
Setelah mendapat ceramahan dari sang Oma. Davin langsung menuju kamarnya dan di sana sudah menemukan Kayra yang tertidur. Davin melihat jam yang menggantung di dingding sudah pukul 1 pagi. Bukan pulang larut malam lagi. Tetapi Davin sudah pulang pagi dan mungkin sangat kelewatan.
Davin menghela napasnya panjang kedepan. Lalu mendekati Kayra. Davin duduk di samping Kayra dengan mengelus-elus rambut Kayra.
"Maafkan aku Kayra. Jika aku kelewatan kepadamu. Aku hanya memintamu untuk bersabar dan mengerti situasi ku. Aku tau kamu menakutkan sesuatu. Tapi aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku mohon padamu bersabarlah Kayra," batin Davin menatap nanar Kayra yang tertidur tanpa menyadari kedatangan Davin yang sudah ada di sampingnya.
Davin kembali menghela napasnya kedepan lalu berdiri dari tempat duduknya. Davin melihat Kayra sebentar dan langsung pergi kekemar mandi untuk membersihkan dirinya sebelum tidur.
***********
Mentari pagi kembali tiba. Kayra yang tertidur miring membuka matanya perlahan. Kayra merasa ada tangan yang memeluk pinggangnya membuat Kayra melihat ke arah belakangnya. Di mana Davin yang masih tertidur dengan memeluk dirinya.
Dengan perlahan Kayra mengambil ponselnya dan melihat sudah jam berapa yang ternyata jam 6: 30 yang biasanya Davin sudah bangun. Tidak ada yang di katakan Kayra. Dia mengangkat tangan Davin dengan perlahan dari pinggangnya. Lalu kemudian Kayra dengan perlahan duduk.
Kayra melihat ke arah Davin yang masih tidur dengan lelap dan mungkin karena lelah Davin kesiangan. Kayra tidak membangunkannya dan melakukan hal yang lain. Kayra langsung pergi turun dari ranjang.
***********
Dratttt, Dratttt Dratttt Dratttt
Suara ponsel membuat Davin yang masih tertidur harus terbangun. Dengan matanya yang masih berat terbuka. Davin meraba meja untuk mengambil ponselnya. Matanya terbuka sipit melihat panggilan masuk dari Reyhan.
"Kenapa Reyhan?" tanya Davin dengan suara khas bangun tidur.
"Bos meetingnya 20 menit lagi. Saya belum melihat bos di kantor," ucap Reyhan.
Davin terlihat terkejut dan melihat ke ke arah jam yang di ponselnya yang ternyata sudah pukul 8:30.
"Astaga aku terlambat!" ucap Davin menepuk jidatnya, "baiklah Reyhan kamu persiapkan semuanya. Saya akan buru-buru kekantor. Agar meetingnya tidak terkendalikan," ucap Davin yang langsung menyibak selimut. Karena harus tergesa-gesa.
"Baik bos," sahut Reyhan yang langsung mematikan telpon.
__ADS_1
"Kenapa aku jadi terlambat seperti ini. Aku kesiangan bangun!" gumam Davin meletakkan handphonnya di atas nakas. Davin turun dari ranjang dan melihat di mana seharusnya Kayra tidur.
"Dimana Kayra?" batin Davin yang tidak menemukan istrinya, "Kayra!" panggil Davin. Tidak ada sahutan dan Davin tidak punya waktu untuk mencari istrinya. Dia juga harus buru-buru kekamar mandi untuk siap-siap. Mungkin Kayra sedang di luar atau apa. Jadi Davin nanti saja mencarinya.
**********
Kayra memang sudah tidak di rumah. Dia ada kuliah pagi makanya pergi buru-buru. Tetapi dia pamitan sebelumnya kepada Oma dan juga Altarik yang kebetulan Altarik belum kekantor. Untuk Davin memang Kayra tidak berpamitan dan juga tidak membangunkan Davin. Kayra merasa Davin pasti lelah dan membiarkan Davin istirahat.
Setelah selesai mengikuti mata kuliahnya. Kayra ingin menenangkan dirinya dengan pergi ke taman kota. Di mana dia dia duduk di salah satu bangku yang ada di taman dengan melihat anak-anak yang berlari bermain yang penuh dengan tawa dan kebahagiaan.
Melihat anak-anak itu membuat Kayra mengukir senyum di wajahnya dengan mengusap-usap perutnya.
Tiba-tiba sebuah minuman kaleng ada di depannya yang mana sebuah tangan memberikannya. Kayra melihat kesampingnya dan ternyata Silvia yang memberikannya.
"Ambillah. No alkohol," ucap Pricilla. Kayra pun mengambilnya. Lalu Silvia duduk di samping Kayra. Silvia meneguk minuman yang sama dengan yang di berikannya pada Kayra.
"Kenapa ada di sini?" tanya Kayra.
"Aku bekerja di Perusahaan bagian percetakan yang tidak jauh dari sini. Jadi jam istirahat selalu kemari," jawab Silvia.
"Baru 2 Minggu. Bosan di rumah. Ya dari pada memakan uangmu terus. Nanti suatu saat di tagih lagi. Jadi lebih baik cari uang sendiri," ucap Silvia membuat Kayra mendengus dengan tersenyum tipis.
"Kalau begitu semoga betah di pekerjaan barunya," ucap Kayra.
Silvia menganggukkan kepalanya, "bagaimana denganmu. Kenapa bisa ada disini?" tanya Silvia.
"Hanya ingin menetralkan pikiran saja," jawab Kayra.
"Karena Davin?" tebak Silvia.
"Padahal aku tidak menyebut namanya," sahut Kayra.
__ADS_1
"Itu berarti tebakanku benar," sahut Silvia. Kayra diam dan tidak bicara apa-apa lagi.
"Kau hanya akan menjadi wanita yang murung karena masalah Davin dan Pricilla. Di mana masalah itu tidak ada hentinya sama sekali," ucap Silvia.
"Tau dari mana Pricilla?" tanya Kayra heran.
"Kau lupa pernah mabuk bersamaku. Kau itu menceritakan segalanya. Bagaimana mantan kekasih Davin yang masih mencintai Davin dan menginginkan Davin dan sekarang Pricilla ada di rumah sakit dan banyak masalah yang Davin adalah pelakunya dan itu karena kamu. Jadi apa lagi kalau bukan itu juga yang membuatmu harus kemari," ucap Silvia yang sepertinya banyak taunya.
"Dari mana mengetahui masalah yang terjadi?" tanya Kayra.
"Tidak ada niat mencari tau. Cuma hanya tau saja," jawab Silvia dengan santai dan kembali meneguk minumannya.
"Hufffff. Kata orang jika kita yang mencintai lebih besar. Maka rasa sakit akan semakin besar. Aku hanya mendengar kata orang. Karena aku juga tidak pernah jatuh cinta," sahut Pricilla.
"Tetapi mungkin pepatah itu adalah kebenarannya. Memang mencintai sangat sulit. Fase yang di hadapi tidak mudah. Ingin pergi. Tetapi harus bertahan. Tetapi bertahan itu membuat luka semakin banyak," sahut Kayra dengan menatap lurus kedepan. Yang dia pasti menceritakan dirinya sendiri.
"Sebentar!" Silvia tiba-tiba pergi dan tempat duduknya dan terlihat menghampiri tukang balon membuat Kayra bingung. Tidak lama Silvia kembali dan bukan membawa balon yang membuat Kayra heran. Silvia kembali duduk di samping Kayra.
"Pilih yang mana!" Pricilla memperlihatkan 2 benda pada Kayra yang ditangan kirinya jarum dan di tangan kanannya benang.
"Untuk apa memilihnya?" tanya Kayra.
"Pilih saja," sahut Silvia dan Kayra memilih gulungan benang membuat Silvia tersenyum.
"Apa yang kau pilih memang apa yang terjadi padamu sekarang," ucap Silvia membuat Kayra bingung menatap Silvia serius.
"Benang itu utuh di dalam gulungannya. Tetapi sangka jika akan terjatuh dan terguling. Benang itu sakan lepas dari gulungannya. Di lihat sangat banyak dan tidak tau kapan akan terlepas dari gulungannya dan mungkin bisa putus. Sama dengan dirimu. Situasi yang kau hadapi saat ini kau berusaha untuk mempertahankan sesuatu yang kau tau juga akan berakhir," ucap Silvia dengan Filosopi nya dan Kayra diam mendengarkannya.
"Lalu bagaimana dengan jarum ini. Ini akan jauh lebih sakit. Jika di simpan di tempat yang aman. Mungkin akan baik-baik saja. Tetapi siapa sangka pasti kita juga bisa tertusuk jarum ini dan akan semakin sakit.
"Kayra hubungan mu dan Davin hanya kau yang mengetahuinya. Apa yang harus kau lakukan. Bertahan sebentar dengan rasa sakit yang tidak seberapa. Atau bertahan sangat lama yang alih-alih ingin melihat ujungnya. Tetapi sakitnya mungkin tidak akan pernah terobati," ucap Silvia dengan teori yang panjang lebar dan Kayra hanya mengamati semua kata-kata Silvia.
__ADS_1
Kegundahan hatinya yang buntu membuat dirinya susah berpikir.
Bersambung