecah. Dia pikir dia saja apa yang pusing. Aku juga pusing. Sudah Kayra tidak pulang-pulang. Uang semakin habis dan sekarang lihat apa yang di lakuaknnnya. Dia malah bertingkah mengatakan pusing. Aku yang lebih pusing," umpatnya yang marah-marah.


" Argggghhh sudahlah dari pada di sini. Aku bertambah pusing. Mending aku tidur," ucapnya yang akhirnya memilih untuk pergi dari depan kamar Silvia.


Silvia di dalam kamarnya benar-benar frustasi dengan masalahnya terhadap Lian yang tadinya dia pikir akan mudah masuk kedalam keluarga Lian dengan dia hamil. Namun siapa sangka semua tidak semudah apa yang di pikirkannya.


Bahkan Lian hampir saja membunuhnya dan juga memberinya ancaman dan semua di luar dugaan Silvia.


" Aku harus melakukan sesuatu. Aku tidak akan membiarkan semua usahaku harus sia-sia seperti ini. Aku harus berbuat sesuatu. Lian kau tidak akan lolos dariku. Seenaknya saja kau mau lari tanggung jawab. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi," batin Silvia dengan mengepal tangannya kuat-kuat.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2