Pernikahan Dalam Ikatan Surat Kontrak.

Pernikahan Dalam Ikatan Surat Kontrak.
Bab 150


__ADS_3

Rumah sakit.


Akhirnya Pricilla sadar setelah melewati masa kritisnya. Pricilla terbaring lemah dengan selang infus di tangannya dan juga di hidungnya. Kepalanya juga di perban yang mengalami luka parah.


Di dalam ruangan itu sendiri ada Oma Elishabet, Altarik dan Aldo yang.


" Pricilla kamu jangan khawatir kamu akan baik-baik saja setelah melakukan operasi," ucap Aldo yang sejak tadi di dekatnya yang memberikan semangat pada Pricilla. Karena Pricilla sangat takut untuk operasi.


" Keluarga kami akan bertanggung jawab atas apa yang terjadi dengan kamu. Walau semua masalah ini kamu yang memulainya," sahut Oma yang bicara dengan dingin.


" Benar Pricilla jadi sebaiknya kamu istirahat saja. Kamu jangan berpikir yang lain-lain. Biar kami yang memikirkannya, kamu hanya fokus pada kesehatan kamu saja," ucap Altarik mencoba se ramah mungkin agar Pricilla tenang dan tidak takut untuk operasi.


Krekkk.


Tiba-tiba pintu terbuka yang memperlihatkan Kayra dan Davin yang langsung memasuki ruangan itu dan Pricilla langsung melihat ke arah Davin.


" Davin!" lirih Priscilla dengan mengangkat tangannya yang ingin Davin berada di sisinya. Davin pun menghela napasnya dan langsung menghampiri Pricilla berdiri di samping Pricilla dan Aldo menyinggir.


" Davin apa benar kata Dokter jika aku terkena kanker otak. Apa itu benar Davin?" tanya Pricilla dengan menangis. Altarik dan Oma saling melihat dan bahkan mereka melihat.


" Itu tidak akan terjadi. Setelah kamu operasi kamu akan sembuh dan apa yang di katakan Dokter tidak akan terjadi," jawab Davin.


" Tapi aku tidak operasi Davin. Kamu taukan Davin aku takut operasi. Aku tidak mau melakukannya. Aku lebih baik mati dari pada operasi. Aku tidak mau melakukannya," ucap Pricilla yang menguatkan volume suaranya.


" Pricilla tenanglah!" ucap Davin panik dan membungkukkan tubuhnya untuk menenangkan Pricilla yang mulai histeris.


" Kenapa semua ini harus terjadi padaku? kenapa harus aku. Aku ingin mati saja!" Pricilla bahkan ingin mencabut infusnya namun Davin langsung menghentikannya dan saat itu Pricilla langsung memeluk Davin.


" Aku takut Davin. Aku takut!" ucap Pricilla menagis di pelukan Davin.


Pelukan itu membuat Kayra pasti cemburu dan bahkan berusaha untuk tidak melihatnya. Oma dan Altarik saling melihat dan melihat ke arah Kayra yang Kayra menunjukkan ekspresi tidak terbaca.


" Pricilla kau harus tenang. Kau tidak perlu takut. Operasi demi kebaikanmu, kau akan sembuh!" ucap Davin berusaha menangkan Pricilla yang histeris.


" Kamu tau sendiri Davin aku sangat menakutkan itu. Kamu tau itu. Lalu kenapa memaksa ku untuk melakukan operasi itu hiks, huks," ucap Pricilla yang menagis sengugukan.


" Jangan takut Pricilla. Aku akan ada ...." ucap Davin tidak melanjutkan kalimatnya saat teringat sesuatu dan Kayra yang sejak tadi diam saja juga menunggu lanjutan kalimat Davin yang sepertinya Kayra tau.


" Kamu akan ada di sisiku kan Davin?" lanjut Pricilla. Mungkin kata di sisi yang ingin di katakan Davin. Davin diam dan tidak menjawab kata-kata itu.

__ADS_1


Kayra menghela napasnya kedepan dengan perlahan, " Oma Kayra mau ketoilet dulu!" ucap Kayra dengan pelan. Oma mengangguk dengan dan Kayra langsung pergi keluar dari ruangan itu.


Aldo melihat kepergian Kayra. Mungkin Kayra cemburu. Ya mana ada yang tidak cemburu melihat suaminya memeluk wanita lain.


" Davin tetaplah di sisiku. Kau mohon aku sangat takut dengan apa yang terjadi pada diriku. Aku mohon Davin!" ucap Pricilla dengan suaranya yang melemah. Davin tetap tidak menjawab.


*********


Setelah tadi Pricilla berteriak-teriak. Akhirnya Pricilla sudah beristirahat. Di mana kondisinya sudah tenang. Davin, Oma Altarik dan Aldo berada di luar ruangan Pricilla.


" Aldo kamu jagalah Pricilla di dalam!" ucap Davin.


" Baiklah!" sahut Aldo yang langsung memasuki ruangan Pricilla kembali.


" Semoga Pricilla bisa di bujuk untuk melakukan operasi agar masalah ini cepat selesai dan tidak berlarut-larut," ucap Altarik.


" Mama berharap seperti itu. Kita harus berusaha membujuknya," ucap Oma.


" Kayra! di mana dia?" tanya Davin yang baru mengingat istrinya yang sejak tadi tidak di lihatnya.


" Kayra menunggu di mobil. Tadi katanya lelah dan kurang istirahat. Jadi Kayra memilih di mobil," jawab Altarik.


" Davin tunggu!" panggil Oma membuat Davin menghentikan langkahnya.


" Iya Oma?" tanya Davin.


Oma mendekatinya dan mengusap ke-2 pundak Davin sampai ke lengannya.


" Masalah ini akan berpengaruh dalam rumah tangga kamu dan juga Kayra. Oma sangat berharap kamu bisa tegas dan bijak dalam masalah ini. Jika tidak kamu akan kehilangan sesuatu yang berharga untuk kamu. Jadi hati-hati lah dalam mengikuti alur masalah ini," ucap Oma yang memberikan saran pada Davin.


Oma mungkin sudah membaca bagaimana selanjutnya. Pricilla yang notabene menyukai Davin, tidak melepaskan Davin dan tiba-tiba sakit dan hanya membutuhkan Davin. Sementara Davin adalah pemicu terjadinya masalah ini dan bahkan Pricilla berada di rumah sakit juga karena Davin.


" Kamu mengerti!" ucap Oma.


" Iya aku mengerti," jawab Davin yang langsung pergi untuk menemui Kayra. Oma menghela napasnya kedepan yang melihat punggung cucunya yang semakin lama semakin jauh dan bahkan sudah tidak terlihat lagi.


**********


Kayra berada di dalam mobil dengan ekspresi yang tidak terbaca sama sekali yang hanya duduk dengan tangannya yang mengusap-usap perutnya yang mulai terlihat membesar.

__ADS_1


Brukkk


Tanpa di sadari Kayra Davin sudah membuka mobil dengan cepat.


" Dia kenapa?" tanya Davin yang melihat Kayra mengelus-elus perutnya.


" Dia tidak kenapa-kenapa," jawab Pricilla dengan tersenyum tipis.


Davin mengupas ribut Kayra sembari ke pipinya dan menatap Kayra dengan intens.


" Kamu kenapa menunggu di mobil?" tanya Davin.


" Aku mengantuk, makanya memilih untuk menunggu di mobil," jawab Kayra yang lagi-lagi mengeluarkan senyumnya. Namun terlihat senyum itu senyum yang menutupi sesuatu.


" Ya sudah kita pulang saja. Kamu harus istirahat," ucap Davin. Kayra mengangguk saja.


Davin pun tersenyum dan langsung menyetir mobil dengan helaan napas kasarnya.


Di sepanjang perjalanan. Kayra tidak bicara apa-apa sama sekali dia hanya diam dengan menyandarkan kepalanya pada jok mobil dengan melihat ke jendela. Wajahnya sangat murung.


Davin yang menyetir menoleh ke arah Kayra dan langsung memegang tangan Kayra, menggenggam 5 hari itu lalu mencium punggung tangan itu membuat Kayra menoleh ke arah Davin dan Kayra lagi-lagi mengeluarkan senyumnya. Davin terus menggenggam tangan itu dengan meletakkan di atas pahanya.


Walau terjadi adegan romantis sedikit. Namun Kayra tetap tidak bicara sama sekali. Kali ini di mobil benar-benar diam.


**********


Malam hari di mana Kayra dan Davin sama-sama berada di atas ranjang. Davin menyandarkan punggungnya di kepala ranjang dan terlihat serius pada laptop-nya yang berada di atas pahanya. Sementara Kayra yang memiringkan tubuhnya yang membelakangi Davin.


Mungkin Davin berpikir Kayra sudah tertidur. Tetapi pada kenyataannya dia tidak tertidur sama sekali. Beberapa kali memejamkan matanya dan membukanya lagi. Sangat susah untuk tertidur. Bahkan Kayra mengingat saat di rumah sakit di mana Davin yang memeluk Pricilla membuat Kayra membuang napasnya perlahan kedepan dan memegang dadanya.


Sangat bohong jika Kayra tidak memikirkan hal itu. Bahkan air matanya keluar dari pelupuk matanya saat mengingat kejadian itu. Tiba-tiba sebuah tangan melingkar di pinggangnya yang mana ternyata Davin yang memeluknya dari belakang.


Davin sudah menyelesaikan pekerjaannya dan memeluknya dengan erat. Davin juga mencium pucuk kepala Kayra yang mana Kayra terlihat pura-pura tertidur


" Selamat malam, semoga kamu mimpi yang indah," ucap Davin yang mengeratkan lagi pelukannya.


" Aku tidak tau Davin. Apa setelah kejadian ini masih ada yang namanya mimpi dengan indah," batin Kayra yang perasaannya memang tidak tenang, bercampur aduk.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2