Pernikahan Dalam Ikatan Surat Kontrak.

Pernikahan Dalam Ikatan Surat Kontrak.
Bab 181


__ADS_3

Kayra memasuki ruangannya dan langsung duduk dengan wajahnya yang tidak penuh semangat, dengan meletakkannya ke-2 sikutnya dia atas meja dengan wajahnya yang di tutup dengan ke-2 tangannya napas yang terhembus kasar sangat memperjelas suasana hatinya.


"Aku tidak percaya Davin pemilik rumah sakit yang baru. Itu artinya aku akan semakin sering bertemu dengannya.


"Bagaimana Kayra tampan bukan? jelas sangat tampan kau tidak menyesalkan bertemu dengannya, Dia sangat mempesona buka? tanya Anggi yang juga menduduki kursinya dan Kayra tidak menanggapinya menarik napas dalam-dalam dan membuangnya perlahan kedepan.


"Kayra aku sedang bertanya. Bagaimana penilaian kamu pada pemilik rumah sakit yang baru. Apa yang aku katakan tidak salahkan. Jika pemiliknya memang sangat tampan," ucap Anggi yang tidak henti-hentinya memuji Davin.


"Aku mau siap-siap operasi," sahut Kayra yang langsung berdiri yang sama sekali tidak mempedulikan pertanyaan Anggi.


"Aku belum selesai juga bicara. Kenapa sih dia? aneh!" gumam Anggi yang geleng-geleng.


**********


Davin berada di ruangannya yang ada di rumah sakit. Di pastikan Davin akan lebih sering menghabiskan waktu di rumah sakit ketimbang di kantor. Karena adanya Kayra dan Davin harus mencari tau mengenai Kayra yang mana dia memang tidak mendapatkan informasi apa-apa mengenai Kayra dan bukan hanya itu Davin juga sangat ingin tau mengenai Brian. Karena keyakinannya Bria adalah anaknya.


Davin yang di mejanya sekarang sibuk membolak-balikkan lembaran kertas yang mana mengenai data-data Kayra.


"Kayra lulusan ke Dokteran Jakarta dan ini kampus waktu dia kuliah dulu. Lalu kenapa aku tidak tau apa-apa. Dan Indri bukannya seharusnya dia tau kalau Kayra kukus S 1 di Jakarta. Dia lulus S-2 di Milan. Kenapa masalah sekecil ini aku tidak tau. Jika aku lebih fokus lebih serius lagi mencari Kayra waktu itu. Aku yakin. Pasti akan menemukannya dan tidak sampai bertahun-tahun seperti ini," batin Davin yang merasa dirinya sedikit bodoh dengan kelalaiannya.


Davin juga melihat yang lainnya mengenai Kayra dan melihat status Kayra yang sudah menikah.


"Dia memang sudah menikah. Tetapi tidak tertera nama suaminya dan Brian. Kapan Brian lahir. Aku tidak bisa menemukan data-data mengenai Brian," gumam Davin dengan suara beratnya yang terus berusaha untuk mencari kebenarannya.


"Aku harus memastikan Brian putraku atau putra Kayra dan suaminya. Kayra tidak bisa menyembunyikan hal ini dari ku. Aku tau dia yang merawat anak itu. Tetapi tidak seharunya di memisahkanku dengan suka-sukanya," ucap Davin dengan membuang napasnya dengan perlahan kedepan.


toko-tok-tok-tok


"Masuk!" sahut Davin dari dalam yang ternyata adalah Reyhan.

__ADS_1


"Ini bos berkas-berkas yang bos minta," ucap Reyhan meletakkan di meja Davin.


"Makasih," sahut Davin.


"Saya permisi dulu bos," sahut Reyhan pamit.


"Tunggu dulu Reyhan!" ucap Davin menghentikan Reyhan.


"Iya bos. Ada apa lagi?" tanya Reyhan.


"Aku mau kamu ke sekolah Brian dan kamu cari tau tanggal kelahirannya, beserta akte kelahirannya!" perintah Davin.


"Untuk apa bos?" tanya Reyhan.


"Kamu cari tau saja jangan bertanya dan ingat hati-hati. Awas kalau Kayra tau," ucap Davin mengingatkan.


"Baiklah bos kalau begitu," sahut Reyhan yang langsung pergi dari ruangan itu.


**********


Bandara.


Mobil yang di kendarai Dion berhenti di depan Bandara. Dion masih berada di dalam mobil yang terlihat gelisah, sebentar-sebentar membuang napasnya kedepan dengan perlahan, sebentar-sebentar melihat jam tangannya, sebentar-sebentar melihat kearah dalam Bandar.


Dion kembali menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan. Lalu Dion merapikan jasnya dan dengan yakin langsung keluar dari mobilnya memasuki Bandara yang pasti untuk menjemput seorang wanita yang sejak tadi membuat jantungnya berdebar kencang dan begitu gelisah.


Pesawat baru landing 10 menit yang lalu.


"Untuk para penumpang pesawat kita sudah landing silahkan keluar dan ambil barang masing dan keluar dengan hati-hati dan jangan terburu-buru," ucap Pramugari memberikan arahan kepada para penumpang.

__ADS_1


Di salah satu kursi pesawat di Buisnis Class ada seorang wanita cantik yang sekarang melepas headset di telinganya dan membuka kaca mata hitamnya.


Wanita cantik yang tak lain adalah Zoy dengan memakai blouse merah yang di padu rok sepan hitam selututnya. Zoy pun langsung berdiri dari tempat duduknya untuk menuruni pesawat.


Dion sendiri sudah bergabung bersama orang-orang yang akan menjemput. Dan Dion tetap saja gelisah dan terus melihat ke arah pintu untuk melihat Zoy.


Namun belum ada Zoy masih beberapa penumpang yang keluar dan menyambut para jemputan masing-masing.


Sampai akhirnya orang yang di tunggu-tunggu Dion sejak tadi akhirnya datang. Di mana Zoy yang berjalan begitu demage dengan menyeret kopernya dan membuat jantung Dion berdebar kencang.


Wanita itu memang cantik sejak dulu. Wajahnya yang ketus yang mana orang-orang berpikir Zoy wanita judes. Tetapi memang wajahnya seperti itu dan prilakunya juga sebenarnya tidak jauh-jauh amat dengan wajahnya. Kecantikan Zoy tidak memudar setelah 5 tahun. Tetapi sekarang dia semakin cantik dan sangat elegan.


Zoy yang berjalan terus tiba-tiba menghentikan langkahnya. Ketika melihat Dion yang berdiri sekitar 12 meter darinya.


Yang ke-2 nya sekarang saling melihat yang di pastikan jantung Zoy juga berdebar tidak menentu. Zoy pergi ke Luar Negri dan tidak ingin pulang. Pasti gara-gara menghindari Dion yang menolaknya untuk ke-2 kalinya dan sekarang Pria yang di hindarinya itu ada di depan matanya dan kalau bukan karena Eyang mendesaknya. Zoy ogah untuk pulang.


Zoy terlihat menghela napasnya perlahan kedepan. Lalu melanjutkan jalannya yang berusahalah untuk santai. Bahkan Zoy tidak menegur Dion dan hanya di lewatinya begitu saja. Dion pun menghela napasnya. Lalu menyusul Zoy.


Sampai di depan mobil Zoy terlihat membuka bagasi mobil untuk menaikkannya kopernya. Namun Dion langsung menahannya.


"Biar aku saja," sahut Dion yang mengambil alih dan Zoy tidak perotes atau bicara sama sekali.


Zoy hanya melihat wajah Dion yang tidak ada yang berubah sama sekali dari wajah tampan dan dingin itu. Keasyikan melihat Dion sampai Zoy tidak menyadari Dion sudah selesai memasukkan koper dan menutup bagasi dan melihat kearah Zoy yang langsung Zoy kaget dan mendadak gugup.


"Ayo masuk!" titah Dion yang langsung membukakan pintu mobil.


Zoy tidak mengangguk. Dia hanya masuk saja di kursi bagian kursi penumpang. Dan Dion pun langsung masuk untuk menyetiri Zoy.


Di dalam mobil ke-2nya tampak kening tidak ada pembicaraan sama sekali. Dion menyetir dengan fokus dan Zoy di belakang sibuk dengan ponselnya yang tidak tau apa yang di lakukannya di ponselnya. Tetapi tetap Dion sebentar-sebentar melihat Zoy dari kaca spion.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2